Islam merupakan nikmat yang sangat besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dimana umat muslim termasuk orang-orang beruntung yang dipilih untuk menjadi bagian dari agama ini. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (Al-Maidah: 3)
Ayat ini mencerminkan betapa pentingnya agama Islam dalam kehidupan manusia, karena Allah menjamin kebahagiaan dan keselamatan di akhirat bagi pemeluknya. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya,
مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amalan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia beriman kepada Allah, sungguh Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah -seorang pakar tafsir terkemuka- menjelaskan makna ayat tersebut,
“Ini merupakan janji dari Allah Ta’ala kepada siapa saja yang beramal shalih -yaitu amalan yang sesuai dengan apa yang tertera dalam al-Qur’an dan dituntunkan oleh sunnah nabi-Nya- baik dari kalangan lelaki maupun wanita dari bani Adam, dalam keadaan hatinya beriman kepada Allah dan rasul-Nya- dan bahwa amalan yang diperintahkan tersebut disyariatkan oleh Allah Ta’ala- Allah akan anugerahkan untuknya kehidupan yang baik di dunia dan memberikan ganjaran di akhirat kelak dengan yang lebih baik dari amal shalih yang ia perbuat.”
1Syukur dan Rasa Terima Kasih
Seorang Muslim tentunya harus bersyukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat Islam dan menyadari betapa pentingnya nikmat tersebut dalam hidup mereka. Banyak dari kaum muslimin yang tidak menyadari nilai agama ini dan terpesona oleh budaya Barat serta apa yang ditawarkannya dalam hal teknologi dan inovasi, tanpa memperhatikan nilai-nilai spiritual dan moral yang dibawa oleh Islam. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
أَمَا تَرْضَى يَا عُمَرُ أَنْ تَكُوْنَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الآخِرَةُ؟
“Tidakkah kau merasa senang wahai Umar, bahwa mereka memiliki dunia, sedangkan kita memiliki akhirat?!” 2
Hal ini menunjukkan bahwa keridhaan Allah adalah tujuan tertinggi.
Baca Juga: Keindahan Islam yang Harus Diketahui Setiap Muslim
Ajakan untuk Merenung
Di tengah nikmat-nikmat ini, umat Islam perlu menyadari pentingnya bersyukur kepada Allah dan terus berdzikir. Mereka yang mengabaikan nikmat ini mungkin akan menemukan diri mereka dalam situasi sulit dan berharap berada di tempat lain.
Allah Ta’ala berfirman,
فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهۡدِيَهُۥ يَشۡرَحۡ صَدۡرَهُۥ لِلۡإِسۡلَٰمِۖ وَمَن يُرِدۡ أَن يُضِلَّهُۥ يَجۡعَلۡ صَدۡرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي ٱلسَّمَآءِۚ
“Maka, siapa yang Allah kehendaki mendapat hidayah, Dia akan melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Siapa yang Dia kehendaki menjadi sesat, Dia akan menjadikan dadanya sempit lagi sesak seakan-akan dia sedang mendaki ke langit.” (Al-An’am: 125)
Pada akhirnya, Islam tetap menjadi nikmat yang tak ternilai, dan kita harus menyadarinya di setiap momen kehidupan kita, serta berusaha untuk menjaga dan memperkuatnya dalam hati kita dan hati orang-orang di sekitar kita.
Nikmat yang Tak Tertandingi
Nikmat Islam adalah anugerah yang tidak ternilai. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tentang keadaan orang-orang kafir dan keadaan mereka yang menolak hidayah-Nya, menggambarkan betapa pentingnya nikmat iman dan Islam yang telah diberikan kepada kita, sebagaimana ayat di atas. Dengan beriman, kita memperoleh kehidupan yang penuh makna dan tujuan yang jelas, serta dijanjikan surga yang kekal dan penuh kebahagiaan.
Allah Ta’ala berfirman:
بَلَىٰۚ مَنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِن ٌفَلَهُۥٓ أَجۡرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ
“Tidak demikian! Orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah serta berbuat ihsan, akan mendapat pahala di sisi Rabbnya, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka, dan mereka pun tidak bersedih.” (al-Baqarah: 112)
Tanggung Jawab untuk Bersyukur
Sebagai umat Islam, kita memiliki tanggung jawab untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Syukur ini tidak hanya diucapkan melalui lisan, tetapi juga harus tercermin dalam setiap tindakan kita. Dengan menghargai nikmat ini, kita berkomitmen untuk menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ini adalah cara kita untuk menunjukkan rasa syukur yang tulus kepada-Nya.
Sebagaimana Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan hakikat syukur:
الثَّنَاءُ عَلَى النِّعَمِ وَمَحَبَّتُهُ وَالعَمَلُ بِطَاعَتِهِ
“Memuji atas nikmat dan mencintai nikmat tersebut, serta memanfaatkan nikmat untuk ketaatan.”
3
Akhir kata, marilah kita bersyukur dan berdoa agar Allah Ta’ala memberkahi kita dengan nikmat iman dan Islam ini. Semoga kita semua dapat menjadi hamba-hamba-Nya yang bersyukur dan beramal shalih, serta mendapatkan ridha-Nya di dunia dan akhirat. Aamiin. (ZDN/MPS/UAK)
Penulis: Muhammad Zidan Ambon
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim
- Audio Syaikh Abu Ammar Abbas al-Jaunah hafizhahullah berjudul: Ni’matul Islam
- Al-Adabul Mufrad karya Imam para penghafal hadits Abu Abdillah Muhamad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhari rahimahullah (W. 256 H)
- Thariqul Hijratain wa Babus Sa’adatain karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub al-Jauziyyah rahimahullah (W. 751 H)
- Tafsir Ibn Katsir karya ‘Imaduddin Abul Fida’ Ismail bin Umar -pakar ilmu tafsir- rahimahullah (W. 774 H)
- Shahihul Adabil Mufrad Karya Imam Para penghafal hadits di masa ini, Muhammad Nashiruddinal-Albani rahimahullah (W. 1420 H)
Footnotes
-
هَذَا وَعْدٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى لِمَنْ عَمِلَ صَالِحًا –وَهُوَ الْعَمَلُ الْمُتَابِعُ لِكِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ– مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنْ بَنِي آدَمَ، وَقَلْبُهُ مُؤْمِنٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَإِنَّ هَذَا الْعَمَلَ الْمَأْمُورَ بِهِ مَشْرُوعٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ –بِأَنْ يُحْيِيَهُ اللَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً فِي الدُّنْيَا وَأَنْ يَجْزِيَهُ بِأَحْسَنِ مَا عَمِلَهُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ.
- Diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dalam kitab Al-Adabul Mufrad hal. 398 dan dihasankan oleh syaikh albani dalam kitabnya Shahih al-Adabil Mufrad hal. 451
- Lihat Thariqul Hijratain karya Imam Ibnul Qayyim hal. 508











Komentar