Akidah merupakan pilar utama dalam Islam, berakar pada Al-Qur’an dan Sunnah serta dipahami oleh para sahabat dan generasi terbaik umat. Jika akidah tidak lurus, seluruh amalan menjadi sia-sia.
Sementara itu, kesyirikan adalah penyimpangan akidah yang paling berbahaya—menyekutukan Allah Ta’ala dalam perbuatan, ucapan, maupun keyakinan. Memahaminya dengan tepat dan mendalam menjadi sangat penting, tanpa ada sedikit pun keraguan atau kekeliruan, karena beberapa bentuk kesyirikan bersifat samar.
Pada bagian kesembilan ini, kita akan menyertakan pertanyaan seputar: Tawassul dan meminta syafaat
Dengan apa kita boleh bertawassul kepada Allah?
Jawaban: Sebelum menjawab pertanyaan itu, kita akan jelaskan bahwa bertawassul itu ada yang diperbolehkan dan ada yang dilarang:
(1) Bertawassul yang diperbolehkan dan disyariatkan:
Yaitu bertawassul dengan nama-nama Allah Ta’ala, sifat-sifat-Nya, dan amal shalih yang dikerjakan.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَا
“Dan milik Allah-lah nama-nama yang indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.” (Al-A’raf: 180)
Dan firman Allah Ta’ala:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوٓا۟ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.” (Artinya: Mendekatlah kepada-Nya dengan ketaatan dan melakukan amal yang diridhai-Nya) (Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah dari Qatadah – Al Maidah: 35)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:
أَسۡأَلُكَ بِكُلِّ اسۡمٍ هُوَ لَكَ
“Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang Engkau miliki.” 1
Dan sabda beliau shallallahu alaihi wa sallam kepada seorang sahabat yang memohon agar bisa menemaninya di surga:
أَعِنِّي عَلَى نَفۡسِكَ بِكَثۡرَةِ السُّجُودِ
“Bantulah aku atas dirimu dengan memperbanyak sujud.” (Artinya: dengan memperbanyak shalat, karena itu termasuk amal salih) 2
Juga diperbolehkan bertawassul dengan kecintaan kita kepada Allah, Rasul-Nya, dan para wali-Nya.
Contohnya adalah kisah tiga orang penghuni gua yang bertawassul dengan amal shalih mereka, lalu Allah Ta’ala pun menyelamatkan mereka dari kesulitan itu.
(2) Bertawassul yang Dilarang:
Yaitu berdoa kepada orang-orang yang telah meninggal, serta meminta hajat (kebutuhan) kepada mereka, sebagaimana yang banyak terjadi saat ini. Hal itu termasuk syirik besar, berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَلَا تَدۡعُ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِن فَعَلۡتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ
“Dan janganlah kamu berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat atau mudharat kepadamu. Jika kamu lakukan, maka sungguh kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Artinya: termasuk orang-orang musyrik) (Yunus: 106)
Baca Juga: Cara dan Tuntunan Tawasul dengan Orang Saleh yang Benar
Hukum Bertawassul dengan “Kedudukan” Nabi Shallallahu alaihi wa sallam
seperti ucapan:
يَا رَبِّ بِجَاهِ مُحَمَّدٍ اشۡفِنِي
“Ya Rabb, demi kedudukan Muhammad, sembuhkanlah aku!”
Maka ini perkara yang diada-adakan dalam agama, karena para sahabat tidak pernah melakukannya. Bahkan sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu anhu ketika terjadi kemarau, ia bertawassul dengan doa Al-Abbas (paman Nabi) yang masih hidup, dan tidak bertawassul dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam setelah beliau wafat.
Tawassul semacam ini bahkan bisa mengarah kepada kesyirikan, terutama jika seseorang meyakini bahwa Allah Ta’ala memerlukan perantara dari kalangan manusia (seperti raja atau penguasa), karena ini menyamakan Pencipta dengan makhluk.
Untuk mengetahui rincian dan dalil yang lebih lengkap mengenai hal ini, disarankan untuk merujuk kepada risalah:
“At-Tawassul wa Ahkamuhu wa Anwa’uhu” karya Syaikh Al-Albani.
Penutup
Berikut ini adalah akhir dari bagian kesembilan dari rangkaian pertanyaan seputar akidah, yang membahas landasan-landasan penting dalam memahami akidah. Semoga penjelasan ini dapat menguatkan keimanan serta menajamkan pemahaman kita terhadap akidah yang lurus.
Nantikan lanjutan seri akidah ini pada artikel selanjutnya, insyaAllah akan mengupas pertanyaan-pertanyaan lain yang tak kalah penting terkait akidah yang lurus.
Referensi:
Al-Qur’anul Karim
Khudz Aqidatak Minal Kitabi Was Sunnah Ash-Shahihah karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu (W. 1431 H) rahimahullah
Shahih Muslim karya Imam Abul Hajjaj Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi (W. 261 H) rahimahullah
Al-Musnad karya Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal (W. 241 H) rahimahullah
Penulis: Muhammad Zidan
(ZDN/AAA/IWU)
Teks Arab:
التَّوَسُّلُ وَطَلَبُ الشَّفَاعَةِ
س١ – : بِمَاذَا نَتَوَسَّلُ إِلَى اللهِ؟
ج١ – : التَّوَسُّلُ مِنۡهُ جَائِزٌ وَمَمۡنُوعٌ:
(١) التَّوَسُّلُ الۡجَائِزُ وَالۡمَطۡلُوبُ هُوَ التَّوَسُّلُ بِأَسۡمَاءِ اللهِ وَصِفَاتِهِ وَالۡعَمَلِ الصَّالِحِ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَا﴾ (سورة الأعراف).
وَقَالَ تَعَالَى: ﴿يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوٓا۟ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ﴾ (أَيۡ تَقَرَّبُوا إِلَيۡهِ بِطَاعَتِهِ وَالۡعَمَلِ بِمَا يُرۡضِيهِ) (ذَكَرَهُ ابۡنُ كَثِيرٍ نَقۡلًا عَنۡ قَتَادَةَ) (الۡآيَةُ مِنۡ سُورَةِ الۡمَائِدَةِ).
وَقَالَ ﷺ: (أَسۡأَلُكَ بِكُلِّ اسۡمٍ هُوَ لَكَ) (صَحِيحٌ رَوَاهُ أَحۡمَدُ).
وَقَوۡلُهُ ﷺ لِلصَّحَابَةِ الَّذِي سَأَلَهُ مُرَافَقَتَهُ الۡجَنَّةَ: (أَعِنِّي عَلَى نَفۡسِكَ بِكَثۡرَةِ السُّجُودِ) (أَيۡ الصَّلَاةُ وَهِيَ مِنَ الۡعَمَلِ الصَّالِحِ) (رَوَاهُ مُسۡلِمٌ).
وَيَجُوزُ التَّوَسُّلُ بِحِبِّنَا وَحِبِّ اللهِ وَالرَّسُولِ وَالۡأَوۡلِيَاءِ.
وَكَقِصَّةِ أَصۡحَابِ الۡغَارِ الَّذِينَ تَوَسَّلُوا بِأَعۡمَالِهِمۡ الصَّالِحَةِ فَفَرَجَ اللهُ عَنۡهُمۡ.
(٢) التَّوَسُّلُ الۡمَمۡنُوعُ: وَهُوَ دُعَاءُ الۡأَمۡوَاتِ، وَطَلَبُ الۡحَاجَاتِ مِنۡهُمۡ، كَمَا هُوَ وَاقِعٌ الۡيَوۡمَ، وَهُوَ شِرۡكٌ أَكۡبَرُ، لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَلَا تَدۡعُ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِن فَعَلۡتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ﴾ (أَيۡ مِنَ الۡمُشۡرِكِينَ) (سورة يونس).
(٣) أَمَّا التَّوَسُّلُ بِجَاهِ الرَّسُولِ ﷺ كَقَوۡلِكَ: (يَا رَبِّ بِجَاهِ مُحَمَّدٍ اشۡفِنِي) فَهَٰذَا بِدۡعَةٌ لِأَنَّ الصَّحَابَةَ لَمۡ يَفۡعَلُوهُ، وَلِأَنَّ عُمَرَ تَوَسَّلَ بِالۡعَبَّاسِ حَيًّا بِدُعَائِهِ، وَلَمۡ يَتَوَسَّلۡ بِالرَّسُولِ بَعۡدَ مَوۡتِهِ، وَهَٰذَا التَّوَسُّلُ قَدۡ يُؤدي لِلشِّرۡكِ، وَذَلِكَ إِذَا اعۡتَقَدَ أَنَّ اللهَ مُحۡتَاجٌّ لِوَاسِطَةِ بَشَرٍ كَالۡأَمِيرِ وَالۡحَاكِمِ، لِأَنَّهُ شِبۡهُ الۡخَالِقِ بِالۡمَخۡلُوقِ.
وَلِمَعۡرِفَةِ الۡمَزِيدِ مِنَ التَّفَاصِيلِ وَأَدِلَّةِ هَٰذَا الۡمَوۡضُوعِ يُرَاجِع رِسَالَةَ (التَّوَسُّلُ وَأَحۡكَامُهُ وَأَنۡوَاعُهُ) لِلشَّيۡخِ الۡأَلۡبَانِيِّ
.
