Salah satu pokok akidah yang wajib diyakini oleh setiap muslim bahwa Allah ‘Azza wa Jalla memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang Maha Sempurna. Beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala merupakan bagian asasi dari tauhid yang wajib ditetapkan oleh setiap mukmin.
Dalam artikel sebelumnya, telah dijelaskan dua kaidah penting dalam menetapkan nama dan sifat Allah Ta’ala. Yang pertama adalah kewajiban menetapkan makna zahir apa adanya dari nash (dalil) tanpa melakukan perubahan atau penyelewengan kepada makna lain yang bertentangan dengan makna zahir. Yang kedua seputar beberapa prinsip dalam meyakini dan menerapkan nama-nama Allah Ta’ala.
Pada artikel ini sebagai kelanjutan dari sebelumnya, kita akan mengenal kaidah penting dalam memahami serta mengimani sifat-sifat Allah Ta’ala. Dan mengetahui metode ahlussunnah dari generasi salaf dalam menetapkan sifat-sifat Allah yang bertentangan metode kelompok sesat dalam bab Asma’ wa Shifat.
Kaidah Ketiga: Berkaitan dengan Sifat-Sifat Allah
Kaidah ketiga yang berkaitan dengan penetapan sifat-sifat Allah Ta’ala mencakup empat pembahasan utama, yaitu:
- Seluruh sifat Allah Ta’ala adalah sifat-sifat yang tinggi, sempurna, dan terpuji.
- Sifat-sifat Allah Ta’ala terbagi menjadi dua jenis.
- Sifat tsubutiyah terbagi menjadi dua jenis.
- Seluruh sifat Allah Ta’ala dapat ditinjau melalui tiga pertanyaan pokok.
a. Seluruh Sifat Allah Ta’ala Tinggi, Sempurna, dan Terpuji
Wajib bagi setiap Muslim untuk meyakini bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat-sifat yang Maha Tinggi, Maha Sempurna, dan Maha Terpuji, yang tidak mengandung sedikit pun kekurangan dari sisi mana pun. Sebab, Allah satu-satunya Rabb yang berhak disembah adalah Rabb Yang Maha Sempurna dalam segala perbuatannya (rububiyahnya). Sudah barang tentu, seluruh sifat-Nya pun adalah sifat-sifat yang sempurna.
Di antara contoh sifat Allah Ta’ala yang Maha Sempurna dan tidak mengandung sedikit pun kekurangan adalah al-Hayah (Maha Hidup), al-‘Ilm (Maha Mengetahui), al-Qudrah (Maha Kuasa), as-Sam’u (Maha Mendengar), al-Bashar (Maha Melihat), al-Hikmah (Maha Bijaksana), ar-Rahmah (Maha Pengasih), dan al-‘Uluw (Maha Tinggi). Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ
“Dan Allah memiliki sifat yang paling tinggi (paling sempurna).” (An-Nahl: 60)
Apabila terdapat satu sifat yang sepenuhnya merupakan kekurangan dan tidak mengandung sedikitpun sisi kesempurnaan, maka sifat tersebut tidak boleh dinisbatkan kepada Allah Ta’ala, seperti sifat al-Maut (mati), al-Jahl (bodoh), dan al-‘Ajz (lemah). Sebab, Allah Ta’ala mencela dan menghukum orang-orang yang mensifati-Nya dengan sifat-sifat yang mengandung kekurangan.
Di antara firman Allah Ta’ala yang menunjukkan hal tersebut adalah,
وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ
“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Tangan Allah terbelenggu (kikir).’ Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu (kikir), dan mereka dilaknat karena ucapan itu. Bahkan kedua tangan Allah terbuka; Dia memberi rezeki sebagaimana Dia kehendaki.” (Al-Ma’idah: 64)
Dalam ayat ini Allah menyucikan dirinya dari sifat kikir yang dinisbatkan oleh kaum Yahudi kepada-Nya, bahkan Allah menetapkan sifat kurang tersebut kepada mereka. Lalu Allah menetapkan sifat kedermawanan pada dirinya.
Allah Ta’ala juga telah membersihkan dan menyucikan diri-Nya dari sifat-sifat penuh kekurangan yang mereka nisbatkan kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ
“Maha Suci Rabbmu, Rabb Yang mempunyai kemuliaan, dari apa yang mereka sifatkan.” (Ash-Shaffat: 180)
Di sisi lain sifat-sifat yang penuh kekurangan sangat tidak pantas dinisbatkan kepada Allah Rabb Yang Maha Sempurna. Sebab, merupakan sebuah kontradiksi dan mustahil apabila Rabb Yang Maha Pencipta, Pengatur dan Pemilik alam semesta ini disifati dengan sifat-sifat yang kurang dan mengandung kecacatan.
Adapun apabila terdapat satu sifat sempurna di satu sisi, namun ada kekurangan di sisi lain, maka wajib ditetapkan sifat tersebut bagi Allah Ta’ala pada sisi sempurna dan dinafikan dari-Nya pada sisi yang mengandung kekurangan.
Contohnya adalah sifat al-Makr (makar), al-Kaid (manipulasi), dan al-Khida’ (tipu daya). Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
“Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir membuat makar terhadapmu untuk menangkap, membunuh, atau mengusirmu. Mereka membuat makar, dan Allah membalas makar mereka. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas makar.” (Al-Anfal: 30)
Demikian pula firman-Nya,
إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا وَأَكِيدُ كَيْدًا
“Sesungguhnya mereka melakukan tipu daya. Dan Aku pun membuat tipu daya (untuk membalas tipu daya mereka).” (Ath-Thariq: 15–16)
Begitu pula firman-Nya,
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ
“Sesungguhnya orang-orang munafik berusaha menipu Allah, tetapi Allah-lah yang membalas tipu daya mereka.” (An-Nisa’: 142)
b. Dua Jenis Sifat Allah Ta’ala
Secara garis besar, sifat-sifat Allah Ta’ala terbagi menjadi dua jenis, yaitu sifat tsubutiyah dan sifat salbiyah.
Sifat tsubutiyah adalah sifat-sifat yang Allah Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya, baik dalam Al-Qur’an maupun melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa tahrif (manipulasi), ta’thil (penolakan), takyif (membayangkan bentuk), maupun tamtsil (penyerupaan). Contoh dari sifat tsubutiyyah antara lain sifat al-Hayah (Maha Hidup), al-‘Ilm (Maha Mengetahui), al-Qudrah (Maha Kuasa), dan sifat-sifat lainnya. Oleh karena itu, kita wajib menetapkan sifat-sifat tersebut bagi Allah Ta’ala sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya.
Adapun sifat salbiyah adalah sifat-sifat yang Allah Ta’ala tolak bagi diri-Nya, baik dalam Al-Qur’an maupun melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun penolakan ini harus disertai penetapan lawan dari sifat yang ditolak tersebut bagi Allah dalam konteks yang sempurna.
c. Dua Jenis Sifat Tsubutiyah
Dijabarkan oleh ulama bahwa Sifat tsubutiyyah terbagi menjadi dua jenis, yaitu sifat dzatiyah dan sifat fi’liyah.
Sifat dzatiyah adalah sifat yang senantiasa melekat pada Allah Ta’ala dan tidak pernah terpisah dari-Nya, seperti sifat as-Sam’u (Maha Mendengar) dan al-Bashar (Maha Melihat).
Adapun sifat fi’liyah adalah sifat yang berkaitan dengan kehendak Allah Ta’ala. Apabila Allah Ta’ala berkehendak, Dia melakukannya; dan apabila tidak berkehendak, Dia tidak melakukannya. Contohnya ialah sifat an-Nuzul (turun) dan al-Maji’ (datang).
Terkadang suatu sifat dapat termasuk sifat dzatiyah sekaligus fi’liyah jika ditinjau dari dua sisi yang berbeda. Misalnya sifat al-Kalam (berbicara). Ditinjau dari asal sifatnya, ia merupakan sifat dzatiyah karena sifat ini senantiasa pada diri Allah, artinya Allah Ta’ala Maha berbicara dan tidak bisu.
Namun, apabila ditinjau dari rincian atau bagian-bagian kalam-Nya, maka al-Kalam merupakan sifat fi’liyah, karena ucapan Allah berkaitan dengan masyi’ah (kehendak-Nya). Allah Ta’ala berbicara dengan bentuk pembicaraan yang dikehendaki dan kapan saja saat dikehendaki.
d. Semua Sifat Allah Mengarah kepada Tiga Pertanyaan
Seluruh sifat Allah Ta’ala mengarahkan kita kepada tiga pertanyaan berikut.
Pertanyaan pertama: Apakah sifat-sifat tersebut merupakan sifat yang hakiki (nyata)? Mengapa?
Pertanyaan kedua: Apakah boleh menentukan bagaimana hakikat atau kaifiyah (bentuk dan cara) sifat-sifat tersebut? Mengapa?
Pertanyaan ketiga: Apakah sifat-sifat tersebut menyerupai sifat-sifat makhluk? Mengapa?
Jawaban pertanyaan pertama: Ya, semua sifat Allah merupakan sifat yang hakiki dan nyata adanya. Sebab, hukum asal suatu lafaz adalah bermakna hakiki, sehingga tidak boleh dipalingkan kepada makna lain kecuali dengan dalil yang sahih.
Jawaban pertanyaan kedua: Tidak boleh bagi siapa pun menentukan atau memberikan takyif (menggambarkan kaifiyah) terhadap sifat-sifat Allah Ta’ala. Sebab, Allah Ta’ala berfirman:
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا
“Dia mengetahui apa yang ada di depan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sementara mereka tidak mampu meliputi-Nya dengan ilmu.” (Ṭaha: 110)
Penegasan ini menunjukkan bahwa tidak ada akal seorang hamba pun yang mampu mengetahui hakikat bagaimana sifat-sifat Allah Ta’ala. Alasan lain karena Allah tidak menggambarkan bentuk sifat-Nya dan tidak ada yang serupa atau sama dengan Allah, sehingga mungkin digambarkan bentuk hakekat sifat Allah.
Jawaban pertanyaan ketiga: Sifat Allah Ta’ala tidak sama dengan sifat makhluk, demikian pula sifat makhluk tidak menyerupai sifat Allah Ta’ala. Hal ini ditegaskan oleh Allah melalui firman-Nya,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
Alasan terkuatnya adalah bahwa Allah merupakan Dzat Yang Maha Sempurna. Hanya Dia yang berhak menyandang sifat kesempurnaan yang mutlak dan tidak ada sesuatu pun yang melampaui-Nya. Oleh karena itu, mustahil ada makhluk yang menyerupai sifat-sifat-Nya, karena makhluk memiliki berbagai kekurangan. Di antaranya sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا
“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (An-Nisa’: 28)
Kaidah Keempat: Membantah Kaum Mu’aththilah
Kaum Mu’aththilah adalah kelompok yang mengingkari atau menolak sebagian atau seluruh nama dan sifat Allah Ta’ala. Mereka dijuluki pula sebagai kaum Mu’awwilah karena mereka memalingkan (menakwilkan) nash dan dalil dari makna zhahirnya kepada makna lain tanpa didasari dalil yang sahih.
Kaidah umum dalam membantah penyimpangan mereka antara lain :
1- Ta’thil yang mereka lakukan bertentangan dengan makna zhahir dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah.
2- Mazhab yang mereka pegang bertentangan dengan manhaj Salaf, yaitu para sahabat, tabi’in, dan generasi terbaik umat ini dalam menetapkan nama dan sifat Allah Ta’ala.
3- Argumen yang mereka kemukakan tidak memiliki dasar yang sahih baik dari al Qur’an dan sunnah yang membolehkan mereka memalingkan suatu lafaz dari makna zhahirnya.
Adapun dalam pembahasan sifat-sifat tertentu, para ulama terkadang menambahkan bantahan-bantahan lain yang lebih spesifik sesuai dengan sifat yang sedang dibahas. Oleh karena itu, dalam pembahasan sebagian sifat, bisa saja terdapat bantahan keempat, bahkan lebih.
Kesimpulan
Dari pemaparan di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1- Seluruh sifat Allah Ta’ala adalah sifat yang Maha Tinggi, Maha Sempurna, dan Maha Terpuji. Oleh karena itu, tidak boleh menisbatkan kepada-Nya sifat yang mengandung kekurangan sedikit pun.
2- Apabila suatu sifat mengandung sisi kesempurnaan dan sisi kekurangan, maka sifat tersebut ditetapkan bagi Allah Ta’ala pada sisi kesempurnaannya sesuai dengan keagungan-Nya, serta dinafikan sisi yang mengandung kekurangan.
3- Sifat-sifat Allah Ta’ala terbagi menjadi dua, yaitu sifat tsubutiyah (yang Allah tetapkan bagi diri-Nya) dan sifat salbiyah (yang Allah nafikan dari diri-Nya), dan keduanya wajib diimani sebagaimana datang dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
4- Sifat tsubutiyah juga terbagi menjadi dua, yaitu sifat dzatiyah dan sifat fi’liyah, sesuai penjelasan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
5- Dalam menetapkan sifat-sifat Allah Ta’ala, Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa seluruh sifat tersebut adalah hakiki, tidak boleh ditanyakan bagaimana hakikat atau kaifiyahnya (takyif), serta tidak menyerupai sifat-sifat makhluk.
6- Penyimpangan kaum Mu’aththilah dibantah karena bertentangan dengan makna zhahir Al-Qur’an dan As-Sunnah, menyelisihi manhaj Salaf, serta tidak memiliki dalil yang sahih untuk memalingkan makna nash dari zhahirnya.
Sebagai penutup, bahwa memahami kaidah-kaidah dalam menetapkan nama dan sifat Allah Ta’ala merupakan bagian yang sangat penting dalam menjaga kemurnian akidah. Dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an, As-Sunnah, dan pemahaman Salafus Shalih, seorang muslim akan lebih mudah terhindar dari berbagai bentuk penyimpangan dalam bab Asma’ wa Shifat serta mampu menetapkan seluruh nama dan sifat Allah Ta’ala sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya. Semoga bermanfaat. (RGA/LTC/IWU)
Penulis: Rasyid Ghani
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim.
- Ta’liq Mukhtashar ‘ala Lum’atil ‘Itiqad karya Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah.
- Al-Qawa’idul Mutsla fii Shifatillah wa Asma’ihil Husna karya Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah.
- Fathur Rabbil Bariyyah bi Talkhis al-Hamawiyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah.









Komentar