Setiap hamba pasti mendambakan kesuksesan di dunia maupun di akhirat. Tiada lain itulah harapan setiap insan. Allah Ta’ala dengan Maha Kasih Sayang-Nya, Maha Adil-Nya dan Maha Kuasa-Nya telah menetapkan dan menunjukkan metode serta cara untuk meraih kesuksesan tersebut.
Islam Adalah Agama yang Sempurna
Allah Ta’ala berkata,
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, serta telah Aku ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian.” (Al-Maidah: 3)
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan di dalam tafsirnya mengenai ayat di atas, beliau menuturkan, “Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan agama ini dengan sempurnanya pertolongan, sempurnanya syariat secara lahir maupun batin. Begitu pula terkait hal-hal yang sifatnya inti ataupun cabang. Oleh karena itu, al-Qur’an telah sempurna pada seluruh permasalahan hukum syariat.” 1
Tidak Perlu Menambah atau Mengurangi Agama Ini
Tanpa diragukan lagi agama Islam adalah agama yang sempurna. Maka dari itu, suatu yang telah sempurna tidak perlu lagi ada penambahan ataupun pengurangan.
Islam Menyerukan Agar Beribadah Hanya kepada Allah
Setelah kita mengetahui bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama yang Allah Ta’ala ridhai. Maka marilah kita berislam secara sempurna, marilah kita meninggalkan segala bentuk peribadatan kepada selain-Nya! Demi Allah, peribadatan kepada selain Allah tidaklah bisa menyelamatkan dari marabahaya dan memberikan manfaat walaupun sedikit. Karena sesembahan selain Allah adalah sesuatu yang dibuat-buat dan tidak bisa mendatangkan apapun.
Kelemahan Sesembahan Selain Allah
Allah Ta’ala berfirman,
وَقِيلَ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُمْ وَرَأَوُا الْعَذَابَ لَوْ أَنَّهُمْ كَانُوا يَهْتَدُونَ
“Dikatakan (kepada mereka), “Serulah sekutu-sekutu kalian!” Lalu mereka pun menyerunya, namun sekutu-sekutu tersebut tidak menjawab (seruan) mereka, dan mereka melihat azab. (Mereka ketika itu berkeinginan) kiranya mereka dahulu menerima petunjuk.” (Al-Qashash: 64)
Allah Ta’ala berfirman,
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيمَ . إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُونَ . قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ . قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ . أَوْ يَنْفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ . قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آبَاءَنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ. قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ . أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الْأَقْدَمُونَ . فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ . الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ . وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ . وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ . وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ . وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ . رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ .
“Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika beliau berkata kepada bapaknya dan kaumnya, “Apakah yang kalian sembah?” Mereka menjawab, “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.” Ibrahim berkata, “Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa) kalian sewaktu kalian berdoa (kepadanya)? Atau dapatkah mereka memberi manfaat atau menimpakan mudarat kepada kalian?” Mereka menjawab, “(Bukan karena itu) sebenarnya Kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.”
Ibrahim berkata, “Apakah kalian telah memperhatikan apa yang selalu kalian sembah? (disembah oleh) kalian dan nenek moyang kalian yang dahulu. Karena sesungguhnya semua itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam. (Yaitu Rabb) Yang telah menciptakanku, maka Dialah yang memberi hidayah kepadaku. Dan Dialah Yang memberi makan dan minum kepadaku. Apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku. Dialah Yang akan mematikanku kemudian menghidupkanku (kembali). Dialah Yang amat aku harapkan untuk mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat.” (Ibrahim berdoa), “Wahai Rabbku, anugerahkanlah ilmu kepadaku dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” (Asy-Syu’ara: 69-83)
Penyesalan Orang Kafir di Akhirat: Peringatan dari Allah
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَإِذَا رَأَى الَّذِينَ أَشْرَكُوا شُرَكَاءَهُمْ قَالُوا رَبَّنَا هَؤُلَاءِ شُرَكَاؤُنَا الَّذِينَ كُنَّا نَدْعُو مِنْ دُونِكَ فَأَلْقَوْا إِلَيْهِمُ الْقَوْلَ إِنَّكُمْ لَكَاذِبُونَ . وَأَلْقَوْا إِلَى اللَّهِ يَوْمَئِذٍ السَّلَمَ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ .
“Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu mereka, mereka berkata, “Wahai Rabb kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang dahulu kami sembah dari selain-Mu.” Lalu sekutu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya kalian benar-benar orang-orang yang berdusta.” Dan mereka menyatakan ketundukannya kepada Allah pada hari itu dan hilanglah segala yang selalu mereka ada-adakan.” (An-Nahl: 86-87)
Semua Nabi Membawa Ajaran Islam
Perhatikan kisah Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam berikut ini! Bagaimana beliau memberantas kesyirikan dan mematahkan argumen kaum penyembah berhala bahwa apa yang mereka sembah selain Allah itu tidak bisa berbuat apa-apa.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ﴿٥١﴾إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَٰذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ﴿٥٢﴾قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ﴿٥٣﴾قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ﴿٥٤﴾قَالُوا أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللَّاعِبِينَ﴿٥٥﴾قَالَ بَلْ رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ﴿٥٦﴾وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ﴿٥٧﴾فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ﴿٥٨﴾قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ﴿٥٩﴾قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ﴿٦٠﴾قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَىٰ أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ﴿٦١﴾قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ﴿٦٢﴾قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ﴿٦٣﴾فَرَجَعُوا إِلَىٰ أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ﴿٦٤﴾ثُمَّ نُكِسُوا عَلَىٰ رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَٰؤُلَاءِ يَنْطِقُونَ﴿٦٥﴾قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ﴿٦٦﴾أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ﴿٦٧﴾قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ﴿٦٨﴾قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ﴿٦٩﴾وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ﴿٧٠﴾وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ﴿٧١﴾
“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kalian tekun beribadah kepadanya?” Mereka menjawab, “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.”
Ibrahim berkata, “Sesungguhnya kalian dan bapak-bapak kalian berada dalam kesesatan yang nyata.” Mereka menimpali, “Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?” Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Rabb kalian ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya. Dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas hal tersebut. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian sesudah kalian pergi meninggalkannya.”
Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain, agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap sesembahan-sesembahan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim.” Mereka berkata, “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.”
Mereka berkata, “(Kalau demikian) Datangkanlah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.” Mereka bertanya, “Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap sesembahan-sesembaham kami, wahai Ibrahim?” Ibrahim menjawab, “Bahkan patung yang besar itulah yang melakukannya. Maka tanyakanlah kepada patung itu, jika memang ia dapat berbicara.”
Maka mereka kembali kepada kesadaran mereka dan mengatakan, “Sesungguhnya kalianlah yang zalim.” Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), “Sesungguhnya kamu (wahai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” Ibrahim berkata, “Lantas mengapa kalian menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfaat sedikit pun dan tidak (pula) mampu menimpakan mudharat kepada kalian? Ah (celakalah) kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah. Tidakkah kalian memahami?”
Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah sesembahan-sesembahan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak.” Allah berkata, “Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.” Mereka hendak berbuat tipu daya terhadap Ibrahim, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang paling merugi. Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami berkahi untuk sekalian alam.” (Al-Anbiya: 51-71)
Pembaca yang semoga dilindungi Allah, penting bagi kita untuk mengetahui makna Islam itu sendiri. Makna Islam adalah engkau berserah diri kepada Allah Ta’ala dengan mentauhidkan-Nya, tunduk patuh kepada-Nya, dan berlepas diri dari praktik kesyirikan serta para pelakunya. 2
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisa: 48)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَخْبَرَنَاعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَلَامٍ،قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُوأُسَامَةَ،عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ،قَالَ: سَمِعْتُ وَاصِلَ بْنَ حَيَّانَ،ذَكَرَعَنْ أَبِي وَائِلٍ،قَالَ: قَالَ عَبْدُاللهِ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ،أَيُّ ذَنْبٍ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ»
Dari sahabat yang mulia Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apakah dosa yang paling besar?” Beliau menjawab, “Yaitu engkau menjadikan tandingan bagi Allah (dengan engkau beribadah kepada selain-Nya) dalam keadaan Dia yang menciptakanmu.” 3
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” 4 (Ali Imran: 85)
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi al Kitab kecuali sesudah datang ilmu kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kufur terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (Ali Imran: 19)
Berdasarkan nash-nash di atas, jelaslah bagi kita bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama yang Allah ridhai. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dalam kitab Sahih al-Bukhari 5 bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: «مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى»
“Setiap umatku pasti akan masuk ke dalam surga kecuali yang enggan. Para sahabat bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barangsiapa yang taat kepadaku maka dialah yang akan masuk ke dalam surga. Sedangkan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku (tidak menjalankan syari’atku) maka sungguh dialah orang yang enggan untuk masuk ke dalam surga.”
Pilihan Hidup yang Menentukan Nasib Abadi
Pembaca sekalian, kalau kita telah mengetahui bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama yang Allah ridhai, berarti agama selainnya adalah agama kekufuran. Tentunya kita di dalam beragama Islam harus berjalan di atas bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena apabila tidak demikian, pastilah kita akan menyimpang dari jalan yang benar.
Oleh karenanya, cara untuk meraih kesuksesan di dunia yang berujung pada kemenangan di akhirat adalah dengan kita mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dalam segala peribadatan. Karena Dialah Dzat yang berhak disembah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Dia semata.
Kemudian tempuhlah prinsip dan akidah yang diwariskan oleh salaful ummah (generasi terbaik umat ini) berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-sunnah. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita semua. Aamiin. Wallahu a’lam.
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim
- Taisir Karimirrahman karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di (W. 1376 H) rahimahullah
- Ushul Tsalatsah karya Syaikh Muhammad bin Sulaiman at-Tamimi an-Najdi (W. 1206 H) rahimahullah
- Sunanul Kubra karya Imam Ahmad bin Syu’aib An-Nasai (W. 303 H) rahimahullah
Penulis: Ishlah Lahamido
(ILM/AAA/ATH)
Footnotes
- Lihat tafsir as-Sa’di, al Maidah: 3
- Lihat: Kitab Ushul Tsalatsah tentang Islam karya asy Syaikh Muhammad bin Sulaiman at-Tamimi an-Najdi rahimahullah
- lihat Sunanul Kubra milik Imam an-Nasai 6/ 399.
- Dijelaskan oleh Syaikh as-Sa’di rahimahullah dalam tafsir beliau mengenai ayat ini bahwa kerugian di sini adalah mutlak, yakni dia rugi dengan serugi-ruginya dan tentu akan menjadi penghuni Neraka. Wal’iyaadzubillah, (Tafsir as-Sa’di surat Ali Imran: 85
- No. 7280









Komentar