oleh

Ringkasan Fikih Haji dan Umrah Bag. 4

-Fikih-1,322 views

Haji merupakan ibadah mulia yang Allah syariatkan bagi hamba-Nya dan termasuk rukun Islam yang kelima. Ibadah haji dan umrah bukanlah amalan yang kecil, karena keduanya membutuhkan usaha yang besar, baik dari segi fisik maupun finansial.

Dalam ayat 97 dari Surah Ali ‘Imran, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menunaikan ibadah haji. Allah Ta‘ala berfirman,

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ

“Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak membutuhkan apapun) dari seluruh alam.” (Ali ‘Imran: 97)

Dalam ibadah haji, terdapat banyak hal yang perlu dikaji lebih mendalam. Hal ini penting agar ketika seseorang diberi taufik untuk menunaikan haji dan umrah, ia dapat melaksanakannya sesuai tuntunan Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya.

Artikel ini merupakan lanjutan dari pembahasan sebelumnya tentang ringkasan fikih haji dan umrah. Pada artikel ini, kita akan membahas jenis-jenis manasik haji serta beberapa amalan sunnah yang dianjurkan dalam pelaksanaan haji dan umrah.

Definisi Manasik Haji

Kata manasik merupakan bentuk jamak dari mansak, yang secara bahasa bermakna tempat ibadah atau waktu ibadah. Sehingga makna mansak ini digunakan pula untuk kata at-ta’abbud (peribadahan), sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا

“Dan perlihatkanlah kepada kami manasik (tata cara ibadah) kami.” (Al-Baqarah: 128)

Imam Ibnul Atsir rahimahullah mengatakan,

فَالْمَنَاسِكُ جَمْعُ مَنْسَكٍ – بِفَتْحِ السِّينِ وَكَسْرِهَا –، وَهُوَ الْمُتَعَبَّدُ

“Maka al-manasik adalah bentuk jamak dari mansak — dengan huruf sin dibaca fathah atau kasrah — dan maknanya adalah tempat atau bentuk ibadah.” 1

Namun dalam penggunaannya, kata mansak atau nusuk lebih sering dimaknai sebagai adz-dzabihah (sembelihan), sebagaimana firman Allah Ta’ala,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah (Nabi Muhammad): Sesungguhnya shalatku, nusukku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam.” (Al-An’am: 162)

Adapun kata nusuk di sini bermakna sesembelihan, sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh para ahli tafsir. 2Dan para fuqaha (ahli fikih)—semoga Allah merahmati mereka—menjadikan ‘manasik’ sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan haji dan umrah. Karena di dalam keduanya terdapat hadyu (hewan sembelihan) dan fidyah (denda akibat melanggar larangan ketika berihram), dan keduanya termasuk nusuk yang bermakna penyembelihan. 3

Jenis-Jenis Manasik

Di dalam haji ada tiga jenis manasik, yaitu haji tamattu’, qiran, dan ifrad. Adapun untuk rinciannya sebagai berikut,

a. Tamattu’

Tamattu’ adalah seseorang berihram untuk umrah pada bulan-bulan haji, lalu menyelesaikannya, kemudian berihram untuk haji dari Mekkah atau dari tempat yang dekat dengannya pada tahun yang sama. 4Orang yang melaksanakan jenis manasik ini disebut mutamatti’.

Hal senada juga dijelaskan oleh Imam an-Nawawi rahimahullah (salah satu tokoh besar madzhab asy-Syafi’) di dalam kitab Syarh Shahih Muslim,

التَّمَتُّعُ: أَنْ يُحْرِمَ بِالْعُمْرَةِ فِي أَشْهُرِ الْحَجِّ، وَيَفْرُغَ مِنْهَا، ثُمَّ يَحُجَّ مِنْ عَامِهِ

“Tamattu’ adalah seseorang berihram untuk umrah pada bulan-bulan haji, lalu menyelesaikannya, kemudian ia menunaikan haji pada tahun yang sama.” 5

Tamattu’ adalah jenis manasik yang paling afdhal dibandingkan yang lainnya. Hal ini disebabkan karena saat haji wada’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabatnya ketika mereka telah selesai dari thawaf dan sa’i agar mereka bertahallul dan menjadikannya sebagai umrah, kecuali orang yang membawa hadyu (hewan sesembelihan).

Sedangkan orang yang membawa hadyu pada haji tersebut hanya sedikit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan perintah itu kepada para sahabatnya ketika beliau selesai sa’i, dengan bersabda,

مَنْ لَمْ يَسُقِ الْهَدْيَ فَلْيَجْعَلْهَا عُمْرَةً

“Barang siapa yang tidak membawa hadyu maka hendaklah ia menjadikannya umrah.” 

Beliau juga bersabda,

لَوِ اسْتَقْبَلْتُ مِنْ أَمْرِي مَا اسْتَدْبَرْتُ مَا سُقْتُ الْهَدْيَ، وَلَأَحْلَلْتُ مَعَكُمْ

“Seandainya aku mengetahui sebelumnya apa yang aku ketahui sekarang, niscaya aku tidak akan membawa hadyu dan sungguh aku akan bertahallul bersama kalian.” 6

b. Qiran

Qiran adalah seseorang berihram untuk umrah dan haji sekaligus pada bulan-bulan haji dari miqat, sambil mengucapkan ketika berniat masuk ke dalam nusuk “Labbaika ‘umratan dan hajjan”,

لَبَّيْكَ عُمْرَةً وَحَجّاً

“Aku penuhi panggilan-Mu untuk umrah dan haji.”

Hal ini sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَهَلَّ بِهِمَا جَمِيعًا: لَبَّيْكَ عُمْرَةً وَحَجًّا، لَبَّيْكَ عُمْرَةً وَحَجًّا

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertalbiyah untuk keduanya sekaligus: ‘Labbaika ‘umratan wa hajjan’, ‘Labbaika ‘umratan wa hajjan’.” 7

Atau bisa dipahami ia berihram untuk umrah dari miqat, kemudian di tengah perjalanan ia memasukkan (niat) haji ke dalamnya, dan bertalbiyah untuk haji sebelum memulai thawaf. Ketika sampai di Mekkah, ia melakukan thawaf qudum dan sa’i haji. Jika mau, ia boleh mengakhirkan sa’i haji sampai setelah thawaf ifadhah. Ia tidak mencukur atau memendekkan rambut dan tidak bertahallul dari ihramnya, bahkan tetap dalam keadaan ihram sampai ia bertahallul pada hari Id (hari raya). 8Sehingga orang yang melakukan jenis manasik ini disebut dengan qarin.

c.  Ifrad

Haji ifrad adalah seseorang berihram untuk haji pada bulan-bulan haji, menyelesaikannya, kemudian setelah itu melakukan umrah. 10Sehingga orang yang melakukan jenis manasik ini disebut dengan mufrid.

Sunnah-Sunnah Haji dan Umrah

Di dalam ibadah haji dan umrah ada amalan-amalan sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan padanya. Berikut adalah di antara amalan sunnah di dalam haji dan sunnah yang dianjurkan untuk dikerjakan,

1. Memotong kuku, menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan sebelum berihram. Hal ini merupakan bentuk menjaga kebersihan diri dan menghilangkan hal-hal yang dapat mengganggu kebersihan badan. Demikian pula hal ini sebagai bentuk fitrah yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ، أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ: الْخِتَانُ، وَالِاسْتِحْدَادُ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ، وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ

“Fitrah ada 5 atau 5 perkara yang merupakan fitrah (bagi manusia): khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan menipiskan bulu kumis.”11

2. Mandi ketika ihram. Sebagaimana di dalam sebuah hadits Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas pakaian (untuk ihram) dan mandi ketika hendak berihram.12

3. Memakai wangi-wangian di badan sebelum berihram. Sebagaimana di dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata,

‌كَأَنِّي ‌أَنْظُرُ ‌إِلَى ‌وَبِيصِ ‌الطِّيبِ فِي مَفَارِقِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ مُحْرِمٌ

“Seakan-akan aku melihat kilauan minyak wangi di belahan rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang berihram.”13


BACA JUGA: Ringkasan Fikih Haji dan Umrah Bag. 3


4. Mengenakan dua helai kain berwarna putih. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

البَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ البَيَاضَ، فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ، وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ

“Kenakanlah pakaian yang putih, karena pakaian tersebut termasuk pakaian terbaik kalian, dan kafanilah orang yang meninggal dengan kain yang putih.”14

5. Melafazhkan niat manasik dan mengucapkan talbiyah ketika telah berada di atas kendaraan dan siap untuk berangkat. Sebagaimana hadits Nabi Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai bertalbiyah (berihram) ketika kendaraan beliau telah tegak dan beliau sudah berada di atasnya dengan sempurna.”15

6. Mengeraskan suara ketika bertalbiyah. Sebagaimana pada hadits Saib bin Khalad radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَتَانِي جِبْرِيْلُ فَأَمَرَنِي أَنْ آمُرَ أَصْحَابِي أَنْ يَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّلْبِيَةِ

“Malaikat Jibril datang kepadaku dan memerintahkanku untuk memerintahkan para sahabatku untuk mengeraskan suara mereka ketika bertalbiyah.” 16

Adapun lafazh talbiyah adalah sebagai berikut,

‌لَبَّيْكَ ‌اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.” 17

 

7. Melakukan thawaf qudum bagi mufrid dan qarin.  Sebagaimana di dalam sebuah hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma beliau  mengatakan, “Maka sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berhaji, lalu beliau melakukan thawaf di Ka‘bah sebelum datang ke tempat wuquf (Arafah).”18

8. Melakukan raml (jalan cepat dengan langkah kecil) di tiga putaran pertama dari thawaf qudum. Sebagaimana di dalam sebuah hadits dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila thawaf di Ka’bah thawaf yang pertama (thawaf qudum), beliau melakukan raml di tiga putaran pertama dan berjalan di empat putaran berikutnya.19

9. Melakukan al-iththiba’ (menyingkap lengan kanan dan menutup lengan kiri) ketika thawaf qudum. Sebagaimana di dalam hadits dari Ya’la radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan thawaf dengan dalam keadaan al-iththiba’.20

Adapun pembahasan fikih haji dan umrah lainnya akan kami sajikan pada artikel berikutnya, biidznillah. Semoga pembahasan ini bermanfaat. Wabillahi taufiq. (RGA/ASP/ATH)

Penulis: Rasyid Ghani

Referensi:

  •       Al-Qur’anul Karim
  •       Shahih al-Bukhari
  •       Shahih Muslim
  •       Shahih Ibnu Khuzaimah
  •       Sunan at-Tirmidzi
  •       Sunan Abu Dawud
  •       Sunan Ibnu Majah
  •       Syarh Shahih Muslim karya Imam an-Nawawi rahimahullah
  •       Fathul Bari karya Imam Ibnu Hajar rahimahullah
  •       Asy-Syarhul Mumti’
  •       An-Nihayah fii Gharib al-Ḥadits wa al-Atsar karya Imam Ibnul Atsir rahimahullah
  •       Tafsir Ibnu Katsir
  •       Manāsik al-Ḥajj wal-‘Umrah fī al-Islām fī ḍaw’i al-Kitāb wa as-Sunnah karya syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wafh al-Qahthani rahimahullah (W. 1440 H)
  •       Al-Fiqhul Muyassar cet. Maktabah Darul Fajr

 

 

No Judul Audio Putar / Unduh Audio
1 Bacaan Talbiyah

Footnotes

  1. An-Nihayah fii Gharib al-Ḥadits wa al-Atsar, 5/48
  2. Lihat tafsir Ibnu Katsir 3/654
  3. Lihat asy-Syarhul Mumti’ 7/5
  4. Lihat Al-Muqni‘ ma‘a asy-Syarḥ al-Kabir wa al-Inṣaf 8/162
  5. Syarh Shahih Muslim 8/385
  6. HR. Muslim 1218, dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma
  7. HR. Muslim 1851
  8. Manasik al-Ḥajj wa al-‘Umrah fii al-Islam fii Ḍhaw’i al-Kitāb wa as-Sunnah hal. 215
  9. Syarh Shahih Muslim karya Imam an-Nawawi 8/285 [/efn_note] Keterangan di atas merupakan penjelasan dari Imam an-Nawawi rahimahullah. Namun Syaikh Sa’id bin Ali al-Qahthani rahimahullah memberi keterangan lanjutan yaitu,

    “Yang dimaksud oleh Imam al-Nawawi rahimahullah dengan ucapannya: ‘kemudian ia berumrah’ adalah orang yang belum melakukan umrah wajib (umrah Islam). Adapun umrah langsung setelah haji, maka para sahabat tidak melakukannya, kecuali yang diriwayatkan dari ‘Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha. Maka siapa yang keadaannya seperti beliau, tidak mengapa melakukan umrah setelah haji.” 9 Beliau jelaskan di catatan kaki pada kitab beliau Manasik al-Ḥajj wa al-‘Umrah fii al-Islam fii Ḍhaw’i al-Kitāb wa as-Sunnah hal. 215

  10. HR. Al-Bukhari No. 5889 dan Muslim No. 257, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
  11. HR. at-Tirmidzi No. 830 dan Ibnu Khuzaimah 4/161, dan dishahihkan oleh al-albani rahimahullah di dalam shahih at-Tirmidzi 1/433
  12. HR. Al-Bukhari No. 5918
  13. HR. At-Tirmidzi No. 994 dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam shahih at-Tirmidzi 1/502. Hal ini sebagaimana pula yang dinukilkan oleh Syaikh Sa’id bin Ali al-Qahthani rahimahullah di dalam kitab beliau Manasik al-Ḥajj wa al-‘Umrah fii al-Islam fii Ḍhaw’i al-Kitāb wa as-Sunnah hal. 320
  14. HR. Al-Bukhari 1552
  15. HR. Abu Dawud No. 1814, at-Tirmidzi No. 829 dan Ibnu Majah No. 1926, dan dishahihkan oleh Imam al-Albani di shahih at-Tirmidzi 1/433
  16. HR. Al-Bukhari No. 1549
  17. HR.Muslim No. 1344. Imam an-Nawawi rahimahullah memberikan keterangan di dalam Syarh Shahih Muslim 8/217, “Apa yang dikatakan oleh Abdullah bin Umar ini merupakan penetapan adanya thawaf qudum bagi orang yang berhaji, dan thawaf tersebut disyariatkan sebelum wuquf di Arafah.”
  18. HR. Muslim No. 1261
  19. HR. Abu Dawud No. 1883 dan Ibnu Majah No. 2953, dan dihukumi hasan oleh Imam al-Albani rahimahullah di dalam ta’liqnya terhadap Sunan Ibnu Majah
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *