Home / Shalat / Jenis Air yang Digunakan untuk Bersuci

Jenis Air yang Digunakan untuk Bersuci

Bersuci membutuhkan sesuatu yang dengannya bisa mensucikan, menghilangkan najis dan mengangkat hadats. Sesuatu tersebut adalah air.

Jenis Air yang Digunakan untuk Bersuci

Air yang bisa digunakan untuk bersuci adalah air yang suci, suci pada dzatnya dan yang bisa mensucikan selainnya. Air tersebut tetap di atas asal penciptaannya yang artinya dia masih berada di atas sifat asli yang dia diciptakan.

Sama saja apakah air itu turun dari lari langit seperti hujan, lelehan salju dan embun, atau air yang mengalir di bumi seperti sungai-sungai dan mata air, serta laut. Sebagaimana firman AllahTa’ala :

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ

“dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu”(Al Anfal: 11)

dan firman Allah Ta’ala:

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

“dan Kami turunkan dari langit air yang suci,” (Al Furqon: 48)

Dan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 

(اللهم اغسلني من خطاياي بالماء و الثلج و البرد (متفق عليه

“Ya, Allah, cucilah aku dari dosa-dosaku dengan air dan salju dan embun”

Sesuatu yang cair selain dari air seperti cuka, jus atau lemon dan yang serupa dengannya tidak bisa digunakan untuk bersuci. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

“dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih);” (An Nisa 43)

Jika cairan selain air bisa digunakan untuk bersuci sebagai pengganti saat tidak ada air maka tidaklah diperintahkan kepada kita untuk menggunakan tanah/debu.

Bagaimana jika Air yang digunakan untuk bersuci Tercampur Najis? Apakah boleh untuk Bersuci?

Air yang tercampur najis kemudian berubah salah satu dari tiga sifatnya yaitu: aroma, rasa atau warnanya, maka air tersebut menjadi najis dan para ulama telah berijmak dalam hal ini, sehingga tidak sah digunakan untuk bersuci. Karena air tersebut tidak bisa mengangkat hadats dan tidak pula menghilangkan kotoran, sama saja apakah sedikit ataupun banyak.

Adapun jika air yang bercampur najis tersebut tidak berubah salah satu dari tiga sifat itu maka dirinci:

Jika airnya banyak maka airnya tidak najis sehingga bisa digunakan untuk bersuci, adapun jika airnya sedikit maka air tersebut menjadi najis sehingga tidak bisa digunakan untuk bersuci.

Adapun batasan banyaknya air adalah jumlah air tersebut mencapai dua kulah atau lebih, dan yang dimaksud dengan sedikit adalah yang kurang dari itu.

Dalil dari hal ini adalah sebuah hadits dari Abu Said Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

إِنَّ اَلْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

“Sesungguhnya air itu suci, tidak ada sesuatupun yang menasjiskannya” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, Nasa-i, Tirmidzi dan hasankan oleh beliau, di shahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Al Irwaul Ghalil)

Dan hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا بلغ الماء القلتين لم يحمل الخبث

“Jika air mencapai dua kulah maka tidak mengandung kotoran” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa-i, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullahu)

Maksud dari hadits di atas adalah air bila telah mencapai dua qullah atau lebih, maka pada umumnya air itu tidak terpengaruh oleh najis yang jatuh padanya.

Karena jumlah air yang banyak, air itu tidak terpengaruhi oleh najis, bahkan najis tersebut akan larut padanya. Hal ini berlaku jika air itu tidak berubah warna, rasa, atau baunya oleh sebab najis.

Bukanlah maksud Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa air tersebut tidak najis secara mutlak. Ijmak para ulama bahwa air yang apabila telah berubah warna, bau, atau rasanya oleh sebab najis yang jatuh padanya, maka air tersebut menjadi najis meskipun airnya banyak.

Bagaimana jika air yang digunakan untuk bersuci tercampur dengan benda lain yang suci seperti sabun, kertas, daun atau pohon?

Air yang tercampur dengan sabun, kertas, kayu, daun dan sebagainya dari benda-benda yang suci dan tidak mendominasi air tersebut, yang benar adalah air tersebut boleh digunakan untuk bersuci dari hadats maupun najis. Karena Allah Ta’ala berfirman :

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ

“Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. ” (An Nisa: 43)

Lafadz air pada ayat tersebut (مَاءً) adalah nakiroh (umum) dalam konteks larangan, sehingga berlaku untuk air yang umum. Tidak ada dibedakan antara air yang murni dengan yang sudah tercampur.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang perempuan yang sedang mempersiapkan penyelenggaraan jenazah putri beliau, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا، أَوْ خَمْسًا، أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ، بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَاجْعَلْنَ فِي الآخِرَةِ كَافُورًا – أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ

“Mandikanlah dia dengan tiga atau lima kali, atau lebih dari itu, jika kalian menganggap perlu maka gunakanlah air dan daun bidara dan gunakan kapur untuk yang terakhir kalinya atau campuran dari kapur.” ( Muttafaqun ‘alaihi)

Apakah air yang telah digunakan untuk bersuci masih tetap suci?

Air yang telah digunakan untuk bersuci, seperti air yang telah digunakan untuk berwudhu atau mandi, menurut pendapat yang benar adalah air tersebut suci dan dapat digunakan untuk bersuci. Air tersebut dapat mengangkat hadats dan menghilangkan najis selama tidak berubah salah satu dari tiga sifatnya yaitu bau, rasa dan warnanya.

Dalil tentang kesuciannya adalah:

أن النبي كا ن إذا توضأ كادوا يقتتلون على وضوئه

“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berwudhu, terkadang para sahabat seperti saling bertengkar untuk memperebutkan air wudhu beliau”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi janabah bersama istrinya dalam satu bejana, sebagaimana disampaikan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha:

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُوْلُ اللهِ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ نَغْتَرِفُ جَمِيْعًا

“Aku dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari satu bejana, kami menciduk air dari bejana tersebut secara bersama-sama” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim)

Sementara diketahui bila seseorang mandi pasti ada air dari tubuhnya yang jatuh kembali ke tempat penampungan air (bak ataupun bejana). Bila air tersebut najis niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan menggunakan air tersebut untuk mandi. AHJ

Baca Juga

Berlebihan Menggunakan Air Wudhu

Hukum Berlebihan Menggunakan Air Wudhu

Tercela Bila Berlebihan Menggunakan Air Wudhu dari Keran Penyebutan air keran di atas hanya sebagai …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *