oleh

Menghadap Kiblat Termasuk Syarat Diterimanya Shalat

Menghadap kiblat merupakan syarat sahnya shalat. Tidak akan diterima shalat seseorang jika tidak menghadap kiblat. Namun, ternyata Rasulullah shallallahu alalihi wasallam pernah shalat tidak menghadap kiblat! Sebagaimana yang disebutkan di dalam shahih al-Bukhari dan Muslim. Nah, kali ini, kami ingin berbagi faedah dengan pembaca sekalian. Mengenai permasalahan menghadap kiblat. Bolehkah shalat dengan tidak menghadap kiblat? Jawabannya ada pada paragraf-paragraf berikut ini…

Apa Sih Kiblat Itu?

Kiblat kaum muslimin adalah Ka’bah yang berada di kota Makkah. Kenapa disebut kiblat? Karena, kaum muslimin, baik yang berada di timur maupun di barat, mereka menghadap ke arah kiblat (Ka’bah) ketika shalat. Allah Ta’ala menyatakan:

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (al-Baqarah: 144)

Ayat ini berisi perintah menghadap kiblat ketika shalat.


Baca Juga: Penjelasan Syariat Khitan Dalam Islam


Awal Mula Disyariatkan Menghadap Kiblat

Pensyariatan menghadap kiblat terjadi pada tahun kedua hijriyyah. Sebelumnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shalat menghadap Baitul Maqdis. Itu terjadi selama satu tahun lima atau empat bulan.


Baca Juga: 6 Masa Penting dalam Sejarah Syiah


Hukum Menghadap Kiblat Ketika Shalat

Menghadap kiblat adalah syarat diterimanya shalat. Tidak sah shalat seseorang apabila sengaja dilakukan tidak menghadap kiblat. Bagi anda yang berkesempatan bisa shalat di dekat Ka’bah, tidak boleh anda berpaling sedikitpun dari Ka’bah ketika shalat. Harus benar benar lurus menghadap Ka’bah.

Adapun bagi anda yang shalat tidak di dekat Ka’bah atau di selain Masjidil Haram, seperti kita di Indonesia, maka kita diperintahkan menghadap ke arah kota Makkah. Tidak harus benar-benar lurus dengan ka’bah, karena itu perkara yang sulit diwujudkan. Selain ini adalah bentuk kemudahan syariat Islam yang indah lagi mulia.

Allah memerintahkan kita beramal semaksimal kemampuan kita. Tidak memberat-beratkan diri dengan perkara di luar kemampuan kita. Allah Ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (at-Taghabun: 16)


Baca Juga: Hukum Menghilangkan Cacat pada Anggota Tubuh


Dalil Wajibnya Menghadap Kiblat Ketika Shalat

Menghadap kiblat wajib dilakukan dan merupakan syarat sah ditegakkannya shalat. Berdasarkan dalil al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (al-Baqarah: 144)

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الوُضُوءَ، ثُمَّ اسْتَقْبِلِ القِبْلَةَ فَكَبِّرْ

“Jika anda ingin shalat, maka berwudhu’lah dengan sempurna. Kemudian menghadaplah ke kiblat. Seraya bertakbir.” (HR. al-Bukhari no. 6251, 6667 dan Muslim no. 397 di dalam shahih keduanya, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu)


Baca Juga: Wajibkah Mengucapkan Basmalah Ketika Berwudhu?


Ternyata, Rasulullah Pernah Shalat Tidak Menghadap Kiblat

Diriwayatkan oleh imam al-Bukhari di dalam shahihnya, bahwa Ibnu Umar radhiyallahu anhuma menceritakan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَبِّحُ عَلَى ظَهْرِ رَاحِلَتِهِ حَيْثُ كَانَ وَجْهُهُ يُومِئُ بِرَأْسِهِ

“Bahwa Rasulullah shalat sunnah di atas punggung kendaraan. Beliau menghadap kemana saja kendaraannya mengarah dengan memberi isyarat kepala.” (HR. al-Bukhari no. 1105) Yang dimaksud “tasbih” pada hadits ini adalah shalat sunnah (lihat. Ihkamul ahkam hal. 210).

Disebutkan dalam riwayat lain:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ عَلَى رَاحِلَتِهِ

“Bahwa Rasulullah pernah shalat witir di atas kendaraan.” (HR. Muslim no. 700, dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma)

Di dalam hadits lain disebutkan:

أَنَّ رَسَولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا سَافَرَ فَأَرَادَ أَنْ يَتَطَوَّعَ اسْتَقْبَلَ بِنَاقَتِهِ القِبْلَةَ فَكَبَّرَ ثُمَّ صَلَّى حَيْثُ وَجَّهَهُ رِكَابُهُ

“apabila Rasulullah safar, kemudian beliau ingin shalat sunnah, beliau menghadapkan untanya ke kiblat, kemudian beliau bertakbir dan shalat menghadap mana saja untanya menghadap.” (HR. Abu Dawud no. 1225, dari sahabat Anas bin Malik, Hasan1)

Pada hadits-hadits di atas, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat tanpa menghadap kiblat. Hal itu beliau lakukan hanya ketika safar dan pada shalat sunnah saja. Beliau tidak melakukannya pada shalat wajib dan ketika tidak safar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Jabir radhiyallahu anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ تَطُوُّعًا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ الْمَكْتُوبَةَ نَزَلَ فَيُصَلِّي مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ

“Suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat sunnah di atas kendaraan dengan menghadap ke arah timur. jika ingin shalat wajib, beliau turun kemudian shalat dengan menghadap kiblat.” (HR. al-Bukhari no. 1099)

Maka disimpulkan, bahwa menghadap kiblat dalam shalat hukumnya wajib dan merupakan salah satu syarat sah shalat. Namun, kewajiban ini gugur apabila seseorang melakukan shalat sunnah di atas kendaraan ketika safar. Wallahu a’lam bish shawab.

Akhir kata, inilah sekilas tentang permasalahan menghadap kiblat. Juga beberapa perkara yang berkaitan dengan menghadap kiblat. Semoga Allah Ta’ala menerima amalan shalat kita semua. Aamiin. Semoga bermanfaat. AZB-IBR

Penulis: Abu Zakariyya Abdurrahman


1 Lihat shahih wa dhaif sunan Abi Dawud hal. 02

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait