Allah Ta’ala menegaskan di dalam Al-Quran bahwa setan adalah musuh bebuyutan bagi anak Adam. Dia adalah musuh yang nyata bagi manusia. Setan tidak kenal lelah menghembuskan bisikan-bisikan jahat ke dalam hati manusia. Dengan beragam trik dia akan terus berjuang sekuat tenaga demi menjerumuskan anak adam ke dalam jurang kesesatan yang akan berujung di neraka. Wal’iyadzu billah!
Iblis telah Berjanji Menyesatkan Anak Adam
Iblis sebagai nenek moyang setan telah berjanji di hadapan Allah Ta’ala untuk menyesatkan anak keturunan Adam. Dia umumkan peperangan terhadap Bani Adam saat enggan untuk bersujud kepada Nabi Adam ‘alaihis salam lalu ia berkata sebagaimana yang Allah Ta’ala abadikan di dalam surat Al-‘Araf. Allah Ta’ala berfirman,
قَالَ أَنظِرۡنِيٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ، قَالَ إِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ ، قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ، ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ
“(Iblis) berkata, berilah aku penangguhan waktu, sampai hari mereka dibangkitkan, Allah menjawab, benar, kamu termasuk yang diberi penangguhan waktu, (Iblis) menjawab, Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari arah depan, belakang, kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-‘Araf :14-17)
Oleh karena itu Allah Ta’ala dengan tegas memperingatkan kaum mukminin tentang musuh besar mereka:
اِنَّ الشَّيۡطٰنَ يَنۡزَغُ بَيۡنَهُمۡ اِنَّ الشَّيۡطٰنَ كَانَ لِلۡاِنۡسَانِ عَدُوًّا مُّبِيۡنًا
“Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (Al-Isra’: 53)
Begitu pula firman-Nya,
إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمۡ عَدُوّ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ
“Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian. Maka posisikan ia sebagai musuh! Sesungguhnya setan itu hanyalah mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni (neraka) Sa’ir (yang menyala-nyala).” (Fathir: 6)
Demikianlah misi besar Iblis yang terlaknat dan bala tentaranya. Dia berupaya sekuat tenaga menyesatkan anak Adam dari jalan Allah yang lurus, sehingga mereka kelak di akhirat menjadi temannya di dalam neraka.
Fenomena yang sangat mengerikan ini, menuntut kita semua untuk segera mencari jalan keselamatan serta menempuh langkah upaya perlawanan terhadap setan.
Ikhlas, Senjata Terampuh Melawan Setan
Ketahuilah bahwa Ikhlas merupakan senjata terampuh di dalam menghadapi permusuhan setan. Ikhlas merupakan ketulusan dalam menjalani kehidupan ini hanya untuk Allah Ta’ala semata dan di jalan agama-Nya. Seorang hamba yang ikhlas meyakini bahwa Allah lah satu-satunya tempat bersandar dalam kita menjalani kehidupan ini. Dengan keikhlasan yang menancap kokoh dalam qolbu seorang hamba, benar-benar menjadi tameng makar Iblis dan bala tentaranya. Sungguh Iblis tak berdaya untuk menyesatkan hamba yang menjaga keikhlasannya. Allah Ta’ala berfirman,
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ، إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ
“(Iblis) berkata, demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (Sad: 82-83)
Dan juga firman-Nya,
قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ، إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ
“Ia (Iblis) berkata, Rabbku, karena Engkau telah menyesatkanku, sungguh aku akan menjadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi dan sungguh aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (karena keikhlasannya) di antara mereka.” (Al-Hijr: 39-40)
Keikhlasan Sebab Terbesar Keberhasilan di Dalam Menghadapi Godaan Hawa Nafsu
Tidak diragukan lagi bahwa keikhlasan besar perannya bagi seorang hamba di dalam menghadapi ujian kehidupan yang seakan tak pernah usai. Keikhlasan memiliki posisi yang penting di dalam menjaga seorang hamba dari berbagai bisikan-bisikan hawa nafsu yang menyesatkan. Setan akan kalah dan merasa lemah untuk menyeret hamba Allah kepada jurang kemaksiatan.
Sebagaimana bukti yang Allah Ta’ala perlihatkan bagaimana keikhlasan dapat menyelamatkan Nabi Yusuf ‘alaihis salam dari godaan seorang wanita kaya dan cantik. Di saat wanita itu menyerahkan dirinya dan merayu nabi Yusuf ‘alaihis salam untuk melakukan perbuatan keji. Namun Allah selamatkan nabi Yusuf ‘alaihis salam karena keikhlasan beliau ‘alaihis salam. Hal ini sebagaimana yang Allah Ta’ala abadikan di dalam tanzil-Nya:
وَرَٰوَدَتۡهُ ٱلَّتِي هُوَ فِي بَيۡتِهَا عَن نَّفۡسِهِۦ وَغَلَّقَتِ ٱلۡأَبۡوَٰبَ وَقَالَتۡ هَيۡتَ لَكَۚ قَالَ مَعَاذَ ٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ رَبِّيٓ أَحۡسَنَ مَثۡوَايَۖ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ ، وَلَقَدۡ هَمَّتۡ بِهِۦۖ وَهَمَّ بِهَا لَوۡلَآ أَن رَّءَا بُرۡهَٰنَ رَبِّهِۦۚ كَذَٰلِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلۡفَحۡشَآءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِينَ
“Perempuan, yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya, menggodanya. Dia menutup rapat semua pintu, lalu berkata, ‘Marilah mendekat kepadaku’. Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku. Dia telah memperlakukanku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung.’, Sungguh, perempuan itu benar-benar telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda kebesaran (dari) Rabbnya. Demikianlah, kami memalingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia (Yusuf) termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (karena keikhlasannya).” (Yusuf 23-24)
Baca Juga: Ikhlas, Adab yang Paling Utama
Keikhlasan akan Menyelamatkan dari Marabahaya
Keikhlasan memiliki pengaruh positif yang besar bagi seorang hamba. Bahkan terhadap kaum musyrikin saat mereka memurnikan doa hanya kepada Allah Ta’ala di waktu tertentu yaitu saat ditimpa musibah, Allah menolong mereka. Hal ini tidak lain kecuali karena tingginya kedudukan ikhlas.
Kaum musyrikin menyadari betapa besar pengaruh keikhlasan. Sehingga tatkala mereka berada di keadaan yang genting, bahaya di depan mata, mereka pun mengikhlaskan doa hanya untuk Allah Ta’ala semata. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فِي ٱلۡبَحۡرِ ضَلَّ مَن تَدۡعُونَ إِلَّآ إِيَّاهُۖ فَلَمَّا نَجَّىٰكُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ أَعۡرَضۡتُمۡۚ وَكَانَ ٱلۡإِنسَٰنُ كَفُورًا
“Apabila kalian (kaum musyrikin) ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang kalian seru, kecuali Dia (Allah). Akan tetapi, ketika Dia menyelamatkan kalian ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya). Manusia memang selalu ingkar.” (Al-Isra’: 67)
Allah Ta’ala juga berfirman,
فَإِذَا رَكِبُواْ فِي ٱلۡفُلۡكِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ
“Apabila mereka (kaum musyrikin) berlayar dengan bahtera, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa tulus (ikhlas) kepada-Nya. Akan tetapi, ketika Dia (Allah) menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al-‘Ankabut: 65)
Dan firman-Nya juga,
وَاِذَا غَشِيَهُمۡ مَّوۡجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللّٰهَ مُخۡلِصِيۡنَ لَهُ الدِّيۡنَفَلَمَّا نَجّٰٮهُمۡ اِلَى الۡبَـرِّ فَمِنۡهُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ؕوَمَا يَجۡحَدُ بِاٰيٰتِنَاۤ اِلَّا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُوۡرٍ
“Apabila mereka digulung ombak besar seperti gunung, mereka menyeru kepada Allah dengan memurnikan (mengikhlaskan) ketaatan hanya bagi-Nya. Kemudian, ketika Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, sebagian kecil (saja) di antara mereka yang tetap menempuh jalan yang lurus. Tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain pengkhianat yang tidak berterima kasih.” (Luqman: 32)
Penutup
Para pembaca rahimakumullah, dari penjelasan di atas, kita menyadari betapa besar peran keikhlasan di dalam kehidupan kita, terlebih dalam menunaikan ibadah kepada Allah. Di samping itu, keikhlasan merupakan perintah oleh Allah Ta’ala yang wajib direalisasikan. Dengan ikhlas yang tertancap kuat dalam sanubari kita akan terjaga dari berbagai tipu daya setan dan dorongan hawa nafsu yang melalaikan.
Sehingga ayat-ayat disertai penjelasan ringkas di atas menitipkan pesan kepada kita semua untuk selalu berusaha ikhlas di setiap waktu dan keadaan. Tanpa keikhlasan akan sia-sia amal dan ibadah yang kita kerjakan siang dan malam. Kita pun akan terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan dan larut dengan makar setan yang terkutuk.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan kepada kita semua keikhlasan. Dan semoga kita diwafatkan oleh Allah sebagai Mukhlisin yaitu mereka dalam mengikhlaskan seluruh amalan hanya kepada Allah Ta’ala, Aamiin. (RGA/AAA/IWU)
Penulis: Rasyid Ghani
Referensi:
· Al-Qur’anul Karim









Komentar