Manajemen waktu bukan sekadar urusan jadwal ala dunia kerja. Bagi seorang muslim, produktif berarti mengisi umur dengan iman dan amal shalih sebelum kesempatan itu hilang. Sebab, waktu adalah nikmat besar yang pasti dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Banyak orang merasa harinya habis begitu saja: sibuk dan lelah, tetapi tidak menghasilkan apa pun untuk akhiratnya. Padahal, Islam telah memberikan tuntunan yang lengkap agar seorang hamba menjadi produktif. Berikut enam kunci manajemen waktu yang bersumber dari al-Qur’an, sunnah, dan teladan orang-orang shalih.
Mengapa Manajemen Waktu Begitu Berharga bagi Seorang Muslim?
Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah demi masa dan menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian. Hanya orang yang beriman, beramal shalih, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran yang selamat dari kerugian itu.
وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1-3)
Imam asy-Syafi’i berkata mengenai ayat di atas,
لَوْ مَا أَنْزَلَ اللهُ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ إِلَّا هَذِهِ السُوْرَةَ لَكَفَتْهُمْ
“Seandainya Allah Ta’ala tidak menurunkan kepada manusia satu hujjah pun kecuali hanya surat ini saja, maka surat ini telah mencukupi mereka.” 1
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan bahwa modal utama manajemen waktu adalah dua nikmat yang sering dilalaikan manusia. Siapa yang menyia-nyiakannya, dialah orang yang tertipu dalam perniagaannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu (karena lalai memanfaatkannya): kesehatan dan waktu luang.” 2
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpesan agar kita merebut lima kesempatan sebelum datang lima kesempitan. Pesan ini menjadi pengingat bahwa waktu luang dan kesehatan tidak akan menunggu sampai kita siap memanfaatkannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” 3
Pertama: Berlindung dari Virus Malas
Kunci manajemen waktu yang pertama adalah memerangi kemalasan sejak akarnya, yaitu dengan doa yang konsisten. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang berkhidmat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sembilan tahun, sering mendengar beliau memperbanyak doa ini:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah, kemalasan, penakut, dan masa tua yang jelek. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian, serta aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur.” 4
Selain berdoa, kita perlu menyadari besarnya risiko malas dan menganggur. Imam Muhammad bin Abu Bakr ad-Dimasyqi rahimahullah berkata,
الْكُسَالَى أَكْثَرُ النَّاسِ هَمًّا وَغَمًّا وَحَزَنًا، لَيْسَ لَهُمْ فَرَحٌ وَلَا سُرُورٌ، بِخِلَافِ أَرْبَابِ النَّشَاطِ وَالْجِدِّ فِي الْعَمَلِ
“Orang-orang yang malas adalah orang yang paling sering tertimpa kesedihan, kegundahan, dan duka. Mereka tidak dapat merasakan kebahagiaan dan kesenangan. Berbeda halnya dengan orang-orang yang semangat dan serius dalam berbuat.” 5
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menegaskan,
الْكَسَلُ هُوَ أَصْلُ الْخَيْبَةِ وَالْفَشْلِ، فَالْكَسْلَانُ لَا يُدْرِكُ خَيْرًا، وَلَا يَنَالُ مَكْرَمَةً، وَلَا يَحْظَى بِدِينٍ وَلَا دُنْيَا
“Sifat malas adalah akar dari kegagalan dan ketidakberhasilan. Si pemalas tidak akan mendapatkan kebaikan, tidak pula memperoleh kehormatan, serta tidak akan meraih kemuliaan dunia dan agama.” 6
Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bersemangat dalam meraih hal-hal yang bermanfaat, baik yang sifatnya duniawi maupun ukhrawi. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.” 7
Namun, jangan terlalu memaksa diri di awal. Mulailah dari langkah kecil, namun konsisten dan istiqamah, karena amalan kecil yang dikerjakan terus-menerus termasuk amalan yang paling Allah cintai. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus dikerjakan, meskipun sedikit.” 8
Imam Muhammad bin Abu Bakr ad-Dimasyqi rahimahullah berkata,
وَعَلَى قَدْرِ نِيَّةِ الْعَبْدِ وَهِمَّتِهِ وَمُرَادِهِ وَرَغْبَتِهِ فِي ذَلِكَ، يَكُونُ تَوْفِيقُهُ سُبْحَانَهُ وَإِعَانَتُهُ
“Sesuai dengan niat hamba, tekad, dan keinginannya terhadap sesuatu, demikianlah taufik dan pertolongan Allah untuknya.” 9
Karena itu, jangan terburu-buru! Mulailah dari hal-hal yang paling mudah bagimu, lalu tingkatkan perlahan dan seterusnya.
Kedua: Susun Jadwal dan Target Harian
Kunci manajemen waktu kedua adalah memulai hari dengan jadwal dan target yang jelas serta niat yang ikhlas. Produktivitas tidak lahir dari semangat sesaat, melainkan dari hari yang tertata. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan pola berpindah dari satu urusan ke urusan berikutnya. Allah Ta’ala berfirman,
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ﴿٧﴾ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ ﴿٨﴾
“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (Asy-Syarh: 7-8)
As-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya,
إِذَا تَفَرَّغْتَ مِنْ أَشْغَالِكَ، وَلَمْ يَبْقَ فِي قَلْبِكَ مَا يُعَوِّقُهُ، فَاجْتَهِدْ فِي الْعِبَادَةِ وَالدُّعَاءِ
“Apabila seseorang telah luang dari kesibukannya, hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam beribadah dan berdoa.”
Beliau juga mengatakan,
وَلَا تَكُنْ مِمَّنْ إِذَا فَرَغُوا وَتَفَرَّغُوا لَعِبُوا وَأَعْرَضُوا عَنْ رَبِّهِمْ وَعَنْ ذِكْرِهِ، فَتَكُونَ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Janganlah engkau termasuk orang-orang yang apabila telah selesai dan memiliki waktu luang, mereka justru bermain-main dan berpaling dari Rabb mereka serta dari mengingat-Nya. Jika demikian, engkau akan termasuk orang-orang yang merugi.” 10
Jadikan waktu pagi sebagai awal aktivitasmu, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan keberkahan pada waktu tersebut. Beliau bersabda,
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
“Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya.”
Sahabat Shakhr al-Ghamidi radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memberangkatkan pasukan di awal hari, Shakhr yang seorang pedagang pun mengirim dagangannya di awal hari, hingga hartanya menjadi banyak dan berlimpah. 11
Adapun aktivitas tanpa tujuan yang menghabiskan waktu, atau yang populer disebut gabut, bertentangan dengan sifat orang-orang beriman yang dipuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya,
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.” (Al-Mu’minun: 3)
Ketiga: Pilih Teman yang Shalih
Lingkungan pergaulan sangat menentukan semangat seseorang dalam beramal. Tabi’in yang mulia, Imam Qatadah bin Di’amah rahimahullah berkata,
إِنَّا وَاللَّهِ مَا رَأَيْنَا الرَّجُلَ يُصَاحِبُ مِنَ النَّاسِ إِلَّا مِثْلَهُ وَشَكْلَهُ، فَصَاحِبُوا الصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِ اللهِ لَعَلَّكُمْ أَنْ تَكُونُوا مَعَهُمْ أَوْ مِثْلَهُمْ
“Demi Allah, kami tidak pernah melihat seseorang bersahabat kecuali dengan orang yang serupa dan memiliki kesamaan karakter dengannya. Maka berkawanlah dengan orang-orang shalih dari hamba-hamba Allah, semoga kamu tergolong bersama mereka atau menjadi seperti mereka.” 12
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan pengaruh besar seorang sahabat,
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu berada di atas agama (kebiasaan) sahabat karibnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan dengan siapa ia bersahabat.” 13
Para ulama menjelaskan bahwa tabiat manusia itu saling meniru. Persahabatan sangat berpengaruh dalam memperbaiki atau merusak keadaan seseorang. Karena itu, siapa yang ingin semangatnya terjaga hendaklah ia memperhatikan lingkungan pergaulannya dengan sungguh-sungguh.
Imam al-Mubarakfuri rahimahullah mengatakan,
فَإِنَّ الطِّبَاعَ سَرَّاقَةٌ وَالصُّحْبَةُ مُؤَثِّرَةٌ فِي إِصْلَاحِ الْحَالِ وَإِفْسَادِهِ
“Karena sesungguhnya tabiat itu pencuri (meniru tanpa disadari), dan persahabatan itu berpengaruh dalam memperbaiki keadaan maupun merusaknya.” 14
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membuat perumpamaan yang indah tentang dua macam teman,
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Perumpamaan teman duduk yang shalih dan teman duduk yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi bisa jadi memberimu, atau engkau membeli darinya, atau minimal engkau mendapatkan aroma yang harum darinya. Sedangkan peniup api pandai besi bisa jadi membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang busuk darinya.” 15
Allah Subhanahu wa Ta’ala pun memerintahkan kita untuk membersamai orang-orang yang jujur imannya. Inilah kunci manajemen waktu yang sering diremehkan, padahal pengaruhnya menentukan istiqamah seseorang. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah: 119)
Penutup
Tiga kunci pertama ini, yaitu berlindung dari malas, menyusun jadwal, dan memilih teman yang shalih, adalah fondasi sebelum melangkah lebih jauh. Jika ketiganya sudah mulai dijaga, langkah berikutnya akan terasa lebih ringan.
Pada bagian kedua, kita akan melanjutkan tiga kunci berikutnya: membenahi shalat terlebih dahulu, membaca sirah dan kisah orang-orang shalih ketika semangat kendur, dan menjaga kesehatan tubuh. Pilihlah satu kunci yang paling ringan dari bagian pertama ini, kerjakan hari ini juga, dan lanjutkan ke bagian kedua dengan hati yang lebih siap. Semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam bish-shawab. (RGA/ASP/ATH)
Penulis: Rasyid Ghani
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim
- Shahih al-Bukhari, karya Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim al-Bukhari (194-256 H) rahimahullah.
- Shahih Muslim, karya Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi (204-261 H) rahimahullah.
- Sunan Abi Dawud, karya Sulaiman bin al-Asy’ats bin Syaddad al-Azdi as-Sijistani (202-275 H) rahimahullah.
- Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, karya Muhammad bin ‘Abdullah bin Hamdawaih an-Naisaburi (Imam Al-Hakim) (321-405 H) rahimahullah.
- Al-Fawaid, karya Muhammad bin Abi Bakr ad-Dimasyqi (691-751 H) rahimahullah.
- Al-Ibanah al-Kubra, karya ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah al-‘Ukbari (304-387 H) rahimahullah.
- Bahjatul Qulub al-Abrar wa Qurratu ‘Uyun al-Akhyar fi Syarh Jawami’ al-Akhbar, karya ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (1307-1376 H) rahimahullah.
- Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin, karya Muhammad bin Abi Bakr ad-Dimasyqi (691-751 H) rahimahullah.
- Tafsir al-Imam asy-Syafi’i, karya Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (150-204 H) rahimahullah.
- Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, karya ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (1307-1376 H) rahimahullah.
- Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami’ at-Tirmidzi, karya Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdirrahim al-Mubarakfuri (1283-1353 H) rahimahullah.
Footnotes
- Tafsirul Imam asy-Syafi’i 3/1461
- HR. Al-Bukhari no. 6412, dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma
- HR. al-Hakim no. 7846, dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas, beliau berkata: shahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 1077
- HR. Al-Bukhari no. 2823, dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Juga diriwayatkan Muslim no. 2706
- Lihat Raudhatul Muhibbin hal. 168
- Bahjatul Qulub al-Abrar hlm. 34
- HR. Muslim no. 2664, dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
- HR. Al-Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 782, dari Sahabat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha
- Lihat Al-Fawaid hlm. 97
- Taisir al-Karim ar-Rahman, tafsir surah asy-Syarh ayat 7-8
- HR. Abu Dawud no. 2606, dari Sahabat Shakhr al-Ghamidi radhiyallahu ‘anhu. Juga diriwayatkan at-Tirmidzi no. 1212 dan Ibnu Majah no. 2236; dishahihkan oleh Imam al-Albani rahimahullah. Lihat juga penjelasan maknanya pada Tuhfatul Ahwadzi (4/338). Adapun lafazh haditsnya sebagai berikut,
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ، نَا هُشَيْمٌ، نَا يَعْلَى بْنُ عَطَاءٍ ، نَا عُمَارَةُ بْنُ حَدِيدٍ ، عَنْ صَخْرٍ الْغَامِدِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا وَكَانَ إِذَا بَعَثَ سَرِيَّةً أَوْ جَيْشًا بَعَثَهُمْ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ، وَكَانَ صَخْرٌ رَجُلًا تَاجِرًا، وَكَانَ يَبْعَثُ تِجَارَتَهُ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ فَأَثْرَى وَكَثُرَ مَالُهُ» قَالَ أَبُو دَاوُدَ : وَهُوَ صَخْرُ بْنُ وَدَاعَةَ
- Al-Ibanah al-Kubra 2/479
- HR. Abu Dawud no. 4833, dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
- Lihat Tuhfatul Ahwadzi 7/42
- HR. Al-Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628, dari Sahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu







Komentar