Akidah yang benar adalah yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sesuai dengan pemahaman para sahabat dan generasi terbaik umat ini.
Dengan akidah yang benar, ibadah menjadi sah, akhlak terjaga, dan muamalah dijalankan dengan adil. Sebaliknya, penyimpangan akidah menimbulkan kerusakan dalam pemikiran dan perilaku.
Oleh karena itu, mempelajari dan memperbaiki akidah adalah kewajiban utama bagi setiap muslim, karena keislaman tidak akan tegak tanpa pondasi akidah yang kuat.
Pada silsilah pertanyaan tentang akidah (bagian 7) ini, kita akan menyertakan pertanyaan seputar: waswas dan bahaya kesyirikan, sebagai bentuk lanjutan dari bagian sebelumnya
Bagaimana Kita Menjawab Bisikan Setan (waswas): Siapa yang Menciptakan Allah?
Jawaban: Jika setan membisikkan pertanyaan ini kepada salah seorang dari kalian, maka hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَـٰنِ نَزۡغٌ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ
“Dan jika engkau ditimpa suatu godaan dari setan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Fushilat: 36)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga telah mengajarkan kepada kita untuk menolak tipu daya setan dengan mengucapkan:
آمَنۡتُ بِاللهِ وَرَسُولِهِ، اللهُ أَحَدٌ، اللهُ الصَّمَدُ، لَمۡ يَلِدۡ وَلَم يُولَدۡ وَلَمۡ يَكُنۡ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Maha Esa. Allah tempat bergantung segala makhluk-Nya. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
Kemudian hendaklah ia meludah kecil (cukup dengan sedikit percikan liur) ke arah kirinya tiga kali, memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari setan, dan menghentikan (waswas tersebut). Maka hal itu akan lenyap darinya.” 1
Apa Bahaya Syirik Akbar (Syirik Besar)?
Jawaban: Syirik akbar menyebabkan kekekalan di dalam neraka.
Allah Ta‘ala berfirman:
إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٍ
“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah dengan suatu hal, maka sungguh Allah telah mengharamkan surga baginya, dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al-Maidah: 72)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:
وَمَنۡ لَقِيَ اللهَ يُشۡرِكُ بِهِ شَيۡئًا دَخَلَ النَّارَ
“Barangsiapa yang bertemu dengan Allah dalam keadaan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu, maka ia masuk neraka.” 2
Apakah Amal (Ibadah) Bermanfaat Jika disertai dengan Syirik?
Jawaban: Sebuah amal ibadah tidak bermanfaat jika beriringan dengan kesyirikan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala:
وَلَوۡ أَشۡرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُوا۟ يَعۡمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan (Allah), niscaya gugurlah dari mereka seluruh amalan kebaikan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam hadits qudsi:
قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَنَا أَغۡنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرۡكِ مَنۡ عَمِلَ عَمَلًا أَشۡرَكَ مَعِي فِيهِ غَيۡرِي تَرَكۡتُهُ وَشِرۡكَهُ
“Allah Ta‘ala berfirman: “Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amalan yang ia sekutukan Aku di dalamnya dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dengan kesyirikannya.” 3
Berikut ini adalah akhir dari bagian ketujuh dalam Silsilah Pertanyaan tentang Akidah, yang membahas landasan-landasan penting dalam memahami akidah yang benar. Semoga penjelasan ini dapat mengukuhkan keimanan serta memperdalam pemahaman kita terhadap akidah yang benar.
Nantikan lanjutan seri akidah ini pada artikel selanjutnya, insyaAllah akan mengupas pertanyaan-pertanyaan lain yang tak kalah penting terkait akidah yang benar. (ZDN/AAA/AAK)
Alih Bahasa: Muhammad Zidan
Teks Arab:
س١٩ – : كَيۡفَ نَرُدُّ سُؤَالَ الشَّيۡطَانِ: مَنۡ خَلَقَ اللهَ؟
ج١٩ – : إِذَا وَسۡوَسَ الشَّيۡطَانُ لِأَحَدِكُمۡ هَٰذَا السُّؤَالَ فَلۡيَسۡتَعِذۡ بِاللهِ. قَالَ تَعَالَى: ﴿وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَـٰنِ نَزۡغٌ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ﴾ (سورة فصلت).
وَعَلَّمَنَا الرَّسُولُ أَنۡ نَرُدَّ كَيۡدَ الشَّيۡطَانِ وَنَقُولُ: (آمَنۡتُ بِاللهِ وَرَسُولِهِ، اللهُ أَحَدٌ، اللهُ الصَّمَدُ، لَمۡ يَلِدۡ وَلَم يُولَدۡ وَلَمۡ يَكُنۡ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ).
ثُمَّ لۡيَتۡفُلۡ عَنۡ يَسَارِهِ ثَلَاثًا، وَلۡيَسۡتَعِذۡ مِنَ الشَّيۡطَانِ، وَلۡيَنۡتَهِ فَإِنَّ ذٰلِكَ يُذۡهِبُ عَنۡهُ. (هَٰذِهِ خُلَاصَةُ الۡأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ الۡوَارِدَةِ فِي الۡبُخَارِيِّ وَمُسۡلِمٍ وَأَحۡمَدَ وَأَبِي دَاوُدَ).
س٢٠ – : مَا هُوَ ضَرَرُ الشِّرۡكِ الۡأَكۡبَرِ؟
ج٢٠ – : الشِّرۡكُ الۡأَكۡبَرُ يُسَبِّبُ الۡخُلُودَ فِي النَّارِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٍ﴾ (سورة المائدة).
وَقَالَ ﷺ: (وَمَنۡ لَقِيَ اللهَ يُشۡرِكُ بِهِ شَيۡئًا دَخَلَ النَّارَ) (رَوَاهُ مُسۡلِمٌ).
س٢١ – : هَلۡ يَنۡفَعُ الۡعَمَلُ مَعَ الشِّرۡكِ؟
ج٢١ – : لَا يَنۡفَعُ الۡعَمَلُ مَعَ الشِّرۡكِ لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَلَوۡ أَشۡرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُوا۟ يَعۡمَلُونَ﴾ (سورة الأنعام). وَقَالَ ﷺ: (قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَنَا أَغۡنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرۡكِ مَنۡ عَمِلَ عَمَلًا أَشۡرَكَ مَعِي فِيهِ غَيۡرِي تَرَكۡتُهُ وَشِرۡكَهُ) (رَوَاهُ مُسۡلِمٌ).
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim
- Khudz Aqidatak Minal Kitabi Was Sunnah Ash-Shahihah karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu (W. 1431 H) rahimahullah
- Shahih Al-Bukhari karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (W. 256 H) rahimahullah
- Shahih Muslim karya Imam Abul Hajjaj Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi (W. 261 H) rahimahullah
- Al-Musnad karya Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal (W. 241 H) rahimahullah
- Sunan Abi Dawud karya Imam Abu Dawud Sulaiman bin Asy’ats As-Sijistani (W. 275 H) rahimahullah








Komentar