Setiap manusia membutuhkan panutan dalam menjalani kehidupan. Dalam Islam, panutan tersebut adalah para ulama rahimahumullah yang meniti metode Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar berdasarkan Al-Qur’an dan hadits-hadits beliau.
Dengan mengetahui keutamaan meneladani para ulama rahimahumullah, akan menumbuhkan semangat mengikuti bimbingan mereka. Karena itu, mari kita simak beberapa keutamaan penting yang disebutkan para ulama tentangnya.
Keutamaan Mengikuti Para Ulama dalam Menjalani Kehidupan
Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahim al-Bukhari hafizhahullah dalam risalahnya (Maa Hiya as-Salafiyyah) pada pembahasan “Keutamaan mengikuti para pendahulu kita dan metode mereka” menyatakan “Barangsiapa yang senantiasa berada pada metode pendahulu kita dengan benar dan jujur, niscaya akan memperoleh seluruh kebaikan dan ganjaran yang sangat besar, karena ia telah mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Di antara keutamaannya adalah:
1. Mendapatkan Kecintaan dan Keridhaan Allah Ta’ala
Allah Ta’ala akan mencintai serta meridhai hamba yang menekuni ajaran Islam. Di antara ajaran Islam tersebut adalah konsisten mengikuti para panutan kita rahimahumullah. Kita semua berharap mendapatkan kecintaan dan keridhaan-Nya, maka raihlah dengan mengikuti para ulama rahimahumullah.
2. Meraih Keselamatan dari Penyimpangan
Dengan mengikuti para ulama, seseorang akan memperoleh petunjuk dan keselamatan dari kesesatan serta penyimpangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hal ini dalam sabdanya pada momen Haji Wada’ (perpisahan):
((تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابُ اللَّهِ))
“Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian sesuatu yang kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh dengannya, yaitu Kitabullah (al-Qur’an).” 1
Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahim al-Bukhari hafizhahullah kemudian menjelaskan bahwa “maksud yang terdapat dalam al-Qur’an adalah perintah mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pendahulu yang shalih yaitu para shahabat kemudian para ulama.”
Pada akhir bab “Hukum mengikuti dan menyandarkan kepada metode para pendahulu kita”, Beliau juga menyebutkan penjelasan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya I’lam al-Muwaqqi’in tentang kewajiban mengikuti para shahabat dalam ucapan, perbuatan, dan keyakinan mereka. Kami akan menyebutkan satu dalil. Yaitu:
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ١٥ ﴾
“Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [ Luqman: 15]
Sisi pendalilannya adalah:
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah -Ini merupakan pemahamannya yang teliti, tidak akan didapat kecuali orang-orang yang sabar- beliau mengambil sisi pendalilan ayat di atas: “Seluruh sahabat kembali kepada Allah Ta’ala, sehingga wajib mengikuti jalan, ucapan, perbuatan, keyakinan mereka yang merupakan bagian besar jalan mereka.
Dalil bahwa mereka kembali kepada Allah Ta’ala adalah Dia telah memberi hidayah kepada mereka yakni kepada Islam, Allah Ta’ala berfirman,
﴿ وَيَهْدِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُۗ ١٣ ﴾
”Dialah (Allah) yang akan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya siapa saja yang kembali (kepada-Nya).” [Asy Syura: 13].”
3. Terjaga dari Perselisihan dan Perpecahan
Cara agar aman dari perselisihan dan perpecahan yang tercela adalah dengan mengikuti para ulama. Wahyu Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bersatu di atas kebenaran. Allah Ta’ala berfirman,
﴿ وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ﴾
“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.”[ Ali-‘Imran: 103]
Dan Allah Ta’ala berfirman:
﴿ وَلَا تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ ، مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا ﴾
“Dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan menjadi beberapa golongan.”[Ar-Rum: 31-32]
Dalam hadits dari sahabat ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
((فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا))
“Maka barangsiapa yang hidup sepeninggalku nanti, niscaya dia akan melihat banyak perselisihan.”2
Kemudian para sahabat bertanya bagaimana cara selamat dari hal tersebut. Beliau pun menjawab mereka:
((فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ……))
“Maka wajib bagi kalian berpegang teguh kepada ajaranku dan ajaran Khulafa ar-Rasyidin (empat pemimpin sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang terbimbing,” 3
Imam al-Baghawi rahimahullah dalam kitabnya Syarhus Sunnah (1/206) menjelaskan bahwa, “Hadits ini mengandung isyarat bahwa akan munculnya berbagai bid’ah dan hawa nafsu. Maka diperintahkan mengikuti ajaran Nabi dan al-Khulafa’ ar-Rasyidin, berpegang teguh dengannya dengan sungguh-sungguh, serta menjauhi segala sesuatu yang menyelisihinya.”
Baca Juga: Siapakah Ulama? Pentingnya Mengenal Sosok Pembimbing Umat
4. Terpisah dari Jalan-Jalan Syaithan
Mengikuti para ulama dapat menjauhkan seseorang dari jalan-jalan syaithan. Imam Muhammad bin Nashr al-Marwaziy rahimahullah dalam kitabnya As-Sunnah menukil firman Allah Ta’ala,
﴿ وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ ۚوَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ ﴾
”Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu.” [Al-An’am: 153]
Allah mengabarkan kepada kita bahwa hanya ada satu jalan yang benar-benar lurus. Adapun jalan-jalan lain yang jumlahnya banyak, siapa pun yang mengikutinya akan terhalang dari jalan yang lurus tersebut.
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada kita dengan sunnahnya. Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu beliau berkata:” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuatkan garis untuk kami, kemudian bersabda:
((هَذَا سَبِيلُ اللهِ ))
“Ini adalah jalan Allah.”
Lalu beliau membuat beberapa garis di sebelah kanan dan kiri garis lurus tersebut, kemudian beliau bersabda:
((َهَذِهِ سُبُلٌ – قَالَ يَزِيدُ: مُتَفَرِّقَةٌ – عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ))
“Inilah jalan-jalan, -Yazid berkata: “cabang”- pada setiap jalan itu ada syaithan yang mengajak kepada jalan tersebut.”
Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala:
﴿ وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ ۚوَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ١٥٣ ﴾
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu.”[Al-An’am: 153].”4
Setelah menyebutkan beberapa jalur periwayatan hadits, beliau berkata: “Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari perkara-perkara baru dalam syariat dan dari hawa nafsu yang dapat menghalangi kita untuk mengikuti jalan Allah dan ajaran Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Hadits ini menunjukkan bahwa siapa saja yang mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan aman dari terjerumus ke dalam jalan-jalan syaithan dan berbagai bentuk kesesatan. Sebaliknya, siapa yang menyimpang dari jalan orang-orang beriman akan mudah jatuh ke dalam perangkap syaithan. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari hal tersebut.”Aamiin. 5
Penutup
Demikianlah paparan singkat tentang pentingnya meneladani para ulama. Mereka adalah pewaris ilmu para nabi, penjaga agama ini, dan sumber bimbingan yang aman bagi setiap muslim.
Semoga penjelasan ini dapat menambah kepedulian kita dalam mengambil teladan yang benar, serta semoga Allah Ta’ala mengumpulkan kita bersama para ulama dan orang-orang beriman di surga-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin. (MSH/ASP/AAA)
Penulis: Muhammad Syarif
Referensi:
- (Maa hiya as-Salafiyyah) karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahim al-Bukhari rahimahullah.
- Al-Qur’an al-Karim.
- Musnad Imam Ahmad rahimahullah.
- Shahih Muslim rahimahullah.
Footnotes
- HR. Muslim: 1218
- HR, Ahmad: 17145.
- Kelengkapan haditsnya lihat Musnad Imam Ahmad rahimahullah:
حَدَّثَنَا الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ، عَنْ ثَوْرٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلَمِيِّ، عَنْ عِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ، قَالَ: صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَجْرَ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا، فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً، ذَرَفَتْ لَهَا الْأَعْيُنُ (1) ، وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، قُلْنَا أَوْ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا. قَالَ: ” أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى بَعْدِي اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ “
- HR, Ahmad: 4142.
- Lihatlah pada risalah (Maa hiya as-Salafiyyah) karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahim al-Buhkari rahimahullah hal: 42-45:
قال الشيخ عبد الله البخاري –رحمه الله -:” النقطة الخامسة: فضل اتباع السلف والسلفية
من التلزم السلفية الحقة, –أي:منهج السلف بحق وصدق؛ لأنه لزم هدي رسول الله –صلى الله عليه وسلم– ,ومن تلك الفضائل والمناقب:
1. أن الملتزم بها متبع للأمر الألهي, وهذا مما يحبه الله ويرضاه :
إذ العبادة: اسم جامع اكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأفعال الظاهرة والباطنة.
وبناء عليه: فمن التزم تلك الأوامر التي مرت معنا في وجوب اتباع السلف الصالح؛ فهو متبع لأمر الله, ومن اتبع أمر الله؛ أحبه الله؛ لأنه لزم شريعته.
2. أن الملتزم بها محصل للهدايه والسلامة من الضلال والزيغ:
وهذا أمر بين أيضا, دل عليه حديث جابر –رضي الله عنه– عند مسلم في ((الصحيح)), قوله –صلى الله عليه وسلم– في حجة الودع: ((تركت فيكم ما لن تضلوا إن اعتصموا به كتاب الله))
أقول: وماذا في كتاب الله؟
الأمر باتباع رسول الله –صلى الله عليه وسلم– , والسلف الصالح, كما مرت معنا الأدلة على ذلك.
ومن ذلك قول الله : ﴿ لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١ ﴾ ( الاحزاب/33: 21)
قال الإمام ابن كثير عند هذه اللآية: ((هذه اللآية أصل كبير في التأسي برسول الله –صلى الله علىه وسلم– في أقواله وأفعاله وأحواله؛ ولهذا أمر الله سبحانه الناس بالتأسي بالنبي – صلى الله علىه وسلم– يوم الأحزاب في صبره ومصابرته ومرابطته, ومجاهدته وانتظار الفرج من ربه)).ا ه
3. أن الملتزم بها: معصوم وآمن من الوقوع في الإختلاف المذموم والفرقة المذمومة:
لأن نصوص الوحيين –أيها الأحبة– تأمر وتحث على الإجتماع والإئلاف على الحق وبالحق وللحق, قال –سبحانه وتعالى-: ﴿ وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ ﴾ ( اٰل عمران/3: 103)
ويقول –جل وعلى-: ﴿ \وَلَا تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ ٣١ مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا ۗ ﴾ ( الرّوم/30: 31-32)
وجاء في حديث العرباض –رضي الله عنه– الذي مر معنا قوله –صلى الله عليه وسلم– ((فإنه من يعش منكم بعدي, فسيرى اختلافا كثيرا)) كأنهم قالوا له: كيف العصمة يا رسول الله, وكيف النجاة؟ أجابهم: ((فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين…)). الحديث –سيرد بعض منها–بإذن الله– عند الكلام عن (سمات ومعالم هذه الدعوة المباركة)-.
قال الإمام البغوي –رحمه الله– في ((شرح السنة)) معلقا على حديث العرباض –رضي الله عنه– : ((فيه إشارة إلى ظهور البدع والأهواء, والله أعلم؛ فأمر بلزوم سنته, وسنة الخلفاء الراشدين, والتمسك بها بأبلغ وجوه الجد, ومجانبة ما أحدث على خالفها)).
4. الفكاك من سبل الشيطان:
قال الإمام محمد بن نصر المروزي –رحمه الله– في كتاب ((السنة)) : ((قال الله –عز وجل: ﴿ وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ ۚوَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ ﴾ ( الانعام/6: 153), فأخبرنا الله –عز وجل– أن طريقه واحد مستقيم, وأن السبل كثير, تصد من اتبعها عن طريقه المستقيم, ثم بين لنا النبي –صلى الله عليه وسلم– ذلك بسنته…..-ثم أسند حديث عبد الله بن مسعود –رضي الله عنه– وهو عند الإمام أحمد –رحمه الله– وغيره, وهو صحيح-: خط لنا رسول الله –صلى الله عليه وسلم– فقال: ((هذا سبيل الله, ثم خط خطوطا عن شماله وعن يمينه, ثم قال: هذه سبل, على كل سبيل منها شيطان يدعو إليه, ثم قرأ: ﴿ وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ ۚوَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗ﴾ ( الانعام/6: 153)- ثم ذكر بعض طرق الحديث ثم قال-: فحذرنا الله ثم رسول الله رسوله –صلى الله عليه وسلم– المحدثات والأهواء الصادة عن اتباع أمر الله, وسنة نبيه –صلى الله عليه وسلم-)).
فهذا الحديث ظاهر في أن من التزم بمنهج النبوة؛ أمن من الوقوع في شراك سبل الشيطان وطرق غوايته, ومن حاد عن سبيل المؤمنون؛ وقع في حبائل الشيطان –والعياذ بالله-. أه
Berkata Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahim al-Bukhari rahimahullah pada bab yang lain yaitu ((Hukum mengikuti dan menisbahkan diri kepada as-Salafiyyah?)):
وقد عقد الإمام ابن القيم –رحمه الله– فصلا نافعا في كتابه الفذ: ((إعلام الموقعين)) عن وجوب اتباع الصحابة من السلف، ونذكر طرفا من الأدلة، فمن ذلك:
1. قول الله تعالى: ﴿ وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ١٥ ﴾ ( لقمٰن/31: 15) وجه الإستدلال: قال الإمام ابن القيم –وهذا من الفقه الدقيق، وما يلقاه إلا اللذين صبروا–، قال: ((كل الصحابة منيب إلى الله تعالى؛ فيجب اتباع سبيله، وأقواله وأفعاله واعتقاداته من أكبر سبيله.
والدليل على أنهم منيبون أن الله تعالى قد هداهم، يعني: هداهم للإسلام، وقد قال: ﴿ وَيَهْدِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُۗ ١٣ ﴾ ( الشورى/42: 13)











Komentar