Home / Aqidah dan Tauhid / Makna Rukun Islam Beserta Dalilnya

Makna Rukun Islam Beserta Dalilnya

Makna Rukun Islam beserta dalil

Sebelumnya, kami informasikan bahwa telah hadir chanel Telegram Islam Hari Ini. Dengan tujuan untuk mempermudah pembaca mengetahui informasi update harian website Islam Hari Ini. Ayo bergabung bersama kami dengan meng-klik gambar berikut:

Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya bahwa Islam mempunyai lima rukun, yaitu:

  1. Syahadat (persaksian) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
  2. Menegakkan shalat
  3. Menunaikan zakat
  4. Berpuasa di bulan ramadhan
  5. Haji ke Baitullah al Haram

Namun apakah rukun-rukun tersebut mempunyai dasar ataukah hanya perkara yang diada-adakan di dalam Islam?

Padahal Islam adalah agama yang sempurna. Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah yang tidak perlu lagi untuk ditambah-tambahi atau dikurang-kurangi oleh makhluk.

Bahkan tugas makhluk hanyalah mengikuti apa-apa yang telah Allah syariatkan saja melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Makna rukun Islam beserta dalilnya

1. Dalil Syahadat (Persaksian)

Rukun Islam yang pertama adalah bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

  • Adapun dalil syahadat tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah adalah firman Allah Ta’ala:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan demikian itu. Tak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran: 18)

Maknanya adalah لَا إِلَٰهَ إِلَّااللَّه (tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah semata).

Penggalan kalimat لَا إِلَٰهَ (tidak ada sesembahan) adalah penafian (pengingkaran). Artinya adalah menolak dan meniadakan serta mengingkari segala sesuatu yang diibadahi selain Allah Ta’ala.

Sedangkan penggalan kedua إِلَّااللَّه (kecuali Allah) adalah itsbat (penetapan), artinya menetapkan ibadah hanya untuk Allah Ta’ala semata. Karena tidak ada sekutu bagi Allah dalam ibadah sebagaimana tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan dan kekuasaan-Nya.

Penafsiran serta penjelasan dari pernyataan di atas adalah firman Allah Ta’ala:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ

إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kalian sembah,  akan tetapi aku menyembah Rabb Yang telah menciptakanku, karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku”. ” (Az Zukhruf: 26-27)

Begitu juga dengan firman Allah Ta’ala:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah kecuali Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai sesembahan selain Allah“. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.” (Ali Imran: 64)

  • Adapun dalil syahadat Muhammad adalah utusan Allah adalah firman Allah Ta’ala:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, ia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At Taubah: 128)

Makna syahadat محمد رسول الله “Muhammad adalah Rasulullah” yaitu:

  1. mentaati perintah beliau,
  2. membenarkan berita dan kabar yang beliau bawa,
  3. menjauhi apa yang dilarangan dan dicegah oleh beliau serta
  4. tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syariat beliau 

2. Dalil Shalat dan Zakat

Rukun Islam yang kedua adalah shalat dan yang ketiga adalah menunaikan zakat. Hal ini berdalilkan dengan firman Allah Ta’ala berikut yang sekalian sebagai tafsir tauhid:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; Demikian itulah agama yang lurus.” (Al Bayyinah: 5)

3. Dalil Puasa

Adapun perintah berpuasa berdalilkan dengan firman Allah Ta’ala

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (AL Baqarah: 183)

4. Dalil Haji

Setiap muslim yang telah mempunya kemampuan berhaji maka diwajibkan baginya untuk berhaji ke baitullah. Hal ini termasuk rukun Islam yang kelima. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dan tidak butuh kepada semesta alam.” (Ali Imran: 97)

Adapun dalil dari hadits, sebagaimana terdapat dalam hadits beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

عَنْ عُمَرَ رضي الله عنه أَيضاً قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً. قَالَ: صَدَقْتَ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ

“Dari Umar radhiyallahu ‘anhu pula dia berkata;

Pada suatu hari ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian sangat putih, dan rambutnya sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya.

Kemudian ia duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendekatkan lututnya lalu meletakkan kedua tangannya di atas pahanya, seraya berkata:

‘Wahai Muhammad jelaskan kepadaku tentang Islam?’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

”Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan haji ke Baitullah Al Haram jika engkau mampu mengadakan perjalanan ke sana.

Laki-laki tersebut berkata: ‘Engkau benar.’ Maka kami pun terheran-heran padanya, dia yang bertanya dan dia sendiri yang membenarkan jawabannya.” (HR Muslim)

Itulah rukun Islam beserta dalil-dallilnya yang harus kita pelajari untuk diamalkan. Karena salah satu prinsip di dalam Islam adalah berilmu sebelum beramal.  

Sebagaimana Al-Imam Al-Bukhari menyusun sebuah bab dalam Shahihnya pada Kitab Al-Ilm: “Bab al-Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan”,

Beliau berdalil dengan firman Allah ta’ala:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Dan ketahuilah (ilmuilah)bahwasanya tidak ada sesembahan yg benar dan berhak untuk disembah dan diibadahi melainkan Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan”, (Muhammad : 19)

Allah memulai firmanNya ini dengan perintah untuk berilmu: فَاعْلَمْ  terlebih dahulu baru kemudian perintah beramal: وَاسْتَغْفِرْ.

Maka hendaknya kita memulai dengan ilmu pada setiap perkataan dan perbuatan, baik pada amalan dzahir maupun batin.

Semoga dengan itu Allah kokohkan keislaman dan keimanan kita. Amiin.

Baca Juga

Masalah Manusia yang Terbesar

Masalah Manusia yang Terbesar

Seorang Ulama penulis kitab Manhajul ‘Anbiya berkata: فليسفي مشاكل البشر سياسيها واقتصاديهاواجتماعيها من الخطر ما …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *