oleh

Paparan Ringkas Tata Cara, Hukum dan Penjelasan Ulama tentang Duduk Istirahat di Dalam Shalat

-Fikih-5,312 views

Duduk istirahat dalam shalat merupakan salah satu gerakan ringan di dalam shalat yang sering kita saksikan kaum muslimin melakukannya. Bagaimana pandangan dan penjelasan ulama tentang duduk istirahat? Apakah duduk ini merupakan sunnah? Berikut pemaparan ringkas tentangnya.

Definisi Duduk Istirahat

Duduk istirahat (جِلْسَةُ الِاسْتِرَاحَةِ) adalah duduk sesaat pemisah antara 2 raka’at1dengan sekali ucapan  takbir untuk berdiri mencukupinya.2Karena duduk tersebut merupakan bagian dari gerakan bangkit ke posisi berdiri.3

Hukum Duduk Istirahat

Imam an-Nawawi rahimahullah membawakan beberapa pendapat dalam permasalahan duduk istirahat antara lain:

– Tidak disunahkan4

– Disunahkan hanya bagi yang sedang sakit5

– Disunahkan bagi semua orang tanpa terkecuali6

Kesimpulannya sebagaimana beliau rahimahullah tegaskan,

“Para ulama mazhab Syafi’iyah (yang mengatakan tentang duduk istirahat ada 2 pendapat (disunahkan dan tidak disunahkan)) mereka bersepakat bahwa yang benar dari 2 pendapat tersebut adalah disunahkan duduk istirahat.” 7

Kemudian Imam an-Nawawi rahimahullah melanjutkan,

“Sehingga kesimpulan dari pembahasan ini yang benar di dalam madzhab (Syafi’iyah) adalah disunahkannya duduk istirahat.” 8

Hal ini berdasarkan hadits dari Sahabat Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu,

عن مَالِكُ بْنُ الحُوَيْرِثِ اللَّيْثِيُّ، أَنَّهُ «رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي، فَإِذَا كَانَ فِي وِتْرٍ مِنْ صَلَاتِهِ لَمْ يَنْهَضْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا»

“Dari sahabat Malik bin al-Huwairits, bahwasanya beliau melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada raka’at ganjil (sujud pada raka’at 1 dan 3) dalam shalatnya tidak bangkit sampai duduk dengan sempurna.” 9

Tata Cara Duduk Istirahat

1. Takbir ketika berpindah dari sujud ke duduk istirahat.

Berikut beberapa tata cara takbir ketika berpindah dari sujud ke duduk istirahat:

a. Bangkit (dari sujud) sambil bertakbir kemudian memanjangkannya sampai berdiri tegak dan memendekkan duduk istirahatnya. 10

b. Bangkit tanpa bertakbir kemudian mulai bertakbir ketika duduk dan memanjangkannya sampai berdiri. 11

c. Bangkit sambil bertakbir dan selesai ketika duduk istirahat kemudian berdiri tanpa bertakbir. 12

2. Disunahkan duduk dalam posisi iftirasy (menegakkan kaki kanan dan duduk di atas telapak kaki kiri). 13

3. Disunahkan duduk istirahat pada raka’at yang setelah 2 kali sujud adalah bangkit berdiri (pada raka’at yang tidak ada tasyahud padanya) baik pada shalat wajib maupun shalat sunnah. 14

4. Jika sang imam tidak duduk istirahat maka makmum boleh duduk istirahat dan adanya sedikit perbedaan (antara imam dan makmum) pada gerakan ini tidak mengapa. 15

Demikian paparan ringkas tata cara, hukum dan penjelasan ulama tentang duduk istirahat di dalam shalat. Semoga dapat memberikan pencerahan bagi kita semua. Wallahu a’lam.

REI/AAA/

Penulis: Reihan Audie Sutopo

Referensi:

  1. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, karya Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi rahimahullah (W. 676)
  2. Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari, karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah (w. 795H)

Baca Juga: Batas-batas Waktu Shalat Fardhu, Muslim Wajib Tahu!


 


 

Footnotes

  1. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab (3/442)

    أَنَّهَا جُلُوسٌ فَاصِلٌ بَيْنَ الرَّكْعَتَيْنِ وَلَيْسَ مِنْ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا

  2. Fathul Bari (2/302)

    فَإِنَّهَا جِلْسَةٌ خَفِيفَةٌ جِدًّا اسْتُغْنِيَ فِيهَا بِالتَّكْبِيرِ الْمَشْرُوعِ لِلْقِيَامِ

  3. Idem

    فَإِنَّهَا مِنْ جُمْلَةِ النُّهُوضِ إِلَى الْقِيَامِ

  4. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab (3/441)

    لَا يُسْتَحَبُّ

  5.  Idem

    وهو قول ابي سحق المروزى هما محمولان علي حالين فَإِنْ كَانَ الْمُصَلِّي ضَعِيفًا لِمَرَضٍ أَوْ كِبَرٍ أَوْ غَيْرِهِمَا اُسْتُحِبَّ وَإِلَّا فَلَ

  6. Idem

    الْقَطْعُ بِأَنَّهَا تُسْتَحَبُّ لِكُلِّ أَحَدٍ

     

  7.  Idem

    وَاتَّفَقَ الْقَائِلُونَ به علي أن الصيحح مِنْ الْقَوْلَيْنِ اسْتِحْبَابُهَا

  8. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab (3/441)

    فَحَصَلَ مِنْ هَذَا أَنَّ الصَّحِيحَ فِي الْمَذْهَبِ اسْتِحْبَابُهَا

  9. HR. al-Bukhari no. 823 di dalam shahihnya, dari sahabat Malik bin al-Huwarits radhiyallahu ‘anhu.

  10. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab (3/442)

    أَنَّهُ يَرْفَعُ مُكَبِّرًا وَيَمُدُّهُ إلَى أَنْ يَسْتَوِيَ قَائِمًا وَيُخَفِّفُ الْجِلْسَةَ

  11. Idem

    يَرْفَعُ غَيْرَ مُكَبِّرٍ وَيَبْدَأُ بِالتَّكْبِيرِ جَالِسًا وَيَمُدُّهُ إلَى أَنْ يَقُومَ

  12. Idem

     يَرْفَعُ مُكَبِّرًا فَإِذَا جَلَسَ قَطَعَهُ ثُمَّ يَقُومُ بِلَا تَكْبِيرٍ

  13. Idem

    وَالسُّنَّةُ فِيهَا أَنْ يَجْلِسَ مُفْتَرِشًا

  14. Idem

    وَتُسَنُّ هَذِهِ الْجِلْسَةُ عَقِبَ السَّجْدَتَيْنِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ يَعْقُبُهَا قِيَامٌ سَوَاءٌ الْأُولَى وَالثَّالِثَةُ وَالْفَرَائِضُ وَالنَّوَافِلُ

     

  15. Idem

     وَلَوْ لَمْ يَجْلِسْ الْإِمَامُ جِلْسَةَ الِاسْتِرَاحَةِ فَجَلَسَهَا الْمَأْمُومُ جَازَ وَلَا يَضُرُّ هَذَا التَّخَلُّفُ لِأَنَّهُ يَسِيرٌ

     

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *