oleh

6 Kiat Menghadapi Adu Domba Sesuai Syariat

Lisan (lidah) merupakan anggota tubuh yang tak bertulang sehingga ringan dalam berucap dan bertutur kata. Namun perlu diketahui bahwa di sana banyak dosa yang berkaitan dengan lisan, di antaranya adalah adu domba atau namimah.

Definisi Adu Domba

Dalam istilah syariat disebut “Namimah”. Dalam tinjauan bahasa, namimah adalah: “Menukilkan/menyampaikan suatu pembicaraan kepada orang lain”.

Adapun secara istilah: “Menukilkan/menyampaikan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan untuk merusak hubungan di antara keduanya.” 1.

Penjelasan semisal ini juga datang dari Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah 2

Namimah atau adu domba adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk salah satu dosa dari dosa-dosa besar yang menjadi penyebab azab kubur bagi pelakunya. Pelaku namimah atau adu domba diibaratkan seperti pemilik dua wajah, ia bisa datang dan duduk dengan muka manis di hadapan seseorang, begitu pula ia bisa bermuka manis di hadapan orang lainnya padahal ia sedang menanamkan bibit-bibit permusuhan di antara keduanya dan merusak hubungan baik mereka.

Sebagaimana pula pelaku namimah atau adu domba diibaratkan seperti penyihir dan tindakannya sama seperti praktik sihir. Bila sihir bisa merusak akal, mengubah hati yang sebelumnya cinta menjadi benci, yang sebelumnya rukun dan damai seketika berubah menjadi kebencian, permusuhan, dan perpisahan, maka begitulah pula dampak dari perbuatan namimah atau adu domba.

Di Antara Dalil Tentang Keharaman dan Tercelanya Namimah atau Adu Domba

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافࣲ مَّهِینٍ. هَمَّازࣲ مَّشَّاۤءِۭ بِنَمِیمࣲ

“Dan jangan pula engkau patuhi setiap orang yang suka mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah.” (Al-Qalam: 10-11).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini,

وقوله: {هَمَّازٍ} قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَقَتَادَةُ: يعني الاغْتِيَاب.

{مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ} يعني: الّذِيْ يَمْشِيْ بَيْنَ النَّاسِ، وَيَحْرِشُ بَيْنَهُمْ وَيَنْقُلُ الحَدِيْثَ لِفَسَادِ ذَاتِ البَيْنِ وَهِيَ الحَالِقَةُ

Firman Allah Ta’ala (هماز) berkata Ibnu Abbas radhiyallahu anhu dan Qatadah rahimahullah: yaitu suka berbuat ghibah (menggunjing). (مشاء بنميم) yaitu orang yang berjalan di tengah-tengah manusia dan mengadu domba mereka, dan menukilkan atau menyampaikan pembicaraan seseorang kepada orang lain dengan tujuan untuk merusak hubungan dan ini adalah al-Haliqah (pencukur agama).”3.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لا يَدْخُلُ الجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Tidak akan masuk surga para pelaku namimah atau tukang adu domba.” 5.

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata;

يُفْسِدُ النَّمَامُ وَالكَذَّابُ فِيْ سَاعَةٍ مَا لاَ يُفْسِدُ السَّاحِرُ فِيْ سَنَةٍ

“Tukang adu domba dan seorang pendusta bisa merusak hubungan dalam waktu sesaat saja, yang tidak sanggup dilakukan oleh tukang sihir dalam waktu satu tahun.” 6.

Diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz rahimahullah bahwa ada seseorang yang menemui beliau lalu menyampaikan sesuatu tentang orang lain, lalu Umar bin Abdul Aziz berkata kepadanya, “Bila engkau mau, kami akan meneliti tentang perkaramu (ucapanmu), bila engkau berdusta, maka engkau tergolong dalam ayat ini;

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ إِن جَاۤءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإࣲ فَتَبَیَّنُوۤا۟

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (Al-Hujurat: 6)

Dan bila engkau jujur, maka engkau tergolong dalam ayat ini;

هَمَّازࣲ مَّشَّاۤءِۭ بِنَمِیمࣲ

“Suka mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah.” (Al-Qalam: 11) 

Dan bila engkau mau, maka kami akan memaafkanmu. Maka orang itu berkata, “Saya memilih meminta maaf wahai Amirul Mukminin, saya tidak akan pernah mengulanginya lagi selamanya.” 7.

Apa yang Hendaknya Dilakukan Bila Ada Orang yang Melakukan Adu Domba?

Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Setiap orang yang dibawakan kepadanya suatu namimah dan dikatakan kepadanya: fulan berkata tentang dirimu bahwa engkau begini dan begitu, maka diharuskan baginya menempuh enam poin berikut:

  1. Tidak membenarkan ucapannya. Karena dia adalah seorang pengadu domba, fasik, beritanya tertolak.
  2. Mencegahnya dan menasehatinya serta menyampaikan kepadanya tentang buruknya perilaku dia tersebut.
  3. Ia membencinya karena Allah, karena orang seperti ini dibenci oleh Allah Ta’ala, dan benci karena Allah hukumnya wajib.
  4. Tidak berburuk sangka terhadap orang yang dinukil darinya ucapan buruk tersebut, bersandar kepada firman Allah Ta’ala,

ٱجۡتَنِبُوا۟ كَثِیرࣰا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمࣱۖ

“Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (Al-Hujurat: 12)

Apa yang disampaikan kepadanya tidak mendorongnya untuk melakukan tajassus (memata-matai) serta berusaha mencari tahu kepastiannya, sebagai bentuk pembenaran atas firman Allah Ta’ala,

وَلَا تَجَسَّسُوا۟

“Dan janganlah kalian memata-matai.” (Al Hujurat: 12)

Ia tidak rela untuk dirinya sesuatu yang telah ia larang terhadap tukang namimah/pengadu domba, sehingga iapun tidak menceritakan namimah tersebut. 8.

Demikianlah sekelumit penjelasan tentang adu domba atau namimah, semoga Allah Subhanahu Wata’ala selalu membimbing kita kepada akhlak yang terpuji dan melindungi kita dari setiap akhlak yang tercela, di antaranya adalah namimah atau adu domba terhadap sesama. (ZDN/AAA/UAK)

Penulis: Zidan Ambon

Referensi:

  • Al-Qur’anul Kariim
  • Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan At Timimi (W. 1285 H) rahimahullah
  • Syarah Shahih Muslim karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi (W. 676 H) rahimahullah
  • Al-Qaulul Mufid karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (W. 1421 H) rahimahullah
  • Tafsir Ibnu Katsir karya Imam Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir – pakar tafsir di masanya- (W. 774 H) rahimahullah
  • Tanbihul Ghafilin bi Ahadiitsi Sayyidil Anbiyai wal Mursaliin karya Abul Laits Nashr bin Muhammad bin Ahmad As-Samarqandi (W. 373 H) rahimahullah
  • Al-Akhlaq was Siyar fi Mudaawaatin Nufus karya Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Hazm (Ibnu Hazm) Al-Andalusi (W. 456 H) rahimahullah
  • Al-Adzkar lin-Nawawi karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi (W. 676 H) rahimahullah

Footnotes

  1. Al-Qaulul Mufid, jilid 2 hal. 278
  2. Syarah Shahih Muslim, (16/159)
  3. Tafsir Ibnu Katsir ayat 11 dari Surat al Qalam hal. 191 Jilid 8
  4. HR. al-Bukhari, no. 6056 dan Muslim, no. 105 dari sahabat Hudzaifah radhiyallahu anhu [/efn-note].

    Perkataan Salaf Tentang Tercelanya Namimah atau Adu Domba

    Imam Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

    مَنْ نَقَلَ إِلَيْكَ حَدِيثًا فَاعْلَمْ أَنَّهُ يَنْقُلُ إِلَى غَيْرِكَ حَدِيثَكَ

    “Barang siapa menukilkan pembicaraan orang lain kepadamu, maka ketahuilah bahwa ia pun akan menukilkan pembicaraanmu kepada orang lain.”

    4 Tanbihul Ghafilin bi Ahadiitsi Sayyidil Anbiyai wal Mursaliin, hal. 173

  5. Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid, hal. 292
  6. Al-Adzkar lil-Nawawi, hal. 348

    Teks arab:

    وقد جاء أن رجلاً ذَكَرَ لعمرَ بن عبد العزيز رضي الله عنه رجلاً بشئ، فقال عمر: إن شئتَ نظرنَا في أمرك، فإن كنتَ كاذباً فأنتَ من أهل هذه الآية: (إنْ جاءَكُمْ فاسِقٌ بِنَبإ فَتَبَيَّنُوا) [الحجرات: ٦] وإن كنتَ صادقاً، فأنتَ من أهل هذه الآية: (هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بنَمِيمٍ) [القلم: ١١] وإن شئتَ عفونا عنك، قال: العفو يا أميرَ المؤمنين لا أعودُ إليه أبداً.

  7. Al-Akhlaq was Siyar fi Mudaawaatin Nufus li Ibni Hazm, hal. 37
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *