Pada pembahasan kali ini, kami akan menyajikan salah satu tafsir ayat al-Qur’an dari penjelasan para ulama.
Ayat tersebut adalah firman Allah Ta’ala,
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (al-Maidah: 82)
Apa tafsir para ulama terkait ayat ini? Berikut penjelasannya.
Sebab Turunnya Ayat Tersebut
Sebab yang melatar belakangi ayat ini turun sebagaimana penjelasan Imam at-Thabari rahimahullah,
Dari Shahabat Said bin Jubair mengatakan, “Raja Najasyi mengirim para utusan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menemui beliau, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membacakan sebuah ayat, lantas mereka memeluk agama Islam.
Kemudian Allah Ta’ala menurunkan sebuah ayat tentang mereka,
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ
Kemudian para utusan tersebut kembali kepada Raja Najasyi lalu menyampaikan ayat yang dibacakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Setelah mendengar ayat tersebut, Raja Najasyi masuk Islam dan kokoh di atasnya sampai beliau meninggal dunia.
Di saat wafatnya Raja Najasyi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan berita kematiannya kepada para shahabatnya sembari bersabda,
“Sesungguhnya telah wafat saudara kalian yakni Raja Najasyi maka lakukanlah shalat ghaib untuknya.”
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya melakukan shalat ghaib di Madinah sedangkan keberadaan Raja Najasyi di Habasyah. 1
Tafsir Ayat Perkata
Pada penggalan ayat
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
Imam Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menafsirkan,
“Dua kelompok tersebut yakni Yahudi dan Musyrikin adalah orang-orang yang paling sengit permusuhannya terhadap Islam dan kaum muslimin secara mutlak serta yang paling banyak upayanya dalam menimpakan kemudharatan kepada mereka(kaum muslimin).
Hal itu karena besarnya kebencian mereka kepada kaum muslimin disebabkan hasad, zalim, penentangan dan kekufuran.” 2
Pada lafadz berikutnya, Allah Ta’ala berfirman,
وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا
Imam Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menafsirkan,
“Yakni mereka adalah alim ulama yang zuhud dan ahli Ibadah yang rajin beribadah di biara-biara. Sebuah ilmu yang diiringi dengan sikap zuhud demikian pula ibadah yang ditunaikan diantara sebab yang akan melunaknya hati dan melembutkannya serta melenyapkan sikap keras dan kaku. Oleh karenanya tidak didapati pada kaum nashara sikap keras Yahudi dan bengis musyrikin.” 3
Kemudian pada lafadz berikutnya Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنَّهُمْ لا يَسْتَكْبِرُونَ
Imam Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menafsirkan,
“Tidak ada pada mereka sikap sombong dan angkuh untuk tunduk kepada kebenaran sehingga dengan kriteria inilah yang menjadikan mereka lebih dekat hubungannya dengan kaum muslimin dan mencintainya, karena sesungguhnya orang yang rendah hati lebih dekat dengan kebaikan daripada orang yang sombong.”4
Baca juga: Inilah Sifat dan Karakteristik Kaum Yahudi, Umat yang Dimurkai
Kandungan Ayat
Para ulama menjelaskan tentang kandungan ayat di atas, sebagaimana berikut,
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah
Beliau mengatakan,
”Allah memulai penyebutannya dengan kaum Yahudi daripada kaum musyrikin karena mereka (kaum Yahudi) adalah orang-orang yang sangat keras permusuhannya terhadap kaum muslimin, sebagai bukti, mereka menyihir Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”5
Al-Allamah Syaikh Abu Muhammad al-Husein bin Mas’ud bin Muhammad al-Baghawi rahimahullah mengatakan,
“Bahwa orang-orang yang dekat dengan kaum muslimin yang dimaksud bukanlah kaum Nashara karena pada realitanya mereka justru memusuhi umat Islam sebagaimana kaum Yahudi.
Mereka membunuh kaum muslimin dan memerangi negara-negara Islam bahkan mereka juga menghancurkan masjid-masjid serta membakar mushaf-mushaf.
Sehingga tidak ada sedikitpun pada mereka kemuliaan sedangkan kemuliaan yang dimaksud pada ayat ini adalah orang-orang Nashara yang masuk Islam sebagaimana Raja Najasyi dan para sahabatnya.”6
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah rahimahullah
Beliau mengatakan,
“Ayat ini dan semisalnya menunjukkan secara jelas bahwa wajib bagi seorang muslim membenci dan memusuhi orang-orang Kafir dari kalangan Yahudi, Nashara dan seluruh orang-orang musyrik sampai mereka beriman kepada Allah Ta’ala semata.
Ayat ini juga menunjukkan bahwa mencintai dan mengidolakan mereka hukumnya haram.”7
Imam Abdurrahman bin Abu Bakr as-Suyuthi rahimahullah
Beliau mengatakan,
“Ayat ini menyebutkan pujian bagi orang-orang yang telah beriman kepada Allah dari kalangan kaum Nashara, meskipun mereka tidak menyebut diri mereka dengan orang-orang Muslim.”8
Demikian sekelumit penjelasan para ulama terkait tafsir ayat di atas.
Semoga Allah Ta’ala memberikan kepada kita taufik dan hidayah untuk senantiasa memahami dan merenungi ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan pemahaman para ulama. (UAA/AAA/IWU)
Aamiin.
Penulis: Umar Abdul Aziz Ponorogo
Referensi:
- Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir bin Abdillah as-Sa’di rahimahullah (1307-1306 H).
- Syarah Riyadhus Shalihin karya asy-Syaikh Muhammad bin Shalih bin Muhammad rahimahullah (1347-1421 H)
- Jami’ al-Bayan fi Ta’wili al-Qur’an yang dikenal dengan Tafsir at-Thabari karya Imam Muhammad bin Jarir ath-Thabari rahimahullah (224-310 H/839-923 M)
- Ma’alimut Tanzil fi Tafsir al-Qur’an karya Imam Abu Nuhammad al-Husain bin Mas’ud bin Muhammad bin al-Farra’ al-Baghawi asy-Syafi’i rahimahullah (W. 510 H)
- Al-Hawi lil Fatawi karya al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakr as-Suyuthi rahimahullah (W. 1424 H)
- Majmu’ fatawa karya As-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah rahimahullah (1420 H)
Footnotes
- Tafsir Jami’ul Bayan hlm. 498 karya Abu Ja’far Muhammad bin Jarir rahimahullah.
عن سعيد بن جبير قال: بعث النجاشيّ وفدًا إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فقرأ عليهم النبي صلى الله عليه وسلم فأسلموا. قال: فأنزل الله تعالى فيهم:”لتجدن أشد الناس عداوة للذين آمنوا اليهود والذين أشركوا“، إلى آخر الآية. قال: فرجعوا إلى النجاشيّ فأخبروه، فأسلم النجاشي، فلم يزل مسلمًا حتى مات. قال: فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنّ أخاكم النجاشيَّ قد مات، فصلُّوا عليه! فصلَّى عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم بالمدينة، والنجاشي ثَمَّ
- Tafsir as-Sa’di hlm. 241 karya Imam Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah.
فهؤلاء الطائفتان على الإطلاق أعظم الناس معاداة للإسلام والمسلمين، وأكثرهم سعيا في إيصال الضرر إليهم، وذلك لشدة بغضهم لهم، بغيا وحسدا وعنادا وكفرا
- Tafsir as-Sa’di hlm. 241 karya Imam Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah.
علماء متزهدين، وعُبَّادًا في الصوامع متعبدين. والعلم مع الزهد وكذلك العبادة مما يلطف القلب ويرققه، ويزيل عنه ما فيه من الجفاء والغلظة، فلذلك لا يوجد فيهم غلظة اليهود، وشدة المشركين
- Tafsir as-Sa’di hlm. 241 karya Imam Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah.
ليس فيهم تكبر ولا عتو عن الانقياد للحق، وذلك موجب لقربهم من المسلمين ومن محبتهم، فإن المتواضع أقرب إلى الخير من المستكبر
- Syarah Riyadhus Shalihin hlm.6\322 karya Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah.
فبدأ اليهود قبل المشركين فهم أشد الناس عداوة للمسلمين ولهذا سحروا النبي صلى الله عليه وسلم
- Ma’alimut Tanzil fi Tafsir al-Qur’an hlm. 2\74 karya Imam Abu Nuhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi asy-Syafi’i rahimahullah
لَمْ يُرِدْ بِهِ جَمِيعَ النَّصَارَى لِأَنَّهُمْ فِي عَدَاوَتِهِمُ الْمُسْلِمِينَ كَالْيَهُودِ فِي قَتْلِهِمُ الْمُسْلِمِينَ وَأَسْرِهِمْ وَتَخْرِيبِ بِلَادِهِمْ وَهَدْمِ مَسَاجِدِهِمْ وَإِحْرَاقِ مَصَاحِفِهِمْ، لا وَلَا كَرَامَةَ لَهُمْ، بَلِ الْآيَةُ فِيمَنْ أَسْلَمَ مِنْهُمْ مِثْلُ النَّجَاشِيِّ وَأَصْحَابِهِ
- Majmu’ Fatawa hlm. (2/179) karya Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah rahimahullah.
في هذا المعنى كثيرة، وهي تدل دلالة صريحة على وجوب بغض الكفار من اليهود والنصارى وسائر المشركين وعلى وجوب معاداتهم حتى يؤمنوا بالله وحده، وتدل أيضا على تحريم مودتهم وموالاتهم
- Al-Hawi al-Fatawi hlm. (2/153) karya Imam Abdurrahman bin Abu Bakr as-Suyuthi rahimahullah. (991 w)
فَهَذِهِ الْآيَةُ ذَكَرَتْ مَدْحًا لِمُؤْمِنِي النَّصَارَى وَلَمْ يُسَمِّهِمْ مُسْلِمِينَ
