oleh

Penentuan Awal dan Akhir Ramadhan yang Benar

-Puasa-1.332 views

Bagaimanakah tuntunan syariat dalam menentukan awal bulan Ramadhan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صُومُوا لِرُأْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُأْيَتِهِ

Puasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya.” (HR. Bukhari dalam shahihnya no. 1909 dan Muslim dalam shahihnya no. 1081 dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu)

Ketetapan syari’at Islam dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan ada dua cara dan tidak ada yang ketiga. Yaitu dengan ru’yatul hilal dan ikmal.

Menentukan Awal Ramadhan dengan Ru’yatul Hilal

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas, cara yang dibenarkan syariat untuk menentukan awal Ramadhan adalah dengan ru’yatul hilal, yaitu melihat hilal dengan menggunakan mata. Baik melihat sendiri ataupun dengan saksi muslim yang terkenal dengan kejujurannya, dipercaya beritanya dan diterima kesaksiannya.

Hal ini berdasarkan dari hadits, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا

“Jika kalian melihatnya (hilal) maka berpuasalah”. (HR. Bukhari dalam shahihnya no. 1900 dan Muslim dalam shahihnya no. 1080 dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu)

Begitu juga ketika Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma melihat hilal, beliau berkata:

أخبرت النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ برؤية رمضان فصامه، وأمر الناس بصيامه

“Aku mengabarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku melihat (hilal) ramadhan maka beliaupun berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa pula”. (HR. Abu Daud no. 2342 dan Hakim dalam al-Mustadrak jilid 1 no. 423)

Menentukan Awal Ramadhan dengan Ikmal

Ketika telah tampak jelas hilal pada malam ke 30 bulan Sya’ban maka tegaklah hukum bagi kaum muslimin untuk berpuasa pada esok harinya. Namun apabila tidak mampu untuk melihat hilal karena mendung atau tertutupi awan, maka syariat menuntun kita untuk menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Inilah yang disebut Ikmal, yaitu menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari ketika tidak mampu untuk melihat hilal karena suatu sebab.

Demikianlah yang diterangkan oleh Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ

“Puasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena kalian melihatnya (hilal). Jika mendung menimpa kalian maka sempurnkannlah hitungan sya’ban tiga puluh (hari)”. (HR. Bukhari dalam shahihnya no. 1909 dan Muslim dalam shahihnya no. 1081 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Begitu juga dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُقَدِّمُوا الشَّهْرَ حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ أَوْ تُكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثُمَّ صُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ أَوْ تُكْمِلُوا الْعِدَّةَ

“Janganlah kalian dahului bulan (Ramadhan) sampai kalian melihat hilal atau kalian sempurnakan hitungan (Sya’ban) kemudian puasalah kalian sampai kalian melihat hilal atau kalian sempurnakan hitungan.” (HR. Abu Dawud dalam sunannya no. 2326 dari sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu)

Cukuplah hadits di atas menerangkan bagi kita mengenai penentuan awal Ramadhan yang semestinya. Adapun metode dalam penentuan awal ramadhan atau awal bulan hijriyah selain dengan ru’yatul hilal maka tidak ada sumbernya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun dengan penjelasan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Demikian pula dalam penentuan akhir Ramadhan cukup dengan melihat hilal bulan Syawwal. Apabila mendung dan tertutupi awan maka sempurnakanlah bulan Ramadhan menjadi tiga puluh hari.

Kenapa Dinamakan Al-Hilal?

Al-Hilal berasal dari kata (هَلَّ – أَهَلَّ) halla – ahalla artinya : “tampak atau terlihat.” Dinamakan demikian, karena merupakan bentuk Bulan Sabit yang pertama kali tampak pada awal bulan.

Sebab lain kenapa dinamakan Al-Hilal adalah, karena orang-orang yang melihatnya berseru ketika memberitakannya. Seorang ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang terkenal, Ahmad bin Abdus Salam al Harrani rahimahullah berkata:

“Al-Hilal adalah nama untuk sesuatu yang ditampakkan, yakni disuarakan. Penyuaraan itu tidak akan bisa terjadi kecuali jika bisa diketahui oleh penglihatan atau pendengaran.”

Jadi dinamakan dengan Al-Hilal karena itu merupakan bentuk Bulan yang paling awal tampak dan terlihat, orang yang melihatnya berseru untuk memberitakan bahwa Al-Hilal sudah terlihat. MNS

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait