Masuk surga tanpa hisab dan adzab merupakan cita-cita dan dambaan setiap muslim, karena hisab yaitu sebagaimana yang didefinisikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah: “perhitungan hamba-hamba terhadap amalan-amalan mereka ”3
Oleh karnanya mari simaklah pembahasan seputar empat perangai ini, yang semoga kita dapat merealisasikannya, sehingga kita dapat dimasukkan ke dalam golongan yang memiliki empat perangai ini. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Redaksi Hadis
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ، فَأَجِدُ النَّبِيَّ يَمُرُّ مَعَهُ الْأُمَّةُ، النَّبِيَّ يَمُرُّ مَعَهُ النَّفَرُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الْعَشَرَةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الْخَمْسَةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ وَحْدَهُ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ كَثِيرٌ، قُلْتُ: يَا جِبْرِيلُ، هَؤُلَاءِ أُمَّتِي؟ قَالَ: لَا، وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ كَثِيرٌ، قَالَ: هَؤُلَاءِ أُمَّتُكَ، وَهَؤُلَاءِ سَبْعُونَ أَلْفًا قُدَّامهم لَا حِسَابَ عَلَيْهِمْ وَلَا عَذَابَ، قُلْتُ: وَلِمَ؟ قَالَ: كَانُوا لَا يَكْتَوُونَ، وَلَا يَسْتَرْقُونَ، وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Diperlihatkan kepadaku berbagai umat. Aku mendapati seorang Nabi dan bersamanya satu umat, Nabi yang bersamanya segolongan orang, Nabi yang bersamanya sepuluh orang, Nabi yang bersamanya lima orang, dan Nabi yang bersendirian (tidak ada pengikut). Tiba-tiba aku melihat gerombolan orang yang banyak.
Aku pun bertanya: “Wahai Jibril, apakah mereka adalah umatku?” Jibril pun berkata: “Bukan, tapi lihatlah ke arah sana!” maka aku pun melihat, tiba-tiba ada segerombolan orang yang banyak, Jibril pun berkata: “itulah ummatmu, dan tujuh puluh orang yang yang terdepan tidak dihisab dan tidak di adzab,” aku pun bertanya: “kenapa demikian?” Jibril berkata: “mereka dahulu tidak dikay, tidak meminta diruqyah, tidak bertathayyur (beranggapan sial), dan bertawakal kepada Rabb mereka (Allah).”
Setelah mendengar ini, Sahabat yang mulia ‘Ukkasyah bin Mihsan radhiyallahu ‘anhu berdiri dan berkata kepada Rasul shallallahu alaihi wa sallam : “Doakanlah kepada Allah agar aku termasuk dari mereka” Beliau pun menjawab: “Ya Allah, jadikanlah ia termasuk dari mereka”. Kemudian ada orang lain yang melakukan hal yang sama, beliau berkata: “Ukkasyah telah mendahuluimu.”4
Tidak Melakukan Pengobatan Kay
Pengobatan kay menurut ilmu medis adalah metode pengobatan tradisional dengan cara memberikan panas ekstrem atau luka bakar kecil pada titik tertentu di tubuh menggunakan alat panas (besi, logam, kayu, atau benda lain yang dipanaskan), dengan keyakinan dapat menyembuhkan atau meringankan penyakit. 5
Berkata Imam Ibnu Hajar rahimahullah: “Kay dilakukan experimen yang zalim (menyakitkan) yang tidak dapat mencegah penyakitnya kecuali dengan cara tersebut, oleh karenanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam mensifati kemudian melarang darinya. Dilarangnya pengobatan tersebut karena terdapat di dalamnya rasa sakit berlebih dan bahaya yang besar, oleh karena itu orang-orang Arab mengatakan: “Pengobatan terakhir adalah kay.”6
Kemudian beliau berkata setelah pembahasan yang lain: “Adapun kay langkah terakhir untuk mengeluarkan yang sulit dikeluarkan dari sisa-sisa (kuman, dll). Larangan kay ini hanya ketika menetapkan kay terdapat kesembuhan di dalamnya, yaitu mereka berpandangan bahwa kay dapat mencegah penyakit tersebut dengan sendirinya.
Dengan demikian dilaranglah pengobatan kay dan mereka langsung melakukan pengobatan tersebut sebelum terkena penyakit, karena beranggapan ia dapat mencegah penyakit, sehingga ia terburu-buru untuk dilakukan kay padanya dengan penyiksaan menggunakan api yang disebabkan sangkaannya, dan sering kali dia tidak tertimpa penyakit yang diduga akan menimpanya.
Dapat disatukan antara dua hukum yaitu, tidak sukanya beliau terhadap kay, dan beliau melakukannya; bahwa tidak ditinggalkan begitu saja (mutlak), dan pula tidak dilakukan begitu saja, tapi dilakukan ia meyakininya hanya sekedar perantara menuju kesembuhan dengan izin Allah Ta’ala. Berdasarkan penafsiran ini, kemungkinan hadits Mughirah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
مَنْ اكْتَوَى أَوْ اسْتَرْقَى فَقَدْ بَرِئَ مِنَ التَّوَكُّلِ
“Barang siapa yang dikay atau meminta diruqyah, maka ia tidak bertawakal.”7
Berkata Syaikh Abu Muhamad bin Abi Jamrah rahimahullah yang dikenal kumpulan pembahasan beliau dalam permasalahan kay: “Bahwa di dalamnya terdapat manfaat dan madharat (bahaya), maka ketika melarang kay diketahui bahwa di dalamnya terdapat sisi madharat yang lebih besar, dan yang seperti ini Allah Ta’ala mengabarkan bahwa di khamr (minuman keras) terdapat berbagai manfaat, kemudian Ia haramkan dikarenakan madharatnya lebih besar daripada manfaatnya.” 8
Tidak Meminta Diruqyah
Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam: “Mereka tidak meminta ruqyah,” bukan berarti ruqyah dilarang secara mutlak, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah meruqyah. 9
Namun yang Beliau perbolehkan sebagaimana yang beliau sabdakan,
اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ. لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ
“Ambillah dari ruqyah kalian, ruqyah tidak mengapa selama tidak mengandung kesyirikan.” 10
Imam As-Suyuthi rahimahullah berkata: “Para ulama telah sepakat rahimahumullah tentang bolehnya ruqyah ketika terpenuhi tiga syarat: menggunakan Al-Qur’an atau nama-nama Allah dan sifat-sifat -Nya, dengan bahasa Arab dan bukan kata-kata yang asing, dan meyakini bahwa ruqyah tidak menyembuhkan dengan sendirinya, namun dengan takdir Allah Ta’ala.”11
Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah: “Mereka tidak meminta ruqyah dari seorang pun karena beberapa hal:
- karena kuatnya mereka dalam berpegang teguh kepada Allah Ta’ala.
- kewibawaan jiwa mereka dari merendahkan diri kepada selain Allah Ta’ala.
- karena ada ketergantungan kepada selain Allah Ta’ala.”12
Tidak Bertathayyur (Anggapan Sial)
Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah: Secara asal tathayyur artinya adalah beranggapan sial dengan burung, akan tetapi yang diinginkan lebih umum yaitu beranggapan sial dengan seseorang, yang didengar (suara), waktu, dan tempat.
Dahulu orang-orang Arab mengetahui itu, sampai-sampai seseorang dari mereka ingin melakukan kebaikan kemudian ada seekor burung berbelok ke kanan atau ke kiri sesuai anggapan mereka, maka engkau akan mendapati ia menunda dari apa yang ia inginkan.
Ada juga yang jika mendengar suara tertentu atau melihat orang dengan beranggapan sial, dan juga beranggapan sial pada bulan Syawwal katika disandarkan kepada pernikahan. Oleh karena itu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي شَوَّالٍ. وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ. فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ أَحْظَى عَنْدَهُ مِنِّي؟ قَالَ: وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبُّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شوال
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menikahiku pada bulan Syawal, dan membangunkan rumah untukku di bulan itu pula, maka siapakah di antara istri-istri beliau yang lebih beliau utamakan dari pada diriku?”15
Bertawakal kepada Allah Ta’ala
Bertawakal kepada Allah Ta’ala adalah sebagimana yang dikatakan Imam Abu Hatim rahimahullah: “Memutus hati dari ketergantungan , dengan tidak mengadu kepada para makhluk serta menyandarkan hati untuk selalu merasa butuh kepada yang menyempurnakan kondisinya (Allah).”16
Tawakal merupakan salah satu perangai seorang mukmin, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan di dalam kitab-Nya,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آياتُهُ زادَتْهُمْ إِيماناً وَعَلى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-lah mereka bertawakal,” [Al-Anfal: 2]
Seorang manusia yang secara asal, sebagaimana yang Allah Ta’ala berfirman,
وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ ضَعِيْفاً
“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.”[An-Nisa: 28]
Hendaknya kita tidak merasa bisa mengatur suatu urusan sendiri tanpa bantuan Rabb alam semesta, sampai pun Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun sebagai Nabi dan Rasul-Nya bahkan yang terbaik dan kekasih-Nya masih mengatakan di dalam doanya,
وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ
“Ya Allah janganlah engkau menyerahkan suatu urusan kepadaku walau sekejap mata.”17
Sehingga wajib bagi seorang yang beriman kepada Allah Ta’ala untuk bertawakal kepada Allah karena takwa merupakan perangai seorang mukmin.
Tanya jawab
Di sini timbul pertanyaan: “Apakah seluruh perkara yang telah disebutkan dari, pengobatan kay, meminta diruqyah, bertathayyur, menunjukkan bahwa siapa yang tidak memiliki sifat seperti ini, maka ia tercela atau telah terluput darinya kesempurnaan.”
Jawabannya adalah bahwa kesempurnaan telah terluputkan darinya kecuali pada tathayyur, karena ia tidak diperbolehkan, disebabkan dampak negatifnya dan tidak ada hakikatnya secara asal.
Adapun jika disandarkan kepada mencari pengobatan, yang nampak sama seperti itu karena konteksnya umum, dan sungguh telah dikatakan, seandainya tidak mengatakan “tidak meminta ruqyah” aku katakan bahwa itu tidak masuk, karena dikay merupakan dampak negatif yang hakiki yaitu membakar dengan api, dan rasa sakit bagi manusia, juga manfaatnya masih diharapkan (belum pasti).
Akan tetapi meminta ruqyah terdapat problem; ruqyah tidak ada dampak negatif padanya, jika tidak bermanfaat tidak berdampak negatif, namun kita katakan disini pengobatan seperti itu, karena pengobatan jika tidak bermanfaat tidak berdampak negatif, dan terkadang berdampak juga, dikarenakan manusia jika mencari obat dalam kondisi yang ingin diobati tidak sakit niscaya obat berdampak negatif padanya.
Permasalahan ini perlu pembahasan, apakah kita katakan sebagai contoh: “yang kita tekankan bukan manfaatnya jika tidak terdapat perendahan seorang terhadap dirinya sendiri, maka itu tidak berdampak negatif, yakni tidak terluput orang tersebut dari kesempurnaan dengan sebab itu, seperti; patah dan potong salah satu anggota badannya -contoh-, atau seperti yang dilakukan manusia di era ini dengan penambahan anggota badan, dll.
Jika ada yang mengatakan -dengan ringkas- tentang hadits ini, yaitu mereka tidak meminta ruqyah, dikay, melakukan thiyarah, adapun selain itu tidak menghalangi dari masuk surga tanpa hisab dan azab, karena dalil-dalil yang datang memerintahkan untuk berobat serta hasungan pada sebagian pengobatan, seperti; madu, habbatussauda, maka baginya ada jalan keluar yang lain, jika engkau ditawarkan ruqyah oleh seseorang, apakah hilang kesempurnaan imanmu jika tidak menolaknya?
Jawabannya adalah tidak menghilangkan, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak melarang ‘Aisyah meruqyah beliau, yang mana beliau merupakan makhluk yang paling sempurna tawakalnya kepada Allah Ta’ala dan percaya kepada-Nya, juga redaksi haditsnya menunjukkan permintaan, dan tidak samar perbedaan antara meminta dengan tanpa meminta.18
Kesimpulannya
Kesimpulannya adalah tiga perkara ini pada perkara yang keempat yaitu tawakal kepada Allah Ta’ala. Adapun yang pertama secara asal tidak diperbolehkan karena terdapat dampak negatif yang lebih besar dibandingkan maslahatnya, serta anggapan orang terdahulu bahwa kay yang menyembuhkan sehingga tidak adanya tawakal ketika itu.
Yang kedua yaitu meminta diruqyah. Larangan di sini hanya ketika meminta diruqyah saja, karena tidak adanya tawakal ketika itu. Adapun tanpa permintaan, maka diperbolehkan, karena diamnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika diruqyah oleh ibunda kaum muslimin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, karena tidak atau sedikitnya madharat di dalamnya dibandingkan maslahatnya.
Yang ketiga yaitu bertathayyur. Larangannya mutlak karena tidak ada maslahatnya bahkan dampak negatif terhadap akal, juga tidak ada hakikatnya secara asal dan merupakan bersandar kepada selain Allah Ta’ala yang merupakan lawan dari tawakal.
Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam deretan orang-orang yang masuk surga tanpa hisab serta azab, serta dijauhkan dari segala perkara yang menghalangi kita dari meraihnya. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.(MSH/AAA/AAK)
Penulis: Syarif Karawang
Referensi:
- Al-Qur’an Al-Karim
- Majmuu’ fataawa wa rasaail Al-‘Utsaimin: karya Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah, wafat. 1421 H/ 2001 M
- Mustadrak: karya Imam Al-Hakim rahimahullah, wafat. 405 H/ 1014 M
- Shahih Bukhari: Karya Imam Bukhari rahimahullah, wafat. 256 H/ 870 M
- Fathul baari: karya Imam Ibnu Hajar rahimahullah, wafat. 852 H/ 1449 M
- Sunan: karya Imam At-Tirmidzi rahimahullah, wafat. 279 H/ 892 M
- Shahih Muslim: karya Imam Muslim rahimahullah, wafat. 261 H/ 875 M
- Fathul majiid: karya ‘Abdurrahman bun Al-Hasan at-Tamimi rahimahullah, wafat. 1285 H/ 1869 M
- Al-Qaulul mufiid: karya Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah
- Raudatul ‘uqalaa: karya Imam Abu Hatim al-Busti rahimahullah, wafat. 354 H/ 965 M
- Al-Adabul mufrad: Karya Imam Bukhari rahimahullah
Footnotes
- Dikutip di dalam (Majmuu’ fataawa wa rasaail Al-‘Utsaimin) karya Muhammad bin Shaleh rahimahullah hal.297, juz.4,
الحساب وهو محاسبة الخلائق على أعمالهم
1yang mana kala itu rasa takut sangat menghantui para hamba sampai pun dalam kondisi demikian matahari didekatkan. Sebagaimana yang disabdakan Oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
تَدْنُو الشَّمْسُ مِنَ الْأَرْضِ فَيَعْرَقُ النَّاسُ، فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَبْلُغُ عَرَقُهُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ الْعَجُزَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ الْخَاصِرَةَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ مَنْكِبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ عُنُقَهُ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ وَسَطَ فِيهِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ فَأَلْجَمَهَا فَاهُ، رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم هَكَذَا وَمِنْهُمْ مَنْ يُغَطِّيهِ عَرَقُهُ وَضَرَبَ بِيَدِهِ إِشَارَةً فَأَمَرَّ يَدَهُ فَوْقَ رَأْسِهِ مَنْ غَيْرِ أَنْ يُصِيبَ الرَّأْسَ دُوَّرَ رَاحَتَهُ يَمِينًا وَشِمَالًا
“Matahari didekatkan ke arah bumi sehingga manusia ketika itu berkeringat, di antara mereka ada yang keringatnya sampai mata kaki, setengah betis, kedua lutut, kemaluan belakang, pinggang, kedua pundaknya, lehernya, semulut dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya maka mulutnya menghalaunya- aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam demikian-, ada yang keringatnya menenggelamkannya dan beliau mencontohkan dengan tangan beliau dan melewatkannya di atas kepala baliau, ada yang tidak terkena kepala beliau memutarkan tangannya ke kanan dan ke kiri.”2 Diriwayatkan di dalam (Mustadrak) karya Imam Al-Hakim rahimahullah no.8704,
8704 – حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ، أَنْبَأَ ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، أَنَّ أَبَا عُشَّانَةَ الْمَعَافِرِيَّ، حَدَّثَهُ أَنَّهُ، سَمِعَ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ الْجُهَنِيَّ رضي الله عنه، يَقُولُ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، يَقُولُ: «تَدْنُو الشَّمْسُ مِنَ الْأَرْضِ فَيَعْرَقُ النَّاسُ، فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَبْلُغُ عَرَقُهُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ الْعَجُزَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ الْخَاصِرَةَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ مَنْكِبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ عُنُقَهُ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ وَسَطَ فِيهِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ فَأَلْجَمَهَا فَاهُ، رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم هَكَذَا وَمِنْهُمْ مَنْ يُغَطِّيهِ عَرَقُهُ وَضَرَبَ بِيَدِهِ إِشَارَةً فَأَمَرَّ يَدَهُ فَوْقَ رَأْسِهِ مَنْ غَيْرِ أَنْ يُصِيبَ الرَّأْسَ دُوَّرَ رَاحَتَهُ يَمِينًا وَشِمَالًا» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخْرِجَاهُ ” [التعليق – من تلخيص الذهبي]8704 – صحيح
- Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari no.6175
6175 – حَدَّثَنَا عِمْرَانُ بْنُ مَيْسَرَةَ: حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ: حدثنا حصين. قال أبو عبد الله: وحدثني أَسِيدُ بْنُ زَيْدٍ: حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ حُصَيْنٍ قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ: حَدَّثَنِي ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ:
قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: (عرضت علي الأمم، فأجد النبي يمر معه الأمة، النبي يَمُرُّ مَعَهُ النَّفَرُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الْعَشَرَةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الْخَمْسَةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ وَحْدَهُ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ كَثِيرٌ، قُلْتُ: يَا جِبْرِيلُ، هَؤُلَاءِ أُمَّتِي؟ قَالَ: لَا، وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ كَثِيرٌ، قَالَ: هَؤُلَاءِ أُمَّتُكَ، وَهَؤُلَاءِ سَبْعُونَ أَلْفًا قُدَّامهم لَا حِسَابَ عَلَيْهِمْ وَلَا عَذَابَ، قُلْتُ: وَلِمَ؟ قَالَ: كَانُوا لَا يَكْتَوُونَ، وَلَا يَسْتَرْقُونَ، وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ). فَقَامَ إِلَيْهِ عُكَّاشة بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ: ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ، قَالَ: (اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ). ثُمَّ قَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ آخَرُ قَالَ: ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ، قال: (سبقك بها عُكَّاشة)
- Pengobatan ini dalam dunia medis disebut dengan kauterisasi
- Di dalam kitabnya (Fahul baary) hal.138, juz.10,
وَأَمَّا الْكَيُّ فَإِنَّمَا يُسْتَعْمَلُ فِي الْخَلْطِ الْبَاغِي الَّذِي لَا تَنْحَسِمُ مَادَّتُهُ إِلَّا بِهِ وَلِهَذَا وَصَفَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ نَهَى عَنْهُ وَإِنَّمَا كَرِهَهُ لِمَا فِيهِ مِنَ الْأَلَمِ الشَّدِيدِ وَالْخَطَرِ الْعَظِيمِ وَلِهَذَا كَانَتِ الْعَرَبُ تَقُولُ فِي أَمْثَالِهَا آخِرُ الدَّوَاءِ الْكَيُّ
- Dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dan An-Nasa’i rahimahumallah, dan lafadznya milik Imam Tirmidzi yang dishahihkan oleh Imam Al-AlBani rahimahullah,
2055 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنْ عَقَّارِ بْنِ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «مَنْ اكْتَوَى أَوْ اسْتَرْقَى فَقَدْ بَرِئَ مِنَ التَّوَكُّلِ»: وَفِي البَابِ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ، وَابْنِ عَبَّاسٍ، وَعِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
- Di dalam kitabnya (Fathul baary) hal.138-139, juz.10,
وَأَمَّا الْكَيُّ فَإِنَّهُ يَقَعُ آخِرًا لِإِخْرَاجِ مَا يَتَعَسَّرُ إِخْرَاجُهُ مِنَ الْفَضَلَاتِ وَإِنَّمَا نَهَى عَنْهُ مَعَ إِثْبَاتِهِ الشِّفَاءَ فِيهِ إِمَّا لِكَوْنِهِمْ كَانُوا يَرَوْنَ أَنَّهُ يَحْسِمُ الْمَادَّةَ بِطَبْعِهِ فَكَرِهَهُ لِذَلِكَ وَلِذَلِكَ كَانُوا يُبَادِرُونَ إِلَيْهِ قَبْلَ حُصُولِ الدَّاءِ لِظَنِّهِمُ أَنَّهُ يحسم الدَّاء فيتعجل الَّذِي يَكْتَوِي التَّعْذِيبَ بِالنَّارِ لِأَمْرٍ مَظْنُونٍ وَقَدْ لَا يَتَّفِقُ أَنْ يَقَعَ لَهُ ذَلِكَ الْمَرَضُ الَّذِي يَقْطَعُهُ الْكَيُّ وَيُؤْخَذُ مِنَ الْجَمْعِ بَيْنَ كَرَاهَتِهِ صلى الله عليه وسلم لِلْكَيِّ وَبَيْنَ اسْتِعْمَالِهِ لَهُ أَنَّهُ لَا يُتْرَكُ مُطْلَقًا وَلَا يُسْتَعْمَلُ مُطْلَقًا بَلْ يُسْتَعْمَلُ عِنْدَ تَعَيُّنِهِ طَرِيقًا إِلَى الشِّفَاءِ مَعَ مُصَاحَبَةِ اعْتِقَادِ أَنَّ الشِّفَاءَ بِإِذْنِ اللَّهِ تَعَالَى وَعَلَى هَذَا التَّفْسِيرِ يُحْمَلُ حَدِيثُ الْمُغِيرَةِ رَفَعَهُ مَنِ اكْتَوَى أَوِ اسْتَرْقَى فَقَدْ بَرِئَ مِنَ التَّوَكُّلِ أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَصَححهُ بن حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ وَقَالَ الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي جَمْرَةَ عُلِمَ مِنْ مَجْمُوعِ كَلَامِهِ فِي الْكَيِّ أَنَّ فِيهِ نَفْعًا وَأَنَّ فِيهِ مَضَرَّةً فَلَمَّا نَهَى عَنْهُ عُلِمَ أَنَّ جَانِبَ الْمَضَرَّةِ فِيهِ أَغْلَبُ وَقَرِيبٌ مِنْهُ إِخْبَارُ اللَّهِ تَعَالَى أَنَّ فِي الْخَمْرِ مَنَافِعَ ثُمَّ حَرَّمَهَا لِأَنَّ الْمَضَارَّ الَّتِي فِيهَا أَعْظَمُ مِنَ الْمَنَافِعِ انْتَهَى مُلَخَّصًا
- Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam Shahihnya dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,
5412- حدثني أحمد بن أَبِي رَجَاءٍ: حَدَّثَنَا النَّضْرُ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبِي، عَنْ عَائِشَةَ:
أَنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يَرْقِي يَقُولُ: (امْسَحْ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ، بِيَدِكَ الشفاء، لا كاشف له إلا أنت)
- Diriwayatkan imam Muslim dan Abu Dawud dan lafadz dari Muslim No.2200
22 – بَاب لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ
(2200)-64 حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ. أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ. أَخْبَرَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ. قال: كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ. فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ “اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ. لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ”
- Dinukil oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Al-Hasan At-Tamimi rahimahullah, di dalam kitabnya (Fathul majiid),
وقال السيوطي: ” قد أجمع العلماء على جواز الرقى عند اجتماع ثلاثة شروط: أن تكون بكلام الله أو بأسمائه وصفاته، وباللسان العربي وما يعرف معناه، وأن يعتقد أن الرقية لا تؤثر بذاتها بل بتقدير الله تعالى
- Lihat kitab beliau (Al-qaulul mufiid) hal.103,
لا يطلبون من أحد أن يقرأ عليهم; لما يلي:
1 – لقوة اعتمادهم على الله.
2 – لعزة نفوسهم عن التذلل لغير الله.
3 – ولما في ذلك من التعلق بغير الله
- Diriwayatkan di dalam shahih muslim hadits.1423,
73 – (1423) وحَدَّثَنَاه أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ. (وَاللَّفْظُ لِزُهَيْرٍ) قَالَا: حدثنا وَكِيعٌ. حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُمَيَّةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ. قَالَتْ: تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي شَوَّالٍ. وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ. فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ أَحْظَى عَنْدَهُ مِنِّي؟ قَالَ: وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبُّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شوال
Juga di sana ada yang berprasangka buruk dengan hari Rabu, atau bulan safar; ini semua di antara perkara yang ditiadakan oleh syari’at Islam, dengan sebab dampak negatif bagi manusia terhadap akal, pikiran, gaya hidupnya, dan manusia tidak memperdulikan perkara-perkara ini.
Inilah tawakkal kepada Allah Ta’ala, oleh karenanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengakhiri penyebutannya dengan mengatakan: “dan kepada Allah lah mereka bertawakal”.14Dikutip di dalam kitab (Al-Qaulul Mufid) karya Syaikh Muhammad bin shalih rahimahullah,
قوله: ” ولا يتطيرون “: مأخوذ من الطير، والمصدر منه تطير، والطيرة اسم المصدر، وأصله: التشاؤم بالطير، ولكنه أعم من ذلك; فهو التشاؤم بمرئي، أو مسموع، أو زمان، أو مكان.وكانت العرب معروفة بالتطير، حتى لو أراد الإنسان منهم خيرا ثم رأى الطير سنحت يمينا أو شمالا حسب ما كان معروفا عندهم، تجده يتأخر عن هذا الذي أراده. ومنهم من إذا سمع صوتا أو رأى شخصا تشاءم. ومنهم من يتشاءم في شهر شوال بالنسبة للنكاح، ولذا قالت عائشة رضي الله عنها: ” عقد علي رسول الله صلى الله عليه وسلم في شوال، وبنى بي في شوال; فأيكن كان أحظى عنده “1. ومنهم من يتشاءم بيوم الأربعاء، أو بشهر صفروهذا كله مما أبطله الشرع; لضرره على الإنسان عقلا وتفكيرا وسلوكا، وكون الإنسان لا يبالي بهذه الأمور، هذا هو التوكل على الله، ولهذا ختم المسألة بقوله: ” وعلى ربهم يتوكلون ” ; فانتفاء هذه الأمور عنهم يدل على قوة توكلهم.
- Dikutip di dalam kitab (Raudatul ‘uqalaa) karya Imam Abu Hatim Al-Busti,
قال أَبُو حاتم رضي الله عنه التوكل هو قطع القلب عَن العلائق برفض الخلائق وإضافته بالافتقار إلى محول الأحوال
- Dikutip di dalam kitab (Al-Adabul mufrad) karya Imam Bukhari no.701,
701 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْجَلِيلِ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مَيْمُونٍ قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرَةَ، أَنَّهُ قَالَ لِأَبِيهِ: يَا أَبَتِ، إِنِّي أَسْمَعُكَ تَدْعُو كُلَّ غَدَاةٍ: «اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ» ، تُعِيدُهَا ثَلَاثًا حِينَ تُمْسِي، وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثًا، وَتَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ» ، تُعِيدُهَا ثَلَاثًا حِينَ تُمْسِي، وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثًا، فَقَالَ: نَعَمْ، يَا بُنَيَّ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ بِهِنَّ، وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ
[قال الشيخ الألباني] : حسنقَالَ: وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ: اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ أَلَا أَنْتَ ”
- Dikutip di dalam kitab (Al-Qaulul mufiid) karya Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah hal.104,
وهل هذه الأشياء تدل على أن من لم يتصف بها فهو مذموم، أو فاته الكمال؟
الجواب: أن الكمال فاته إلا بالنسبة للتطير; فإنه لا يجوز; لأنه ضرر وليس له حقيقة أصلا.
أما بالنسبة لطلب العلاج; فالظاهر أنه مثله لأنه عام، وقد يقال: إنه لولا قوله: ” ولا يسترقون ” ; لقلت: إنه لا يدخل; لأن الاكتواء ضرر محقق: إحراق بالنار، وألم للإنسان، ونفعه مرتجى، لكن كلمة “يسترقون” مشكلة; فالرقية ليس فيها ضرر، إن لم تنفع لم تضر، وهنا نقول: الدواء مثلها; لأن الدواء إذا لم ينفع لم يضر، وقد يضر أيضا; لأن الإنسان إذا تناول دواء وليس فيه مرض لهذا الدواء فقد يضره.
وهذه المسألة تحتاج إلى بحث، وهل نقول مثلا: ما تؤكد منفعته إذا لم يكن في الإنسان إذلال لنفسه; فهو لا يضر، أي: لا يفوت المرء الكمال به، مثل الكسر وقطع العضو مثلا، أو كما يفعل الناس الآن في الزائدة وغيرها.
ولو قال قائل بالاقتصار على ما في هذا الحديث، وهو أنهم لا يسترقون ولا يكتوون ولا يتطيرون، وأن ما عدا ذلك لا يمنع من دخول الجنة بلا حساب ولا عذاب; للنصوص الواردة بالأمر بالتداوي والثناء على بعض الأدوية; كالعسل1؛ والحبة السوداء2؛ لكان له وجه. وإذا طلب منك إنسان أن يرقيك; فهل يفوتك كمال إذا لم تمنعه؟. الجواب: لا يفوتك; لأن النبي صلى الله عليه وسلم لم يمنع عائشة أن ترقيه3؛ وهو أكمل الخلق توكلا على الله وثقة به، ولأن هذا الحديث: ” لا يسترقون … ” إلخ، إنما كان في طلب
هذه الأشياء، ولا يخفى الفرق بين أن تحصل هذه الأشياء بطلب، وبين أن تحصل بغير طلب




Komentar