oleh

Tafsir Ayat 183 Surat Al-Baqarah: Kewajiban Puasa Ramadhan

-Umum-5,256 views

Puasa Ramadhan diwajibkan pada tahun ke-2 hijriah. Ibadah puasa Ramadhan adalah rukun Islam yang keempat. Puasa diwajibkan berlandaskan al-Qur’an, sunnah dan kesepakatan para ulama. Berikut tafsir surah al-Baqarah ayat 183 mengenai kewajiban puasa Ramadhan.

Ayat yang Mewajibkan Puasa Ramadhan

Ayat yang mewajibkan puasa Ramadhan adalah firman Allah Ta’ala,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (al-Baqarah: 183)

Imam Abu Muhammad al-Baghawi rahimahullah berkata (W 516 H),

“Firman Allah Ta’ala (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ) yakni diwajibkan (berpuasa).”1

Kandungan Ayat Secara Global

Ulama Pakar Tafsir asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata (W 1376 H),

“Allah Ta’ala mengabarkan tentang karunia yang Dia berikan kepada para hamba-Nya. Yaitu Allah Ta’ala mewajibkan puasa atas mereka, sebagaimana ibadah puasa juga diwajibkan atas umat terdahulu. Karena puasa termasuk syariat dan perintah yang kebaikannya untuk mereka sendiri pada setiap zamannya.

Dalam ibadah puasa, terdapat upaya untuk membangkitkan semangat umat. Yaitu, sudah sepantasnya bagi kalian agar berlomba-lomba dengan umat selain kalian dalam menyempurnakan berbagai amalan serta bersegera memperbaiki budi pekerti. Puasa bukanlah perkara yang berat yang kalian dikhususkan dengannya.

Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan hikmah disyariatkannya puasa,

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Agar kalian bertakwa.” (al-Baqarah: 183)

Makna Ayat Perkata

Untuk memudahkan dalam memahami ayat ke 183 dari surat al-Baqarah ini, kami bagi ayat ini menjadi beberapa bagian.

Bagian pertama

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيامُ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa.”

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata (W 671 H)  ,

“Ketika Allah Ta’ala menyebutkan perkara yang diwajibkan bagi al-mukallafin (kaum muslimin) berupa hukum qishos (balas-membalas) dan wasiat, kemudian Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia telah mewajibkan puasa atas kaum muslimin.

Allah Ta’ala mengharuskan dan mewajibkan puasa tersebut kepada mereka. Tidak ada perselisihan tentang (kewajiban) puasa Ramadhan. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

بُنِيَ الْإِسْلَامِ عَلَى خَمْسً شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَالْحَجِّ

“Agama Islam dibangun di atas lima pondasi; Persaksian bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan berhaji.”2

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata (W 774 H),

“Allah Ta’ala berfirman kepada kaum mukminin dari umat ini, memerintahkan mereka untuk berpuasa yaitu menahan diri dari makan, minum dan berjima’ disertai dengan niat yang ikhlas kepada Allah Azza wa Jalla semata. Karena pada ibadah puasa terdapat pembersihan, pensucian dan pemurnian jiwa dari kebiasaan yang buruk dan akhlak yang jelek.3

Bagian Kedua

كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

“Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian.”

Imam Ibnu Abi Hatim rahimahullah membawakan sanad (jalur periwayatan) yang sampai kepada sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu tentang tafsir ayat di atas,

“(Orang-orang sebelum kalian) yaitu dari kalangan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashara).”4

Imam Ibnu Abi Hatim rahimahullah berkata (W 327 H),

“Riwayat tentang tafsir (mengenai sisi kesamaan puasa umat terdahulu dengan umat saat ini) berbeda-beda dalam 3 perbedaan,

  1. Tafsir pertama, puasa diwajibkan juga kepada umat sebelum kita, berupa puasa tiga hari pada setiap bulannya.
  2. Tafsir kedua, puasa diwajibkan atas umat sebelum kita, berupa (puasa) pada bulan Ramadhan sebagaimana puasa yang Allah Ta’ala wajibkan atas umat ini.
  3. Tafsir ketiga, puasa umat sebelum kita dimulai dari sepertiga malam pertama sampai sepertiga malam pertama lagi.”5

Imam Ibnu Abi Hatim juga membawakan hadits dan atsar yang mendukung masing-masing pendapat di atas. (lihat Tafsir Ibnu Abi Hatim: 303-305/1).

Bagian Ketiga

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Agar kalian bertakwa.”

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata (W 516 H)  ,

“Firman Allah Ta’ala (Agar kalian bertakwa) yaitu dengan cara berpuasa, karena puasa merupakan sebab yang mengantarkan kepada ketakwaan, karena hikmah yang ada di dalamnya berupa mengalahkan hawa nafsu dan memutus syahwat. Dikatakan pula (tentang makna potongan ayat di atas) yaitu agar kalian berhati-hati dari syahwat (keinginan) untuk makan, minum dan jima’ (berhubungan badan).”6

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata (W 671 H),

“Dikatakan makna “takwa” yang dimaksud dalam ayat ini adalah melemah. Karena ketika sedikit makan, maka syahwat akan melemah, ketika syahwat melemah, maka keinginan untuk bermaksiat menjadi kecil. Ini kias yang bagus. Dikatakan mengenai (tafsir potongan ayat di atas) yaitu agar kalian berhati-hati dari kemaksiatan. Dikatakan tentang maknanya adalah umum (yaitu puasa dapat mencegah pelakunya dari segala bentuk kejelekan) karena puasa sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ وَوِجَاءٌ

“Puasa adalah pelindung dan perisai.”7

Puasa juga merupakan sebab ketakwaan, karena ia dapat meredam syahwat.”8

Definisi Puasa Menurut Ahli Tafsir

Imam Syamsuddin al-Qurthubi rahimahullah berkata (W 671 H),

“Puasa secara terminologi bahasa adalah menahan diri dan tidak berpindah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Disebutkan bahwa diam disebut juga dengan puasa, karena menahan diri dari berbicara. Sebagaimana ucapan Maryam ‘alaihas salam,

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمنِ صَوْماً

“Sesungguhnya aku telah bernazar (bertekad) untuk berpuasa kepada Rabb Yang Maha Pemurah.” (Maryam: 26)

الصَوْم )Puasa( pada ayat tersebut bermakna diam (tidak berbicara).”9

“Adapun puasa secara istilah bermakna, menahan diri dari pembatal-pembatal puasa disertai niat berpuasa, dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.”10

Hikmah Diwajibkannya Puasa

Di antara hikmah diwajibkannya puasa adalah;

  1. Puasa merupakan salah satu sebab ketakwaan, karena puasa merupakan bentuk perealisasian terhadap perintah Allah dan menjauhi larangan-

Termasuk makna takwa adalah seorang yang berpuasa meninggalkan perkara yang Allah Ta’ala larang berupa makan, minum, jima’ dan selainnya. Perkara-perkara yang jiwa suka melakukannya. Namun, dia meninggalkannya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan berharap pahala dari-Nya, inilah hakikat ketakwaan.

  1. Seorang yang berpuasa melatih jiwanya agar senantiasa merasa diawasi oleh Allah Ta’ala, sehingga dia meninggalkan perkara yang disukai jiwanya, walaupun sebenarnya dia mampu untuk melakukannya. Perbuatannya tersebut didasari oleh ilmu yang ia miliki bahwa Allah Ta’ala senantiasa mengawasinya.
  2. Puasa dapat mempersempit jalan setan, karena setan berjalan di pembuluh darah manusia. Sehingga, puasa dapat melemahkan pengaruh setan yang ada di dalam jiwa dan mengurangi timbulnya keinginan untuk melakukan kemaksiatan.
  3. Orang yang berpuasa mayoritasnya banyak melakukan ketaatan, sedangkan ketaatan merupakan perangai ketakwaan.
  4. Di antara hikmah puasa; ketika orang kaya merasakan pedihnya kelaparan, maka hal tersebut akan membuatnya mudah untuk membantu fakir miskin dan orang yang tak punya, ini juga merupakan perangai ketakwaan.11

Dengan penjelasan di atas kita mengetahui bahwa puasa Ramadhan merupakan syariat yang telah tetap berdasarkan dalil-dalil syar’i. Kita juga telah mengetahui beberapa hikmah dari diwajibkannya puasa. Maka sudah sepantasnya bagi kita untuk memberikan perhatian kepada ibadah yang mulia ini. Semoga Allah Ta’ala menerima amal ibadah kita di bulan yang suci ini. Amin. LHL-AAA/AAK

Penulis: Lekat Hidayat

Referensi:

  • Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi
  • Maalimut Tanzhil fi Tafsiril Qur’an karya Imam Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi rahimahullah.
  • Tafsirul Qur’anil Azhim karya Imam Abul Fida Ismail bin Umar bin Katsir
  • Tafsirul Qur’anil Azhim li Ibni Abi Hatim karya Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Muhammad ar-Raazi rahimahullah.
  • Taisirul Karimir Rahman karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir bin Abdillah as-Sa’di rahimahullah.

Footnotes

  1. Maalimut Tanzhil Fi Tafsiril Qur’an (195/1)

    قَوْلُهُ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ} أَيْ فُرِضَ وَأُوجِبَ

  2. Al-Jami’ Liahkamil Qur’an (272/2)

    لَمَّا ذَكَرَ مَا كُتِبَ عَلَى الْمُكَلَّفِينَ مِنَ الْقِصَاصِ وَالْوَصِيَّةِ ذَكَرَ أَيْضًا أَنَّهُ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الصِّيَامُ وَأَلْزَمَهُمْ إِيَّاهُ وَأَوْجَبَهُ عَلَيْهِمْ، وَلَا خِلَافَ فِيهِ، قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (بُنِيَ الْإِسْلَامِ عَلَى خَمْسً شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَالْحَجِّ) رَوَاهُ ابْنُ عُمَرَ

  3. Tafsirul Qur’anil Azhim (497/1)

    يَقُولُ تَعَالَى مُخَاطِبًا لِلْمُؤْمِنِينَ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَآمِرًا لَهُمْ بِالصِّيَامِ، وَهُوَ: الْإِمْسَاكُ عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْوِقَاعِ بِنِيَّةٍ خَالِصَةٍ لِلَّهِ (1) عَزَّ وَجَلَّ، لِمَا فِيهِ مِنْ زَكَاةِ النَّفْسِ وَطَهَارَتِهَا وَتَنْقِيَتِهَا مِنَ الْأَخْلَاطِ الرَّدِيئَةِ وَالْأَخْلَاقِ الرَّذِيلَةِ

  4. Tafsirul Qur’anil Azhim Libni Abi Hatim (305/1)

    قَوْلُهُ: عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

    1628 – حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الصَّبَّاحِ، ثنا حجاج، عن ابن جريج وعثمان ابن عَطَاءٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ: كتب عليكم الصيام كما كتب على الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ يَعْنِي بِذَلِكَ أَهْلَ الْكِتَابِ. وَرُوِيَ عَنْ عَطَاءٍ الْخُرَاسَانِيِّ وَالشَّعْبِيِّ وَالسُّدِّيِّ نَحْوُ ذَلِكَ.

  5. Tafsirul Qur’anil Azhim Libni Abi Hatim (303-305/1)

    اخْتَلَفَتِ الرِّوَايَةُ فِي ذَلِكَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

    [الوجه الأول] فَأَحَدُ ذَلِكَ: أَنَّهُ كُتِبَ عَلَى الْأُمَمِ قَبْلِنَا صِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ.

    وَالوجه الثَّانِي: أَنَّهُ فُرِضَ عَلَى الْأُمَمِ قَبْلِنَا شَهْرُ رَمَضَانَ كَمَا كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ.

    وَالوجه الثَّالِثُ أَنَّ صِيَامَهُمْ كَانَ مِنَ الْعَتَمَةِ إِلَى الْعَتَمَةِ

  6. Maalimut Tanzhil Fi Tafsiril Qur’an (196/1)

    يَعْنِي بِالصَّوْمِ لِأَنَّ الصَّوْمَ وَصْلَةٌ إِلَى التَّقْوَى لِمَا فِيهِ مِنْ قَهْرِ النَّفْسِ وَكَسْرِ الشَّهَوَاتِ، وَقِيلَ: لَعَلَّكُمْ تَحْذَرُونَ عَنِ الشَّهَوَاتِ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالْجِمَاعِ

  7. HR. al-Bukhari no. 1894 dan Muslim no. 162 di dalam shahih keduanya dari sahabat abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dengan lafadz,

    الصِّيَامُ جُنَّةٌ

    Adapun lafadz وِجَاءٌ merupakan HR. al-Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1/1400 di dalam shahih keduanya dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu. Dengan lafadz,

    فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ

  8. Al-Jami’ Liahkamil Qur’an (276/2)

    و” تَتَّقُونَ” قِيلَ: مَعْنَاهُ هُنَا تَضْعُفُونَ، فَإِنَّهُ كُلَّمَا قَلَّ الأكل ضعفت الشهوة، وكلما ضعفت الشَّهْوَةُ قَلَّتِ الْمَعَاصِي. وَهَذَا وَجْهٌ مَجَازِيٌّ حَسَنٌ. وَقِيلَ: لِتَتَّقُوا الْمَعَاصِيَ. وَقِيلَ: هُوَ عَلَى الْعُمُومِ، لِأَنَّ الصِّيَامَ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: (الصِّيَامُ جُنَّةٌ وَوِجَاءٌ) «1» وَسَبَبُ تَقْوَى، لِأَنَّهُ يُمِيتُ الشَّهَوَاتِ.

  9. Al-Jami’ Liahkamil Qur’an (272/2)

    وَمَعْنَاهُ فِي اللُّغَةِ: الْإِمْسَاكُ، وَتَرْكُ التَّنَقُّلِ مِنْ حَالٍ إِلَى حَالٍ. وَيُقَالُ لِلصَّمْتِ صَوْمٌ، لِأَنَّهُ. إِمْسَاكٌ عَنِ الْكَلَامِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى مُخْبِرًا عَنْ مريم:” إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمنِ صَوْماً «2» ” [مريم: 26] أَيْ سُكُوتًا عَنِ الْكَلَامِ

  10. Al-Jami’ Liahkamil Qur’an (273/2)

    وَالصَّوْمُ فِي الشَّرْعِ: الْإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ مَعَ اقْتِرَانِ النِّيَّةِ بِهِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ، وَتَمَامُهُ وَكَمَالُهُ بِاجْتِنَابِ الْمَحْظُورَاتِ وَعَدَمِ الْوُقُوعِ فِي الْمُحَرَّمَاتِ

  11. Taisirul Karimirrahman (86)

    يخبر تعالى بما منَّ به على عباده، بأنه فرض عليهم الصيام، كما فرضه على الأمم السابقة، لأنه من الشرائع والأوامر التي هي مصلحة للخلق في كل زمان.

    وفيه تنشيط لهذه الأمة، بأنه ينبغي لكم أن تنافسوا غيركم في تكميل الأعمال، والمسارعة إلى صالح الخصال، وأنه ليس من الأمور الثقيلة، التي اختصيتم بها.

    ثم ذكر تعالى حكمته في مشروعية الصيام فقال: {لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ} فإن الصيام من أكبر أسباب التقوى، لأن فيه امتثال أمر الله واجتناب نهيه.

    فمما اشتمل عليه من التقوى: أن الصائم يترك ما حرم الله عليه من الأكل والشرب والجماع ونحوها، التي تميل إليها نفسه، متقربا بذلك إلى الله، راجيا بتركها، ثوابه، فهذا من التقوى.

    ومنها: أن الصائم يدرب نفسه على مراقبة الله تعالى، فيترك ما تهوى نفسه، مع قدرته عليه، لعلمه باطلاع الله عليه، ومنها: أن الصيام يضيق مجاري الشيطان، فإنه يجري من ابن آدم مجرى الدم، فبالصيام، يضعف نفوذه، وتقل منه المعاصي، ومنها: أن الصائم في الغالب، تكثر طاعته، والطاعات من خصال التقوى، ومنها: أن الغني إذا ذاق ألم الجوع، أوجب له ذلك، مواساة الفقراء المعدمين، وهذا من خصال التقوى

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *