oleh

Hukum Wanita yang Berihram Dalam Kondisi Haid

-Fatwa-1,317 views

Ibadah haji merupakan ibadah agung yang terkumpul padanya banyak amalan besar seperti menyembelih, puasa, zikir, doa dan lainnya. Salah satu rukun Islam ini dalam pelaksanaannya membutuhkan pengorbanan  yang tidak kecil baik  harta, tenaga, waktu, dan kebersamaan dengan keluarga. Ibadah haji juga memiliki waktu dan tata cara  khusus, berbeda dengan banyak ibadah lainnya.

Allah berfirman,

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Hanya kepada Allah kewajiban berhaji bagi manusia di baitullah (Ka’bah)bagi siapa yang sanggup menuju kesana

Dalam ayat ini Allah mengaitkan kewajiban berhaji dengan kemampuan hamba menunjukkan bahwa ibadah haji membutuhkan pengorbanan harta maupun badan.

Oleh karena itu, ibadah haji memerlukan persiapan baik fisik, materi dan ilmu yang cukup agar pelaksanaannya lebih ringan dan sempurna sesuai tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Di antara persiapan ilmu yang penting adalah bekal ilmu tentang haji itu sendiri, baik terkait manasik haji, adab selama perjalanan menuju tanah suci, maupun berbagai hal lain yang berkaitan dengannya. 

Bolehkah Wanita Haid Berihram?

Terkait hal ini maka seorang yang berhaji hendaklah berusaha memahami berbagai persoalan dan masalah kontemporer terkait ibadah haji dengan menelaah  fatwa para ulama. Di antaranya adalah fatwa berikut yang dinukil dari Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb karya Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah (2/12).

Penanya:
“Semoga Allah memberkahimu. Ini adalah salah satu pertanyaan yang diajukan oleh seorang wanita. Dia menyampaikan dalam pertanyaannya: ‘Apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang wanita apabila dia mengalami haid sebelum ihram atau sesudahnya ketika sedang melakukan manasik? Kami mohon penjelasannya.’”

Syaikh menjawab:
“Apabila seorang wanita mengalami haid sebelum ihram, maka dia tetap memulai ihramnya apabila telah sampai di miqat meskipun dalam keadaan haid. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan Asma’ binti ‘Umais ketika beliau mengalami nifas di miqat agar mandi, memakai pembalut pada kainnya, lalu berihram. Ini merupakan dalil bahwa wanita nifas tidak terhalangi untuk berihram, demikian pula wanita yang sedang haid.”

Adapun wanita yang mengalami haid setelah ihram, maka dalam masalah ini terdapat rincian lebih lanjut.

Jika hal itu terjadi dalam ibadah umrah, maka:

  1. Apabila dia haid sebelum memulai thawaf, maka dia harus menunggu hingga suci, kemudian setelah itu baru melakukan thawaf dan sa’i.
  2. Jika dia haid setelah melakukan thawaf, maka dia tetap melanjutkan sa’inya dan mencukur atau memendekkan rambutnya (tahallul). Dengan demikian, umrahnya telah sempurna.

Adapun jika haid terjadi dalam ibadah haji, maka:

  1. Jika dia haid setelah ihram untuk haji dan hal itu terjadi setelah thawaf ifadhah, maka hajinya telah sempurna sehingga dia tidak perlu melakukan apapun lagi. Contohnya, seseorang yang haid pada hari nahr (10 Zulhijjah) setelah melakukan thawaf ifadhah, maka hajinya telah sempurna. Dia tetap bermalam di Mina (mabit) dan melempar tiga jumrah meskipun dalam keadaan haid. Apabila dia ingin pulang sementara masih haid, maka tidak mengapa keluar tanpa melakukan thawaf wada’.
  2. Adapun jika dia haid sebelum melaksanakan thawaf ifadhah, seperti wanita yang haid ketika berada di Arafah, maka dia tetap berada dalam keadaan ihramnya. Dia tetap wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, serta melempar jumrah. Akan tetapi, dia tidak diperbolehkan melakukan thawaf di Ka’bah sampai suci dari haidnya.

Dalil bahwa wanita haid tidak diperbolehkan melakukan thawaf adalah kisah Shafiyyah binti Huyay radhiyallahu ‘anha ketika beliau mengalami haid. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah dia akan menahan kita?” Para sahabat menjawab, “Sungguh dia telah melakukan thawaf ifadhah.” Ini menunjukkan bahwa wanita haid tidak boleh melakukan thawaf. Sebab, jika thawaf dibolehkan bagi wanita haid, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan melarangnya.

Demikian pula dalam hadits Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha ketika beliau mengalami haid yang cukup berat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemuinya sementara beliau sedang menangis. Maka Nabi bertanya:

“Apa yang membuatmu menangis? Apakah engkau sedang haid?”

Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab, “Iya.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Itu adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan bagi para wanita keturunan Adam.”

Setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk tetap berihram haji dan mengerjakan seluruh amalan yang dilakukan oleh jamaah haji lainnya, hanya saja beliau tidak melakukan thawaf di Ka’bah sampai suci.

Adapun sa’i antara Shafa dan Marwah juga ditinggalkan pada saat itu karena sa’i merupakan amalan yang dilakukan setelah thawaf. Meskipun demikian, pada asalnya sa’i itu sendiri tidak terlarang bagi wanita haid.1


Baca Juga: Ringkasan Fikih Haji dan Umrah Bag. 1


Kesimpulan

Demikianlah hukum wanita yang mengalami haid sebelum maupun sesudah ihram. Kesimpulannya, terdapat beberapa rincian hukum sesuai dengan kondisi yang dialami:

Jika wanita mengalami haid sebelum memulai ihram, baik pada awal manasik maupun di pertengahannya, maka dia tetap melanjutkan ihramnya. Hal ini berdasarkan peristiwa yang terjadi pada shahabiyah Asma binti Umais radhiyallahu ‘anha sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Jika haid terjadi setelah memulai ihram, maka terbagi menjadi dua keadaan:

1. Dalam ibadah umrah

Keadaan ini terbagi lagi menjadi dua:

Jika haid terjadi sebelum memulai thawaf, maka dia menunggu hingga suci, kemudian setelah itu baru melanjutkan manasik yang tersisa.

Jika haid terjadi setelah selesai thawaf, maka dia tetap melanjutkan sa’i serta menyempurnakan manasik yang tersisa hingga selesai

2. Dalam ibadah haji

Keadaan ini juga terbagi menjadi dua:

Jika haid terjadi setelah ihram haji dan setelah melakukan thawaf ifadhah, maka hajinya telah sempurna dengan thawaf ifadhah tersebut.

Jika haid terjadi sebelum melaksanakan thawaf ifadhah, maka dia tetap menjalankan amalan-amalan haji lainnya. Akan tetapi, dia tidak diperbolehkan melakukan thawaf hingga suci dari haidnya.

Maka itulah beberapa hukum terkait wanita yang mengalami haid ketika menjalankan ibadah haji maupun umrah. Semoga ilmu yang telah diketahui ini memberikan manfaat bagi diri kita dan kaum muslimin. Aamiin..(AAJ/LTC/IWU)

Alih Bahasa: Abdurrahman Aufi

Referensi:

  •         Fatawa Nur ‘ala Darb, karya syaikh Muhammad bin Shalih (W. 1421 H) rahimahullah.

 

Footnotes

  1. «فتاوى نور على الدرب للعثيمين» (12/ 2 بترقيم الشاملة آليا)

    «‌‌بارك الله فيكم، من أسئلة المستمعة ح. س. هذا السؤال تقول فيه ماذا تفعل المرأة إذا حاضت قبل الإحرام أو بعده أثناء المناسك نرجو بهذا إفادة؟

    فأجاب رحمه الله تعالى: إذا حاضت المرأة قبل الإحرام فإنها تحرم إذا وصلت الميقات ولو كانت حائضاً (لأن النبي صلى الله عليه وسلم أمر أسماء بنت عميس حين نفست في الميقات أمرها أن تغتسل وتستثفر بثوب وتحرم) وهذا دليل على أن النفاس لا يمنع من الإحرام وكذلك الحيض، وأما إذا حاضت بعد الإحرام ففيه تفصيل فإذا كانت في العمرة فإن حاضت قبل الطواف انتظرت حتى تطهر ثم تطوف بعد ذلك وتسعى وإن حاضت بعد الطواف سعت ولو كانت حائضاً وقصرت وتتم عمرتها، وإن كان ذلك في الحج حاضت بعد أن أحرمت للحج فإن كان هذا بعد طواف الإفاضة أتمت حجها ولا شيء عليها يعني مثل أن يأتيها الحيض في يوم النحر بعد أن تطوف طواف الإفاضة فإنها تتم حجها فتبيت في منى وترمي الجمرات ولو كانت حائضاً وإذا أرادت أن تخرج والحيض لا زال باقياً فإنها تخرج بلا وداع، وأما إن أتاها الحيض قبل طواف الإفاضة أتاها في عرفة مثلاً فإنها تبقى على إحرامها وتقف بعرفة وتبيت بمزدلفة وترمي الجمرات لكنها لا تطوف بالبيت حتى تطهر، ودليل امتناع طواف الحائض أن صفية رضي الله عنها حاضت فقال النبي صلى الله عليه وسلم (أحابستنا هي) قالوا إنها قد أفاضت وهذا دليل على أن الحائض لا تطوف لأنها لو كانت تطوف لم تكن لتحبس النبي صلى الله عليه وسلم، وكذلك حديث عائشة حين حاضت بسرف فدخل عليها النبي صلى الله عليه وسلم وهي تبكي فقال: (ما يبكيك علَّك نفستي) قالت: نعم قال: (هذا شيء كتبه الله على بنات آدم) ثم أمرها أن تحرم بالحج وأن تفعل ما يفعله الحاج غير أن لا تطوف بالبيت ولا بالصفا والمروة وإنما تركت الطواف بالصفا والمروة لأنه يكون بعد الطواف بالبيت وإلا فإن الطواف بالصفا والمروة لا يمتنع عن الحاج»

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *