Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kesempurnaan sifat-sifat-Nya dan kasih sayang-Nya yang luas, telah menyiapkan waktu-waktu istimewa bagi para hamba-Nya sebagai kesempatan untuk memperbanyak ibadah pada waktu tersebut. Pada waktu tersebut pula Allah Ta’ala akan melipatgandakan semua balasan, baik balasan atas kebaikan maupun keburukan. Waktu-waktu yang dimaksud adalah bulan-bulan haram, sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah beritakan di dalam sebuah hadits,
إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ، وَذُو الحِجَّةِ، وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ، مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى، وَشَعْبَانَ
“Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram (yang dihormati). Tiga bulan yang berurutan: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram; serta Rajab yang berada di antara Jumadal (Akhirah) dan Sya’ban.” 1
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman bahwa mengagungkan syi’ar-syi’ar (tanda-tanda kebesaran) Allah Ta’ala termasuk bagian dari ketakwaan hati, sebagaimana firman-Nya,
وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ
“Barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)
Termasuk di antara syi’ar-syi’ar tersebut adalah bulan-bulan haram. Oleh karenanya, sebagai seorang muslim, sudah sepantasnya kita mengagungkan syi’ar Allah Ta’ala dengan memperbanyak ibadah kepada-Nya pada bulan-bulan tersebut. Di sana terdapat berbagai amalan yang sangat ditekankan untuk diamalkan di bulan-bulan haram tersebut, yang bersumber dari dalil-dalil yang shahih (bisa dipastikan kebenarannya) dari Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Akan tetapi, sejatinya amalan-amalan yang akan disebutkan di sini tidak dikhususkan untuk dikerjakan pada bulan-bulan haram saja. Bahkan, seyogyanya bagi seorang muslim untuk selalu bersungguh-sungguh dalam beramal shalih, meskipun dia berada di luar bulan-bulan haram. Karena kehidupan seorang muslim tidaklah bisa terlepas dari tanggung jawab ibadah. Adapun penyebutannya di sini hanya sebagai hasungan untuk memudahkan kita dalam beramal shalih. Amalan-amalan tersebut antara lain adalah:
Mengerjakan Amalan-Amalan Wajib dan Sunnah
Merupakan suatu bentuk kewajiban bagi seorang muslim adalah mengerjakan segala sesuatu yang Allah Ta’ala perintahkan serta menjauhi dan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh-Nya. Terlebih lagi pada bulan haram, karena keagungan bulan-bulan tersebut. Sehingga apabila seseorang beramal demikian, yakni selalu mencocoki perintah Allah Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyiapkan keutamaan yang sangat besar. Sebagaimana firman-Nya di dalam sebuah hadits Qudsi,
مَنْ عَادَى لِي وَلِـــيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالـحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَـيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إليَّ مِمَّا افْتَـرَضْتُهُ، وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَـإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَه الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـي لَأُعِيذَنَّهُ
“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya. Tidak ada sesuatu yang lebih Aku cintai daripada ibadah yang Aku wajibkan kepada hamba-Ku. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya.” 5 Taubat merupakan amalan yang seharusnya dilakukan oleh setiap hamba karena diri mereka tidak pernah terlepas dari kesalahan dan dosa, baik itu dosa kepada Allah Ta’ala maupun kepada sesama manusia. Akan tetapi, taubat tidak harus menunggu momen-momen tertentu, bahkan taubat haruslah tetap dilakukan di setiap waktu dan kesempatan, dalam rangka membersihkan diri dari noda-noda dosa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertaubatlah kalian (semua) wahai sekalian orang-orang beriman agar kalian beruntung.” (An-Nur: 31)
Terlebih, taubat itu amatlah ditekankan ketika kita berada di musim-musim ibadah, disebabkan keagungan waktu-waktu tersebut. Dan taubat dapat membersihkan diri kita dari dosa serta mensucikan diri darinya, agar qalbu (hati) lebih siap untuk melaksanakan ibadah di waktu-waktu tersebut.
Memperbanyak Puasa Sunnah
Amalan keempat yang sebaiknya dilakukan oleh seorang muslim apabila dia memasuki bulan-bulan haram adalah memperbanyak puasa sunnah. Puasa memiliki kedudukan yang sangat agung di sisi Allah Ta’ala, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan pahala khusus bagi orang yang melaksanakan ibadah puasa. Hal ini sebagaimana yang terdapat di dalam hadits qudsi,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلاَّ الصَومَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” 6HR. Al-Bukhari no. 5927 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu[efn/_note]
Di antara puasa sunnah yang bisa diamalkan, terlebih di dalam bulan-bulan haram adalah:
- Puasa Tasu’a dan ‘Asyura, yaitu puasa di hari ke-9 dan ke-10 bulan Muharram.
- Puasa ‘Arafah, yaitu puasa di hari ke-9 bulan Dzulhijjah saat jama’ah haji sedang wukuf di ‘Arafah.
Puasa di hari-hari itu, demikian pula puasa sunnah yang lainnya, memiliki keutamaan yang amat besar dan banyak. Adapun mengkhususkan puasa di bulan Rajab, maka tidak dibenarkan dalam syariat Islam sedikit pun. 7Berkata al-Imam Ibnu Rajab di dalam kitab lathaif al-Ma’arif hal.118
وَأَمَّا الصِّيَامُ فَلَمْ يَصِحَّ فِي فَضْلِ صَومِ رَجَبٍ بِخُصُوصِهِ شَيْءٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا عَنْ أَصْحَابِهِ
“Adapun puasa maka tidaklah benar jika ada keutamaan puasa secara khusus di bulan Rajab satu dalil pun dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian pula dari para sahabat.”[efn/_note]
Memperbanyak Amalan-Amalan Sunnah
Memperbanyak amal shalih dengan berbagai macam jenisnya termasuk dari amalan sunnah. Akan tetapi lebih ditekankan lagi ketika memasuki waktu-waktu yang penuh dengan keutamaan semisal di bulan-bulan haram. Karena amalan-amalan sunnah memiliki keutamaan yang sangat besar dan bisa mendatangkan kecintaan Allah Ta’ala.
Bentuk amal shalih sangat banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya di dalam hadits-haditsnya. Di antara amalan ringan dan mudah untuk diamalkan adalah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan di dalam sebuah hadits,
أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: إِسْبَاغُ الوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَى إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارِ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ
“Maukah kalian aku tunjuki amalan-amalan yang dapat menghapuskan dosa dan mengangkat derajat?” Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Menyempurnakan basuhan anggota wudhu pada waktu-waktu yang tidak disenangi, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu shalat setelah shalat. Maka (amalan-amalan) itu adalah ribath (pahala yang didapatkan seperti pahala berjaga di perbatasan musuh).” 8HR. Muslim no.251 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu[efn/_note]
Itulah di antara sekian amalan sunnah yang memiliki keutamaan besar. Amalan-amalan sunnah itu tidak hanya terbatas pada yang disebutkan di dalam hadits di atas, namun masih banyak lagi amalan lain yang bisa dikerjakan dan memiliki keutamaan yang luar biasa pula.
Semoga setelah memiliki ilmu tentang hal ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memudahkan kita untuk meningkatkan amal shalih, terutama di bulan-bulan haram. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amal shalih yang telah kita kerjakan dan menjadikannya sebagai pemberat amalan kita di akhirat kelak. Aamiin.(AAJ//)
Penulis: Abdurrahman Aufi
Referensi:
- Al-Qur’anul karim
- Lathaif al-Ma’arif karya imam Ibnu Rajab al-Hanbali (W. 759 H) rahimahullah
- Shahih muslim karya imam Muslim bin al-Hajjaj (W. 261 H) rahimahullah
- Shahih al-Bukhari karya imam Muhammad bin Isma’il al-Bukhari (W. 256 H) rahimahullah
- Musnad Ahmad karya imam Ahmad bin Hanbal (W. 241 H) rahimahullah
- Madarijus Salikin karya Ibnul Qoyyim (W.751 H) rahimahullah
Footnotes
- HR.Bukhari no. 4662 dan Muslim no. 1679 keduanya dari sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu
- HR. Al-Bukhari no. 6502 dari sahabat Abu Hurairah rahiyallahu ‘anhu[efn/_note]
Demikianlah sisi positif yang bisa digapai dari keseriusan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Semakin dia berusaha mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendekatkan diri-Nya kepada hamba tersebut dan selalu mengawasinya, melindunginya, dan menjaganya dari berbagai kejelekan.
Menjauhi Kemaksiatan dan Perbuatan Dosa
Amalan kedua yang tidak kalah pentingnya adalah menjauhi kemaksiatan dan perbuatan dosa. Ini adalah hakikat takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu menjauhi kemaksiatan dan perbuatan dosa karena takut hukuman-Nya. 2Di antara makna takwa adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Thalq bin Habib rahimahullah, takwa adalah: “Engkau beramal ketaatan kepada Allah Ta’ala di atas ilmu serta mengharap wajah Allah Ta’ala dan kamu menjauhi kemaksiatan kepada-Nya di atas ilmu serta takut hukuman-Nya[efn/_note] Termasuk pula dari takwa adalah waspada dan berhati-hati dari berbagai kemaksiatan dan perbuatan dosa dari yang terkecil hingga yang besar.
Dalam hal ini, tidak sedikit manusia yang kurang berhati-hati, sehingga secara tidak sadar dia telah terjatuh ke dalam perbuatan dosa secara berkelanjutan dan menjadikannya terbiasa berbuat demikian, hingga perbuatan itu menjadi suatu hal yang remeh menurutnya. Bahkan, bisa menjadikannya bermudah-mudahan melakukan perbuatan dosa, terlebih jika hal itu dikerjakan di bulan-bulan haram, di mana dosa dan balasannya akan semakin besar.
Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang amat penyayang kepada umatnya melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, begitu mewanti-wanti dari perbuatan meremehkan dosa sekecil apapun itu, karena rasa khawatir akan umatnya. Di dalam sabda beliau yang berbunyi,
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتُ الذُّنُوبِ، فَإِنَّمـَـا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا بَطْنَ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ وَذَا بِعُودِِ، حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَـهُمْ، وَإِنّ َمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُـهْلِكْهُ
“Berhati-hatilah kalian dari dosa-dosa yang remeh (dosa kecil), karena ia seperti sekelompok kaum yang turun ke dasar lembah, kemudian satu-persatu dari mereka datang membawa kayu hingga kayu tersebut dapat digunakan untuk memasak roti mereka hingga matang. Dan sesungguhnya dosa-dosa kecil itu, kapan pun seseorang dihisab dengannya, dia akan binasa.” 3HR. Ahmad no. 22808 dari sahabat Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu[efn/_note]
Memperbanyak Taubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Taubat adalah kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari perkara yang menyelisihi perintah-Nya menuju amalan-amalan ketaatan kepada-Nya. 4Lihat madarijus salikin 1/284
التَّوْبَةَ هِيَ الرُّجُوعُ إِلَى اللَّهِ مِنْ مُخَالَفَتِهِ إِلَى طَاعَتِهِ








Komentar