oleh

Ringkasan Fikih Haji dan Umrah Bag. 3

-Fikih-1,148 views

Haji merupakan amalan mulia yang disyariatkan oleh Allah bagi hamba-Nya dan sebagai rukun Islam yang kelima. Ibadah haji dan umrah bukanlah amalan ringan, karena keduanya membutuhkan usaha besar, baik dari segi fisik maupun finansial.

Dalam ayat 97 dari Surah Ali ‘Imran, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menunaikan ibadah haji. Allah Ta‘ala berfirman,

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ

“Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (Ali ‘Imran: 97)

Dalam ibadah haji, terdapat banyak hal yang perlu dikaji lebih mendalam. Hal ini penting agar ketika seseorang diberi taufik untuk menunaikan haji dan umrah, ia dapat melaksanakannya sesuai tuntunan Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya.

Berikut adalah lanjutan dari artikel sebelumnya yaitu berkaitan dengan fikih ringkas mengenai haji dan umrah. Pada artikel ini kita akan mengkaji rukun haji dan umrah begitu pula kewajiban yang harus ditunaikan serta pembahasan seputar miqat.

Rukun Haji dan Umrah

Haji dan umrah memiliki 4 rukun yang harus dipenuhi, yaitu,

1.     Ihram

Yaitu berniat untuk melakukan haji atau umrah dengan menyengaja untuk mendatangi tempatnya dan melakukan rangkaian manasiknya.1 Karena niat adalah syarat utama dalam setiap ibadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya segala amalan tergantung dengan niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan hasil sesuai dengan yang ia niatkan.” 2

2.     Wuquf di bukit ‘Arafah

Wuquf (berdiam diri) di bukit ‘Arafah adalah rukun haji yang disepakati oleh ulama fikih. Berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji itu adalah (wuquf di) ‘Arafah.” 3

Maksudnya, wuquf di ‘Arafah merupakan rukun paling penting dalam haji. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai mengatakan hal demikian.

Namun, amalan wuquf ini hanya khusus dilakukan ketika haji. Adapun ketika umrah, maka amalan ini tidak disyariatkan.

3.     Thawaf Ziyarah

Thawaf ziyarah disebut juga dengan thawaf ifadhah, yaitu thawaf yang dilakukan setelah wuquf di ‘Arafah. Ini merupakan rukun yang disepakati oleh para ahli fikih. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka, dan hendaklah mereka menepati nazar-nazar mereka, dan hendaklah mereka melakukan thawaf di rumah yang tua (Baitullah).” (Al-Hajj: 29)

4.     Sa’i antara bukit Shafa dan Marwah

Sa’i merupakan amalan penting yang harus ditunaikan dalam ibadah haji dan umrah. Sebagaimana di dalam sebuah hadits dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

مَا أَتَمَّ اللَّهُ حَجَّ امْرِئٍ وَلَا عُمْرَتَهُ لَمْ يَطُفْ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ

“Tidaklah Allah menilai sempurna ibadah haji dan umrah seseorang yang ia tidak melakukan thawaf antara bukit Shafa dan Marwah.” 4

Demikian pula dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tatkala itu beliau sedang sa’i bersama para sahabatnya, beliau pun mengatakan kepada para sahabatnya,

‌اسْعَوْا، فَإِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ السَّعْيَ

“Lakukanlah sa’i! Karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewajibkan sa’i kepada kalian.” 5

Amalan Wajib dalam Haji

Dalam ibadah haji terdapat tujuh amalan wajib, yaitu:

1. Berihram dari miqat yang telah ditentukan oleh syariat.

Sebagaimana hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma ketika menyebutkan tentang miqat, setelah itu beliau mengatakan,

فَهُنَّ لَهُنَّ، وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهِنَّ، لِمَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ

“Tempat-tempat miqat itu berlaku bagi penduduknya, dan juga bagi siapa saja yang melewatinya dari selain penduduknya, yaitu bagi orang yang hendak menunaikan haji dan umrah.” 6

2. Wuquf di ‘Arafah hingga matahari terbenam bagi yang datang di siang hari.

Sebagaimana di dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu yang mengisahkan tentang tata cara haji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 7

3. Bermalam di Muzdalifah pada tanggal 9 Dzulhijjah (malam Idul Adha) hingga waktu fajar.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُواْ اللَّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّآلِّين

“Maka apabila kalian telah bertolak dari ‘Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy‘aril Haram, dan berzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepada kalian, padahal sebelumnya kalian benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.” [Al-Baqarah: 198]

4. Bermalam di Mina pada malam-malam hari tasyrik.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۖ لِمَنِ اتَّقَىٰ

“Dan berzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang berbilang. Sehingga barang siapa yang menyegerakannya (meninggalkan Mina) dalam dua hari, maka tidak ada dosa baginya. Dan barang siapa yang menundanya (hingga hari ketiga), maka tidak ada dosa baginya. (Semua itu) bagi orang yang bertakwa.” [Al-Baqarah: 203]

5. Melempar jumrah sesuai urutannya.

Sebagaimana hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu,

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْمِي عَلَى رَاحِلَتِهِ يَوْمَ النَّحْرِ

“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melempar (jumrah) di atas tunggangannya pada hari Nahr (Idul Adha).” 8

6. Mencukur rambut kepala atau menipiskannya.

Hal ini sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَلْيُقَصِّرْ وَلْيَحْلِلْ

“Hendaknya ia menipiskan (rambutnya) atau menggundulnya.” 9

7. Thawaf wada’ ketika hendak meninggalkan kota suci Makkah bagi jamaah pria dan wanita yang tidak haid atau nifas.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أُمِرَ النَّاسُ أَنْ يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ إِلَّا أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ الْمَرْأَةِ الْحَائِضِ

“Manusia diperintahkan agar menjadikan akhir (amal) mereka adalah (thawaf di) Baitullah, kecuali wanita yang sedang haid maka diberi keringanan.” 10

Amalan Wajib dalam Umrah

Dalam ibadah umrah terdapat dua amalan wajib, yaitu:

1. Berihram dari miqat yang telah ditentukan oleh syariat.

Hal ini sebagaimana dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha untuk berihram di Tan’im. 11

2. Mencukur rambut kepala atau menipiskannya.

Hal ini sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَلْيُقَصِّرْ وَلْيَحْلِلْ

“Hendaknya ia menipiskan (rambutnya) atau menggundulnya.” 12


Baca Juga: Dahulukan Haji atau Nikah?


Miqat Haji dan Umrah

Miqat adalah bentuk tunggal dari mawaqit, yang secara bahasa berarti batasan (al-haddu). Secara syariat, miqat adalah batas waktu atau tempat dimulainya ibadah haji dan umrah. 13

Miqat terbagi menjadi 2 macam, yaitu miqat zamani (kaitannya dengan waktu) dan miqat makani (kaitannya dengan tempat).

Miqat Zamani

Ibadah umrah, untuk miqat zamaninya (waktu pelaksanaan) boleh dilakukan kapan saja dan tidak dibatasi dengan waktu-waktu tertentu. Sedangkan haji, waktu pelaksanaannya terbatas dan ditentukan oleh syariat. Jika melakukannya di luar waktu itu, makanya amalan hajinya tidak diterima. Allah Ta’ala berfirman,

ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“Haji itu (dilaksanakan pada) bulan-bulan yang telah diketahui.” [Al-Baqarah: 197]

Adapun waktu yang dimaksud di sini adalah bulan Syawwal, Dzulqa’dah, dan 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah. 14

Miqat Makani

Yang dimaksud dengan miqat makani bagi jamaah haji dan umrah adalah batasan berupa tempat yang ia tidak boleh untuk melewatinya kecuali telah dalam keadaan berihram. 15 Sehingga para jamaah haji dan umrah berihram dari tempat tersebut.

Adapun untuk rincian tempatnya sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma di dalam sebuah hadits,

إِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَقَّتَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ، وَلِأَهْلِ الشَّأْمِ الْجُحْفَةَ، وَلِأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ الْمَنَازِلِ، وَلِأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ، هُنَّ لَهُنَّ، وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِهِنَّ، مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam di Juhfah, bagi penduduk Najd di Qarnul Manazil, dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam. Tempat-tempat itu berlaku bagi mereka dan juga bagi siapa saja yang melewatinya dari selain mereka dari orang-orang yang ingin menunaikan haji dan umrah.” 16

Adapun orang yang tinggal di dalam batas miqat, seperti penduduk Makkah, maka ia berihram dari tempat tinggalnya. Sebagaimana pada lanjutan hadits di atas,

وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ، حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ

“Dan barang siapa yang berada di dalam batas (miqat) tersebut, maka (miqatnya) dari tempat ia memulai (niat ihramnya), hingga penduduk Makkah (berihram) dari Makkah.” 17

Sementara kami cukupkan. Adapun pembahasan fikih haji dan umrah lainnya akan dilanjutkan pada artikel berikutnya, biidznillah. Semoga bermanfaat. wabillahi taufiq. (RGA/ASP/ATH)

Penulis: Rasyid Ghani

Referensi:

  •       Al-Qur’anul Karim
  •       Shahih al-Bukhari
  •       Shahih Muslim
  •       Sunan at-Tirmidzi
  •       Sunan Abu Dawud
  •       Sunan an-Nasa’i
  •       Sunanul Kubra karya al-Baihaqi rahimahullah
  •       Shahih Ibnu Khuzaimah
  •       Shahih Sunan an-Nasa’i karya syaikh al-Albani rahimahullah
  •       At-Ta’aliq ‘ala Shahih Ibnu Khuzaimah karya imam al-Albani rahimahullah
  •       Asy-Syarhul Mumti’
  •       Manāsik al-Ḥajj wal-‘Umrah fī al-Islām fī ḍaw’i al-Kitāb wa as-Sunnah karya syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wafh al-Qahthani rahimahullah (W. 1440 H)
  •       al-Fiqhul Muyassar cet. Maktabah Darul Fajr

Footnotes

  1. Lihat al-Fiqhul Muyassar 217
  2. HR. Al-Bukhari No. 1 dan Muslim No. 1907, dari sahabat Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu
  3. HR. At-Tirmidzi No. 889, Abu Dawud No. 1949, an-Nasa’i 5/256 dan al-Hakim di dalam Mustadrak 2/278 dan dishahihkan oleh beliau, damikian pula dishahihkan oleh imam al-Albani di dalam Shahih an-Nasa’i No. 2822, dari sahabat Abdurrahman bin Ya’mur ad-Daili radhiyallahu ‘anhu
  4. HR. Muslim No. 1277
  5. HR. Ahmad 6/421, Ibnu Khuzaimah No. 2764, al-Baihaqi 5/98, dan dishahihkan oleh imam al-Albani rahimahullah di dalam at-Ta’aliq ‘ala Shahih Ibnu Khuzaimah
  6. HR. Al-Bukhari No. 1526 dan Muslim No. 1181
  7. فَلَمْ يَزَلْ وَاقِفًا حَتَّى غَرَبَتِ الشَّمْسُ، وَذَهَبَتِ الصُّفْرَةُ قَلِيلًا حَتَّى غَابَ الْقُرْصُ

    “Beliau terus berdiri hingga matahari terbenam, dan hilang sedikit cahaya kekuningan, sampai bulatan matahari benar-benar tenggelam.” HR. Muslim 1218

  8. HR. Muslim No. 1297 
  9. HR. Al-Bukari No. 1691 dan Muslim No. 1227, dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Yang mana kelengkapan haditsnya menceritakan tentang manasik haji
  10. HR. Al-Bukhari No. 1755 dan Muslim No. 1328, dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma
  11. HR. Al-Bukari No. 1784 dan Muslim No. 1212, dari sahabat Abdurrahman bin Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma

    أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَمَرَهُ أَنْ يُرْدِفَ عَائِشَةَ وَيُعْمِرَهَا مِنَ التَّنْعِيمِ

  12. HR. Al-Bukari No. 1691 dan Muslim No. 1227, dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Yang mana kelengkapan haditsnya menceritakan tentang manasik haji
  13. Lihat al-Fiqhul Muyassar hal. 216 cet. Maktabah Darul Fajr
  14. Hal ini sebagaimana yang  disebutkan oleh imam Ibnu Katsir di dalam tafsirnya 3/444 dan lihat juga fatwa syaikh Bin Bazz
  15. Lihat al-Fiqhul Muyassar hal. 216 cet. Maktabah Darul Fajr
  16. HR. Al-Bukhari No. 1526 dan Muslim No. 1181
  17. HR. Al-Bukhari No. 1526 dan Muslim No. 1181
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *