Rukun Iman Isinya

oleh

Rukun Iman Isinya sangat menarik sekali untuk dibahas. Pembahasan ini juga dikaitkan oleh mesin pencari dengan kata kunci: rukun iman ada enam apa saja, iman rukun hakikat dan pembatalannya, rukun iman malaikat, video rukun iman ainun, rukun iman ada berapa dan jelaskan, rukun iman ada 6 dan rukun islam yang ke 3 puasa atau zakat.

Rukun Iman ada enam. Enam rukun ini menjadi prinsip dasar agama kita. Prinsip ini telah dijelaskan di beberapa surat dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun sebelum kita membahas lebih lanjut tentang rukun iman, terlebih dahulu kita harus mengetahui apa itu iman.

Perbedaan Makna Iman Antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan Kelompok yang Menyimpang

 

  Murji’ah Ahlus Sunnah
wal Jama’ah
 Khawarij dan Mu’tazilah
Aqidah Iman itu ucapan semata, amalan tidak mempengaruhi iman. Iman adalah keyakinan dengan hati, ucapan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Iman mempunyai cabang-cabang. Iman itu ucapan, keyakinan dan amal. Tidak bertambah dan tidak berkurang. Namun ukuran iman itu adalah: adanya iman dan tidak adanya iman, tidak bercabang. Jika sebagian iman hilang berarti hilang semuanya.
Akibat Sehingga imannya pelaku dosa besar dengan imannya para sahabat mereka anggap sama. Iman para ahlul maksiat dan iman orang-orang shalih dari kalangan para sahabat berbeda tingkatannya. Pelaku dosa besar tidak dihukumi kafir. Namun imannya berkurang. Maka para pelaku dosa besar dan orang yang tidak beramal mereka vonis kafir dan halal darahnya.

 

Rukun Iman ada Enam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut urutan rukun Iman dalam berbagai hadits terkhusus hadits Jibril:

..قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآَخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ..

Bahwa Rukun Iman adalah:

  1. Engkau beriman kepada Allah,
  2. Malaikat-malaikat-Nya,
  3. Kitab-kitab-Nya,
  4. Rasul-rasul-Nya,
  5. Hari Akhir, dan
  6. Qadar yang baik dan buruknya;  (HR Muslim)

 

  1. Rukun-rukun ini diawali dengan Iman kepada Allah;

Sebab iman kepada Allah adalah pondasi utama sedangkan rukun-rukun yang lain adalah yang mengikutinya. Allah Ta’a;a berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Al Anfal: 2)

  1. Lalu disebutkan Iman kepada para malaikat  dan
  2. Iman kepada para Rasul;

Karena merekalah wasithah (perantara) antara Allah dengan makhluk-makhluk-Nya dalam penyampaian risalah kerasulan. Malaikat menurunkan wahyu kepada para Rasul. Dan para rasul menyampaikannya kepada manusia. Allah Ta’ala berfirman:

يُنَزِّلُ الْمَلآئِكَةَ بِالْرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنذِرُواْ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنَاْ فَاتَّقُون

Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku”. (An-Nahl : 2)

  1. Kemudian disebutkan Iman kepada Kitab-kitab;

Karena ia adalah hujjah (argumen) dan marji’ (sumber rujukan) yang para Rasul –dari kalangan malaikat dan nabi- datang membawanya dari sisi Allah untuk menegakkan hukum antara manusia dalam hal-hal yang mereka berselisih di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman:

فَبَعَثَ اللّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُواْ

“(Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (Al-Baqarah: 213)

  1. Selanjutnya disebutkan Iman kepada Hari Akhir;

Sebab ia adalah tempat dijanjikan pembalasan atas setiap amalan yang merupakan hasil dari beriman kepada Allah, para malaikat, Kitab-kitab, para Rasul atau akibat dari pendustaan terhadap hal-hal tersebut.

Sehingga konsekuensi keadilan ilahi adalah ditegakkannya Hari Akhir untuk memisah antara yang lalim dengan yang teraniaya dan penegakan keadilan antara manusia.

  1. Berikutnya disebut Iman kepada Qada’ dan Qadar;

Hal ini dijelaskan dalam firman Allah Ta’ala:

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (Al Hajj: 70)

Beriman kepada qada’ dan qadar mendorong orang untuk beramal shalih dan mengambil berbagai sebab yang bermanfaat dalam mencapai tujuannya disertai penyandaran diri dan hasil kepada Allah Yang Maha Suci.

Tidak ada kontradiksi antara syariat Allah diutusnya para Rasul dan diturunkannya Kitab-kitab dengan dengan Qada’ dan Qadar-Nya.

Berbeda dengan apa yang disangka oleh orang-orang yang suka mengada-ngadakan perkara baru dalam agama dan sangkaan kaum musyrikin yang mereka berkata (sebagaimana dalam firman-Nya):

لَوْ شَاء اللّهُ مَا عَبَدْنَا مِن دُونِهِ مِن شَيْءٍ نَّحْنُ وَلا آبَاؤُنَا وَلاَ حَرَّمْنَا مِن دُونِهِ مِن شَيْءٍ

“Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatupun tanpa (izin) -Nya”. (An-Nahl: 35)

❌ Mereka tetap di atas kekufuran dengan alasan bahwa Allah telah mentakdirkan hal itu atas mereka. Dan apabila Allah telah mentakdirkannya atas mereka tentu –dalam persangkaan mereka- Dia telah meridhai hal tersebut dari mereka.

💥 Maka Allah pun membantah mereka. Seandainya Allah ridha  dengan kekufuran mereka niscaya Dia tidak akan mengutus para Rasul untuk mengingkarinya, sehingga Allah berfirman pada penutup ayat di atas:

فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلاَّ الْبَلاغُ الْمُبِينُ

“maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (An-Nahl: 35) [* keyword=”Rukun Iman Isinya”]

Sumber: Muntaqaa Fataawa Ulama Besar Arab Saudi.

=====~~=======

Itulah pembahasan dengan kata kunci Rukun Iman Isinya.

Seorang Mufassir dalam tafsirnya berkata:

“Lalu apabila para Rasul telah menyampaikan perintah dan larangan Rabb mereka kepada mereka kaum musyrikin, sedangkan mereka membantah dengan berargumen kepada para Rasul bahwa kseyirikan mereka itu takdir,  maka tidak ada lagi kewajiban apapun atas para Rasul. Dan hanyalah perhitungan mereka diserahkan kepada Allah ‘azza wa jalla (bukan lagi tugas para Rasul tersebut, pent.).” Taisiirul Kariimir Rahman, hal. 503.