oleh

Shalat Qabliyyah Subuh Lebih Baik daripada Dunia dan Seisinya

Allah telah menjadikan indah beberapa perkara di dunia sebagai kesenangan bagi manusia. Kesenangan pada perkara ini dikejar oleh manusia dengan berbagai upaya, hingga lelah dan letihpun tak mengalahkan mereka untuk berjuang mengejarnya. Usaha mendapatkan kesenangan pada perkara tersebut terkadang penuh dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Begitulah realita yang terjadi pada manusia yang telah kita saksikan sendiri. Hal ini sebagaimana yang telah Allah sampaikan pada ayat-Nya:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran: 15)

Namun kesenangan di dunia hanyalah sementara dan akan berakhir pada waktu yang telah Allah tentukan. Jika kesenangan tersebut diupayakan dengan cara yang haram, maka akan berujung pada kesengsaraan yang penuh dengan penyesalan. Baik kesengsaraan tersebut disegerakan di dunia maupun ditunda sampai di akhirat kelak.

Berbeda halnya dengan seorang hamba yang mengerti tujuan hidupnya di dunia ini. Dia tetap menjaga dirinya dari perkara haram dalam mengambil bagian yang telah Allah takdirkan untuknya di dunia ini, dan dia lebih mengutamakan upaya untuk mengejar kesenangan yang abadi yang takkan pernah berakhir. Hal ini dia lakukan demi mencari keridhoan Sang Pencipta kesenangan abadi.

Oleh karena itu, hadits berikut ini merupakan kabar gembira bagi seorang hamba yang benar-benar ingin mengejar kesenangan abadi. Yaitu kabar berupa bimbingan dari Rasulullah shalalllahu ‘alaihi wa sallam untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari semua yang ada di dunia.

Lafaz Hadist

عَنْ عَائِشَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا»

Dari sahabiyyah Aisyah radhiyallahu anha, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam beliau bersabda: “dua rakaat (sebelum shalat) fajar (subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” 1

Sahabat Perawi hadits

Beliau adalah Ummul-mukminin (ibunda kaum mukminin), istri Rasul shallallahu’alaihi wa sallam, bahkan istri kesayangannya. Termasuk salah satu Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Nama lengkap beliau: Ummu Abdillah Aisyah binti Abu Bakr ash-Shiddiq Abdullah bin Abi Quhafah Utsman at-Taimiy al-Qurasyi.

Beliau menikah dengan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pada umur enam tahun di Makkah. Kemudian dipertemukan kembali dengan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pada umur sembilan tahun di Madinah.

Beliau adalah puteri dari sahabat yang paling mulia, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Aisyah adalah wanita yang fakih, berilmu dan memiliki banyak keutamaan.

Beliau dan Khadijah memiliki keutamaan yang banyak. Masing-masing memiliki keutamaan yang tidak dimiliki yang lainnya. Aisyah mengungguli Khadijah dalam hal ilmu, periwayatan hadits, dan kefakihan. Adapun Khadijah radhiyallahu anha unggul atas Aisyah dari sisi pertolongan, bantuan dan pembelaan beliau kepada Rasul shallallahu’alaihi wa sallam di masa awal kali berdakwah. Yaitu, ketika beliau menolong, menjaga dan menghibur Rasul dengan tenaga, pikiran dan hartanya.

Sehingga, para ulama’ berselisih tentang siapakah yang lebih utama diantara keduanya, Aisyah ataukah Khadijah? Inilah sekilas tentang perawi hadits di atas.

Makna hadits

Rasulullah mengabarkan bahwasannya shalat dua rakaat sebelum shalat subuh lebih baik dari dunia dan seisinya. Hal itu karena dunia adalah sesuatu yang fana (tidak kekal) dan kenikmatannya tidak lepas dari keletihan serta rasa capek. Sedangkan pahala yang didapat dari mengerjakan dua rakaat sebelum subuh itu tidak akan luntur. Oleh karena itu, dua rakaat sebelum subuh lebih baik dari dunia dan seisinya. 2

Faedah yang dapat dipetik dari hadits ini

  1. Anjuran dan dorongan untuk mengerjakan dua rakaat sebelum subuh. Dan hasungan untuk senantiasa menjaga shalat ini.
  2. Shalat dua rakaat sebelum subuh bukanlah shalat wajib. Karena Rasul shallallahu’alaihi wa sallam tidak menyebutkan hukuman bagi orang yang meninggalkannya.
  3. Keutamaan shalat dua rakaat sebelum subuh.
  4. Kesenangan di dunia beserta harta bendanya ternyata adalah kesenangan yang sangat sedikit yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesenangan yang telah Allah janjikan.
  5. Upaya meraih kesenangan abadi tidak mesti dilakukan dengan upaya yang penuh dengan pengorbanan yang besar, namun hanya butuh kepada keikhlasan dan kesesuaian dengan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  6. Suatu amalan meskipun kecil namun sesuai bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai hikmah dan pahala yang sangat besar.

Demikianlah, sedikit yang bisa kami sampaikan tentang dua rakaat sebelum subuh. Semoga menjadi penambah semangat kita beribadah. Dan sebagai penambah ilmu dan wawasan kita semua. Amin. AZB, AHJ-ALF

Penulis: Abu Zakariyya Abdurrahman

 

Sumber:

Tuhfatul Ahwadzi karya Muhammad bin Abdurrahim al-Mubarakfury

Nailul Authar karya Imam asy-Syaukaniy


Footnotes

  1. HR. Muslim di dalam shahihnya no. 96 dan 127; at-Tirmidzi no. 416 dan Ibnu Majah no. 1759, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha
  2. Tuhfatul Ahwadzi karya Muhammad bin Abdurrahim al-Mubarakfury 2/388
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait