oleh

Persatuan Islam, Bukti Nyata dan Dalil Bahwa Islam Menyatukan Umat

Persatuan Islam merupakan perintah dan pondasi penting dalam ajaran Islam, karena hal itu menjadi dasar utama untuk membangun kekuatan dan kejayaan umat. Persatuan Islam bukan hanya sebuah seruan, tetapi merupakan kewajiban yang menuntut setiap muslim untuk merapatkan barisan, menyatukan hati, dan memperkokoh persaudaraan (ukhuwah). Allah Ta’ala berfirman,

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا 

“Berpeganglah kalian semua dengan tali agama Allah dan janganlah berpecah belah. Ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika kalian bermusuh-musuhan, lalu Dia menyatukan hati-hati kalian, sehingga kalian menjadi bersaudara dengan nikmat-Nya.” (Ali Imran: 103).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ

“Wajib atas kalian untuk bersama jamaah (persatuan) dan jauhilah perpecahan, karena sesungguhnya syaithan bersama orang yang sendirian dan dia lebih jauh dari dua orang.” 1

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim rahimahullah berkata,

“Dasar dan pondasi yang agung ini, yaitu berpegang teguh dengan tali agama Allah dan tidak berpecah belah, adalah termasuk pondasi Islam yang paling agung, termasuk wasiat Allah Ta’ala yang paling agung dalam kitab-Nya, termasuk celaan yang sangat besar bagi siapa yang meninggalkannya dari kalangan ahlul kitab dan selain mereka, dan termasuk wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling agung dalam beberapa sabda beliau, baik secara umum maupun khusus.”  2

Bukan hanya dari firman Allah ﷻ dan sabda Rasulullah ﷺ yang menganjurkan umatnya untuk bersatu. Syariat-syariat Islam pun banyak yang mengajarkan arti persatuan Islam yang sebenarnya, baik persatuan lahir maupun batin. Bahkan persatuan ini merupakan tujuan terbesar Islam.

Di Antara Tujuan Terbesar Syariat Islam adalah Persatuan di Atas Agama-Nya

Persatuan di atas agama Allah juga termasuk dari tujuan murni syariat Islam, menyatukan mereka untuk menegakkan agama Allah dan tidak berpecah belah. Hal inilah yang Allah Ta’ala wahyukan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan kepada nabi-nabi sebelumnya.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحيْنَا إِليْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Dia telah mensyariatkan bagi kalian dari agama ini syariat yang Dia telah mewasiatkan dengannya kepada Nuh dan syariat yang Kami wahyukan kepadamu serta Dia wasiatkan dengannya kepada Ibrahim, Musa dan Isa agar menegakkan agama dan tidak berpecah belah padanya.” (Asy-Syura: 13).

Imam al-Baghawi rahimahullah menjelaskan, “Allah mengutus seluruh para Nabi untuk menegakkan agama, menciptakan persatuan, kebersamaan, dan meninggalkan perpecahan dan perselisihan. 3

Allah juga menegaskan terkait urgensi persatuan Islam melalui firman-Nya,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara, maka perbaikilah hubungan antar saudara kalian. Bertakwalah kepada Allah, semoga kalian dirahmati.” (Al-Hujurat: 10).

Imam al-Mufassir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Ini adalah perjanjian yang Allah tetapkan antara orang-orang beriman: bahwa jika ditemukan pada siapa pun, di belahan bumi timur maupun barat, keimanan dia kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, maka ia adalah saudara bagi orang-orang beriman. Persaudaraan ini mengharuskan orang-orang beriman supaya mencintai sesuatu untuk saudara mereka sebagaimana mereka mencintai sesuatu itu untuk diri mereka sendiri, dan membenci untuk mereka apa yang mereka benci untuk diri mereka sendiri.” 4

Menjauhi Keretakan Hubungan, Upaya Persatuan Islam

Dalam rangka menjaga persatuan Islam, Allah dan Rasul-Nya telah meletakkan rambu-rambu yang harus diwaspadai agar keretakan persatuan tersebut dapat dihindari secepat mungkin. Dalam banyak ayat dan hadits, Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah menjelaskan hal tersebut, di antaranya firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ * يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Wahai orang-orang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain, karena boleh jadi perempuan (yang diolok-olok) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok).

Janganlah kalian mencela diri kalian sendiri, dan jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk nama adalah (panggilan) fasik setelah (memiliki) keimanan. Barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Hai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu adalah dosa. Janganlah kalian saling memata-matai, dan janganlah ada di antara kalian yang menggunjing satu sama lain. Apakah salah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang telah mati?

Tentu kalian merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat: 11-12).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إيَّاكم والظَّنَّ؛ فإنَّ الظَّنَّ أكذَبُ الحديثِ، ولا تَحسَّسوا، ولا تَجسَّسوا، ولا تَناجَشوا، ولا تَحاسَدوا، ولا تَباغَضوا، ولا تَدابَروا، وكونوا عِبادَ اللهِ إخوانًا

“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta. Janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, jangan pula saling memata-matai, jangan saling menawar dengan niat menipu, jangan saling dengki, jangan saling membenci, jangan saling berpaling, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” 5

Upaya Musuh Islam dalam Meruntuhkan Persatuan Islam

Musuh Islam dan kaum muslimin tidaklah senang dengan persatuan Islam. Mereka akan mencari seribu cara untuk menghancurkan persatuan ini. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam,

  «إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَئِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ المُصَلُّونَ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ»

 “Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat, tetapi ia akan terus menghasut di antara mereka (untuk menimbulkan perpecahan).” 6

Orang-orang kafir juga tidaklah senang dengan persatuan ini, mereka terus berupaya untuk menghancurkan persatuan dan mengeluarkan kaum muslimin dari agama mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala menceritakan tentang kaum Yahudi dan Nashrani pada firman-Nya,

وَدُّواْ لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُواْ فَتَكُونُونَ سَوَاء فَلاَ تَتَّخِذُواْ مِنْهُمْ أَوْلِيَاء حَتَّىَ يُهَاجِرُواْ فِي سَبِيلِ اللهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدتَّمُوهُمْ وَلاَ تَتَّخِذُواْ مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلاَ نَصِيرًا

“Mereka sangat menginginkan agar kalian kafir sebagaimana mereka kafir, sehingga kalian menjadi sama. Maka janganlah menjadikan mereka sebagai penolong sampai mereka berhijrah menuju jalan Allah Ta’ala. jika mereka berpaling, tawanlah dan bunuhlah mereka di mana pun kalian menjumpai mereka dan janganlah menjadikan mereka sebagai penolong dan pelindung.” (an-Nisa: 89).


Baca Juga:   Mengapa Kita Harus Bersyukur Terhadap Nikmat Islam


Arti Persatuan Islam Melalui Suku Aus dan Khazraj

Allah Ta’ala berfirman menjelaskan persatuan Islam di balik dua kabilah: Aus dan Khazraj,

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَّا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (63)

 “Allah menyatukan hati-hati mereka. Seandainya engkau menginfakkan seluruh apa yang di bumi, niscaya engkau tidak dapat menyatukan hati-hati mereka. Namun Allahlah yang menyatukan mereka. Sesungguhnya Dialah yang Maha Perkasa lagi Bijaksana.” (al-Anfal: 63).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tafsir ayat ini, “Dimana dahulu di antara mereka ada permusuhan dan kebencian. Sesungguhnya di tengah-tengah kaum Anshar, di tengah-tengah Aus dan Khazraj sering terjadi peperangan dan perkara-perkara yang menyebabkan berlanjutnya keburukan, hingga Allah memutus semua itu dengan cahaya keimanan.” 7

Imam al-Qurthubi rahimahullah juga mempertegas, “Allah menyatukan hati kabilah Aus dan Khazraj. Persatuan hati di balik sikap fanatik kuat di tengah bangsa Arab merupakan salah satu tanda dan mukjizat Nabi shallalahu alaihi wa sallam. Sebab, di antara mereka, jika seseorang ditampar, ia akan berjuang membela kehormatannya hingga mendapatkan balasannya.

Mereka adalah makhluk Allah yang paling keras dalam membela kehormatan dan harga diri. Namun, Allah menyatukan mereka dengan keimanan, hingga seseorang rela memerangi ayah dan saudaranya demi agama. Dikatakan pula bahwa yang dimaksud adalah penyatuan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Dan maknanya pun berdekatan.” 8

Mewujudkan Persatuan Islam

Persatuan Islam adalah pilar penting yang menjadi dasar kekuatan dan kejayaan umat. Nilai-nilainya tertanam dalam agama tersebut dan diwasiatkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk menjaga kebersamaan dan menghindari perpecahan. Dengan memegang teguh ajaran ini, umat Islam dapat mewujudkan persaudaraan sejati dan keberkahan hidup di dunia maupun akhirat. (ASS/AAA/IWU)

Penulis: Saad Pangkep

Referensi:

Majmu’ Fatawa XXII/359, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah W. 728.

Tafsir al-Baghawi VII/187, karya Abu Muhammad al-Husain bin Mahmud W. 510 H. 

Taisir Al-Karimir Rahman  hal. 800, karya Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di W. 1376 H.

Tafsir al-Qurthubi  VIII/42 cetakan dar Ibnul Jauzi, karya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Khazraji al-Qurthubi rahimahullah W. 671 H.

Tafsir Ibnu Katsir VI/227 cetakan dar Ibnul Jauzi, karya Abul Fida’ Ismail bin Umar al-Qurasyi ad-Dimasyqi rahimahullah  W. 774 H

 

Footnotes

  1. Lihat Sunan at-Tirmidzi no. 2165, dishahihkan oleh Imam al-Albani rahimahullah.
  2. Teks arab:

    وَهَذَا الْأَصْلُ الْعَظِيمُ: وَهُوَ ‌الِاعْتِصَامُ ‌بِحَبْلِ ‌اللَّهِ ‌جَمِيعًا وَأَنْ لَا يَتَفَرَّقَ هُوَ مِنْ أَعْظَمِ أُصُولِ الْإِسْلَامِ وَمِمَّا عَظُمَتْ وَصِيَّةُ اللَّهِ تَعَالَى بِهِ فِي كِتَابِهِ. وَمِمَّا عَظُمَ ذَمُّهُ لِمَنْ تَرَكَهُ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَغَيْرِهِمْ وَمِمَّا عَظُمَتْ بِهِ وَصِيَّةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَوَاطِن عَامَّةٍ وَخَاصَّةٍ

    Majmu’ Fatawa XXII/359, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah W. 728.

  3. Teks arab: 

    بَعَثَ اللَّهُ الْأَنْبِيَاءَ كُلَّهُمْ بِإِقَامَةِ الدِّينِ وَالْأُلْفَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَتَرْكِ الْفُرْقَةِ وَالْمُخَالَفَةِ.

    Lihat Tafsir al-Baghawi VII/187, karya Abu Muhammad al-Husain bin Mahmud W. 510 H.

  4. Teks arab: 

    بَعَثَ اللَّهُ الْأَنْبِيَاءَ كُلَّهُمْ بِإِقَامَةِ الدِّينِ وَالْأُلْفَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَتَرْكِ هذا عقد، عقده الله بين المؤمنين، أنه إذا وجد من أي شخص كان، في مشرق الأرض ومغربها، الإيمان بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، فإنه أخ للمؤمنين، أخوة توجب أن يحب له المؤمنون، ما يحبون لأنفسهم، ويكرهون له، ما يكرهون لأنفسهم

    Lihat Taisir Al-Karimir Rahman  hal. 800, karya Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di W. 1376 H.

  5. HR. Bukhari no. 5143 dan Muslim no. 2563.
  6. HR. At-Tirmidzi, no. 1937, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani.
  7. Teks arab: 

      لما كان بينهم من العداوة والبغضاء فإن الأنصار كانت بينهم حروب كثيرة في الجاهلية، بين الأوس والخزرج، وأمور يلزم منها التسلسل في الشر، حتى قطع الله ذلك بنور الإيمان

      Lihat Tafsir Ibnu Katsir VI/227 cetakan dar Ibnul Jauzi, karya Abul Fida’ Ismail bin Umar al-Qurasyi ad-Dimasyq rahimahullah  W. 774 H.

  8. Teks arab: 

    جَمَعَ بَيْنَ قُلُوبِ الْأَوْسِ وَالْخَزْرَجِ. وَكَانَ تَأَلُّفُ الْقُلُوبِ مَعَ الْعَصَبِيَّةِ الشَّدِيدَةِ فِي الْعَرَبِ مِنْ آيَاتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمُعْجِزَاتِهِ، لِأَنَّ أَحَدَهُمْ كَانَ يُلْطَمُ اللَّطْمَةَ فَيُقَاتِلُ عَنْهَا حَتَّى يَسْتَقِيدَهَا. وَكَانُوا أَشَدَّ خَلْقِ اللَّهِ حَمِيَّةً، فَأَلَّفَ اللَّهُ بِالْإِيمَانِ بَيْنَهُمْ، حَتَّى قَاتَلَ الرَّجُلُ أَبَاهُ وَأَخَاهُ بِسَبَبِ الدِّينِ. وَقِيلَ: أَرَادَ التَّأْلِيفَ بَيْنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ. وَالْمَعْنَى متقارب.

      Lihat Tafsir al-Qurthubi  VIII/42 cetakan dar Ibnul Jauzi, karya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Khazraji rahimahullah W. 671 H.

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *