Mempelajari akidah yang benar adalah kewajiban bagi setiap muslim. Akidah yang benar selain sebagai pondasi utama agama Islam, juga sebagai penentu keselamatan seseorang di akhirat kelak. Di sinilah letak urgensi dari pembahasan seputar akidah.
Dalam rangkaian artikel Silsilah Pertanyaan Tentang Akidah ini, tercantum berbagai pertanyaan dan jawaban dalam perkara akidah yang sangat penting untuk diketahui dan dipahami dengan benar oleh setiap muslim.
Artikel ini merupakan silsilah yang dirancang untuk memudahkan pembaca memahami dan memperdalam keyakinan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta memahami tujuan diciptakannya kita sebagai hamba-Nya. Dengan mengupas berbagai pertanyaan, seperti syarat diterimanya amalan dan kesyirikan dalam peribadatan, diharapkan pembaca dapat memahami makna dari setiap aspek akidah yang dijelaskan.
Pada bagian ketiga ini, kita akan mulai dengan beberapa pertanyaan dasar, terkait apa syarat diterimanya amalan, apa dosa terbesar, apakah kesyirikan terjadi pada umat ini, dan beberapa pertanyaan lainnya yang terkait dengan kesyirikan. Setiap jawaban dilengkapi dengan dalil dari al-Qur’an dan hadits. Sehingga memiliki landasan yang kuat untuk kita yakini dengan benar.
Apa saja syarat diterimanya sebuah amalan?
Jawaban: Syarat diterimanya amalan di sisi Allah Ta’ala ada 3:
- Beriman kepada Allah Ta’ala dan mentauhidkan-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ كَانَتۡ لَهُمۡ جَنَّـٰتُ ٱلۡفِرۡدَوۡسِ نُزُلًا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka Jannah Firdaus adalah tempat tinggal mereka.” (Al-Kahfi: 107)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
قُلۡ آمَنۡتُ بِاللهِ ثُمَّ اسۡتَقِمۡ
“Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah.’ Kemudian istiqamahlah di atasnya.” 1
Allah Ta’ala berfirman,
فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصًا لَّهُ ٱلدِّينَ
“Beribadahlah kepada Allah dalam keadaan mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya.” (Az-Zumar: 2)
- Mencocoki syariat yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُوا
“Apa yang diperintahkan oleh Rasulullah maka kerjakanlah dan apa yang beliau larang maka berhentilah (jauhilah).” (Al-Hasyr: 7)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنۡ عَمِلَ عَمَلًا لَيۡسَ عَلَيۡهِ أَمۡرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa saja yang melakukan amalan yang tidak ada bimbingannya dariku maka (amalan tersebut) akan tertolak.” 4
Apa dosa paling besar di sisi Allah Ta’ala?
Jawaban: Dosa terbesar adalah syirik (menyekutukan Allah Ta’ala).
Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
يَـٰبُنَىَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya sebagai bentuk wejangan, “Wahai anakku janganlah engkau menyekutukan Allah. Karena sesungguhnya kesyirikan adalah kezaliman yang sangat besar.” (Luqman: 13)
Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya,
أَيُّ الذَّنۡبِ أَعۡظَمُ؟
“Dosa apa yang paling besar?”
Beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab,
أَنۡ تَجۡعَلَ لِلهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ
“Engkau menjadikan tandingan bagi Allah dalam keadaan Dialah (satu-satunya) yang menciptakanmu.” 5
Makna tandingan dalam hadits ini adalah sekutu.
Baca Juga: Bahaya Dosa Syirik dan Ancaman Bagi Pelakunya
Apa yang dimaksud dengan syirik akbar?
Jawaban: Syirik akbar adalah memalingkan ibadah kepada selain Allah Ta’ala. Seperti berdoa kepada selain Allah Ta’ala, beristighatsah (minta pertolongan) kepada orang-orang yang telah wafat, atau kepada orang-orang yang tidak mampu menolongnya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَيۡـئًا
“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (An-Nisa: 36)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مِنۡ أَكۡبَرِ الۡكَبَائِرِ: الشِّرۡكُ بِاللهِ
“Di antara dosa besar yang paling besar adalah menyekutukan Allah.” 6
Apakah kesyirikan terjadi pada umat ini?
Jawaban: Ya, ada dan telah terjadi. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
وَمَا يُؤۡمِنُ أَكۡثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشۡرِكُونَ
“Tidaklah beriman kebanyakan mereka itu kecuali dalam keadaan berbuat kesyirikan.” (Yusuf: 106)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلۡحَقُ قَبَائِلُ مِنۡ أُمَّتِي بِالۡمُشۡرِكِينَ، وَحَتَّى تَعۡبُدَ الۡأَوۡثَانَ
“Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga beberapa kabilah dari umatku mengikuti kaum musyrikin dan hingga mereka menyembah berhala.” 7
Apa hukum berdoa kepada orang-orang yang telah wafat atau orang-orang yang ghaib (tidak sedang bersamanya)?
Jawaban: Berdoa kepada orang yang telah wafat ataupun orang yang ghaib termasuk perbuatan syirik akbar.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَدۡعُ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِن فَعَلۡتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ
“Janganlah engkau berdoa kepada selain Allah yang mereka itu tidak bisa memberikan manfaat maupun mudharat kepadamu. Jika engkau melakukannya niscaya engkau tergolong bagian dari orang-orang zalim (yaitu orang-orang musyrik).” (Yunus: 106)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مَنۡ مَاتَ وَهُوَ يَدۡعُو مِنۡ دُونِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ
“Barangsiapa yang wafat dalam keadaan ia beribadah kepada selain Allah sebagai tandingan bagi-Nya, niscaya ia akan masuk neraka.” 8
Apakah doa adalah sebuah ibadah?
Jawaban: Benar, doa adalah ibadah.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِىٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِى سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Rabb kalian berkata, “berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan doa kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dan enggan berdoa kepada-Ku akan masuk neraka dalam keadaan hina.” (Ghafir: 60)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
الدُّعَاءُ هُوَ الۡعِبَادَةُ
“Doa merupakan sebuah ibadah.” 9
Apakah orang yang telah wafat bisa mendengar doa-doa yang dipanjatkan kepada mereka?
Jawaban: Mereka tidak dapat mendengarkannya. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّكَ لَا تُسۡمِعُ ٱلۡمَوۡتَىٰ
“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak dapat membuat orang-orang yang telah wafat dapat mendengarkan (doamu).” (An-Naml: 80)
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَمَآ أَنتَ بِمُسۡمِعٍ مَّن فِى ٱلۡقُبُورِ
“Engkau (wahai Muhammad) tidak bisa membuat orang-orang yang berada di dalam kuburan (orang mati) mendengarkan (doa-doamu).“ (Fathir: 22)
Demikianlah silsilah pertanyaan tentang akidah (bagian 3) yang membahas dasar-dasar penting dalam pemahaman akidah Islam. Semoga penjelasan ini dapat memperkuat keimanan dan memperdalam pemahaman kita tentang akidah yang benar.
Nantikan kelanjutan seri akidah ini pada artikel berikutnya, yang insya Allah akan membahas pertanyaan-pertanyaan lain seputar akidah yang tak kalah penting. (ZDN/AAA/ATH)
Alih Bahasa: Muhammad Zidan
Teks Arab
شُرُوطُ قَبُولِ الۡعَمَلِ
س١٣ – : مَا هِيَ شُرُوطُ قَبُولِ الۡعَمَلِ؟
ج١٣ – : شُرُوطُ قَبُولِ الۡعَمَلِ عِنۡدَ اللهِ ثَلَاثَةٌ:
١ – الۡإِيمَانُ بِاللهِ وَتَوۡحِيدُهُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ كَانَتۡ لَهُمۡ جَنَّـٰتُ ٱلۡفِرۡدَوۡسِ نُزُلًا﴾ (سورة الكهف).
وَقَالَ ﷺ: (قُلۡ آمَنۡتُ بِاللهِ ثُمَّ اسۡتَقِمۡ) (رَوَاهُ مُسۡلِمٌ).
٢ – الۡإِخۡلَاصُ: وَهُوَ الۡعَمَلُ لِلهِ مِنۡ غَيۡرِ رِيَاءٍ وَلَا سُمۡعَةٍ. قَالَ تَعَالَى: ﴿فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصًا لَّهُ ٱلدِّينَ﴾ (سورة الزمر)
٣ – الۡمُوَافِقَةُ لِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ ﷺ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُوا۟﴾ (سورة الحشر)
وَقَالَ ﷺ: (مَنۡ عَمِلَ عَمَلًا لَيۡسَ عَلَيۡهِ أَمۡرُنَا فَهُوَ رَدٌّ) (أَيۡ مَرۡدُودٌ) (رَوَاهُ مُسۡلِمٌ).
الشِّرۡكُ الۡأَكۡبَرُ
س١ – : مَا هُوَ أَعۡظَمُ الذُّنُوبِ عِنۡدَ اللهِ؟
ج١ – : أَعۡظَمُ الذُّنُوبِ الشِّرۡكُ بِاللهِ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿يَـٰبُنَىَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ﴾ (سورة لقمان).
وَلَمَّا سُئِلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ :أَيُّ الذَّنۡبِ أَعۡظَمُ؟ قَالَ: (أَنۡ تَجۡعَلَ لِلهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ) (مُتَّفَقٌ عَلَيۡهِ) (النِّدُّ: الشَّرِيكُ).
س٢ – : مَا هُوَ الشِّرۡكُ الۡأَكۡبَرُ؟
ج٢ – : الشِّرۡكُ الۡأَكۡبَرُ هُوَ صَرۡفُ الۡعِبَادَةِ لِغَيۡرِ اللهِ، كَدُعَاءِ غَيۡرِ اللهِ، وَالۡاسۡتِغَاثَةِ بِالۡأَمۡوَاتِ أَوِ الۡأَحۡيَاءِ الۡغَائِبِينَ.
قَالَ تَعَالَى: ﴿وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَيۡـئًا﴾ (سورة النساء).
وَقَالَ ﷺ: (مِنۡ أَكۡبَرِ الۡكَبَائِرِ: الشِّرۡكُ بِاللهِ) (رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ).
س٣ – : هَلۡ الشِّرۡكُ مَوۡجُودٌ فِي هَٰذِهِ الۡأُمَّةِ؟
ج٣ – : نَعَمۡ مَوۡجُودٌ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمَا يُؤۡمِنُ أَكۡثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشۡرِكُونَ﴾ (سورة يوسف).
وَقَالَ ﷺ: (لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلۡحَقُ قَبَائِلُ مِنۡ أُمَّتِي بِالۡمُشۡرِكِينَ، وَحَتَّى تَعۡبُدَ الۡأَوۡثَانَ) (صَحِيحٌ رَوَاهُ التِّرۡمِذِيِّ).
س٤ – : مَا حُكۡمُ دُعَاءِ الۡأَمۡوَاتِ أَوِ الۡغَائِبِينَ؟
ج٤ – : دُعَاءُ الۡأَمۡوَاتِ أَوِ الۡغَائِبِينَ مِنَ الشِّرۡكِ الۡأَكۡبَرِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَا تَدۡعُ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِن فَعَلۡتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ﴾ (أَيۡ الۡمُشۡرِكِينَ) (سورة يونس)
وَقَالَ ﷺ: (مَنۡ مَاتَ وَهُوَ يَدۡعُو مِنۡ دُونِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ) (رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ).
س٥ – : هَلِ الدُّعَاءُ عِبَادَةٌ؟
ج٥ – : نَعَمۡ الدُّعَاءُ عِبَادَةٌ. قَالَ تَعَالَى: ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِىٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِى سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾ (أَيۡ ذَلِيلِينَ) (سورة غافر).
وَقَالَ ﷺ: (الدُّعَاءُ هُوَ الۡعِبَادَةُ). (رَوَاهُ أَحۡمَدُ، وَقَالَ التِّرۡمِذِيُّ حَسَنٌ صَحِيحٌ).
س٦ – : هَلۡ يَسۡمَعُ الۡأَمۡوَاتُ الدُّعَاءَ؟
ج٦ – : لَا يَسۡمَعُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:
١ – ﴿إِنَّكَ لَا تُسۡمِعُ ٱلۡمَوۡتَىٰ﴾ (سورة النمل).
٢ – ﴿وَمَآ أَنتَ بِمُسۡمِعٍ مَّن فِى ٱلۡقُبُورِ﴾ (سورة فاطر).
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim
- Khudz Aqidatak Minal Kitabi Was Sunnah Ash-Shahihah karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu (W. 1431 H) rahimahullah
- Shahih Al-Bukhari karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (W. 256 H) rahimahullah
- Shahih Muslim karya Imam Abul Hajjaj Muslim bin Hajjaj al-Qusyairi (W. 261 H) rahimahullah
- Sunan At-Tirmidzi Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi (W. 279 H) rahimahullah
- Al-Musnad karya Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal (W. 241 H) rahimahullah
Footnotes
- HR. Muslim no.38 dari sahabat Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi radhiyallahu anhu
- (melakukan amal ibadah karena ingin dilihat oleh orang lain dan tidak ikhlas kepada Allah Ta’ala semata)
- (melakukan amal ibadah karena ingin dipuji dan didengar kebaikannya oleh orang lain dan tidak ikhlas untuk Allah Ta’ala).
- HR. Muslim no.1718 dari sahabiyah Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu anha
- Muttafaqun alaihi dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu
- HR. Al-Bukhari no.6871 dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu
- HR. At-Tirmidzi dalam Jami’ at-Tirmidzi no. 2219 dari sahabat Tsauban radhiyallahu anhu
- HR. Al-Bukhari no.4497
- HR. Ahmad dalam Musnadnya no.18352 dan at-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi no.2969, beliau berkata hasan shahih, dari sahabat Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhu











Komentar