Home / Fiqih Puasa / Semua Hal Tentang Puasa Asyura

Semua Hal Tentang Puasa Asyura

puasa asyura

Pengertian Puasa Asyura

Puasa Asyura adalah puasa pada hari ke-10 bulan Muharram.
Dari Shahabat Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

”Puasa pada hari ‘Asyura , aku berharap kepada Allah penghapusan dosa setahun yang lalu.” ( Hadits Shahih, HR. Muslim no.1162 – 196, Abu Daud no.2425 , At-Tirmidzi no.752, Ibnu Majah no.1738)

Sungguh telah tetap hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau dahulu melakukan puasa Asyura dan beliau pun memotivasi manusia untuk berpuasa padanya.

Dikarenakan hari tersebut adalah hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya, dan Allah membinasakan Fir’aun dan bala tentaranya.

Maka disunnahkan bagi setiap muslim dan muslimah untuk melakukan puasa asyura, dalam rangka bersyukur kepada Allah ‘azza wa Jalla.

4 Tata Cara Puasa Asyura

Puasa Asyura dilakukan pada hari 10 Muharram. Disunnahkan untuk berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi dalam permasalahan tersebut.

1. Melakukan puasa asyura tiga hari

Yakni berpuasa pada hari 9, 10, dan 11 Muharram merupakan tingkatan yang tertinggi. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad rahimahullahu dalam Musnadnya:

خالفوا اليهود صوموا يوماً قبله ويوماً بعده

“Selisihilah oleh kalian orang-orang Yahudi dengan berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (HR. Ahmad no. 2155 dan Al Baihaqi no. 4315.)

Dalam riwayat yang lainnya:

صوموا يوماً قبله أو يوماً بعده

“Berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (HR. Al Haitsami no. 4315.)

Ketika seorang melakukan puasa asyura 3 hari maka ia juga akan mendapatkan keutamaan puasa 3 hari setiap bulan.

2. Melakukan puasa asyura pada hari ke 9 dan 10

Tatkala dikabarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin menyelisihi mereka, lalu bersabda:

لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع

“Seandainya tahun depan aku masih hidup, maka sungguh aku akan berpuasa pada tanggal 9 (bulan Muharram).”

Melakukan puasa asyura dengan cara seperti ini bahkan menyelisihi orang-orang kafir secara umum.

3. Puasa asyura pada tanggal 10 dan 11 saja

Berdasarkan hadits di atas maka para ulama mengatakan: dibolehkan juga melakukan puasa asyura pada tanggal 10 dan 11 saja.

4. Berpuasa hanya pada tanggal 10 saja

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama dalam hukum melakukan puasa asyura pada tanggal 10 Muharram saja. Ada yang berpendapat mubah dan ada pula yang mengatakan makruh.

Adapun yang berpendapat itu mubah, berdalil dengan keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang puasa Asyura, beliau hanya menjawab:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah penghapusan dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim no.1162 – 196, Abu Daud no.2425 , At-Tirmidzi no.752, Ibnu Majah no.1738)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan perintah untuk berpuasa pada tanggal 9.

Sementara yang mengatakan makruh, berdalilkan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

خالفوا اليهود صوموا يوماً قبله ويوماً بعده

“Selisihilah oleh kalian orang-orang Yahudi dengan melakukan puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (HR. Ahmad no. 2155 dan Al Baihaqi no. 4315.)

Dalam riwayat yang lainnya:

صوموا يوماً قبله أو يوماً بعده

“Berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (HR. Al Haitsami no. 4315.)

Maka disini mengandung konsekuensi keharusan untuk menambahkan puasa sehari dalam rangka menyelisihi orang-orang yahudi.

Atau paling ringannya adalah: Makruh puasa asyura hanya pada tanggal 10 saja. Dan ini pendapat yang kuat.

Maka seorang yang ingin keluar dari perbedaan ini dengan ia melakukan puasa asyura sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.

Keutamaan Puasa Asyura

Berikut ini, di antara keutamaan puasa asyura:

1. Puasa asyura menghapus dosa setahun yang lalu

Hal ini berdasarkan hadits dari shahabat Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu; bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah penghapusan dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim no.1162 – 196, Abu Daud no.2425 , At-Tirmidzi no.752, Ibnu Majah no.1738)

2. Puasa asyura adalah puasa yang paling utama setelah puasa ramadhan

Dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah puasa di bulan ramadhan adalah puasa pada bulan Allah (yang disebut dengan) Muharram, dan sholat yang paling utama setelah sholat fardhu (yang wajib) adalah sholat malam.“ (HR.Muslim no. 1163 – 202)

Berhati-hati dari perkara yang diada-adakan oleh Syiah pada hari Asyura

“Ketahuilah, menghidupkan kembali kedukaan dan ratapan tangis untuk musibah yang telah lama berlalu termasuk hal yang besar keharamannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya”.

Bagi kaum Syiah, hari Asyura dinilai bersejarah karena bertepatan dengan terbunuhnya al-Husain bin Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhuma dengan penuh kezaliman pada 61 H.

Drama berkabung mereka menampilkan kaum laki-laki yang menyerupai wanita.

Hal ini adalah suatu yang diharamkan sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang berpakaian seperti model pakaian wanita dan (melaknat) wanita yang berpakaian seperti lelaki.” (HR. Abu Dawud no. 4098, Ahmad 2/325)

Begitu juga makanan-makanan yang disuguhkan pada acara tersebut yang sengaja dibuat tidak enak.

Hal ini merupakan tindakan yang sia-sia dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik ketika meninggal orang-orang besar di sisi beliau seperti Hamzah bin Abdil Muthalib radhiyallahu anhu atau yang lainnya.

Adapun istigasah yang mereka lakukan pada hari asyura, dengan berdo’a kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, menganggap imam-imam mereka mengetahui perkara gaib, tanpa diragukan lagi bahwasanya hal itu adalah syirik besar berdasarkan ijmak ulama.

Sungguh aneh yang mereka lakukan ini.

Begitu berkabungnya mereka atas terbunuhnya Husain bin Ali radhiyallahu anhu sehingga melakukan hal-hal yang sangat berlebihan itu hingga diantaranya terjatuh pada kesyirikan.

Padahal kita tahu seseorang yang lebih utama dari Husain juga telah terbunuh, yaitu ayahnya Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu.

Sebelum itu juga telah terbunuh Umar bin al Khattab dan Utsman bin Affan radhiallahu anhuma. Namun syi’ah tidak menjadikan waktu terbunuhnya Ali, Utsman dan Umar radhiyallahu anhum sebagai hari berkabung.

Bukankah ini menunjukkan apa yang mereka lakukan itu adalah hiasan tipu daya setan semata kepada mereka untuk menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap kaum muslimin.

Maka sekarang kita telah mengetahui bahwa apa yang dilakukan orang-orang syi’ah tersebut tidak ada dasarnya dalam Islam, bahkan ia bertolak belakang dengan ajaran Islam.

Ibnu Rojab -rahimahumullah- berkata:

“Adapun menjadikannya (hari asyura) sebagai hari ratapan sebagaimana yang dilakukan oleh syi’ah rafidhah dalam rangka memperingati kematian Al-Husain bin Ali radiallahu’anhu di hari itu, maka ini termasuk amalan orang-orang yang sia-sia usahanya di kehidupan dunia ini, dalam keadaan dia mengira telah berbuat kebaikan.

Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memerintakan untuk menjadikan hari-hari terjadinya musibah dan kematian para nabi sebagai hari ratapan, lantas bagaimana dengan orang yang kedudukannya di bawah mereka??”

Adapun menurut umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, Al Husain meninggal sebagai syahid.

Oleh sebab itu, beliau dimuliakan. Beliau dan saudaranya, Al Hasan, adalah dua pemuda surga. Karena kedudukan yang tinggi harus diperoleh dengan pengorbanan yang besar pula.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,

أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟

 فَقَالَالْأَنِبْيَاءُ ثُمَّالصَّالِحُونَ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌزِيدَ فِي بَلَائِهِ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ خُفِّفَعَنْهُ، وَ يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَىالْأَرْضِ وَلَيْسَ عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Siapakah yang paling berat cobaannya?

Beliau menjawab, “Para nabi kemudian orang-orang shaleh, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka.

Seseorang itu diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kokoh maka ditambah ujiannya. Jika agamanya lembek maka diringankan ujiannya.

Terus menerus bala menimpa seorang yang beriman hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak berdosa.”

(HR. Ahmad 1/172 dan ini lafadz beliau; at-Tirmidzi dalam  Sunan-nya 4/28, “Abwabuz Zuhud” no. 2509 dan beliau mengatakan hadits hasan sahih; ad-Darimi dalam Sunan-nya, “Kitab ar-Raqaiq” 2/320; Ibnu Majah dalam Sunan-nya, “Kitab al-Fitan” 2/1334 no. 4023)

Baca Juga

Mencela Diri di Depan Orang Lain

Mencela Diri di Depan Orang Lain Termasuk Riya’

BUKAN HAL TERPUJI MENCELA DIRI DI DEPAN ORANG LAIN 🗒 Al Hafizh Ibnu Rajab Al …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *