oleh

Apa itu Qunut Nazilah? (Bagian Pertama)

-Fikih-8,630 views

Apa itu Qunut Nazilah?
(Bagian Pertama)

Qunut nazilah merupakan salah satu ibadah yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Disyariatkannya qunut nazilah karena bencana yang  menimpa kaum muslimin. Bencana itu bisa berupa tindakan zhalim orang-orang kafir kepada kaum muslimin, bisa juga berupa bencana kekeringan dan bencana kelaparan.

Apa itu fikih qunut nazilah menurut pandangan syariat Islam?  Mari kita simak penjelasan berikut.

Definisi Qunut Nazilah

Qunut nazilah apabila diurai dari unsur kata pembentuknya, terdiri dari dua kata, yaitu qunut dan nazilah:

  • Qunut adalah doa yang dibaca di dalam shalat di rakaat terakhir setelah ruku’.
  • Nazilah adalah musibah atau bencana.

Jadi, qunut nazilah artinya qunut yang dilakukan di dalam shalat wajib karena sebab bencana yang menimpa kaum muslimin.

Sebagaimana dijelaskan  dalam Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah,

المَقصُودُ بِالنَوَازِلِ الَّتِي يُشرَعُ فِيهَا الدُعَاءُ فِي الصَلَوَاتِ هُوَ مَا كَانَ مُتَعَلِقًا بِعُمُومِ المُسلِمِينَ، كَاعتِدَاءِ الكُفَّارِ عَلَى المُسلِمِينَ، وَالدُعَاءِ لِلأَسرَى وحَالِ المَجَاعَاتِ، وَانتِشَارِ الأَوبِئَةِ وَغَيرِهَا

“Yang dimaksud dengan qunut nazilah yang disyariatkan berdoa padanya adalah yang terkait dengan keumuman kaum muslimin, seperti tindakan melampaui batas orang-orang kafir terhadap kaum muslimin, berdoa untuk para tawanan, kondisi kelaparan, tersebarnya wabah dan semisalnya.” 1

Hukum Qunut Nazilah

Hukum qunut nazilah adalah sunnah jika waliyyul amr (pemerintah kaum muslimin) menghimbau atau memerintahkan masyarakatnya melakukan qunut nazilah, maka disunnahkan bagi imam-imam shalat untuk qunut nazilah dan diaminkan oleh makmumnya.

Dan prinsip seorang muslim yang benar-benar mengikuti jejak baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu menyambut perintah serta ajakan dari pemerintahnya selama perintah tersebut tidak menyelisihi syariat dan tidak termasuk dari perkara-perkara kemaksiatan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى المَرْءِ المُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

“Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada pemerintahnya) baik (perintah tersebut) ia senangi ataupun yang ia benci, selama ia tidak diperintah kepada perkara maksiat, jika diperintah untuk melakukan kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.” 2

Disyariatkannya Qunut Nazilah

Di antara dalil yang menunjukkan disyariatkannya qunut nazilah yaitu sebagaimana sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

لَأُقَرِّبَنَّ صَلَاةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ” ‌يَقْنُتُ ‌فِي الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ مِنْ صَلَاةِ الظُّهْرِ، وَصَلَاةِ العِشَاءِ، وَصَلَاةِ الصُّبْحِ، بَعْدَ مَا يَقُولُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَيَدْعُو لِلْمُؤْمِنِينَ وَيَلْعَنُ الكُفَّارَ

“Sungguh aku akan mencontohkan kepada kalian bagaimana shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dahulu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu melakukan qunut di rakaat terakhir dari shalat Zhuhur, Isya’ dan Subuh, setelah mengucapkan sami’allahu liman hamidah, kemudian beliau berdoa untuk kaum mukminin dan melaknat orang-orang kafir.” 3

Waktu Pelaksanaan Qunut Nazilah

Qunut nazilah dilakukan di dalam shalat wajib di rakaat terakhir setelah ruku’ (bangkit dari ruku’/’itidal).

Qunut nazilah dilakukan di setiap waktu shalat wajib, seperti apa yang diucapkan oleh sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu,

قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ، إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ، يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ، عَلَى ‌رِعْلٍ، وَذَكْوَانَ، وَعُصَيَّةَ، وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut selama sebulan berturut-turut di waktu Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’ dan shalat Subuh, setelah selesai mengucapkan: sami’allahu liman hamidah, di rakaat terakhir. Mendoakan keburukan untuk Bani Sulaim, Ri’l, Dzakwaan dan Ushoyyah. Makmum yang di belakang beliau mengaminkan.” 4

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu juga menjelaskan: “Jika terjadi musibah, misalkan: serangan musuh, kekeringan, wabah, kehausan dan kemudharatan yang jelas bagi kaum muslimin maupun hal-hal lain semisalnya. Maka dilakukan qunut dalam seluruh shalat lima waktu.” 5

Jenis Doa Qunut Nazilah

Kemudian doa qunut itu sesuai dengan kondisi musibah, sehingga doa qunut nazilah bisa tidak seragam. 

Semisal di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam doa qunut-nya berbeda dengan doa qunut yang dibaca sahabat Umar radhiyallahu ‘anhu. Yang dibaca Umar radhiyallahu ‘anhu di dalam doa qunutnya berbeda dengan doa qunut nazilah yang dibaca oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Karena masalah yang dihadapi berbeda-beda. Sehingga doa qunut nazilah itu tidak diseragamkan.

Semisal contoh doa qunut nazilah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ يَقُولُ: اللَّهُمَّ أَنْجِ عَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ، اللَّهُمَّ أَنْجِ سَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ، اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ، اللَّهُمَّ أَنْجِ ‌الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ، اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ. وَأَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: غِفَارُ غَفَرَ اللهُ لَهَا، وَأَسْلَمُ سَالَمَهَا اللهُ. قَالَ ابْنُ أَبِي الزِّنَادِ، عَنْ أَبِيهِ: هَذَا كُلُّهُ فِي الصُّبْحِ

Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengangkat kepala di rakaat terakhir, beliau berkata: “Ya Allah, selamatkanlah ‘Ayyaasy bin Abi Rabi’ah. Ya Allah selamatkanlah Salamah bin Hisyam. Ya Allah selamatkanlah al-Walid bin al-Walid. Ya Allah, selamatkanlah orang-orang tertindas dari kaum beriman. Ya Allah keraskan siksaan-Mu kepada Mudhor (salah satu kabilah Quroisy). Ya Allah jadikanlah bencana paceklik bagi mereka seperti yang terjadi di masa Yusuf. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan: (Kabilah) Ghifaar, semoga Allah mengampuni mereka. (Kabilah) Aslam, semoga Allah menjadikan mereka mengadakan perdamaian”. Ibnu Abiz Zinad dari ayahnya(seorang periwayat hadits) berkata: “Ini dilakukan di shalat Subuh”. 6

Doa untuk Saudara di Palestina

Dan sangat memprihatinkan kondisi umat muslimin sekarang ini yang tinggal  di negeri Palestina, mereka hidup dalam keadaan tidak tenang dan tentram, disebabkan penindasan dan kekejaman yang dilakukan oleh bangsa Yahudi, mereka melakukan penyerangan beberapa bulan ini yang telah menewaskan 20.000 jiwa, yang mayoritasnya mereka adalah anak-anak kecil. 

Betapa jahat dan kejamnya bangsa Yahudi yang telah menimpakan musibah yang besar kepada saudara-saudara kita di negeri Palestina. Maka saudara-saudara muslimin tidak boleh diam, tolonglah mereka dengan harta, jiwa dan doa. Dan diantara contoh bentuk doa qunut nazilah untuk saudara-saudara muslimin di negeri palestina, semisal yang dipanjatkan oleh Syaikh Majdy al-‘Askary hafizhahullah,

اللّهم مُنْزِلَ الكِتَابِ، وَمُجْرِيَ السَّحَابِ، وَهازِمَ الأَحْزابِ، اِهْزِمٍ اليَهُودَ، وَانْصُرْنا عليهم، يا قَوِيُّ يا مَتِيْنُ

اللّهم اهْزِمِ الْيَهُودَ يا رَبَّ العالمين، اللّهم مَزِّقْهُمْ شَرَّ مُمَزَّقٍ، وَاجْعَلْهُمْ أَحَادِيْث

اللّهم كُن لِّإِخْوَانِنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ فِلَسْطِيْنَ، اللّهم كُن لِّإِخْوَانِنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ فِلَسْطِيْنَ، دَاوِ جَرِيْحَهُمْ وَاشْفِ مَرِيْضَهُمْ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ، وَاحْفَظْ أَحْيَائَهُمْ، يا كَرِيْمُ يا رَبَّ العالمين 

اللّهم عَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنِ. شَتِّتْ شَمْلَهُمْ، وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ، وَخَالِفْ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ، اللّهم عَلَيْكَ بِهِمْ فَإِنَّهُمْ لَايُعْجِزُونَكَ 

“Ya Allah yang menurunkan kitab, menjalankan awan, dan yang menghancurkan pasukan sekutu (al-Ahzab) hancurkanlah yahudi dan tolonglah kami atas mereka Wahai Dzat yang Maha Kuat lagi Kokoh, Ya Allah hancurkanlah Yahudi wahai Rabb semesta alam, Ya Allah hancurkanlah mereka dengan sejelek-jeleknya penghancuran dan jadikan mereka sebagai bahan pembicaraan.

Ya Allah tolonglah saudara kami yang tertindas di Palestina, Ya Allah tolonglah saudara kami yang tertindas di Palestina, obatilah yang terluka dari mereka, sembuhkanlah yang sakit dari kalangan mereka, rahmatilah orang yang telah meninggal dari kalangan mereka, serta jagalah yang masih hidup dari mereka wahai Dzat yang Maha Pemurah Wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah azablah musuh-musuh agamamu, cerai-beraikanlah persatuan mereka, bubarkanlah perkumpulan mereka, buatlah mereka berselisih pada kalimat mereka, Ya Allah azablah mereka, karena sesungguhnya mereka tidak mampu mengalahkanmu.” 7

Semoga doa-doa yang kita panjatkan untuk saudara kaum muslimin di Palestina dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Harapannya Allah Azza wa Jalla memenangkan kaum muslimin atas orang-orang kafir.

Penutup

Demikian sekelumit pemaparan tentang fikih qunut nazilah bagian pertama. InsyaAllah pada bagian yang kedua kami akan menjelaskan permasalahan-permasalahan lain yang berkaitan dengan qunut nazilah, semisal: Apakah qunut nazilah dilakukan di shalat sirriyah? Apakah wajib mengangkat tangan Ketika melakukan doa qunut? Begitu pula permasalahan lainnya yang berkaitan dengan qunut nazilah. 

Semoga penjelasan yang sedikit dapat memberikan manfaat dan wawasan yang luas bagi para pembaca serta dapat kita amalkan sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wabillahittaufiq. Wallahu a’lam.

AMP/MPS/AAK

Referensi: 

  • Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah.
  • Shahih al-Bukhari karya Imam Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Abu Abdillah (194-256 H) rahimahullah.
  • Shahih Muslim karya Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi (204-271 H) rahimahullah.
  • Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj karya Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasqiy (631-676 H) rahimahullah.

 

Footnotes

  1.  Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah no 20926.

     

  2. HR. al Bukhari no 7144 dan HR. Muslim no 1839 dengan lafadz hadits; 

    «عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ ‌السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ»

    Dari sahabat Abdullah bin Umar radiyallahu ‘anhu.

  3.   HR. al Bukhari no. 797 dan HR. Muslim no. 296 dalam kitab sahih keduanya, dari sahabat Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu.
  4.   HR. Abu Dawud no. 1443 (dihasankan oleh Syaikh al-Albani rahimahullahu).
  5.   Lihat al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj (5/176)

    إِنْ ‌نَزَلَتْ ‌نَازِلَةٌ كَعَدُوٍّ وَقَحْطٍ وَوَبَاءٍ وَعَطَشٍ وَضَرَرٍ ظَاهِرٍ فِي الْمُسْلِمِينَ وَنَحْوِ ذَلِكَ قَنَتُوا فِي جَمِيعِ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ

  6.   HR. al Bukhari no. 1006, dari sahabat Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu.

  7.   Dinukil dari https://t.me/markeezaishaa/469.
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *