oleh

9 Amalan yang Disunnahkan bagi Orang yang Berpuasa

-Fikih-1,888 views

Tak seorang muslim pun meragukan bahwa ibadah puasa memiliki keutamaan yang sangat agung. Puasa merupakan ibadah yang dapat mendekatkan hubungan seorang hamba dengan Rabb-Nya. Melalui puasa seorang hamba akan meraih derajat takwa yang mampu mencegah dirinya dari dosa dan maksiat.

Maka Puasa hakekatnya menjadi perisai bagi pelakunya di dunia dari maksiat dan di akhirat dari azab neraka. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ

“Puasa itu adalah perisai.” 1

Terkait itu sangat penting bagi kita mengetahui amalan apa saja yang disunnahkan ketika berpuasa. Harapannya puasa kita dapat menjadi lebih maksimal dan berkualitas dan bernilai di sisi Allah. Berikut ini ada sembilan amalan yang disunnahkan bagi orang yang sedang berpuasa.

1. Makan Sahur

Makan sahur bukan sekadar kebutuhan asupan energi dalam menjalani puasa. Namun, bersahur merupakan amalan yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sang uswatun hasanah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَسَحَّرُوا، فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

“Bersahurlah, karena pada sahur terdapat keberkahan.” 2

Batasan seseorang telah dianggap bersahur tidak harus menyantap nasi beserta lauk dan kelengkapannya. Namun walaupun hanya mengonsumsi makanan ringan ia telah terhitung bersahur. Bahkan, kalaupun dengan seteguk air maka telah dinyatakan bersahur. Dalam sebuah riwayat hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, bersahurlah walaupun dengan seteguk air.

2. Sunah Mengakhirkan Sahur

Waktu makan sahur di akhir malam. Namun disunnahkan mengakhirkan sahur berdasarkan amalan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Sebagaimana yang dikisahkan oleh sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu,

‌تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ، قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ؟ قَالَ: قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

“Kami bersahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berdiri untuk shalat. Aku (Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) berkata: ‘Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?’ Ia menjawab: ‘Sekitar bacaan lima puluh ayat.’” 3

3. Menyegerakan Berbuka Puasa

Disisi lain saat berbuka puasa disunnahkan menyegerakannya. Dengan ketentuan bahwa waktu berbuka telah tiba, yaitu saat matahari terbenam. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا ‌عَجَّلُوا ‌الْفِطْرَ

“Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” 4

4. Berbuka dengan Ruthab (Kurma Basah)

Demikian pula, disunnahkan saat berbuka puasa untuk memulai dengan memakan ruthab (kurma basah). Apabila seseorang tidak mendapatkannya, maka bisa dengan kurma kering. Jika masih tidak tersedia, cukup dengan meminum air putih. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُفْطِرُ عَلَى ‌رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ ‌رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan beberapa ruthab (kurma basah) sebelum salat. Jika tidak ada ruthab, maka dengan beberapa butir kurma kering. Jika tidak ada, maka beliau meneguk beberapa tegukan air.” 5

5. Memperbanyak Do’a

Termasuk yang disunnahkan ketika berpuasa adalah memperbanyak doa, baik selama berpuasa maupun ketika hendak berbuka. Sebab, doa orang yang berpuasa termasuk salah satu doa yang mustajab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ لَا تُرَدُّ: دَعْوَةُ الوَالِدِ وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ المُسَافِرِ

“Tiga doa yang tidak akan ditolak (mustajab): doa orang tua terhadap anaknya, doa orang yang berpuasa, dan doa orang yang sedang dalam perjalanan (safar).”  6

6. Memperbanyak Amalan Shalih

Disunnahkan pula bagi orang yang berpuasa untuk memperbanyak amalan kebajikan dan shalih, seperti bersedekah, membaca Al-Qur’an, memberikan makanan berbuka puasa, serta melakukan amalan-amalan kebaikan lainnya. Dahulu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkenal sangat dermawan dan semangat melakukan kebaikan, terlebih di bulan Ramadhan.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ‌أَجْوَدَ ‌النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

““Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Beliau paling dermawan di bulan Ramadhan, yaitu ketika ditemui oleh Jibril. Setiap malam di bulan Ramadhan, Jibril menemuinya, lalu mereka saling mempelajari (mudarasah) Al-Qur’an. Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.”  7

7. Bersemangat dalam Melakukan Shalat Malam

Pada dasarnya, shalat malam adalah amalan sunnah yang dianjurkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selalu dilakukan oleh para salaf. Terlebih di bulan Ramadhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa menegakkan shalat malam di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” 8

Begitu pula, amalan shalat malam ini lebih ditekankan lagi pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dahulu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat melakukannya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Dahulu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan, mengencangkan tali pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” 9


Baca Juga: Waspada! Inilah Beberapa Kesalahan dalam Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan


8. Melakukan Umrah

Termasuk yang disunahkan bagi orang yang berpuasa di bulan Ramadhan adalah melakukan ibadah Umrah. Barang siapa melakukannya di bulan Ramadhan, maka pahalanya sama seperti melakukan haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ ‌عُمْرَةً ‌فِي ‌رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً مَعِي

“Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan menyamai (pahalanya seperti) haji bersamaku.” 10

9. Mengatakan إِنِّي صَائِمٌ (Sesungguhnya Saya Sedang Berpuasa) kepada Orang yang Mencelanya

Demikian pula, termasuk amalan sunnah bagi orang yang sedang berpuasa adalah mengucapkan

إِنِّي صَائِمٌ

(sesungguhnya saya sedang berpuasa) kepada orang yang mengganggu atau mencelanya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

“Apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah ia berkata kotor (rafats), dan jangan pula berteriak atau membuat gaduh. Jika ada seseorang yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” 11

Penutup

Demikian 9 sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan ketika berpuasa, khususnya di bulan Ramadan. Sepantasnya kita bersemangat menjalankan sunnah-sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengharap ridha Allah Ta’ala semata, agar Allah ‘Azza wa Jalla mencintai kita dan ridha terhadap keseriusan kita dalam mengikuti sunnah Nabi-Nya. Semoga bermanfaat. (RGA/LTC/IWU)

Penulis: Rasyid Ghani

Referensi:

  • Al-Qur’anul Karim
  • Shahih Al-Bukhari karya imam al-Bukhari rahimahullah (W. 254 H)
  • Shahih Muslim karya imam Muslim rahimahullah (W. 261 H)
  • Sunan At-Tirmidzi karya imam at-Tirmidzi (W. 279 H)
  • Sunan Abu Dawud karya imam Abu Dawud (W. 275 H)
  • Sunanul Kubra karya imam al-Baihaqi rahimahullah (W. 458 H)
  • Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah karya syaikh al-Albani rahimahullah (W. 1420 H)

Footnotes

  1. HR. Al-Bukhari No. 1894 dan Muslim No. 1151, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
  2. HR. Al-Bukhari No. 1923 dan Muslim No. 1095, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
  3. HR. Al-Bukhari No. 575 dan Muslim No. 1097 dengan lafazh Muslim, dari sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu
  4. HR. Al-Bukhari No. 1957 dan Muslim No. 1098, dari sahabat Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu
  5. HR. Abu Dawud No. 2356 dan At-Tirmidzi No. 696 dan dihasankan oleh beliau, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dan disahihkan pula oleh imam al-Albani rahimahullah di dalam Shahih at-Tirmidzi
  6. Diriwayatkan oleh imam al-Baihaqi 3/345 dan dishahihkan oleh imam al-Albani rahimahullah di dalam As-Shahihah 4/406
  7. HR. Al-Bukhari No. 6 dan Muslim No. 2308, dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu
  8. HR. Muslim No. 759, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
  9. HR. Al-Bukhari No. 2024 dan Muslim No. 1174, dari sahabat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha
  10. HR. Al-Bukhari No. 1823 dan Muslim No. 1252, dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu
  11. HR. Al-Bukhari No. 1904 dan Muslim No. 1151, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *