Para pembaca yang semoga dirahmati Allah Ta’ala, menuntut ilmu agama merupakan salah satu amalan yang sangat mulia. Banyak sekali keutamaan dan manfaat padanya. Lebih dari itu perlu disadari bahwa menurut ilmu agama adalah sebuah kewajiban setiap muslim dan muslimah. Di rubrik kali ini kami akan menyebutkan beberapa statemen ulama tentang pentingnya ilmu dan keutamaannya. Semoga dapat menjadi penyemangat bagi kita semua dalam menempuh jalan menca ilmu agama ini. Amin!
Ilmu adalah Sesuatu yang Paling Mulia
Imam al-Mawardi asy-Syafi’i rahimahullahu ta’ala berkata:
اعْلَمْ أَنَّ الْعِلْمَ أَشْرَفُ مَا رَغَّبَ فِيهِ الرَّاغِبُ، وَأَفْضَلُ مَا طَلَبَ وَجَدَّ فِيهِ الطَّالِبُ، وَأَنْفَعُ مَا كَسَبَهُ وَاقْتَنَاهُ الْكَاسِبُ؛ لِأَنَّ شَرَفَهُ يُثْمِرُ عَلَى صَاحِبِهِ، وَفَضْلَهُ يُنْمِي عَلَى طَالِبِهِ.
“Ketahuilah bahwa ilmu adalah sesuatu yang paling mulia yang didambakan seorang pendamba, yang paling utama dicari dan diperjuangkan oleh seorang pencari, serta paling bermanfaat untuk diusahakan dan diperoleh oleh orang yang berusaha. Karena kemuliaannya akan membuahkan hasil bagi pemiliknya, dan keutamaannya akan terus bertambah bagi pencarinya.” 1
Hakekat Ilmu yang Sebenarnya
Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu ta’ala pernah berkata tentang hal tersebut,
لَيْسَ العلْمُ مَا حُفِظَ، العِلْمُ مَا نَفَعَ
“hakekat ilmu bukan hanya sekadar dihafal, tetapi yang dapat memberi manfaat.” 2
Pernyataan beliau ini menjelaskan bahwa yang sebenarnya dianggap ilmu adalah yang bermanfaat, yaitu ilmu yang membuahkan amal shaleh dan menimbulkan rasa takut kepada Allah Ta’ala.
Bukti Bahwa Ilmu itu Mulia
Sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pernah mengatakan,
كَفَى بِالْعِلْمِ شَرَفًا أَنْ يَدَّعِيَهُ مَنْ لَا يُحْسِنُهُ، وَيَفْرَحَ بِهِ إِذَا نُسِبَ إِلَيْهِ، وَكَفَى بِالْجَهْلِ ضَعَةً أَنْ يَتَبَرَّأَ مِنْهُ مَنْ هُوَ فِيْهِ، وَيَغْضَبَ إِذَا نُسِبَ إِلَيْهِ
“Cukup menjadi tanda kemuliaan ilmu adanya orang yang mengklaim (berilmu) padahal ia tidak memilikinya dan ia bangga jika disandarkan ilmu kepadanya. Cukup menjadi tanda rendahnya kebodohan adanya orang yang berlepas diri darinya padahal dia memang bodoh dan ia marah jika disandarkan kebodohan itu kepadanya .” 3
Baca Juga: 14 Keutamaan Menuntut Ilmu Agama (Thalabul Ilmi) Beserta Dalilnya
Ilmu adalah Cahaya dan Maksiat akan Memadamkannya
Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu ta’ala pernah mengatakan dalam sebuah syairnya,
شَكَوْتُ إِلىَ وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ … فَأَرْشَدَنِيْ إِلىَ تَرْكِ المَعَاصِيْ
وَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ العِلْمَ نُوْرٌ وَنُوْرُ اللَّهِ لَا يُؤْتَاهُ عَاصِ
Kukeluhkan kepada Waki’ (guru beliau) buruknya hafalanku,…
Beliau pun membimbingku untuk meninggalkan maksiat,…
Dan berkata: Ketahuilah bahwa ilmu adalah cahaya,…
Dan cahaya Allah tidak dikaruniakan kepada pelaku maksiat,…
4Ilmu yang merupakan cahaya dari Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat menunjukkan bahwa kemaksiatan sebagai penghalang diraihnya ilmu dan sebagai pelenyap ilmu. Allahul musta’an
Jalan Ilmu adalah Jalan Menuju Keridhaan Allah Ta’ala
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullahu ta’ala mengatakan,
فَلَا طَرِيقَ إِلَى مَعْرِفَةِ اللَّهِ وَإِلَى الْوُصُولِ إِلَى رِضْوَانِهِ وَالْفَوْزِ بِقُرْبِهِ وَمُجَاوَرَتِهِ فِي الْآخِرَةِ، إِلَّا بِالْعِلْمِ النَّافِعِ الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ بِهِ رُسُلَهُ وَأَنْزَلَ بِهِ كُتُبَهُ.
“Maka tidak ada jalan untuk mengenal Allah, mencapai ridha-Nya, meraih kedekatan dengan-Nya, dan tinggal di sisi-Nya di akhirat, kecuali dengan ilmu yang bermanfaat, dengan ilmu Allah mengutus para rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya.” 5
Demikian yang bisa kami sajikan pada artikel kali ini, semoga bermanfaat, wallahu a’lam bish showab.
Penulis: Ahmad Daffa’ Faadhilah
(ADF/AAA/IWU)
Referensi:
- Adabud-dunya wad-diin
- Manakib asy-Syafii lil Baihaqi
- Jami’ul-masail wal-qawa’id fi ‘ilmil-ushuli wal-qawa’id
- Ad-Dau wad Dawa’
- Ibnu Rajab Al-Hanbali wa atsaruhu fi tawdhihi ‘aqidatis-salaf










Komentar