oleh

Tiga Fatwa Ulama Seputar Ruqyah 

Ada tiga fatwa seputar ruqyah yang mungkin belum banyak diketahui oleh kaum muslimin. Fatwa yang merupakan jawaban, nasihat, dan bimbingan ulama tentang suatu masalah tertentu. Adalah perkara yang sangat krusial dalam kehidupan beragama, mengingat kedudukan para ulama sebagai pewaris para nabi, selaras dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‌إِنَّ ‌الْعُلَمَاءَ ‌وَرَثَةُ ‌الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلَا دِرْهَماً، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka ia telah mendapat bagian yang besar.”  1

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui dan menghargai fatwa para ulama, sebab mereka adalah penerima warisan ilmu yang berlimpah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga jawaban dan bimbingan mereka pun tentunya bersumber dari petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. 

Berikut ini adalah pemaparan dari ketiga fatwa tersebut.

1. Fatwa tentang Hukum Ruqyah (Termasuk Menggunakan Jimat Berupa Ayat Al-Qur’an)

Pertanyaan: Sebagian orang menulis ayat-ayat Al-Qur’an di atas papan tulis, lalu membasuh tulisan tersebut dengan air untuk diminum dengan tujuan mendapatkan faedah ilmu, harta, kesehatan, dan lain sebagainya. Ada pula yang menuliskannya di atas kertas dan menggantungkannya di leher (sebagai jimat) untuk penjagaan (dari kejelekan, mara bahaya, dll). Apakah praktik semacam ini halal atau haram bagi seorang muslim?

Jawaban: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan ruqyah menggunakan ayat suci Al-Qur’an, zikir, dan doa-doa selama tidak mengandung kesyirikan atau ucapan-ucapan yang tidak dimengerti maknanya.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits di dalam shahihnya dari Sahabat ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Dahulu di masa jahiliah kami sering meruqyah, lalu kami bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang perbuatan kami tersebut?'” Beliau pun bersabda,

اُعْرُضُوْا عَلَيَّ رِقَاكُمْ، لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهَا شِرْكٌ

“Perlihatkanlah kepadaku ruqyah kalian. Tidak mengapa melakukan ruqyah selama tidak mengandung kesyirikan.”

Para ulama sepakat tentang kebolehan ruqyah dengan kriteria tersebut. Ruqyah dipahami sebatas sebab yang tidak akan memberikan pengaruh apa pun kecuali atas kehendak Allah Ta’ala.

Adapun perbuatan menggantungkan sesuatu di leher atau mengikatnya di bagian tubuh mana pun, jika benda tersebut bukan berasal dari Al-Qur’an, maka hukumnya haram, bahkan bisa bernilai syirik

Imam Ahmad meriwayatkan di dalam musnadnya, dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah melihat seorang lelaki memakai gelang dari kuningan di tangannya. Beliau bertanya, “Apa ini?” Orang itu menjawab, “Penangkal bala.” Lalu Beliau bersabda,

أَمَا إِنَّهَا لَا تَزِيدُكَ إِلَّا وَهْنًا، انْبِذْهَا عَنْكَ، فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ ‌مَا ‌أَفْلَحْتَ ‌أَبَدًا

“Gelang tersebut tidak memberikan efek apa pun melainkan hanya menambah kelemahanmu. Lepaskanlah gelang itu darimu! Jika kamu mati dalam kondisi demikian (masih memakai gelang tersebut), maka kamu tidak akan selamat selama-lamanya.” 2

Lantas, bagaimana jika yang digantungkan (dijadikan jimat/tamimah) adalah ayat Al-Qur’an? Pendapat yang paling kuat menyatakan bahwa hal tersebut juga diharamkan karena tiga alasan pokok:

  1. Keumuman dalil: Adanya hadits-hadits yang melarang secara umum penggunaan jimat (tamimah), dan tidak ada pengecualian khusus untuk jimat dari ayat Al-Qur’an.
  2. Menutup celah (saddudz dzari’ah): Pembolehan ini berisiko memicu orang untuk menggunakan jimat dari selain Al-Qur’an.
  3. Mencegah pelecehan terhadap ayat suci: Benda yang digantungkan tersebut pasti akan terus melekat pada pemakainya, sehingga berpotensi merendahkan kesucian Al-Qur’an ketika ia masuk ke toilet, buang hajat, berjima’, dan lain sebagainya. 3

    2. Fatwa tentang Ruqyah oleh Orang yang Bacaan Al-Qur’annya Kurang Baik

    Pertanyaan: Apakah orang yang bacaan Al-Qur’annya kurang fasih diperbolehkan untuk meruqyah?

    Jawaban: Tidak mengapa baginya untuk meruqyah jika memang terpaksa atau dibutuhkan dan tidak menimbulkan dampak negatif. Namun, ia wajib untuk terus belajar memperbaiki bacaannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    ‌الْمَاهِرُ ‌بِالْقُرْآنِ ‌مَعَ ‌السَّفَرَةِ ‌الْكِرَامِ ‌الْبَرَرَةِ. ‌وَالَّذِي ‌يَقْرَأُ ‌الْقُرْآنَ ‌وَيَتَتَعْتَعُ ‌فِيهِ، ‌وَهُوَ ‌عَلَيْهِ ‌شَاقٌّ، ‌لَهُ ‌أَجْرَانِ

    “Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Adapun orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan ketika membacanya, maka baginya dua pahala.” 4

    Maknanya, ia tetap mendapatkan ganjaran pahala meskipun masih terbata-bata. Oleh karena itu, ia boleh membacanya sambil terus berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki kualitas bacaannya. 5


    BACA JUGA: Bacaan Ruqyah Sesuai Sunnah


    3. Fatwa tentang Makna Hadits Ruqyah

    Pertanyaan: Apa makna hadits ini

    لَابَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ تَكُنْ شِرْكًا

    “Tidak mengapa melakukan ruqyah selama tidak mengandung kesyirikan” ?

    Jawaban: Ruqyah diperbolehkan selama bersih dari unsur kesyirikan. Ruqyah yang disyariatkan adalah ruqyah dengan memanjatkan doa kepada Allah, membaca ayat suci Al-Qur’an, hadits, dan doa-doa yang baik. Adapun ruqyah dengan mengoleskan wewangian pada area kemaluan, jelas bukanlah ruqyah yang diperbolehkan.

    Sebagian orang melakukan ruqyah dengan sihir, meruqyah dengan kalimat-kalimat yang berbau kesyirikan, atau dengan kata-kata asing yang bisa saja mengandung kebatilan dan kesyirikan. Ruqyah yang benar harus menggunakan bahasa Arab atau bahasa yang dipahami maknanya. Orang yang bertakwa dan saleh tidak akan melampaui firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, jika ia ingin menambahkan doa dari dirinya sendiri (yang bermakna baik), hal itu diperbolehkan.

    Contoh Doa Ruqyah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    ‌أَذْهِبْ ‌الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

    “Hilangkanlah penyakit ini, wahai Rabb manusia. Sembuhkanlah, karena Engkau-lah Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikit pun.” 6

    Atau meruqyah diri sendiri dengan mengucapkan basmalah tiga kali, lalu membaca doa berikut sebanyak tujuh kali,

    أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

    “Aku berlindung kepada kemuliaan (keperkasaan) Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan yang aku rasakan dan aku khawatirkan.” 7

    Sungguh, sebaik-baik ucapan adalah firman Allah Ta’ala, kemudian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka pilihlah yang paling utama. Demi Allah, saya menasihati kepada kaum muslimin yang komitmen dengan Sunnah agar tidak memasuki bidang ini, dan jangan sampai seseorang menempatkan dirinya sebagai peruqyah. 8

    Semoga penjelasan yang singkat ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Aamiin. (MSH/ASP/AAK)

    Penulis: Syarif Karawang

    Referensi:

    • Al-Qur’anul Karim
    • Shahih Al-Bukhari
    • Shahih Muslim
    • Musnad Ad-Daarimi karya Imam Ad-Darimi rahimahullah.
    • Musnad Imam Ahmad rahimahullah
    • Majmu’ul Fatawa, Al-Lajnah Ad-Daimah
    • As’ilah Muhimmah Hawlar Ruqyah war Ruqaah

     

    Footnotes

    1.   Diriwayatkan oleh Imam Ad-Darimi rahimahullah di dalam musnadnya juz.1 hal.160,

      «مسند الدارمي – ت الزهراني» (1/ 160):- (24) أَخْبَرَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ، ثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ رَجَاءِ بْنِ حَيْوَةَ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ جَمِيلٍ، عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ: ” كُنْتُ جَالِساً مَعَ أَبِى الدَّرْدَاءِ رضي الله عنه فِي مَسْجِدِ دِمَشْقَ، فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ إِنِّي أَتَيْتُكَ مِنَ الْمَدِينَةِ مَدِينَةِ الرَّسُولِ صلى الله عليه وسلم لِحَدِيثٍ بَلَغَنِي عَنْكَ أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: فَمَا جَاءَ بِكَ تِجَارَةٌ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: وَلَا جَاءَ بِكَ (5) غَيْرُهُ؟ قَالَ: لا، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «مَنْ سَلَكَ طَرِيقاً يَلْتَمِسُ بِهِ عِلْماً سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقاً مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضاً لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ النُّجُومِ، ‌إِنَّ ‌الْعُلَمَاءَ ‌وَرَثَةُ ‌الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلَا دِرْهَماً، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظِّهِ (6) – أَوْ (7) بِحَظٍّ وَافِرٍ*ـ».

    2. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah di dalam musnadnya juz.33 hal.204,

      «مسند أحمد» (33/ 204 ط الرسالة): «- حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنَا الْمُبَارَكُ، عَنِ الْحَسَنِ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً – أُرَاهُ قَالَ مِنْ صُفْرٍ – فَقَالَ: ” وَيْحَكَ مَا هَذِهِ؟ ” قَالَ: مِنَ الْوَاهِنَةِ. قَالَ: ” أَمَا إِنَّهَا لَا تَزِيدُكَ إِلَّا وَهْنًا، انْبِذْهَا عَنْكَ، فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ ‌مَا ‌أَفْلَحْتَ ‌أَبَدًا ” (2).»

      Dinukil dari kitab Majmu’ul Fatawa juz. 1 hal. 244

      فتاوى اللجنة الدائمة – المجموعة الأولى» (1/ 244):

      السؤال الأول من الفتوى رقم (1257) :

      س1: بعض العلماء يكتبون آيات من القرآن على لوح أسود ويغسلون الكتابة بالماء ويشرب؛ وذلك رجاء استفادة علم، أو كسب مال، أو صحة وعافية ونحو ذلك، وأيضا يكتبون على القرطاس ويعلقونه في عنقهم للحفظ، فهل هذا حلال للمسلم أم حرام؟

      ج1: أذن النبي صلى الله عليه وسلم في‌‌ الرقية بالقرآن والأذكار والأدعية ما لم تكن شركا أو كلاما لا يفهم معناه؛ لما روى مسلم في صحيحه عن عوف بن مالك قال: «كنا نرقي في الجاهلية فقلنا: يا رسول الله، كيف ترى في ذلك؟ فقال: اعرضوا علي رقاكم، لا بأس بالرقى ما لم يكن فيها شرك (1) » .

      وقد أجمع العلماء على جواز الرقى إذا كانت على الوجه المذكور آنفا مع اعتقاد أنها سبب لا تأثير له إلا بتقدير الله تعالى. أما تعليق شيء بالعنق أو ربطه بأي عضو من أعضاء الشخص فإن كان من غير القرآن فهو محرم، بل شرك؛ لما رواه الإمام أحمد . في مسنده، عن عمران بن حصين رضي الله عنه، «أن النبي صلى الله عليه وسلم رأى رجلا في يده حلقة من صفر، فقال: ما هذا؟، قال: من الواهنة، فقال: انزعها فإنها لا تزيدك إلا وهنا، فإنك لو مت وهي عليك ما أفلحت أبدا

    3. Dinukil dari kitab (Majmu’ul Fatawa) juz. 1 hal. 245,

    وإن كان ما علقه من آيات القرآن فالصحيح أنه ممنوع أيضا؛ لثلاثة أمور: الأول: عموم أحاديث النهي عن تعليق التمائم ولا مخصص لها. الثاني: سد الذريعة فإنه يفضي إلى تعليق ما ليس كذلك. الثالث: أن ما علق من ذلك يكون عرضة للامتهان بحمله معه في حال قضاء الحاجة والاستنجاء والجماع ونحو ذلك.

  4. Diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah di dalam shahihnya juz.1 hal.549,

    «صحيح مسلم» (1/ 549 ت عبد الباقي): «- (798) حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ الْغُبَرِيُّ. جَمِيعًا عَنْ أَبِي عَوَانَةَ. قَالَ ابْنُ عُبَيْدٍ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ زُرَارَةَ بْنِ أَوْفَى، عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامٍ، عَنْ عَائِشَةَ. قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم “‌الْمَاهِرُ ‌بِالْقُرْآنِ ‌مَعَ ‌السَّفَرَةِ ‌الْكِرَامِ ‌الْبَرَرَةِ. ‌وَالَّذِي ‌يَقْرَأُ ‌الْقُرْآنَ ‌وَيَتَتَعْتَعُ ‌فِيهِ، ‌وَهُوَ ‌عَلَيْهِ ‌شَاقٌّ، ‌لَهُ ‌أجران“.»

  5. Dikutip dari As’ilah Muhimmah Hawlar Ruqyah war Ruqaah hal.12,

    السؤال: الذي لايحسن قراءة القرآن؛ هل يجوز له أن يرقي؟

    الجواب: يجوز له أن يرقي إذا اضطر إلى ذلك، لكن عليه أن يتعلم: ((الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام البررة والذي يقرأ القرآن ويتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران)) يعني: هو مأجور –ولو يتتعتع في قراءته–، وقد لايستطيع الإحسان في القراءة فيقرأ ويحاول أن يحسن قراءته.

  6. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam shahihnya juz.5 hal.2147,

    «صحيح البخاري» (5/ 2147):«- حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ،عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها: أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، كَانَ إِذَا أَتَى مَرِيضًا أَوْ أُتِيَ بِهِ، قَالَ: (‌أَذْهِبْ ‌الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ، اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا).»

  7. Diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah di dalam shahihnya juz.4 hal.1728,

    «صحيح مسلم» (4/ 1728 ت عبد الباقي): «حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى. قَالَا: أخبرنا ابن وهب. أخبرني يونس عَنْ ابْنِ شِهَابٍ. أَخْبَرَنِي نَافِعُ بْنُ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ الثَّقَفِيِّ؛ أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَجَعًا، يَجِدُهُ فِي جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم “ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ. وَقُلْ: بِاسْمِ اللَّهِ، ثَلَاثًا. وَقُلْ، سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ“.»

  8. Dikutip dari risalah As’ilah Muhimmah Hawlar Ruqyah war Ruqaah hal.24-26,

    السؤال: ما معنى هذا الحديث: ((لابأس بالرقى مالم تكن شركا))؟

    الجواب: نعم، ((لابأس بالرقى مالم تكن شركا)). الرقية بالطيب في الفرج والدبر ليس منها، يعني: تدعو الله تعالى، تقرأ آية أو حديثا أو دعاء؛ فهذا جائز في الشرع. بعضهم يرقي باسحر! يرقي بكلمات فيها شرك! يرقي بكلمات أعجمية تحتمل الباطل والشرك! الرقية تكون باللغة العربية، والتقي الصالح ما يتجاوز كلام الله وكلام الرسول صلى الله عليه وسلم، لكن إذا توسع وزاد دعاء من عنده جائز؛ لابأس؛ مثل دعاء الرسول صلى الله عليه وسلم :((أذهب البأس رب الناس واشف أنت الشافي لاشفاء إلاشفاؤك شفاء لايغادر سقما))، أو يرقي نفسه فيقول: بسم الله، بسم الله، بسم الله، ((أعوذ بعزة الله وقدرته من شر ما أجد وأحاذر)) (سبع مرات)، وبسم الله (ثلاث مرات). عثمان بن أبي العاص الثقفي رضي الله عنه كان يشكو مرضا فقال قدمت على النبي صلى الله عليه وسلم وبي وجع قد كاد يبطلني فقال لي النبي صلى الله عليه وسلم: ((اجعل يدك اليمنى عليه وقل بسم الله أعوذ بعزة الله وقدرته من شر ما أجد وأحاذر سبع مرات)) فقلت ذلك فشفاني الله. قالها؛ فبرأ وشفي. أفضل شيء كلام الله، ثم كلام الرسول صلى الله عليه وسلم؛ فاختر الأفضل. والله أنا أنصح السلفيين أن لا يدخلوا هذا الباب ولاينصب أحد نفسه.

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *