Salah satu pokok akidah yang wajib diyakini oleh setiap muslim adalah bahwa Allah ‘Azza wa Jalla memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna. Bahkan, beriman kepada nama dan sifat Allah Ta’ala termasuk bagian dari tauhid yang merupakan tujuan diciptakannya manusia di muka bumi ini.
Namun sangat disayangkan, ternyata hingga saat ini masih didapati sebagian kaum muslimin yang belum memahami serta menetapkan nama dan sifat Allah Ta’ala dengan benar. Bahkan, ada sebagian kelompok menyimpang yang menafikan nama dan sifat Allah atau tidak menetapkannya sebagaimana mestinya.
Melalui artikel ini, kami akan mengulas beberapa kaidah penting yang perlu diketahui dalam menetapkan nama dan sifat Allah Ta’ala sesuai dengan pemahaman ahlus sunnah wal jamaah agar kita semua dapat terhindar dari berbagai penyimpangan yang ada.
Kaidah Pertama: Prinsip dalam Menyikapi Dalil Tentang Nama dan Sifat Allah
Kaidah pertama adalah menetapkan dan memahami nama dan sifat Allah Ta’ala yang ada di dalam Al-Qur’an dan as-sunnah sesuai dengan makna zhahirnya (lahiriahnya). Makna tersebut tidak boleh diubah ataupun dipalingkan kepada makna lainnya tanpa dalil yang benar.
Mengapa demikian? Karena memalingkan makna dari zhahirnya termasuk berbicara tentang Allah tanpa dasar ilmu, sebuah perbuatan haram yang dilarang dan dicela oleh Allah Ta’ala. Secara tegas, Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Sesungguhnya Rabbku hanya mengharamkan segala perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, kezaliman tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kalian mengatakan tentang Allah sesuatu yang tidak kalian ketahui.'” (Al-‘Araf: 33)
Sebagai contoh ketika Allah Ta’ala berfirman,
بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ
“Bahkan kedua tangan-Nya terbuka lebar. Dia memberi rezeki sebagaimana yang Dia kehendaki.” (Al-Ma’idah: 64)
Makna zhahir (lahiriah) dari ayat ini adalah bahwa Allah memiliki dua tangan yang hakiki. Oleh karena itu, kita wajib menetapkannya bagi Allah. Jika ada pihak yang menyatakan bahwa makna dua tangan tersebut adalah al-quwwah (kekuatan), maka ia telah menafsirkan dan memalingkan lafaz tersebut dari makna lahiriahnya.
Selain itu, Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berbicara dengan bahasa Arab. Oleh karena itu, mustahil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan dalil-dalil tersebut kepada para sahabat sedangkan mereka tidak memahaminya. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,
نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ، عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ، بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ
“Ruhul Amin (Malaikat Jibril) telah menurunkannya (Al-Qur’an). (Dia menurunkannya) ke dalam hatimu (Nabi Muhammad) agar engkau termasuk orang-orang yang memberi peringatan. (Al-Qur’an itu diturunkan) dengan bahasa Arab yang jelas.” (Asy-Syu’ara: 193-195)
Begitu pula jika hal ini ditinjau dari akal sehat dan hati yang lurus, tentu ketika Allah Ta’ala menyampaikan wahyu terkait nama dan sifat-Nya tersebut Dia-lah yang lebih mengetahui makna yang Ia maksudkan dibandingkan siapa pun selain-Nya.
Setelah kita memahami prinsip umum dalam menyikapi dalil tentang nama dan sifat Allah, pembahasan berikutnya adalah kaidah yang berkaitan dengan nama-nama Allah Ta’ala.
Kaidah Kedua: Berkaitan dengan Nama-Nama Allah Ta’ala
Kaidah kedua ini memiliki empat cabang pembahasan, yaitu:
- Seluruh nama Allah Ta’ala adalah husna;
- Nama-nama Allah Ta’ala tidak terbatas dengan bilangan tertentu;
- Nama-nama Allah Ta’ala bersifat tauqifiyyah;
- Setiap nama Allah Ta’ala menunjukkan tiga perkara.
a. Seluruh Nama Allah Ta’ala Adalah Husna
Seluruh nama Allah Ta’ala adalah husna, yaitu mencapai puncak tertinggi dalam keindahan dan kesempurnaan. Hal ini karena setiap nama Allah Ta’ala mengandung sifat yang sempurna, tanpa ada kekurangan sedikit pun dari sisi mana pun. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا
“Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka memohonlah kepada-Nya dengan (menyebut) nama-nama itu.” (Al-‘Araf: 180)
Sebagai contoh yaitu nama Allah “Ar-Rahman”, nama tersebut menunjukkan sifat yang agung yaitu rahmah wasi’ah (kasih sayang Allah Ta’ala yang luas yang mencakup seluruh makhluk-Nya).
b. Nama-Nama Allah Ta’ala Tidak Terbatas dengan Bilangan Tertentu
Setiap mukmin wajib meyakini bahwa nama-nama Allah Ta’ala tidak terbatas pada bilangan atau jumlah tertentu. Bahkan nama-nama-Nya sangat banyak, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits,
أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ.
“Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu; yang Engkau gunakan untuk menamai diri-Mu sendiri, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu.”1
c. Nama-Nama Allah Ta’ala Bersifat Tauqifiyyah
Selain itu, setiap muslim juga wajib meyakini bahwa nama-nama Allah Ta’ala bersifat tauqifiyyah (penetapannya harus berlandaskan dalil dari Al-Qur’an maupun as-sunnah). Oleh karena itu, nama-nama Allah tidak boleh ditetapkan hanya berdasarkan akal dan pendapat semata.
Mengapa demikian? Karena nama-nama Allah termasuk perkara gaib, dan hanya Dia yang paling mengetahui tentang diri-Nya. Jika seseorang menetapkan suatu nama bagi Allah Ta’ala tanpa dalil dari Al-Qur’an maupun as-sunnah, pada hakikatnya ia telah berbicara tentang Allah tanpa dasar ilmu. Padahal, Allah telah mengharamkan perbuatan tersebut secara tegas dalam firman-Nya,
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Sesungguhnya Rabbku hanya mengharamkan segala perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, kezaliman tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kalian mengatakan tentang Allah sesuatu yang tidak kalian ketahui.'” (Al-‘Araf: 33)
d. Setiap Nama Allah Ta’ala Menunjukkan Tiga Perkara
Tiga perkara tersebut adalah sebagai berikut:
- Dzat Allah Ta’ala yang memiliki nama tersebut
- Adanya sifat Allah yang terkandung pada nama tersebut
- Konsekuensi atau pengaruh dari sifat tersebut, apabila nama itu termasuk nama yang bersifat muta’addi (yakni yang pengaruhnya sampai kepada makhluk)
Contoh nama Allah Ta’ala yang tidak muta’addi (yakni yang pengaruhnya tidak sampai kepada makhluk) adalah “Al-‘Azhim” (Dzat Yang Mahaagung). Keimanan Anda terhadap nama ini tidak akan sempurna jika Anda tidak meyakini bahwa:
- Al-‘Azhim merupakan salah satu nama Allah Ta’ala.
- Nama tersebut menunjukkan Dzat Allah Ta’ala.
- Nama tersebut mengandung sifat ‘azhamah (keagungan) sebagai salah satu sifat yang Allah miliki.
Adapun contoh nama yang bersifat muta’addi adalah “Ar-Raḥman” (Dzat Yang Maha Pengasih). Keimanan Anda terhadap nama ini tidaklah sempurna hingga Anda meyakini bahwa:
- Ar-Raḥman adalah salah satu nama Allah Ta’ala.
- Nama tersebut menunjukkan Dzat Allah Ta’ala.
- Nama tersebut mengandung sifat rahmat (kasih sayang) yang sempurna.
- Nama tersebut menunjukkan atsar (konsekuensi atau pengaruh) dari sifat rahmat, yaitu bahwa Allah merahmati siapa saja yang Dia kehendaki.
Kesimpulan
Dari pemaparan dua kaidah di atas, ada beberapa kesimpulan yang bisa kita ambil, antara lain:
- Menetapkan nama dan sifat Allah Ta’ala merupakan bagian dari akidah yang wajib dibangun di atas dalil Al-Qur’an dan as-sunnah. Bukan aberdasarkan akal, logika, atau perasaan.
- Dalil-dalil tentang nama dan sifat Allah Ta’ala wajib dipahami sesuai makna zhahirnya, tanpa menyelewengkan makna yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.
- Seluruh nama Allah adalah husna, jumlahnya tidak terbatas, serta bersifat tauqifiyyah (penetapannya harus berlandasan dalil dari Al-Qur’an maupun as-sunnah). Sehingga hanya boleh ditetapkan berdasarkan dalil yang sahih.
- Setiap nama Allah menunjukkan penetapan nama tersebut, menunjukkan Dzat Allah, mengandung sifat-Nya yang sempurna, dan —jika termasuk nama yang bersifat muta’addi— menunjukkan pula pengaruh dari sifat tersebut.
- Memahami kaidah-kaidah ini merupakan langkah penting untuk menjaga akidah dari berbagai bentuk penyimpangan dalam menetapkan nama dan sifat Allah Ta’ala.
Demikian dua kaidah penting dalam menetapkan memahami nama dan sifat Allah Ta’ala. Dengan memahami kaidah-kaidah ini, seorang muslim akan lebih mudah menjaga akidahnya dari berbagai bentuk penyimpangan. Insya Allah, pada pembahasan berikutnya akan dijelaskan kaidah-kaidah lain yang tidak kalah penting dalam menetapkan nama dan sifat Allah. Semoga bermanfaat. (RGA/LTC/ATH)
Penulis: Rasyid Ghani
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim
- Musnad Ahmad
- Shahih Ibnu Hibban
- As-Silsilah as-Shahihah karya Imam al-Albani rahimahullah
- Lum’atul ‘Itiqad karya Imam Ibnu Qudamah rahimahullah
- Ta’liq Mukhtashar ‘ala Lum’atil ‘Itiqad karya Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah
- At-Ta’liq ‘ala Ta’liq Mukhtashar ‘ala Lum’atil ‘Itiqad karya Syaikh Fahd rahimahullah
- Al-Qawa’idul Mutsla fii Shifatillah wa Asma’ihil Husna karya Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah











Komentar