Hukum asal mengangkat tangan dalam berdoa adalah sunnah dan termasuk salah satu sebab dikabulkannya doa, sekaligus salah satu ajaran yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam. Namun ternyata hal ini tidak selalu beliau lakukan. Lalu, apakah ini menunjukkan dua hal yang saling bertentangan? Tentu tidak. Mari kita cermati bersama.
Kaidah Penting: Tata Cara Berdoa Harus Mengikuti Tuntunan/Sunnah Rasulullah
Doa merupakan ibadah agung yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Setiap ibadah memiliki tuntunan khusus yang harus dijalani. Tuntunan tersebut haruslah berdasarkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ
“Apa saja yang dibawa oleh Rasul kepada kalian, maka ambillah (kerjakanlah)! Dan apa saja yang dilarang oleh beliau, maka tinggalkanlah!”(Al- Hasyr: 7)
Doa pun termasuk salah satu ibadah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga setiap hamba seharusnya mengamalkan apa saja yang beliau ajarkan dan tidak menyelisihinya dalam hal apapun.
Karena doa adalah ibadah, maka sifatnya adalah tauqifiyyah (mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak boleh semaunya). Apabila beliau mencontohkan mengangkat tangan saat berdoa pada suatu keadaan, maka kita pun mengangkat tangan pada keadaan tersebut. Demikan pula sebaliknya, jika beliau tidak mengangkat tangan saat berdoa pada keadaan tertentu maka kita pun tidak mengangkat tangan. Intinya, mengangkat tangan atau tidak saat kita berdoa harus mengacu pada tuntunan Rasulullah.
Keadaan-Keadaan yang Disunnahkan Mengangkat Tangan Saat Berdoa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak selalu mengangkat tangannya setiap kali berdoa. Namun ada beberapa kondisi, waktu, dan tempat tertentu yang beliau melakukannya. Di antaranya adalah sebagai berikut:
-
Ketika Berdoa Secara Umum
Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إنَّ ربكُم حَييٌ كريمٌ يستحيي مِنْ عبدِه إذا رَفعَ يَدَيهِ إليه أن يَرُدهما صِفْراَ
“Sesungguhnya Rabb kalian Maha Malu lagi Maha Mulia. Dia sangat malu apabila hamba-Nya mengangkat tangan kepada-Nya, kemudian mengembalikannya dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan).”1
-
Pada Saat Berdoa dalam Ibadah Haji
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangannya ketika berdoa dalam rangkaian ibadah haji beliau pada momen-momen berikut:
-
Setelah melempar Jamrah (bentuk baku dari jumrah) Ula dan Wustha (jumrah pertama dan pertengahan).
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَمَى الجَمْرَةَ الَّتِي تَلِي مَسْجِدَ مِنًى يَرْمِيهَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ كُلَّمَا رَمَى بِحَصَاةٍ، ثُمَّ تَقَدَّمَ أَمَامَهَا، فَوَقَفَ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ، رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو، وَكَانَ يُطِيلُ الوُقُوفَ، ثُمَّ يَأْتِي الجَمْرَةَ الثَّانِيَةَ، فَيَرْمِيهَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ كُلَّمَا رَمَى بِحَصَاةٍ، ثُمَّ يَنْحَدِرُ ذَاتَ اليَسَارِ، مِمَّا يَلِي الوَادِيَ، فَيَقِفُ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو، ثُمَّ يَأْتِي الجَمْرَةَ الَّتِي عِنْدَ العَقَبَةِ، فَيَرْمِيهَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ عِنْدَ كُلِّ حَصَاةٍ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ وَلَا يَقِفُ عِنْدَهَا» قَالَ الزُّهْرِيُّ: سَمِعْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، يُحَدِّثُ مِثْلَ هَذَا، عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَفْعَلُهُ
“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila melempar jamrah yang terletak setelah Masjid Mina (Jamrah Ula), beliau melemparinya dengan tujuh batu kerikil seraya bertakbir pada setiap kali melempar satu kerikil. Kemudian beliau maju ke depan jamrah tersebut, lalu berdiri menghadap kiblat sambil mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, dan beliau memperlama berdirinya.
Kemudian beliau mendatangi jamrah kedua (Jamrah Wustha), lalu melemparinya dengan tujuh batu kerikil sambil bertakbir pada setiap kali melempar satu kerikil. Kemudian beliau bergeser turun ke arah kiri menuju lembah, lalu berdiri menghadap kiblat sambil mengangkat kedua tangannya seraya berdoa.
Kemudian beliau mendatangi jamrah yang terletak di Aqabah (Jamrah Aqabah), lalu melemparinya dengan tujuh batu kerikil seraya bertakbir pada setiap kali melempar satu kerikil, lalu beliau langsung pergi dan tidak berdiri (berdoa) di sisinya.”
Az-Zuhri berkata, “Aku mendengar Salim bin Abdillah menceritakan hal yang sama dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan dahulu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma juga mengerjakannya.”2
-
Di Padang Arafah.
Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits:
كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ، فَرَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو، فَمَالَتْ بِهِ نَاقَتُهُ، فَسَقَطَ خِطَامُهَا فَتَنَاوَلَ الْخِطَامَ بِإِحْدَى يَدَيْهِ، وَهُوَ رَافِعٌ يَدَهُ الْأُخْرَى
“Aku pernah dibonceng oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Arafah. Beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, lalu untanya oleng sehingga tali kekangnya jatuh. Maka beliau pun mengambil tali kekang tersebut dengan salah satu tangannya, sementara tangan yang lain tetap beliau angkat.”3
-
Pada Keadaan-Keadaan Khusus
Beliau juga mengangkat tangan saat berdoa pada beberapa keadaan mendesak yang membutuhkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena mengangkat tangan termasuk salah satu sebab dikabulkannya doa. Berikut beberapa contohnya:
-
Dalam Perang Badar,
لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ، وَأَصْحَابُهُ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا، فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقِبْلَةَ، ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ، فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ: «اللهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي، اللهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ»، فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ، مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ، حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ فَأَتَاهُ أَبُو بَكْرٍ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ، فَأَلْقَاهُ عَلَى مَنْكِبَيْهِ، ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ وَرَائِهِ
“Ketika terjadi Perang Badar, Rasulullah ﷺ melihat kaum musyrikin yang berjumlah seribu orang, sedangkan para sahabat beliau berjumlah 319 orang. Maka Nabi ﷺ menghadap kiblat, kemudian mengangkat kedua tangan beliau dan terus memohon kepada Rabb-nya,
‘Ya Allah, tunaikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok kecil dari kaum muslimin ini, niscaya Engkau tidak akan disembah di muka bumi.’
Beliau terus memohon kepada Rabb-nya dengan kedua tangan terangkat dan menghadap kiblat, hingga selendang beliau terjatuh dari kedua pundaknya. Kemudian Abu Bakar datang, mengambil selendang beliau, lalu meletakkannya kembali di atas pundak beliau. Setelah itu, Abu Bakar memeluk beliau dari belakang.”4
-
Dalam doa istisqa’ (memohon turunnya hujan),
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ، وَإِنَّهُ يَرْفَعُ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ
“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengangkat tangannya (setinggi itu) dalam berdoa, kecuali saat istisqa’ (meminta turunnya hujan).”5
Sekilas hadits ini tampak bertentangan dengan hadits-hadits sebelumnya. Namun sebenarnya tidak demikian, karena terdapat pula riwayat-riwayat lain yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengangkat tangannya di luar doa istisqa’, dan dalilnya sangat banyak.7
Yang dapat dipahami dari hadits ini adalah bahwa beliau tidak mengangkat tangannya setinggi dan seterbuka itu, kecuali saat memohon hujan (istisqa’). 6
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mengangkat tangan saat berdoa tetap merupakan sunnah secara umum. Karena itu, seorang muslim hendaknya mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdoa.
Baca Juga: Hukum Mengangkat Tangan Saat Berdoa, Haruskah? Hukum Asal dan Dalilnya
Hikmah Disyariatkannya Mengangkat Tangan Saat Berdoa
Mengangkat tangan dalam berdoa bukan sekadar kebiasaan yang sering kita saksikan. Disyariatkannya perbuatan ini bukan tanpa tujuan dan manfaat. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai salah satu cara agar doa seorang hamba mudah dikabulkan. Karena dengan mengangkat tangan saat berdoa, seorang hamba menampakkan rasa butuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.7
Semoga dengan mengetahui hal ini, kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing kita untuk beramal sesuai ilmu yang telah kita ketahui. Aamiin.(AAJ/ASB/ATH)
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim.
- Shahih Bukhari, karya imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari (w. 256 H) rahimahullah.
- Shahih Muslim, karya imam Muslim bin Hajjaj Abul Hasan an-Naisaburi (w. 261 H) rahimahullah.
- Sunan an-Nasai, karya imam Abu Abdirrahman Ahmad bin Syuaib bi Ali al-Khurasani (w. 303 H) rahimahullah.
- Sunan Abi Dawud, karya imam Sulaiman bin al-Asy’ats as-Sijistani (w. 275 H) rahimahullah.
- Syarh Nawawi ‘ala Muslim, karya imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi (w. 676 H) rahimahullah.
- Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, karya imam Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab al-Hanbali (w. 795 H) rahimahullah.
- Taisirul Karimir Rahman, karya al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir bin Abdillah (w. 1376 H) rahimahullah.
Footnotes
- HR. Tirmidzi No. 3556, Abu Dawud No. 1488, Ibnu Majah No. 3865. Dari sahabat Salman radhiyallahu ‘anhu
- HR. Bukhari No. 1753, dari az-Zuhri rahimahullah
- HR. An-Nasai No. 3011, dari sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu
- HR. Muslim No. 1763, dari sahabat Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu
- HR. Bukhari No. 1031 dan Muslim No. 895, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu
- Lihat Syarh Nawawi ‘ala Muslim 6/190
شرح النووي على مسلم (6/ 190):
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ هَذَا الْحَدِيثُ يُوهِمُ ظَاهِرُهُ أَنَّهُ لَمْ يرفع ص إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ وَلَيْسَ الْأَمْرُ كَذَلِكَ بَلْ قد ثبت رفع يديه ص فِي الدُّعَاءِ فِي مَوَاطِنَ غَيْرِ الِاسْتِسْقَاءِ وَهِيَ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ تُحْصَرَ
شرح النووي على مسلم (6/ 190):
وَيُتَأَوَّلُ هَذَا الْحَدِيثُ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَرْفَعِ الرَّفْعَ الْبَلِيغَ بِحَيْثُ يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ أَوْ أَنَّ الْمُرَادَ لَمْ أَرَهُ رَفَعَ وَقَدْ رَآهُ غَيْرُهُ رَفَعَ فَيُقَدَّمُ الْمُثْبِتُونَ فِي مَوَاضِعَ كَثِيرَةٍ وَهُمْ جَمَاعَاتٌ عَلَى وَاحِدٍ لَمْ يَحْضُرْ ذَلِكَ وَلَا بُدَّ مِنْ تَأْوِيلِهِ لِمَا ذَكَرْنَاهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ
- Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam 1/272











Komentar