oleh

Tatacara dan Pembatal I’tikaf Yang Perlu Anda Ketahui

Alhamdulillah, pada pembahasan sebelumnya kita telah mengenal apa itu I’tikaf dan membahas dua hadits tentang i’tikaf. Pada pembahasan ringkas kali ini kami ingin menyajikan beberapa poin penting dari hadits tersebut.

Waktu pelaksanaan I’tikaf

I’tikaf bisa dilakukan kapanpun, tanpa ada kekhususan waktu. Hal ini berdasarkan hadits Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

كُنْتُ نَذَرْتُ فِي الجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي المَسْجِدِ الحَرَامِ، قَالَ: فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ

“Dahulu semasa jahiliah aku pernah bernadzar untuk beri’tikaf semalam di Masjidil Haram. Maka Rasulallah bersabda: “Penuhilah nadzarmu.”1

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata: ”Boleh seorang beri’tikaf kapanpun waktunya, siang atau malam, walaupun pada waktu dimakruhkannya shalat, juga di hari raya idul fithri dan idul adhha ataupun di hari hari tasyrik (pada tanggal 11,12, dan 13 Dzulhijjah).”2

Namun, beri’tikaf di bulan Ramadhan lebih ditekankan lagi, terlebih di sepuluh hari terakhir. Hal ini sebagaimana yang dikisahkan oleh istri Rasul, Aisyah radhiyallahu ‘anha :

أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. Kemudian para istri beliau pun beri’tikaf setelahnya.”3

Jangka waktu I’tikaf

Tidak ada batas waktu tertentu dalam i’tikaf. Meskipun hanya sesaat.4 Sebab tidak ada dalil dari

al-Quran dan as-Sunnah yang menyebutkan adanya batasan waktu tertentu. Namun, yang utama jangka waktu i’tikaf adalah tidak kurang dari sehari.

Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan: “Yang utama ketika beri’tikaf adalah tidak kurang dari sehari karena tidak ada riwayat yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabat radhiyallahu ‘anhum beri’tikaf kurang dari sehari.”5

Tempat I’tikaf

I’tikaf tidak boleh dilakukan kecuali di masjid, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Sedang kalian beri’tikaf di masid-masjid.”(al-Baqarah:187)

Sebagian ulama menjelaskan maksud dari masjid di sini ialah, masjid yang ditegakkan padanya shalat wajib lima waktu dan shalat jum’at.

Adapun imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa bolehnya beri’tikaf di semua masjid secara mutlak berdasarkan keumuman ayat di atas.6

Bolehkah I’tikaf bagi wanita?

Boleh bagi wanita untuk beri’tikaf baik di masjid yang ditegakkan padanya shalat jamaah ataukah tidak. Sebagaimana yang telah dikisahkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha

ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Kemudian para istri beliau pun beri’tikaf setelahnya. “7

Namun dengan ketentuan wanita tersebut telah diberi izin oleh sang suami, itupun jika aman dari fitnah di masjid tempat ia beri’tikaf. Bahkan sebagian Ulama – termasuk Imam Abu Hanifah rahimahullah – berijtihad bolehnya seorang wanita beri’tikaf di tempat shalat yang ada di rumahnya, kemudian ia niatkan untuk i’tikaf.8

Syarat sahnya I’tikaf

  1. Seorang yang beri’tikaf harus seorang muslim, mencapai usia tamyiz(yaitu sekitar umur 7 tahun), dan berakal.

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “I’tikaf tidak sah kecuali dari seorang muslim, berakal, dan suci.”9 Berakal disini masuk di dalamnya tamyiz. Dan suci disini yang dimaksud adalah suci dari hadats besar yang merupakan syarat sah i’tikaf yang keempat.

  1. Niat beri’tikaf untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Karena ini merupakan salah satu syarat sahnya suatu amalan. Hal ini berdasarkan hadits Umar radhiyallahu ‘anhu bahwasannya beliau pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Hanyalah amalan itu bergantung pada niat. Dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan apa yang ia niatkan.”10

  1. I’tikaf harus dilaksanaakan di dalam masjid. Sebagaimana yang telah disebutkan penjelasannya tentang tempat i’tikaf. Allah Ta’ala berfirman :

وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Sedang kalian beri’tikaf di masid-masjid.”(al-Baqarah:187)

  1. Suci dari hadats besar, maka tidak sah I’tikafnya orang yang sedang haidh, nifas atau dalam keadaan junub. Sebagaimana yang telah diterangkan oleh imam an-Nawawi rahimahullah di atas bahwa suci dari hadats besar termasuk syarat sah seorang yang beri’tikaf.

Pembatal-pembatal I’tikaf

  1. Seorang yang sedang I’tikaf tidak diperkenankan untuk keluar dari masjid tanpa ada kebutuhan yang mendesak. Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata :

كَانَ النَّبِيُّ إِذَا اعْتَكَفَ، يُدْنِي إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ، وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ

“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika beri’tikaf, beliau menundukkan kepalanya kepadaku agar aku menyisir rambutnya. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah masuk rumah ketika beri’tikaf kecuali ada kebutuhan mendesak.”11

  1. Jima’, yaitu melakukan hubungan suami-istri walau dilakukan di malam hari, dan di luar masjid. Demikian pula yang semakna dengan itu keluarnya mani diiringi dengan syahwat tanpa jima’, seperti onani, bercumbu rayu dengan istri di selain kemaluan. Allah Ta’ala berfirman :

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Janganlah kalian campuri mereka itu, sedang kalian beri`tikaf di masjid-masjid.”(al-Baqoroh:187)

  1. Hilang akal, maka batal i’tikafnya seorang yang gila dan mabuk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Pena (pencatat amal) akan diangkat dari tiga golongan ; orang yang tidur sampai ia bangun dari tidurnya, anak kecil sampai ia berihtilam (mimpi basah), dan orang gila sampai ia sadar dari gilanya.”12

  1. Haidh, Nifas, dan Junub.

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: ”Dan tidak sah i’tikafnya seorang yang dalam keadaan haidh, nifas, dan junub. Karena menetapnya mereka di masjid merupakan suatu kemaksitan.”13

  1. Murtad, yaitu keluar dari Islam. Allah Ta’la berfirman :

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapus amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (az-Zumar:65)

Inilah sekelumit tentang pembahasan I’tikaf yang kami sajikan untuk para pembaca yang semoga selalu dalam cakupan rahmat Allah Ta’ala.

Di akhir pembahasan, kami haturkan doa kepada Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami, terimalah amalan-amalan shalih kami, jadikanlah ia sebagai pemberat amal kebaikan kami, berikanlah taufik kepada kami dalam mengerjakan amal ibadah di bulan suci ini, dan jadikanlah bulan Ramadhan ini lebih baik dari Ramadhan yang lalu.” Amin. ANM-YSR

  • Penulis : Alifian Nur Amin
  • Refrensi : Kitab Al Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab,karya Imam an-Nawawi

Revisi dari artikel : https://islamhariini.com/poin-penting-dari-hadits-itikaf/


Footnotes

  1. HR. Bukhari no. 2032 di dalam shahihnya.
  2. Lihat Al Majmu’ syarh Al Muhadzdzab hlm. 6/489.

    يَصِحُّ الِاعْتِكَافُ فِي جَمِيعِ الْأَوْقَاتِ مِنْ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَوْقَاتِ كَرَاهَةِ الصَّلَاةِ وَفِي يَوْمِ الْعِيدَيْنِ وَالتَّشْرِيقِ

  3. HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172.
  4. Lihat Al Majmu’ syarh Al Muhadzdzab hlm.6/489.” يَجُوزُ الْكَثِيرُ مِنْهُ وَالْقَلِيلُ حَتَّى سَاعَةٍ أَوْ لَحْظَةٍ“
  5. Lihat Al Majmu’ syarh Al Muhadzdzab hlm. 6/489.

    الْأَفْضَلُ أَنْ لَا يَنْقُصَ اعْتِكَافُهُ عَنْ يَوْمٍ لِأَنَّهُ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ اعْتِكَافٌ دُونَ يَوْمٍ“

  6. Lihat Al Majmu’ syarh Al Muhadzdzab hlm. 6/483.” أَنَّهُ يَصِحُّ فِي كُلِّ مَسْجِدٍ وبه قال مالك
  7. HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172.
  8. Lihat Al Majmu’ syarh Al Muhadzdzab hlm. 6/484.” قال أبو حنيفة يصح… فِي اعْتِكَافِ الْمَرْأَةِ فِي مَسْجِدِ بَيْتِهَا
  9. Lihat Al Majmu’ syarh Al Muhadzdzab hlm. 6/475.ولا يصح إلا من مسلم عاقل طاهر“
  10. HR. Bukhari no.1 di dalam shahihnya.
  11. HR. Muslim no.297 di dalam shahihnya.
  12. HR. Abu Dawud no.4403 di dalam sunannya dan dishahihkan oleh imam al-Albani dalam kitabnya ‘Shahih wa Dho’if Sunan Abi Dawud’ hlm. 1/2.
  13. Lihat Al Majmu’ syarh Al Muhadzdzab hlm. 6/476.” وَلَا يَصِحُّ اعْتِكَافُ حَائِضٍ وَلَا نُفَسَاءَ وَلَا جُنُبٍ ابْتِدَاءً لِأَنَّ مُكْثَهُمْ فِي الْمَسْجِدِ مَعْصِيَةٌ
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait