oleh

Apakah Seorang Kafir yang Masuk Islam di Siang Hari Ramadhan Wajib Berpuasa?

Agama Islam adalah agama yang penuh dengan keistimewaan dan kemudahan, di antara kemudahannya adalah bahwa agama Islam tidak membebani para pemeluknya dengan sesuatu yang di luar kesanggupannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

  لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ

“Allah tidaklah membebani satu jiwa pun di luar kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)

Di sini ada sebuah permasalahan, yaitu bagaimana jika seorang kafir masuk Islam di siang hari Ramadhan (dalam keadaan kaum muslimin sedang berpuasa), apakah wajib baginya berpuasa di siang hari itu juga atau dia menggantinya di kemudian hari?

Pada satu kesempatan, ada sebuah pertanyaan yang diajukan kepada seorang pakar fikih di masa ini, yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah. Redaksinya sebagai berikut,

Gambaran Pertanyaan

Apabila seorang kafir masuk Islam di siang hari Ramadhan, apakah wajib baginya untuk berpuasa bersama kaum muslimin, padahal dia sendiri belum mengetahui banyak dari perkara agama?

Jawaban dari Syaikh

Dalam permasalahan ini para ulama berbeda pendapat. Adapun pendapat yang kuat menurutku adalah bahwa wajib baginya untuk berpuasa sejak itu juga, karena dia saat itu menjadi orang yang terkena kewajiban, dan ada pada dirinya sebab terkenanya kewajiban, sehingga wajib baginya untuk berpuasa.

Permasalahan yang mirip dengan ini adalah seorang anak yang dia baru baligh di pertengahan (siang) hari Ramadhan, maka wajib bagi dia untuk berpuasa. Namun, tidak harus menggantinya. Demikian pula seorang kafir yang dia masuk Islam di siang hari Ramadhan, maka wajib baginya untuk berpuasa tanpa menggantinya, karena pada saat itu dia menjadi orang yang terkena beban kewajiban.

Lalu apa perbedaan 2 permasalahan tadi (seorang kafir & seorang anak yang baligh) dengan seorang wanita yang dia suci (dari haid) di siang hari Ramadhan?

Seorang wanita yang suci di siang hari Ramadhan sebabnya adalah karena hilangnya faktor penghalang yang ada padanya yaitu terbebasnya dia dari pelanggaran yang menghalangi kewajiban berpuasa di hari itu, padahal sebelumnya dia termasuk orang yang terbebani kewajiban.

Adapun seorang kafir yang baru masuk Islam dan seorang anak yang baru mencapai usia baligh, sebab keduanya bukan karena hilangnya faktor penghalang. Namun, karena munculnya sebab kewajiban, karena keberadaan keduanya di awal siang bukan termasuk orang yang terkena beban kewajiban, berbeda halnya dengan seorang wanita (yang suci di siang hari Ramadhan) keberadaan dia pada asalnya sudah terkena kewajiban, namun ada faktor penghalang yang menimpanya.

Seorang kafir (yang baru masuk Islam) dan seorang anak (yang baru baligh), di awal siang keduanya bukan termasuk orang yang terkena beban kewajiban. Namun, ketika muncul pada keduanya sebab yang dengannya terkena kewajiban, maka di saat itu keduanya wajib berpuasa tanpa mengganti dari apa yang terlewatkan keduanya.

Sehingga dengan keduanya berpuasa di saat itu, maka keduanya telah memperoleh manfaat [pahala] walaupun tanpa menggantinya di kemudian hari.


Baca Juga: Tiga Perkara yang Makruh Dilakukan Saat Berpuasa 


Kesimpulan Hukum

Bahwa jika seorang kafir baru masuk Islam di siang hari Ramadhan, maka wajib baginya berpuasa di saat itu juga. Demikian pula seorang yang baru mencapai usia baligh, wajib berpuasa di saat itu juga. Dikarenakan muncul pada keduanya sebab yang dengannya terkenai kewajiban.

Demikian pula seorang wanita yang suci di siang hari Ramadhan, wajib baginya berpuasa saat itu juga. Namun, sebabnya adalah karena hilangnya faktor penghalang yang menghalangi dia dari kewajiban berpuasa.

Semoga yang singkat ini bermanfaat bagi kaum muslimin, dengan keterbatasan ilmu dan wawasan yang kami miliki, kami mohon maaf sebesar-besarnya. Semoga Allah menjadikan amalan ini ikhlas karena-Nya sehingga menjadi pemberat amal kebaikan di akhirat kelak, Aamiin. (ZAC/AAA/AAK)

Penulis: Zaki Amanullah

Referensi:

  •       Al-Qur’anul Karim
  •       Fatwa Nur ‘Ala ad-Darb karya Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah (W: 1421 H).

 

Teks Arab

يقول السائل: ‌إذا ‌أسلم ‌الكافر في نهار رمضان هل يلزمه الصيام مع المسلمين مع أنه لم يتعرف على بقية أمور دينه؟

فأجاب رحمه الله تعالى: ‌إذا ‌أسلم ‌الكافر في أثناء النهار فإن للعلماء في ذلك خلافاً والراجح عندي أنه يلزمه الإمساك لأن هذا الرجل صار من أهل الوجوب وقد تجدد في حقه سبب الوجوب فلزمه أن يمسك ونظيره الصغير إذا بلغ في أثناء اليوم فإنه يلزمه الإمساك ولا يلزمه القضاء وكذلك الكافر إذا أسلم في أثناء النهار لزمه الإمساك دون القضاء لأنه صار من أهل الوجوب والفرق بين هذين وبين المرأة إذا طهرت في أثناء النهار أن طهر المرأة في أثناء النهار زوال مانع وهي قد حل لها انتهاك هذا اليوم مع أنها من أهل الوجوب وأما الكافر إذا أسلم والصبي إذا بلغ فإن هذا ليس زوال مانع ولكنه تجدد سبب الوجوب إذ أنهما في أول النهار ليسا من أهل الوجوب فالمرأة من أول النهار من أهل الوجوب لكن فيها مانع والكافر والصغير في أول النهار ليسا من أهل الوجوب فلما تجدد الوجوب في حقهما وجب عليهما الإمساك ولا قضاء عليهما فيكونان بهذا الإمساك قد استفادا ولا قضاء عليهما.