oleh

Hukum Puasa Ketika Safar

Agama Islam adalah Agama yang penuh dengan rahmat dan kasih sayang. Agama yang mulia ini menghendaki kemudahan dan keringanan bagi pemeluknya, tidak ada suatu hal pun yang memberatkan dalam agama ini.

Agama Islam Agama Mudah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu suatu kesempitan dalam agama.” ( al-Hajj: 78 )

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” ( al-Baqarah: 185)

Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmat dan kasih sayang-Nya menetapkan syariat-Nya yang agung, sejatinya untuk kemaslahatan hamba itu sendiri. Barangsiapa yang menyambutnya serta mengagungkannya maka ia akan mendapatkan keutamaan dan ganjaran pahala yang besar di sisi Allah.

Namun, barang siapa yang tidak mengindahkan syariat Allah, bahkan cenderung menentang syariat tersebut, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan balas sesuai kadar dosa yang dilakukan hamba tersebut. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (al-An’am: 160)

Hal ini menunjukkan kesempurnaan perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berkisar antara keutamaan dan keadilan.

Di antara kemudahan yang ada dalam agama Islam ini ialah, yang berkaitan dengan seseorang yang berpuasa ketika safar (bepergian). Sebagaimana dimaklumi bahwasanya safar adalah bagian dari azab. Maknanya, ketika seseorang melakukan safar tentu ia akan mengalami kelelahan, kepayahan dan hal-hal yang memberatkan lainnya. Syariat yang agung ini telah memberikan keringanan terkait dengan permasalahan ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam safar (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”(al-Baqarah 185).

Hukum Puasa Ketika Safar

Dahulu pernah salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hukum puasa ketika safar, sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَنَّ حَمْزَةَ بْنَ عَمْرٍو الأَسْلَمِيَّ قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَأَصُومُ فِي السَّفَرِ؟ وَكَانَ كَثِيرَ الصِّيَامِ ، فَقَالَ: إِنْ شِئْتَ فَصُمْ، وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Hamzah bin ‘Amr al-Aslamiy pernah berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Apakah aku boleh berpuasa ketika safar?” Dan beliau radhiyallahu ‘anhu terkenal sering berpuasa, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika engkau mau, silahkan berpuasa, dan jika engkau mau silahkan untuk berbuka.” 1

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan kepada sahabatnya radhiyallahu ‘anhu antara berpuasa atau berbuka. Hal ini menunjukkan bolehnya seseorang berpuasa tatkala safar. Namun syariat yang mulia ini memberikan keringanan bagi seorang yang safar untuk tidak berpuasa, dan dia wajib menggantinya di hari lain.

Begitu pula disana terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan bolehnya seorang untuk berpuasa atau berbuka tatkala safar. Di antaranya,

  • Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ:كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى المُفْطِرِ، وَلاَ المُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,”Dahulu kami pernah safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah orang yang berpuasa mencela orang yang berbuka, dan tidaklah yang berbuka mencela yang berpuasa.”2

  • Hadits Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: «خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ فِي يَوْمٍ حَارٍّ حَتَّى يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ الحَرِّ، وَمَا فِينَا صَائِمٌ إِلَّا مَا كَانَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَابْنِ رَوَاحَةَ .

Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,”Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sebagian safarnya pada hari yang amat panas. Sampai-sampai seseorang meletakkan tangannya di atas kepalanya karena panasnya hari tersebut. Tidak ada di antara kami yang berpuasa melainkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ibnu Rawahah radhiyallahu ‘anhu.”3

Dalam kedua hadits tersebut terdapat faidah, bahwa seseorang tidak dilarang untuk berpuasa ketika safar, serta tidak boleh satu sama lain saling mencela, baik yang berpuasa maupun yang berbuka ketika dalam keadaan safar.

Lalu bagaimana dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari jalan sahabat yang mulia Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dalam sabdanya,

لَيْسَ مِنَ البِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ

“Bukan termasuk kebaikan berpuasa tatkala safar.” 4

Hadits tersebut dijelaskan oleh para ulama memilki asbabul wurud (sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hadits ini). Yaitu pernah suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu safarnya melihat manusia yang berkerumun dan ada seorang yang pingsan sedang dinaungi. Maka beliau bertanya pada mereka tentang laki-laki tersebut, mereka menjawab bahwa dia sedang berpuasa dan kehausan yang sangat menyebabkan ia jatuh tersungkur seperti itu. Karena hal itulah beliau menyebutkan hadits di atas.

Hadits tersebut tidaklah melarang seorang secara mutlak untuk berpuasa tatkala safar. Akan tetapi, hadits tersebut diterapkan sesuai dangan sebab yang terjadi. Jika seseorang mampu untuk melakukan puasa ketika safar maka silahkan ia berpuasa. Namun, jika ia tidak mampu berpuasa ketika safar dan menyebabkan masyaqqah (suatu yang memberatkan dia) maka hadits tersebut berlaku untuknya.

Manakah yang Afdhal (lebih utama) Berpuasa atau Berbuka?

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat dalam memandang manakah yang afdhal (lebih utama), antara berpuasa atau berbuka tatkala safar.

Imam Abu Hanifah5, Imam Malik6 dan Imam Syafi’i7 berpendapat bahwa yang afdhal adalah tetap berpuasa bagi orang yang tidak merasa mendapatkan hal yang memberatkan.

Adapun Imam Ahmad8 beliau berpendapat yang afdhal adalah berbuka walaupun ia tidak mendapatkan hal yang memberatkan dalam safarnya tersebut.

Beliau berdalilkan dengan hadits diatas,

لَيْسَ مِنَ البِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ

“Berpuasa tatkala safar bukan termasuk kebaikan.”

Dan juga hadits,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

“Sesungguhnya Allah suka untuk diambil keringanan dari-Nya, sebagaimana Dia benci untuk dilakukan maksiat kepada-Nya.”9

Terlepas dari itu semua, selayaknya bagi seorang muslim untuk tetap berupaya menjalankan ibadah ini sebaik mungkin, serta tidak memberatkan diri melebihi kadar kemampuan yang ada padanya sebagaimana dalam firman-Nya,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kalian kepada Allah semaksimal yang kalian mampu.” (at-Taghabun: 16)

Dan juga firman-Nya Ta’ala

لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (al-Baqarah: 286)

Wallahu’alam, AUH – UA


1 HR. Al-Bukhari no.1943.

2 HR. Al-Bukhari no.1947.

3 HR. Al-Bukhari no. 1945.

4 HR. Al-Bukhari no. 1946.

5 Lahir tahun 80 H dan wafat tahun 150 H.

6 Lahir tahun 93 H dan wafat tahun 179 H.

7 Lahir tahun 150 H dan wafat tahun 204 H.

8 Lahir tahun 164 H dan wafat tahun 241 H.

9 HR Ahmad no. 5866 dan 5873, shahih.

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait