Minum merupakan salah satu kebutuhan pokok kita. Dalam syariat kita yang mulia ini Allah Ta’ala telah mengatur segala sesuatunya. Termasuk tuntunan minum ini. Berikut ini merupakan tuntunan dan adab ketika minum yang didapatkan dari pertanyaan yang disampaikan kepada para ulama yang telah terkenal akan keilmuan mereka.
Fatwa asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd bin Abdul Muhsin al-Abbad.
Pernah suatu hari, beliau ditanya, “Perkataan Anda hafizhakumullah, “Sesungguhnya minum dalam keadaan berdiri hukumnya makruh. Akan tetapi telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebagian sahabatnya bahwa mereka minum dalam keadaan berdiri, lalu bagaimana arahan Anda dalam masalah ini?
Beliau menjawab, “Mereka minum dalam keadaan berdiri menunjukkan bahwa larangan tersebut (minum sambil berdiri) bukan berarti haram hukumnya, akan tetapi dalam rangka menjauhkan diri dari hal-hal yang kurang baik. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah minum air zam-zam dengan berdiri, begitu pula Ali radhiyallahu ‘anhu, minum dalam keadaan berdiri.
Kemudian Syaikh berkata, “Aku hanyalah menyebutkan hal tersebut dalam rangka agar kalian mengetahui bahwa hal ini pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka hal ini menunjukkan bahwa larangan ini dalam rangka menjauhkan dari hal-hal yang kurang pantas, bukan menunjukkan haram hukumnya, dan bahwasanya minum sambil berdiri diperbolehkan, akan tetapi dengan posisi duduk lebih utama.” 1
Fatwa asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah.
Beliau rahimahullah ditanya, “Apakah larangan minum dengan berdiri menunjukkan haramnya perbuatan tersebut?
Beliau pun menjawab, “Hukum asalnya adalah haram, akan tetapi tampak dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa hal tersebut bukan dalam rangka pengharaman, akan tetapi makruh.
Permasalahan ini diperselisihkan oleh para ulama pakar ilmu ushul, yaitu apabila datang sebuah larangan secara mutlak apakah bermakna pengharaman ataukah tidak? Apabila datang perintah yang bersifat mutlak apakah bermakna wajib ataukah sunnah? Dalam keadaan tidak ada ketentuan yang jelas yang dapat memutuskan pembahasan ini.
Akan tetapi, yang wajib bagi kita tempuh adalah bahwa apabila kita mendengar perintah dari Allah dan Rasul-Nya, kita tidak mengatakan, “Apakah hukum ini bersifat mustahab (sunnah) ataukah sebuah keharusan?” Kita tidak mengatakan demikian karena Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
“Dan tidak ada bagi seorang mukmin dan mukminah jika Allah dan Rasul-Nya memutuskan sebuah ketentuan, akan ada pilihan yang lain bagi mereka tentang urusan mereka.” (Al-Ahzab: 36)
Kita tidak pernah mendapati para shahabat apabila datang perintah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas mereka berkata, “Apakah hal ini hukumnya wajib ataukah sunnah?” Justru mereka segera merealisasikannya pada waktu itu juga kecuali apabila mereka mendapatkan keraguan apakah Rasulullah memerintahkan hal itu dalam rangka ibadah ataukah musyawarah?
Sebagaimana yang terjadi pada Barirah dan suaminya yang bernama Mughits radhiyallahu ‘anhum. Barirah merupakan seorang budak yang telah dibebaskan.
Budak wanita yang telah dibebaskan, sementara suaminya masih berstatus budak, maka kita memberikan pilihan untuknya, jika ia mau tetap menjadi istrinya ataukah ingin membatalkan hubungan pernikahan tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberikan pilihan kepadanya, apakah ia lebih senang untuk tetap bersama suaminya ataukah memutus hubungan pernikahannya? Barirah mengatakan, “Aku batalkan saja hubungan pernikahan itu.” Akhirnya ia pun memilih untuk memutuskan hubungannya.
Padahal suaminya amatlah mencintainya, sampai-sampai ia mengejar di belakangnya di pasar-pasar Madinah dalam keadaan menangis, Nabi pun berkata, ”Tidakkah kalian merasa takjub dengan kecintaan Mughits terhadap Barirah dan kebencian Barirah kepada Mughits.” Ini sungguh mengherankan, karena biasanya hati mempersaksikan pertukaran antara kecintaan dan kebencian.
Kemudian beliau memerintahkan kepadanya untuk kembali kepada suaminya, ia pun berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memberikan kepadaku pilihan ataukah menyuruhku? Jika engkau menyuruhku, maka aku mendengar dan taat, adapun jika engkau memberikan pilihan kepadaku maka aku tidak tertarik lagi padanya.” Nabi menjawab, “Aku hanya memberikan pilihan kepadamu.”
Jika kita telah mengetahui bahwa suatu perintah dalam rangka ibadah, maka tidak boleh bagi kita untuk mengatakan apakah hal ini mustahab ataukah wajib?
Begitu pula dengan larangan. Gambarkan jika Rasulullah berada di hadapanmu, kemudian mengatakan, “Janganlah melakukan itu!” Apakah pantas bagimu untuk mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah engkau mengharuskan itu ataukah tidak?” Tentu tidak boleh (engkau mengatakan itu).
Begitu pula jika engkau diperintah, apakah pantas bagimu untuk mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah engkau mengharuskanku ataukah tidak? Tentu tidak.
Lakukanlah wahai saudaraku, jika hal itu memang wajib, maka engkau akan diberi balasan pahala karena mengamalkan kewajiban. Jika mustahab (sunnah), engkau akan mendapatkan pahala karena mengamalkan sunnah.
Akan tetapi jika engkau meninggalkannya, engkau terjatuh pada kesalahan.
Apabila seseorang terjatuh pada suatu penyelisihan, dengan melakukan hal yang dilarang atau meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, maka ketika itu ia akan bertanya, “Apakah perintah ini bersifat wajib ataukah larangan ini bersifat haram agar ia bisa bertaubat atas penyelisihannya. Adapun ketika di awal (pada asalnya), maka katakanlah, “Kami mendengar dan kami taat, jangan ragu-ragu.” 2
Kesimpulan
Dari dua fatwa di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa minum berdiri hukumnya makruh karena Nabi shallallahu a’laihi wa sallam pernah melakukannya. Namun tentunya walaupun hukumnya makruh, hendaknya kita tetap berusaha untuk tidak minum berdiri
Wallahu a’lam.
HFZ/AAA/AAK
Penulis: Hafizh Batam
Referensi:
- Rekaman pelajaran Syarh arba’in an-nawawiyyah bersama Asy-syaikh abdul muhsin bin hamd bin abdul hamid al-abbad.
- Liqa’ Baabil Maftuh karya Asy-syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah.
حكم الشرب قائماً
قولكم حفظكم الله: إن شرب الماء قائماً مكروه، لكن ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم وبعض أصحابه أنهم شربوا وهم قائمون، فما توجيه ذلك؟
كونهم شربوا قائمين هذا يدل على أن النهي ليس للتحريم وإنما هو للتنزيه، فالرسول صلى الله عليه وسلم شرب قائماً من زمزم، وعلي رضي الله عنه شرب وهو قائم، وقال: إنما أردت أن تعلموا أن هذا شيء فعله رسول الله صلى الله عليه وسلم. فدل على أن النهي للتنزيه وليس للتحريم، وأن الشرب قياماً جائز، ولكن كونه مع الجلوس أولى
السؤال
هل النهي عن الشرب الماء واقفاً للتحريم؟
الجواب
هو على أصل التحريم، ولكن يظهر من فعل الرسول عليه الصلاة والسلام أنه ليس للتحريم وإنما هو للكراهة، وهذه المسألة اختلف فيها الأصوليون إذا ورد فيها النهي مطلقاً هل هو للتحريم أو لا؟ وإذا ورد الأمر مطلقاً هل هو للإيجاب أو للاستحباب؟ وليس هناك ضابط بيّنٌ يحسم الموضوع، لكن الشيء الذي يجب علينا أن نسلكه: أننا إذا سمعنا أمر الله ورسوله ما نقول: هل هو للاستحباب واللزوم، ما نقول هذا؛ لأن الله يقول: {وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ} [الأحزاب:36] ولا عهِدنا أن الصحابة رضي الله عنهم إذا أمرهم الرسول بأمر أنهم يقولون: هل هذا مؤكد –يا رسول الله– للوجوب أو للاستحباب، كانوا يمتثلون على الفور، إلا إذا شكوا هل الرسول أمر به تعبداً أو أمر به مشورة؟ فهنا يسألون كما جرى لـ بريرة مع زوجها مغيث، فإن بريرة أَمَة مملوكة، عتقت والمملوكة إذا عتقت وزوجها مملوك خيرناها إن شاءت بقت معه وإن شاءت فسخت النكاح، خيّرها النبي صلى الله عليه وسلم هل تحب أن تبقى مع زوجها، أو تفسخ النكاح؟ فقالت: أفسخ النكاح، ففسخت النكاح لنفسها، وكان زوجها يحبها حباً شديداً حتى كان يجري وراءها في أسواق المدينة يبكي، فيقول النبي صلى الله عليه وسلم: (ألا تعجبون من حب مغيث لـ بريرة وبغض بريرة لـ مغيث) هذا عجب!! إذ أن العادة أن القلوب شواهد تتبادل الحب والبغض، ثم أمرها أن ترجع إلى زوجها، قالت: (يا رسول الله! أأنت تشير عليَّ أم تأمرني؟ إن كنت تأمرني فسمعاً وطاعة، وإن كنت تشير عليَّ فلا رغبة لي فيه .قال: بل أشير) أما إذا علمنا أنه أَمَرَ تعبداً فلا ينبغي أن نقول: هل الأمر للاستحباب أو للوجوب
وكذلك يقال في النهي، صوَّر نفسك كأن الرسول أمامك عليه الصلاة والسلام، قال لك: لا تفعل.
هل يليق بك أن تقول: يا رسول الله! أنت جازم أو ما أنت جازم؟ لا يجوز، أو أمرك هل يليق لك أن تقول: يا رسول الله أنت جازم أو ما أنت جازم؟ ما يليق، افعل يا أخي، إن كان واجباً أثبت عليه ثواب الواجب، وإن كان مستحباً أثبت عليه ثواب المستحب، لكن إن تركت فأنت على خطأ، إنما لو تورط الإنسان ووقع في المخالفة فعل المنهي أو ترك المأمور حينئذٍ يسأل، يقول: هل الأمر للوجوب أو هل النهي للتحريم من أجل يحدث توبةً للمخالفة، أما في أول الأمر فقل: سمعنا وأطعنا ولا تتردد






Komentar