oleh

Mengapa Mukmin yang Kuat Lebih Allah Cintai dan Bagaimana Kita Bisa Meraihnya? 

-Hadits-1,073 views

Seorang mukmin yang kuat akan lebih dicintai oleh Allah Ta’ala daripada mukmin yang lemah. Ini merupakan potongan dari lafazh hadits yang dibawakan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada mukmin yang lemah. Akan tetapi pada semuanya ada kebaikannya. Bersungguh-sungguhlah meraih sesuatu yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala dan jangan merasa lemah. Apabila engkau ditimpa sesuatu maka jangan katakan jika saja aku melakukan ini atau itu, namun katakan ini semua sebab takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala dan segala yang Dia kehendaki pasti Allah akan lakukan, sebab ucapan “لو” (seandainya) akan membuka celah bagi amalan syaitan.”1

Penjelasan Hadits Mukmin yang Kuat Lebih Baik

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan makna hadits ini secara gamblang di dalam kitabnya al-Minhaj. Berikut penjelasannya secara ringkas.

  • Siapakah Mukmin yang Kuat

Ketika mendengar bahwa mukmin yang kuat lebih baik, tentu muncul pertanyaan: Siapakah yang dimaksud dengan mukmin yang kuat itu? 

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa mukmin yang kuat bukan hanya mukmin yang kuat secara jasmani, melainkan juga yang kuat secara rohani, dengan tekad yang membara dalam perkara akhirat. Mukmin seperti inilah yang akan lebih bersemangat menghadapi musuh dalam berjihad di jalan Allah, sehingga ia menjadi orang yang paling cepat memenuhi seruan jihad dan paling bersegera menyambutnya karena mengharapkan pahala di sisi Allah.

Mukmin yang kuat juga merupakan orang yang paling bersungguh-sungguh dan bertekad kuat dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran), paling sabar dalam menghadapi gangguan, serta paling teguh dalam menanggung beban ketaatan kepada Allah Ta’ala. Ia pula yang paling bersemangat mengerjakan shalat, puasa, berzikir, dan berbagai ibadah lainnya, sekaligus paling bersungguh-sungguh dalam mengharapkan serta menjaga amalan-amalan tersebut.

2. Keduanya Sama-Sama Baik 

Maknanya adalah setiap mukmin, baik yang kuat maupun yang lemah, tetap memiliki nilai kebaikan, karena keduanya sama-sama beriman. Hanya saja, mukmin yang lemah imannya berada pada tingkatan di bawah mukmin yang kuat, meskipun ia tetap beramal.

3. Bersungguh-Sungguhlah dalam meraih sesuatu yang bermanfaat

Maknanya adalah bersungguh-sungguhlah dalam berbagai bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berharaplah kepada apa yang ada di sisi-Nya, dan mintalah pertolongan kepada-Nya. Janganlah bersikap lemah dan malas dalam mengerjakan ketaatan.

4. Apa yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Tertimpa Musibah

>Larangan mengucapkan “لو” (seandainya) hanya berlaku bagi orang yang meyakini bahwa seandainya ia tidak melakukan sesuatu, niscaya musibah itu tidak akan menimpanya. Namun, jika ia mengembalikan segala sesuatu kepada kehendak Allah Ta’ala bahwa musibah yang menimpanya semata-mata terjadi atas kehendak-Nya maka hal ini tidak termasuk dalam larangan tersebut. 2


Baca Juga: 3 Hal yang Menjadi Sebab Persatuan dan Kekuatan Kaum Muslimin


Faedah Hadits

Dalam hadits ini terdapat banyak faedah yang dapat kita petik, antara lain adalah:

  1. Kaum mukminin bertingkat-tingkat dalam kebaikan dan dalam kesungguhan meraih kecintaan Allah Ta’ala serta beramal untuk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلِكُلّ دَرَجَٰت مِّمَّا عَمِلُواْۖ

“Sedangkan mereka seluruhnya bertingkat-tingkat dalam amalan mereka.”(Al-Ahqaf:19)

Tingkatan tersebut terbagi menjadi 3 bagian;

  1. >As-Sabiqun, yaitu orang-orang yang bersemangat dalam kebaikan mereka menunaikan kewajiban dan amalan sunnah dengan sungguh-sungguh, serta meninggalkan segala perkara yang haram.
  2. Al-Muqtashidun, yaitu orang-orang yang mencukupkan diri dengan mengerjakan kewajiban dan meninggalkan larangan, tanpa berlebih pada amalan sunnah
  3. Azh-Zhalimun, yaitu orang-orang yang mencampurkan antara amalan shalih dan amalan buruk.
  1. >Hukum mengucapkan “لو” (seandainya), yaitu dilarang mengucapkannya pada amalan yang telah berlalu, karena hal itu dapat mengantarkan pada sikap tidak rida terhadap takdir. Adapun mengucapkannya terkait amalan ketaatan yang terlewat, maka hal itu tidak mengapa. 3
  2. >Penetapan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat “mahabbah” (cinta) dan kecintaan Allah Ta’ala sesuai dengan kemuliaan dan kesempurnaan-Nya, sebagaimana hal itu juga bergantung pada kehendak-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

>Demikianlah penjelasan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang tingkatan kaum mukmin dalam kebaikan, dan bahwa sebaik-baik mereka adalah yang paling kuat yakni yang paling kuat keimanannya dan paling bersungguh-sungguh dalam mengerjakan kebaikan.

>Oleh karena itu, sudah sepantasnya setiap mukmin bersungguh-sungguh dalam mencari kebaikan. Hendaknya ia juga berusaha menjadi yang terkuat dan paling bersungguh-sungguh dalam beramal. 4(AAJ/ASP/AAK)

Penulis: Abdurrahman Aufi

Referensi:

  • Al-Qur’anul Karim.
  • Shahih Muslim, karya Imam Abul Hasan Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi (w. 261 H) rahimahullah.
  • Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi (w. 676 H) rahimahullah.
  • Bahjatu Qulubil Abrar, karya al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir bin Abdillah (w. 1376 H) rahimahullah.
  • Al-Mulakhkhash Syarh Kitabut Tauhid, karya al-‘Allamah Shalih bin Fauzan hafizhahullahu Ta’ala.

 

Footnotes

  1. HR. Muslim No. 2664, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
  2. Lihat al-Minhaj Syarh Shahih Muslim 16/215-216
  3. Lihat al-Mulakhkhas Syarh Kitabut Tauhid hal.377
  4. Lihat Bahjatu Qulubil Abrar hal. 27-31
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *