oleh

BIOGRAFI AL-IMAM ABU DAWUD

-Umum-6,280 views

al-Imam Abu Dawud salah satu imam dari para imam pakar hadits yang masyhur dan diperhitungkan keilmuannya. Di antara karya tulis beliau yang fenomenal adalah Sunan Abi Dawud yang merupakan salah satu rujukan dari enam kitab induk dalam bidang hadits. Beliau berhasil mengumpulkan sekitar 500.000 hadits lalu memilih dan menuliskan 4.800 di antaranya ke dalam kitab as-Sunan.

Ibnu Dasah berkata: “Aku mendengar Abu Dawud mengatakan: “Aku menulis hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 500.000 hadits, Kemudian aku pilih sebagiannya untuk dimasukkan ke dalam kitab as-Sunan sehingga terkumpul di dalam kitab tersebut 4.800 hadits. Aku masukkan hadits-hadits yang shahih, atau mendekati derajat shahih. Apabila di dalamnya terdapat hadits yang sangat lemah, maka aku beri keterangan padanya.”1

Abu Umar az-Zahid berkata: “Ibrahim bin Ishaq al-Harbi mengatakan: “Hadits telah dilunakkan bagi Abu Dawud sebagaimana besi dilunakkan bagi nabi Dawud.”2

Nama dan Nasab Abu Dawud

Beliau adalah Sulaiman bin al-Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Amar al-Azdi as-Sijistani, atau lebih akrab dikenal dengan sebutan Abu Dawud as-Sijistani.3

Kelahiran Abu Dawud

Abu Dawud lahir pada tahun 202 H Di Sijistan. Saat ini dikenal dengan Sistan sebuah wilayah perbatasan di timur negara Iran, di barat daya Afganistan, dan ujung utara dari wilayah barat daya Pakistan.

Ada juga yang mengatakan bahwa Sijistan adalah salah satu desa di Bashrah, Adapun imam adz-Dzahabi mengatakan: “Sijistan merupakan propinsi tersendiri. Berbatas dengan negeri Sind. Beliau (Abu Dawud) pindah dan tinggal di sana (Di Sijistan) dari Harrah.” 4

Allah menghendaki kebaikan pada beliau, Sejak kecil Abu Dawud sangat mencintai ilmu dan suka bergaul dengan para ulama untuk menyerap ilmu mereka.

Sosok Abu Dawud dalam Mmenimba Ilmu

al-Imam Abu Dawud mulai mendalami ilmu agama sejak dini. Ketika meranjak dewasa beliau mulai melakukan rihlah (melakukan perjalanan jauh) ke berbagai penjuru negeri mencari dan mengumpulkan hadits. Beliau menimba ilmu hadits dari sejumlah ulama yang ditemui di Hijaz (Makkah dan Madinah), Syam, Mesir, Irak, Jazirah, Sagar, Khurasan dan negeri lainnya.

Perjalanan panjang mencari ilmu ke beberapa negeri itu menunjang beliau untuk mendapatkan dan mengumpulkan sekian banyak hadits. Hal itu beliau nyatakan sendiri bahwa beliau telah menulis 500.000 hadits, kemudian hadits-hadits tersebut diseleksi untuk dituangkan di dalam kitab Sunan.

al-Imam Abu Dawud sudah berulang kali mengunjungi kota Baghdad. Di kota itu beliau mengajarkan hadits dan fikih dengan menggunakan kitab Sunan sebagai buku pegangan.

Kitab sunan ini pernah beliau sodorkan kepada guru beliau sekaligus ulama hadits terkemuka pada saat itu, imam Ahmad bin Hanbal. Maka Imam Ahmad bin Hanbal memuji keilmuan Abu Dawud dan mengatakan bahwa kitab beliau itu sangat bagus dan merekomendasikannya.

Penghargaan Abu Dawud Kepada Ilmu dan Para Ulama

Abu Dawud dikenal sangat memuliakan ilmu dan ulama, di antara buktinya apa yang diceritakan oleh pembantu beliau, Imam al-Khattabi dari Abu Bakar bin Jabir.

Dia berkisah: “Aku bersama Abu Dawud tinggal di Bagdad. Suatu saat, ketika kami telah selesai melakukan shalat magrib, tiba-tiba ada seorang yang mengetuk pintu rumah kami, maka aku pun membukakan pintu lalu seorang pelayan melaporkan bahwa Amir Abu Ahmad al-Muwaffaq minta izin untuk masuk. Kemudian aku memberitahu Abu Dawud dan beliaupun mengizinkan, maka duduklah Amir.

Kemudian Abu Dawud bertanya: “Apa yang mendorong Amir ke sini?”

Amir pun menjawab “Ada tiga kepentingan”.

“Kepentingan apa?” Tanya Abu Dawud.

Amir mengatakan: “Sebaiknya anda tinggal di Basrah, supaya para pelajar dari seluruh dunia belajar kepadamu. Dengan demikian kota Basrah akan semarak lagi dengan ilmu. Karena Basrah telah hancur dan ditinggalkan orang akibat tragedi Zenji.”

Abu Dawud berkata: “itu yang pertama, lalu apa yang kedua?”

Amir menjawab: “kami memohon pada anda agar mau mengajarkan kitab as–Sunan kepada anak-anakku.” “Yang ketiga?” tanya Abu Dawud. “Hendaklah anda membuat majlis khusus untuk mengajarkan hadits kepada keluarga khalifah, sebab mereka enggan duduk bersama orang umum.”

Abu Dawud menjawab: “Permintaan ketiga tidak bisa kukabulkan. Sebab derajat manusia, baik pejabat maupun rakyat jelata, dalam menuntut ilmu tidak ada perbedaan.”

Ibnu Jabir menjelaskan: “Sejak itu putra-putra khalifah menghadiri majlis taklim, duduk bersama orang umum di halaqoh beliau, walaupun dengan diberi tirai pemisah”.5

Demikianlah seharusnya sikap seorang murabbi (pembina ummat), senantiasa menghargai ilmu karena ilmu di sisi mereka amat mulia. Sungguh ilmu tak pantas mendatangi pintu-pintu namun sebaliknya ilmu itulah yang seharusnya didatangi dan dituntut.

Oleh karenanya Abu Dawud enggan untuk mendatangi raja atau penguasa pada pintu-pintu istana mereka, tetapi merekalah yang pantas mendatangi ulama dalam rangka memuliakan ilmu dan para ulama dan karena butuhnya mereka kepadanya.

Siapapun butuh ilmu dan tunduk bersimpuh dalam mencari ilmu. Sehingga tidak ada seorang pun yang dibedakan statusnya dalam mencari ilmu.

Guru-guru Beliau

al-Imam Abu Dawud telah berguru kepada sekian banyak ulama terkemuka di zamannya. Namun yang paling menonjol antara lain, Imam Ahmad bin Hanbal, al-Qa’nabi, Abu Salamah at-Tabudzaki, Abu Amar ad-Darir, Muslim bin Ibrahim, Abdullah bin Raja’, Abdul Walid at-Tayalisi, Utsman bin Abu Syaibah dan Qutaibah bin Sa’id dan yang lainnya.

Di antara guru-guru beliau ada juga yang berstatus sebagai guru dari imam Bukhari dan Muslim, seperti imam Ahmad bin Hanbal, Qutaibah bin Sa’id dan Utsman bin Abu Syaibah.

  • Di Damaskus beliau mendengar hadits dari Shafwan bin Shalih, Hisyam bin Ammar, dan para ulama lainnya.
  • Di Khurasan beliau mendengar hadits dari Qutaibah bin Sa’id, Rohuyah, dan para ulama pakar hadits lainnya.
  • Di Jazirah beliau mendengar hadits dari Abu Ja’far an-Nufail, dan para ulama lainnya.6
  • Di Halab beliau mendengar hadits dari Abu Taubah ar-Rabi’ bin Nafi’.
  • Di Harran beliau mendengar hadits dari Ahmad bin Abi Syu’aib.
  • Di Himsh beliau mendengar hadits dari Haiwah bin Syuraih dan Yazid bin Abdi Rabbih.

Demikian pula beliau berguru kepada beberapa ulama di Hijaz, Mesir, Syam, Tsaghr, dan Khurasan.

Kapasitas Keilmuan al-Imam Abu Dawud di Mata Para Ulama dan Pujian Kepada Beliau

Isma’il as-Shaffar meriwayatkan dari Abu Bakr as-Shan’ani, beliau berkata, “Hadits telah dilunakkan bagi Abu Dawud sebagaimana besi dilunakkan bagi Nabi Dawud.”

Ketika Abu Dawud menyusun kitab sunan, Ibrahim al-Harbi, seorang Ulama hadits, berkata: “Hadits telah dilunakkan bagi Abu Dawud, sebagaimana besi dilunakkan bagi Nabi Dawud.”7 Ungkapan ini sebagai perumpamaan yang menggambarkan keistimewaan seorang ahli hadits yang mempermudah yang rumit dan mendekatkan yang jauh, serta memudahkan yang sukar.

Musa bin Harun al-Hafizh berkata: “Di dunia ini Abu Dawud tercipta untuk kepentingan hadits.”

Zakariya as-Saji berkata: “Kitabullah adalah madzhab agama Islam, sedangkan kitab Abu Dawud (Sunan Abi Dawud) merupakan wasiat agama Islam.”

Ahmad bin Muhammad bin Yasin al-Harawi berkata, “Abu Dawud as-Sujzi adalah salah seorang hafizh (penghafal) hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula beliau pakar dalam ilmu terkait penyakit-penyakit hadits, dan seluk-beluk sanad-sanadnya. Beliau berada pada derajat tertinggi dalam hal ibadah, sikap iffah (menjaga harga diri), keshalehan, dan sikap wara’. Beliau termasuk pemburu hadits.”

Imam adz-Dzahabi mengatakan: “Aku katakan bahwa imam Abu Dawud mendalami ilmu imam Ahmad bin Hanbal. Beliau bermulazamah (berguru dalam waktu yang lama) kepada imam Ahmad dalam kurun waktu yang cukup panjang.”

Sehingga beliau menjadi salah seorang yang mulia dan pandai dari kalangan para pengikut (murid-murid) beliau (imam Ahmad). Beliau juga termasuk ahli fikih yang terhormat pada masanya. Tentunya di samping keunggulan-keunggulan beliau dalam bidang hadits dan kezuhudan yang telah masyhur.”

Seorang Ulama hadits dan fikih terkemuka yang bermazhab Hanbali, Abu Bakar al-Khallal, berkata:

“Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats as-Sijistani adalah Imam terkemuka pada zamannya, penggali beberapa bidang ilmu sekaligus sangat mengerti sisi-sisi pembahasannya, dan tak seorang yang hidup di masa beliau mampu mengunggulinya.

Abu Bakar al-Asbahani dan Abu Bakar bin Sadaqah selalu menyanjung Abu Dawud, dan mereka memujinya dengan pujian yang belum pernah diberikan kepada siapapun di masanya.

Akhlak Abu Dawud, Kezuhudan dan Wara’nya Beliau

Abu Muawiyah meriwayatkan dari ‘Amasy, dari Ibrahim dari Alqomah, beliau berkata dari Abdullah bahwasannya beliau mengatakan: “beliau (Abu Dawud) mirip dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sisi akhlak, prilaku dan ketenangan.”8

Dan ada yang mengatakan bahwa beliau mirip dengan imam Ahmad bin Hanbal.

Abu Dawud termasuk deretan ulama yang mencapai derajat tinggi dalam beribadah, kesucian diri, kesalihan dan wara’ yang patut diteladani.

Sifat dan kepribadian seperti ini menunjukkan kesempurnaan beragama, perilaku dan akhlak Abu Dawud rahimahullah.

Ibnu Dasah menuturkan bahwa Abu Dawud mempunyai kebiasaan unik dalam berpakaian. Salah satu lengan bajunya lebar dan satunya lagi sempit. Bila ada yang bertanya, maka beliau menjawab: “Lengan yang lebar ini untuk membawa kitab, sedang yang satunya tidak diperlukan. Kalau dia lebar, berarti itu pemborosan.”9

Madzhab Abu Dawud

Syaikh Abu Ishaq as-Syirazi dalam Tabaqatul Fuqaha menggolongkan Abu Dawud sebagai murid Imam Ahmad bin Hanbal. Begitu pula Qadi Abdul Husain Muhammad bin Qadi Abu Ya’la (wafat tahun 526 H).

Di dalam kitab Tabaqatul Hanabilah. Sehingga bila dinyatakan bahwa imam Abu Dawud bermadzhab hanbali hal ini disebabkan karena Imam Ahmad adalah guru Abu Dawud yang paling menonjol dan Abu Dawud sangat meneladani beliau hingga dikatakan bahwa Abu Dawud mirip dengan imam Ahmad.

Tapi di sana juga ada yang mengatakan bahwa beliau bermazhab Syafi’i, wallahu a’lam.

Murid-murid Abu Dawud

Di antara murid-murid Abu Dawud adalah, Abu Isa at-Tirmizi, Abu Abdur Rahman an-Nasa’i, putranya sendiri Abu Bakar bin Abu Dawud, Abu Awana, Abu Ali al-Lu’lu’i, Abu Sa’id aI-Arabi, Abu Bakar bin Dassah, Abu Salim Muhammad bin Sa’id al-Jaldawi dan lain-lain.

Wafatnya al-Imam Abu Dawud

al-Imam Abu Dawud wafat tanggal 16 Syawal 275 H di Basrah. Beliau meninggalkan seorang putra bernama Abu Bakar Abdullah bin Abu Dawud. Beliau tumbuh menjadi ulama pada zamannya meneruskan tongkat estafet sang ayahanda.

Putra beliau juga memiliki karya tulis yang cukup fenomenal dalam bidang akidah dan prinsip, yang banyak direkomendasikan oleh para ulama yaitu kitab al-Akidatu al-Haiyyah li ibni Abi Dawud.

Karya tulis imam Abu Dawud

Tidak diragukan bahwa imam Abu Dawud memiliki sejumlah karya tulis yang sarat akan faedah. Namun di antara karya tulis al-Imam Abu Dawud yang sampai pada kita saat ini, antara lain;

  1. Kitab Sunan Abu Dawud
  2. Kitab al-Marasil
  3. Kitab al-Qadar
  4. An-Nasikh Wal Mansukh
  5. Fada’ilul A’mal
  6. Kitab az-Zuhud
  7. Dalailun Nubuwah
  8. Ibtida’ul Wahyu
  9. Ahbarul Khawarij

Karya tulis beliau banyak sekali memberikan manfaat bagi kaum muslimin dan menjadi sumber referensi para ulama dalam mempelajari sebuah bidang ilmu terkhusus ilmu hadits. Semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan, mengampuni dan merahmati beliau dan menempatkan beliau di surga-Nya Firdaus. Amin

Referensi:

  1. Tarjamatu al-‘Aimmah al-Kibar Ashabu as-Sunan wa al-Atsar karya Adz-Dzahabi lihat pada biografi imam Abu Dawud.
  2. Buku terjemahan kitab Tarjamatu al-‘Aimmah al-Kibar Ashabu as-Sunan wa al-Atsar cetakan al-Abror media.
  3. siyar A’lamu an-Nubala’. Karya imam al-Hafizh adz-Dzahabi
  4. Tarikh Baghdad karya imam al-Khatib al-Baghdadi
  5. Tahdzib al-Kamal karya al-Hafizh Jamaluddin al-Mizzi

 

Footnotes

  1. Diintisarikan dari kitab As-Siyar a’lamu an-nubala’ 21/214
  2. Terjemahan kitab Tarjamatu al-‘Aimmah al-Kibar Ashabu as-Sunan Wa al-Atsar, karya Adz-Dzahabi cetakan al-Abror media hal.135
  3. Diintisarikan dari kitab Tarjamatu al-‘Aimmah al-Kibar Ashabu as-Sunan Wa al-Atsar. karya Adz-Dzahabi pada biografi Abu Dawud Tarikh Baghdad 9/55
  4. Terjemahan kitab Tarjamatu al-‘Aimmah al-Kibar Ashabu as-Sunan Wa al-Atsar, karya Adz-Dzahabi cetakan al-Abror media hal.137
  5. Terjemahan kitab Tarjamatu al-‘Aimmah al-Kibar Ashabu as-Sunan Wa al-Atsar, karya Adz-Dzahabi cetakan al-Abror media hal.138-139
  6. Abdullah bin Muhammad, seorang tokoh ulama terkemuka pada zamannya. Wafat pada tahun 234 H. Lihat siyar A’lamu an-Nubala’ 10/634.
  7. Terjemahan kitab Tarjamatu al-‘Aimmah al-Kibar Ashabu as-Sunan Wa al-Atsar, karya Adz-Dzahabi cetakan al-Abror media hal.135
  8. siyar A’lamu an-Nubala’. (13/216), Karya imam al-Hafizh adz-Dzahabi
  9. Terjemahan kitab Tarjamatu al-‘Aimmah al-Kibar Ashabu as-Sunan Wa al-Atsar, karya Adz-Dzahabi cetakan al-Abror media hal.139
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *