oleh

Silsilah Pertanyaan tentang Akidah (bagian 8)

-Fatwa-2,069 views

Akidah adalah fondasi utama dalam Islam. Ia bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah, sesuai dengan pemahaman para sahabat yang mereka merupakan generasi terbaik umat ini. Tanpa akidah yang lurus, seluruh amalan bisa tertolak.

Sedangkan kesyirikan adalah bentuk penyimpangan akidah paling berbahaya, yaitu menyekutukan Allah Ta’ala dalam perbuatan, ucapan, maupun keyakinan. Tentunya, kesyirikan merupakan hal penting untuk dipahami dengan benar, detail, dan pasti. Tidak boleh ada kerancuan dan keraguan sedikit pun dalam memahaminya, terlebih lagi karena di sana ada bentuk-bentuk kesyirikan yang kecil serta samar.

Pada bagian kedelapan ini, kita akan menyertakan pertanyaan seputar syirik kecil dan beberapa bentuknya, sebagai lanjutan dari bagian sebelumnya.

Apa Itu Syirik Kecil?

Jawaban:

Syirik kecil adalah riya’. Allah Ta’ala berfirman,

فَمَن كَانَ يَرۡجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلًا صَـٰلِحًا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

“Barangsiapa yang mengharapkan pertemuan (yang baik) dengan Rabbnya, maka hendaklah ia melakukan amal shalih dan tidak menyekutukan Allah dalam peribadatan kepada-Nya dengan sesuatupun.” (Al Kahfi: 110)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَخۡوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيۡكُمُ الشِّرۡكُ الۡأَصۡغَرُ: الرِّيَاءُ

“Sungguh hal paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’.” 1

Dan di antara bentuk syirik kecil adalah perkataan seorang, “jika seandainya bukan karena Allah dan si Fulan.” atau “Apa yang Allah kehendaki dan yang engkau kehendaki.” 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَقُولُوا مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلَانٌ، وَلٰكِنۡ قُولُوا: مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءَ فُلَانٌ

“Janganlah kalian berkata, apa yang Allah dan Fulan kehendaki, tapi katakanlah apa yang Allah kehendaki kemudian Fulan kehendaki.” 3

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنۡ كَانَ حَالِفًا، فَلۡيَحۡلِفۡ بِاللهِ أَوۡ لِيَصۡمُتۡ

“Barangsiapa yang bersumpah, maka hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah, atau hendaknya ia diam.” 4

Inilah akhir bagian kedelapan dari rangkaian pertanyaan seputar akidah yang membahas landasan-landasan penting dalam memahami akidah yang benar. Semoga penjelasan ini dapat menguatkan keimanan serta menajamkan pemahaman kita terhadap akidah yang lurus.
Nantikan lanjutan seri akidah ini pada artikel selanjutnya. InsyaAllah akan mengupas pertanyaan-pertanyaan lain yang tak kalah penting terkait akidah yang lurus.

 

Teks Arab

الشِّرۡكُ الۡأَصۡغَرُ
س١ – : مَا هُوَ الشِّرۡكُ الۡأَصۡغَرُ؟
ج١ – : الشِّرۡكُ الۡأَصۡغَرُ هُوَ الرِّيَاءُ، قَالَ تَعَالَى: ﴿فَمَن كَانَ يَرۡجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلًا صَـٰلِحًا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا﴾ (سورة الكهف).
وَقَالَ ﷺ: (إِنَّ أَخۡوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيۡكُمُ الشِّرۡكُ الۡأَصۡغَرُ: الرِّيَاءُ). (صَحِيحٌ رَوَاهُ أَحۡمَدُ).
وَمِنَ الشِّرۡكِ الۡأَصۡغَرِ قَوۡلُ الرَّجُلِ: (لَوۡ لَا اللهُ وَفُلَانٌ أَوۡ مَا شَاءَ اللهُ وَشِئۡتَ). قَالَ ﷺ: (لَا تَقُولُوا مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلَانٌ، وَلٰكِنۡ قُولُوا: مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءَ فُلَانٌ) (صَحِيحٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ).

س٢ – : هَلۡ يَجُوزُ الۡحَلۡفُ بِغَيۡرِ اللهِ؟

ج٢ – : لَا يَجُوزُ الۡحَلۡفُ بِغَيۡرِ اللهِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿قُلۡ بَلَىٰ وَرَبِّى لَتُبۡعَثُنَّ﴾ (سورة التغابن). وَقَالَ ﷺ: (مَنۡ حَلَفَ بِغَيۡرِ اللهِ فَقَدۡ أَشۡرَكَ) (صَحِيحٌ رَوَاهُ أَحۡمَدُ). وَقَالَ ﷺ: (مَنۡ كَانَ حَالِفًا، فَلۡيَحۡلِفۡ بِاللهِ أَوۡ لِيَصۡمُتۡ) (مُتَّفَقٌ عَلَيۡهِ).

Referensi:

Al-Qur’anul Karim

Khudz Aqidatak Minal Kitabi Was Sunnah Ash-Shahihah karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu (W. 1431 H) rahimahullah

Shahih Al-Bukhari karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (W. 256 H) rahimahullah

Shahih Muslim karya Imam Abul Hajjaj Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi (W. 261 H) rahimahullah

Al-Musnad karya Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal (W. 241 H) rahimahullah

Sunan Abi Dawud karya Imam Abu Dawud Sulaiman bin Asy’ats As-Sijistani (W. 275 H) rahimahullah

 

Penulis: Muhammad Zidan

(ZDN/AAA/ATH)

Footnotes

  1. HR. Ahmad no.23630 dari sahabat Mahmud bin Labid radhiyallahu anhu
  2. HR. Abu Dawud no.4980 dalam sunan beliau dari sahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu anhu.

    Apakah Boleh Bersumpah kepada Selain Allah Ta’ala?

    Jawaban:

    Tidak boleh bersumpah kepada selain Allah Ta’ala.

    Allah Ta’ala berfirman,

    قُلۡ بَلَىٰ وَرَبِّى لَتُبۡعَثُنَّ

    “Katakanlah, ‘Tentu, demi Rabbku, pasti kalian akan dibangkitkan.’”

    Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

    “Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah Ta’ala maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan (kecil).” 2 HR. Ahmad No.5374 dalam musnad beliau dari sahabat Umar bin al Khaththab radhiyallahu anhu

  3. Muttafaqun alaih (disepakati kesahihan hadits ini oleh Imam al Bukhari dan Muslim dalam kitab sahih keduanya
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *