oleh

Inilah Jenis Puasa Yang Makruh Bahkan Haram Untuk Dikerjakan!

-Fikih-4,831 views

Puasa merupakan ibadah yang telah Allah Ta’ala syariatkan. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya telah menjelaskan dan mempraktekkan berbagai macam puasa. Baik puasa yang hukumnya wajib maupun sunnah. Begitu pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan jenis puasa yang makruh bahkan haram untuk dilakukan. Tentunya dengan alasan dan hikmah yang besar. Berikut di antara jenis puasa yang makruh bahkan haram untuk dikerjakan:

Mengkhususkan Puasa Pada Bulan Rajab

Hukum mengkhususkan puasa pada bulan rajab adalah makruh. Karena pengkhususan tersebut merupakan simbol umat jahiliah. Dahulu kaum jahiliah mengagungkan bulan ini dengan cara mengkhususkannya untuk berpuasa. Adapun jika seseorang berpuasa pada bulan ini dan bulan-bulan yang lainnya (tidak mengkhususkan bulan rajab) maka hukumnya tidak makruh.

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Harasah bin al-Hurri rahimahullah beliau berkata:”Aku melihat Umar bin Khattab memukul telapak tangan orang yang mengkhususkan bulan rajab untuk berpuasa, sampai beliau meletakkan tangan mereka pada makanan. Beliau berkata: “Makanlah, hanyalah bulan rajab itu diagungkan (mengkhususkannya untuk puasa) oleh umat jahiliah terdahulu.”1

Mengkhususkan Puasa pada Hari Jum’at

Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الجُمُعَةِ، إِلَّا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ

“Janganlah salah seorang dari kalian berpuasa pada hari jum’at kecuali, apabila diiringi dengan puasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.”2

Dengan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, sebagian para ulama menyebutkan hukum mengkhususkan puasa pada hari jum’at adalah makruh. Adapun bila seseorang puasa pada hari jum’at disertai hari-hari yang lainnya (sehari sebelumnya atau sesudahnya) maka hukumnya boleh.

Mengkhususkan Puasa pada Hari Sabtu

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ إِلَّا فِيمَا افْتُرِضَ عَلَيْكُمْ

“Janganlah kalian berpuasa pada hari sabtu, kecuali puasa yang diwajibkan atas kalian.”

Yang dilarang pada hadits di atas apabila mengkhususkan hari sabtu untuk berpuasa tanpa hari-hari yang lainnya. Namun apabila puasa hari sabtu digabung dengan hari lainnya (sehari sebelumnya atau sesudahnya) maka boleh. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ummul Mukminin Juwairiah radhiyallahu’anha. Ketika Rasulullah menemui beliau pada hari jum’at dalam keadaan Ummul Mukminin Juwairiah sedang berpuasa,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya: Apakah engkau berpuasa kemarin?

Beliau menjawab: Tidak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi: Apakah kamu akan berpuasa besok?

Beliau menjawab: Tidak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Kalau begitu, berbukalah.3

Pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Kalian ingin berpuasa besok” menunjukkan bolehnya untuk berpuasa pada hari sabtu dengan syarat harus bersama hari yang lainnya.

Al-Imam at-Tirmdzi rahimahullah berkata:

“Makna larangan pada hadits ini ialah, jangan seorang mengkhususkan hari sabtu untuk berpuasa (tanpa diiringi puasa sehari sebelumnya atau sesudahnya), karena kaum Yahudi mengagungkan hari sabtu.”4

Puasa Pada Hari yang Diragukan

Maksud dari hari yang diragukan di sini adalah hari yang diragukan apakah hari itu adalah tanggal 30 sya’ban atau sudah masuk tanggal 1 ramadhan. Puasa dalam kondisi seperti ini (ragu), hukumnya haram. Tidak boleh seseorang berpuasa pada hari yang diragukan ini. Walaupun dia meniatkan 2 hari itu tanggal 30 sya’ban, dia berpuasa sunnah dan jika hari itu masuk 1 ramadhan dia berpuasa wajib ramadhan. Dalilnya sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa yang puasa pada hari yang diragukan maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qasim (Rasulullahullah) shallallahu ‘alaihi wa sallam .”5

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ، فَلْيَصُمْ ذَلِكَ اليَوْمَ

“Janganlah seorang dari kalian mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali apabila seorang yang biasa berpuasa (pada hari tersebut), maka dia boleh berpuasa pada hari tersebut.”6

Makna hadits ini ialah jangan seseorang mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu hari yang dia anggap sebagai bagian dari Ramadhan dalam rangka berhati-hati. Sebab, puasa Ramadhan berkaitan dengan melihat hilal sehingga seorang muslim tidak perlu memberatkan diri. Adapun orang yang biasa melakukan puasa sunnah lalu puasanya ini bertepatan dengan satu atau dua hari sebelum Ramadhan, maka ia boleh berpuasa, karena puasanya ini bukan dalam rangka menyambut Ramadhan.

Diperkecualikan juga dari larangan tersebut apabila seseorang puasa qadha dan nazhar karena hukumnya wajib.

Puasa Pada Dua Hari Raya

Puasa pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha hukumnya haram. Dalilnya adalah hadits Abu Sa’id al-Khudri radhyiallahu’anhu, beliau berkata:

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الفِطْرِ وَالنَّحْرِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk berpuasa pada hari Idul fitri dan Idul adha.”7

Disebutkan dalam hadits Umar bin al-Khattab radhiyallahu’anhu, beliau berkata:

هَذَانِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِهِمَا: يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ، وَاليَوْمُ الآخَرُ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ

“Ini adalah dua hari yang Rasulullahullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa padanya: hari kalian berbuka dari puasa dan hari kalian memakan kurban.”8

Puasa Pada Hari Tasyriq

Dimakruhkan puasa pada hari tasyriq yaitu setelah Idul Adha tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah. Bahkan Sebagian ulama sampai mengharamkannya. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وفي رواية زَادَ فِيهِ «وَذِكْرٍ لِلَّهِ»

“Hari-hari tasyriq adalah hari-hari untuk makan dan minum, pada riwayat yang lain dengan tambahan “berdzikir kepada Allah Ta’ala”.”9

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

يَوْمُ عَرَفَةَ، وَيَوْمُ النَّحْرِ، وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari arafah, hari penyembelihan kurban dan hari tasyriq adalah hari raya kita, bagi umat Islam. Hari-hari itu merupakan hari untuk makan dan minum.”1011

Namun diberi kelonggaran untuk puasa pada hari tasyriq bagi orang yang menjalankan haji tamattu’ dan orang yang menjalankan haji qiran apabila keduanya tidak mampu membeli hadyu (hewan atau binatang qur’ban). Dengan dasar hadits Aisyah dan Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, keduanya berkata:

لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ، إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدِ الهَدْيَ

“Tidak ada kelonggaran untuk berpuasa pada hari tasyriq, kecuali bagi seorang yang tidak mendapati hadyu.”12

Penutup

Demikianlah pembahasan kita kali ini, semoga dengan kita mengetahui jenis puasa yang makruh bahkan haram ini, kita bisa menjauhinya.

Penulis: Lekat Hidayat

LHL/HMZ

Referensi:

  • Al-Fiqhul Muyassar Fii Dhouil Kitabi was Sunnah

1 Lihat al-Fiqhul Muyassar (1/164)

روى أحمد بن خرشة بن الحر قال: رأيت عمر بن الخطاب يضرب أكف المترجِّبين، حتى يضعوها في الطعام، ويقول: (كلوا، فإنما هو شهر كانت تعظمه الجاهلية)

2 HR. al-Bukhari no. 1985 dan Muslim no. 1144 di dalam shahih keduanya, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

3 HR. al-Bukhari no. 1986 di dalam shahihnya, dari sahabiyah Juwairiyah binti al-Harits radhiyallahu’anhuma

عَنْ جُوَيْرِيَةَ بِنْتِ الحَارِثِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، دَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمَ الجُمُعَةِ وَهِيَ صَائِمَةٌ، فَقَالَ: «أَصُمْتِ أَمْسِ؟»، قَالَتْ: لاَ، قَالَ: «تُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِي غَدًا؟» قَالَتْ: لاَ، قَالَ: «فَأَفْطِرِي»

4 Lihat al-Fiqhul Muyassar (1/165)

قال الإمام الترمذي –رحمه الله– عقب إخراجه حديث النهي الماضي: (ومعنى الكراهية فى هذا: أن يختص الرجل يوم السبت بصيام؛ لأن اليهود يعظِّمون يوم السبت)

5 HR. An-Nasa’i no. 2188 di dalam sunannya dan selainnya, dari sahababat Ammar bin Yasir radhiyallahu’anhu. Shahih shahih, lihat at-Tirmidzi no. 553.

6 HR. Al-Bukhari no. 1914 di dalam shahihnya dan selainnya, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

7 HR. Al-Bukhari no. 1991 di dalam shahihnya, dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu.

8 HR. al-Bukhari no. 1990 di dalam shahihnya, dari sahabat Umar bin al-Khattab radhiyallahu’anhu.

9 HR. Muslim no. 1141 di dalam shahihnya, dari sahabat Nubaisyah al-Huzali radhiyallahu’anhu.

10 HR. Abu Dawud no. 2419 di dalam sunannya, dari sahabat Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu, shahih. Lihat Shahih Abi Dawud no. 2090 dan al-Irwa’ (4/130)

11 Bagi seorang yang tidak menjalankan ibadah haji maka disunnahkan untuk puasa arafah.

12 HR. al-Bukhari no. 1997 di dalam shahihnya, dari sahabat Aisyah dan Ibnu Umar radhyiallahu’anhuma.

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *