oleh

I’tidal dalam Shalat: Definisi, Hukum, Tata Cara dan Bacaannya

-Fikih-11,205 views

Salah satu gerakan shalat yang penting untuk diperhatikan ialah i’tidal setelah ruku’. Karena selain ia adalah bagian dari rukun shalat juga  padanya tata cara, gerakan dan bacaan yang harus ditunaikan dengan benar. Berikut tuntunan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang i’tidal yang benar dalam shalat.

Definisi I’tidal

Asal kata I’tidal (اعْتِدَالٌ) dari kata I’tadala ( اعْتَدَلَ ) yang berarti lurus dan seimbang. 1

Imam an-Nawawi rahimahullah membawakan pernyataan ulama mazhab Syafi’iyah bahwa:

“I’tidal yang wajib adalah kembalinya (posisi orang yang shalat) setelah ruku’ sebagaimana kondisinya sebelum ruku’ baik dia shalat dalam keadaan berdiri atau duduk.” 2

Apa Hukumnya?

Imam Nawawi rahimahullah, seorang ulama bermazhab syafi’iyah berpendapat wajibnya i’tidal setelah rukuk berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا

“Kemudian bangkitlah (dari ruku’) sampai posisi berdiri i’tidal.” 3

Beliau rahimahullah juga mengatakan,

“Pada hadits tersebut terdapat dalil tentang wajibnya i’tidal setelah rukuk.” 4


Baca juga: Zikir Duduk di Antara Dua Sujud, Tuntunan dan Bacaannya


Tata Cara I’tidal

  1. Bertakbir saat bangkit dari rukuk ke i’tidal sambil mengangkat kedua tangan. 5
  2. Membaca zikir ketika bangkit dari rukuk ke i’tidal yaitu : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَه
  3. Berdiri sampai tulang punggung kembali ke tempatnya (tegak lurus) 6

    Maksudnya adalah sempurna dalam  i’tidal, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah. 7

    1. Membaca zikir ketika i’tidal: رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْد
    2. Thuma’ninah (tenang) ketika i’tidal 8

      Tentang thuma’ninah ketika i’tidal Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan,

      “Adapun i’tidal maka yang dikenal di mazhab kami (mazhab Syafi’iyah) dan mazhab para ulama ialah wajib tuma’ninah ketika i’tidal sebagaimana tuma’ninah diwajibkan ketika duduk di antara dua sujud.” 9

      1. Tidak merunduk untuk sujud sampai berdiri tegak ketika i’tidal. 10

        Imam Nawawi rahimahullah mengatakan,

        “Pada hadits di atas menunjukkan wajibnya i’tidal ketika bangkit dari rukuk dan wajib berdiri sampai tegak lurus.” 11

        Bacaan I’tidal

        رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْد

        “(Wahai) Rabb kami, segala pujian hanya untuk-Mu” 12

        رَبَّنَا لَكَ الْحَمْد

        “(Wahai) Rabb kami, segala pujian hanya untuk-Mu” 13

        اللَهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْد

        “(Ya) Allah (Wahai) Rabb kami, segala pujian hanya untuk-Mu” 14

        اللَهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْد

        “(Ya) Allah (Wahai) Rabb kami, segala pujian hanya untuk-Mu” 15

        Terkadang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahkan bacaan,

        مِلْءَ السَّمَاوَاتِ، وَمِلْءَ الأَرْضِ، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْد

        “(Pujian yang) sepenuh isi langit dan sepenuh isi bumi serta sebanyak yang Engkau kehendaki setelahnya” 16

        مِلْءَ السَّمَاوَاتِ، وَمِلْءَ الأَرْضِ، وَمِلْءَ ما بينهما ُوَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْد

        “(Pujian yang) sepenuh isi langit dan sepenuh isi bumi serta sepenuh antara keduanya juga sebanyak yang Engkau kehendaki setelahnya” 17

        Terkadang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahkan pada bacaan tadi,

        أَهْلَ الثَّنَاءِ والمَجْدِ، لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيتَ، ولَا مُعطِيَ لِمَا مَنَعتَ، ولَا يَنفَعُ ذَا الجَدِّ مِنكَ الجَد

        “(Wahai) pemilik sanjungan dan kemuliaan, tidak ada sesuatupun yang bisa mencegah apa yang engkau berikan, tidak pula ada yang bisa memberi apa yang engkau cegah. Tidak bermanfaat kekuatan seseorang karena hanya dari-Mu lah semua kekuatan.” 18

        Terkadang dengan tambahan,

        مِلْءَ السَّمَاوَاتِ، وَمِلْءَ الأَرْضِ، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، أَهْلَ الثَّنَاءِ والمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ العَبْدُ – وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ: اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيتَ، ولَا مُعطِيَ لِمَا مَنَعتَ، ولَا يَنفَعُ ذَا الجَدِّ مِنكَ الجَد

        “(Pujian yang) sepenuh isi langit dan sepenuh isi bumi serta sebanyak yang Engkau kehendaki setelahnya. (Wahai) pemilik sanjungan dan kemuliaan -yang paling pantas bagi seorang hamba untuk diucapkan -dan kita semua adalah hamba Allah- adalah, 

        (Ya Allah) tidak ada sesuatupun yang bisa mencegah apa yang Engkau berikan, tidak pula ada yang bisa memberi apa yang Engkau cegah. Tidak bermanfaat seluruh kemampuan seseorang karena hanya dari-Mu lah semua kekuatan.” 19

        Terkadang beliau membaca ketika shalat malam,

        لِرَبِّيَ الْحَمْدُ لِرَبِّيَ الْحَمْد

        “Hanya bagi Rabbku seluruh pujian, Hanya bagi Rabbku seluruh pujian” 20

        الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى

        “Segala pujian hanya milik Allah, pujian yang banyak, suci lagi penuh berkah di dalamnya dan keberkahan atas Allah, sebagaimana yang dicintai oleh Rabb kita dan diridhoi-Nya.” 21

        Imam an-Nawawi rahimahullah berkata (yang ini juga merupakan mazhab Imam asy-Syafi’i):

        “Disunnahkan bagi imam, makmum maupun yang shalat sendiri untuk menggabungkan dzikir:

        سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَرَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ

        Dia mengucapkan سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حمده ketika bangkit dari ruku’ kemudian mengucapkan رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ ketika sudah tegak berdiri dalam i’tidalnya karena telah sah riwayat hadits dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau melakukan hal itu  semuanya.”

        Demikian sedikit pemaparan terkait tata cara dan bacaan i’tidal sesuai bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam

        REI/AAA

        Penulis: Reihan Audie Sutopo

        Referensi: Fathul Bari, karya Imam Abul Fadhl Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-Asqalani rahimahullah (W. 852 H)

        Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi rahimahullah (W. 676)

        Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi rahimahullah (W. 676)

        Footnotes

        1. Maqayis al-Lughah (4/247)

          وَيُقَالُ: عَدَلْتُهُ حَتَّى اعْتَدَلَ، أَيْ أَقَمْتُهُ حَتَّى اسْتَقَامَ وَاسْتَوَى

        2. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab (3/416)

          قَالَ أَصْحَابُنَا وَالِاعْتِدَالُ الْوَاجِبُ هُوَ أَنْ يَعُودَ بَعْدَ رُكُوعِهِ إلَى الْهَيْئَةِ الَّتِي كَانَ عليها قبل الركوع سواء صلى قائما أو قَاعِدًا

        3. HR. al-Bukhari no. 793, di dalam shahihnya, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

        4. Syarh Shahih Muslim (4/108)

          وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى وُجُوبِ الِاعْتِدَالِ عَنِ الرُّكُوعِ

        5. HR. al-Bukhari no. 828, di dalam shahihnya, dari sahabat Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu.

        فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ

      2. Fathul Bari (2/308)

        وَالْمُرَادُ بِذَلِكَ كَمَالُ الِاعْتِدَالِ

      3. HR. Ahmad no. 18997, Ibnu Majah no. 1060 dan al-Baihaqi no. 3943, shahih, lihat Irwa’ul Ghalil no. 289 (1/321) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

      حَتَّى تَطْمَئِنَّ قَائِمًا

    3. Syarh Shahih Muslim (4/108)

      وَأَمَّا الِاعْتِدَالُ فَالْمَشْهُورُ مِنْ مَذْهَبِنَا وَمَذَاهِبِ الْعُلَمَاءِ يَجِبُ الطُّمَأْنِينَةُ فِيهِ كَمَا يَجِبُ فِي الْجُلُوسِ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ

    4. HR. Muslim (498)-240, di dalam shahihnya, dari sahabat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

    وَكَانَ إِذَا رَفَعَ مِنَ الرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا

  4. Syarh Shahih Muslim (4/214)

    وَفِيهِ وُجُوبُ الإعتدال إذا رفع من الركوع وأنه يَجِبُ أَنْ يَسْتَوِيَ قَائِمًا

  5. HR. al-Bukhari no. 735,738 dan Muslin (392) – 28, di dalam shahih keduanya dari sahabat Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhum.

  6. HR. al-Bukhari no. 789, di dalam shahihnya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

  7. HR. al-Bukhari no. 795, di dalam shahihnya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

  8. HR. al-Bukhari no. 796 dan Muslim (409) – 71, di dalam shahih keduanya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
  9. HR. Muslim (476) – 202, 203, di dalam shahihnya, dari sahabat Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu.

  10. HR. Muslim (771) – 201, di dalam shahihnya, dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

  11. HR. Muslim (478) – 206, di dalam shahihnya, dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

  12. HR. Muslim (477) – 205, di dalam shahihnya, dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.

  13. HR. an-Nasa’i no. 1069, 1145, shahih, lihat Shahih wa Dha’if Sunan an-Nasa’i (3/213, 289) dari sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu. 

  14. HR. Abu Dawud no.773, at-Tirmidzi no. 404 dan an-Nasa’i 931, shahih, lihat Misykah al-Mashabih, dari sahabat Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu ‘anhu.

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *