oleh

Hukum Bersalaman Dengan Wanita Bukan Mahrom

-Fatwa-1.367 views

Pertanyaan:

Bolehkah seorang laki-laki mengucapkan salam kepada wanita (bukan mahrom) dengan berjabat tangan namun dipisahkan dengan kain (antara tangan laki-laki dan perempuan)?

Jawaban:

Tidak boleh bagi lelaki meletakan tangannya pada wanita bukan mahrom walau hanya sekedar salaman, walaupun dibalut dengan kain. Karena ada sebuah hadits dari sahabat ‘Urwah dan ummul mukminin Aisyah radiyallahu ‘anhuma dalam periwayatannya pada kisah bai’at nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dengan para wanita.
Aisyah berkata:

وَلاَ وَاللَّهِ مَا مَسَّتْ يَدُهُ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ فِي المُبَايَعَةِ، مَا يُبَايِعُهُنَّ إِلَّا بِقَوْلِهِ: قَدْ بَايَعْتُكِ عَلَى ذَلِكِ

“Tidak demi Allah, tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyentuh tangan wanita sedikitpun dalam pembaiatan. Beliau tidak memba’iat mereka kecuali hanya dengan ucapan: “Sungguh aku telah membai’atmu di atas hal tersebut”.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya, No. 4991)

Begitu juga riwayat dari Imam Ahmad dengan sanadnya yang shahih dari sahabiyyah Umaimah binti Ruqaiqah, ia berkata:

“Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewakili para wanita untuk membaiat beliau. Beliaupun mengambil atas kami apa yang ada dalam Al-Qur’an… sampai pada ucapannya kami bertanya: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidakkah kita berjabat tangan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ، إِنَّمَا قَوْلِي لِمِائَةِ امْرَأَةٍ، كَقَوْلِي لِامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ

“Sesungguhnya aku tidak menjabat tangan para wanita, hanya saja ucapanku terhadap seorang wanita telah mewakili ucapanku terhadap seratus orang wanita”. [H.R Ahmad dalam kitab “musnad”]

Bagi kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan terbaik sebagaimana firman Allah Ta’ala Dzat yang mengutusnya:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا ۝٢١

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suriteladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah)”. (Al Ahzab: 21)

Dialihbahasakan dari kumpulan fatwa Komisi Tetap Urusan Riset Ilmiyyah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia.
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait