oleh

3 Wasiat Nabi kepada Abu Dzar dan Mu’adz radhiyallahu ‘anhuma

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok teladan bagi umatnya. Beliau merupakan nabi sekaligus rasul terbaik yang diutus ke muka bumi ini dengan mengemban amanah risalah/ajaran untuk disampaikan kepada umatnya. Beliau sangat bersemangat dalam membimbing umatnya kepada kebaikan serta mencegah dari berbagai dosa dan kemaksiatan.

Demikianlah bentuk gambaran kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah Ta’ala di dalam firman-Nya,

لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٌ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri. Terasa berat olehnya penderitaan yang kalian alami, sangat menginginkan (keselamatan) bagi kalian, dan ia sangat penyantun dan penyayang terhadap orang-orang beriman.” [At-Taubah: 128]

Termasuk bentuk kasih sayang beliau kepada umatnya adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memberikan wasiat kepada para sahabatnya. Sehingga hati mereka selalu hidup dan bersih dari berbagai kotoran disebabkan petuah yang beliau berikan kepada mereka.

Wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Dzar dan Mu’adz radhiyallahu ‘anhuma

Di antara sekian sahabat yang mendapatkan wasiat indah dari beliau adalah dua sahabat mulia, yaitu Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma. Hal ini diketahui dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan Ahmad, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‌اتَّقِ ‌اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، ‌وَخَالِقِ ‌النَّاسَ بِخُلقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah engkau kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus kejelekan tersebut, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” 1

Di dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepada kedua sahabatnya tentang 3 hal, yaitu bertakwa kepada Allah Ta’ala, mengiringi kejelekan dengan kebaikan, dan berakhlak yang baik ketika bergaul dengan manusia.

Namun perlu diingat, wasiat yang beliau berikan ini tidak hanya terbatas untuk kedua sahabat beliau ini saja, tetapi juga untuk kita semua sebagai umat beliau. Sehingga sejatinya, wasiat yang beliau sampaikan kepada dua sahabat tersebut berlaku pula untuk seluruh umatnya termasuk kita semua.

Wasiat Pertama: Senantiasa Bertakwa kepada Allah Ta’ala

Wasiat pertama yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikan ialah wasiat untuk selalu bertakwa kepada Allah Ta’ala di mana pun kita berada, baik ketika sedang bersendirian maupun di hadapan khalayak. Poin wasiat ini diambil dari potongan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اتَّقِ ‌اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ

“Bertakwalah engkau kepada Allah di mana pun engkau berada.”

Wasiat takwa merupakan wasiat yang sangat agung. Wasiat ini tidak hanya diberikan kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, melainkan umat-umat terdahulu juga mendapatkan wasiat takwa ini dari Allah ‘Azza wa Jalla. Di dalam firman-Nya, Allah Ta’ala berkata,

وَلَقَدۡ وَصَّيۡنَا ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلِكُمۡ وَإِيَّاكُمۡ أَنِ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ

“Dan sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang telah diberi kitab sebelum kalian dan juga kepada kalian agar bertakwa kepada Allah.” [An-Nisa’: 131]

Lantas, apa makna takwa? Banyak dari kalangan ulama salaf yang telah menyebutkan berbagai definisi takwa. Di antaranya Imam Ibnu Rajab (salah seorang pakar hadits tersohor di masa hidupnya) rahimahullah. Beliau menyebutkan,

أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَا يَخْشَاهُ مِنْ رَبِّهِ مِنْ غَضَبِهِ وَسَخَطِهِ وَعِقَابِهِ ‌وِقَايَةً تَقِيْهِ مِنْ ذَلِكَ وَهُوَ فِعْلُ طَاعَتِهِ وَاجْتِنَابُ مَعَاصِيْهِ

“Takwa adalah seorang hamba menjadikan antara dirinya dan apa yang ia takutkan dari Rabb-nya—berupa kemurkaan-Nya, kebencian-Nya, dan azab-Nya—sebuah perlindungan yang dapat melindunginya dari hal tersebut. Perlindungan tersebut adalah dengan melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya.” 2

Thalq bin Habib rahimahullah juga pernah mengatakan terkait definisi takwa, yaitu,

‌التَقْوَى أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللهِ، ‌عَلَى ‌نُوْرٍ مِنَ اللهِ، تَرْجُو ثَوَابَ اللهِ، وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللهِ ‌عَلَى ‌نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَخَافُ عِقَابَ اللهِ

“Takwa adalah engkau mengerjakan ketaatan kepada Allah di atas cahaya (ilmu) dari Allah, dengan mengharap pahala Allah. Dan engkau meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya (ilmu) dari Allah, karena takut akan azab Allah.” 3

Definisi di atas menunjukkan bahwa inti dari makna takwa itu adalah bagaimana seseorang itu dapat menjalankan perintah-perintah Allah ‘Azza wa Jalla serta menjauhi segala larangan-Nya berdasarkan cahaya ilmu yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, demi meraih ridha Allah Ta’ala dan terhindar dari murka-Nya.

Sebagaimana hal ini juga disimpulkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah (salah satu ulama tersohor di masa ini) yang beliau sebutkan di dalam kitab Majmu’ Fatawa. Kata beliau,

‌التَّقْوَى: هِيَ اِمْتِثَالُ أَوَامِرِ اللهِ، وَاجْتِنَابُ نَوَاهِيْهِ عَلَى عِلْمٍ وَبَصِيْرَةٍ

“Takwa adalah menjalankan berbagai perintah Allah Ta’ala dan menjauhi segala larangannya didasari ilmu.” 4

Wasiat Kedua: Mengiringi Kejelekan dengan Amal Kebaikan

Kemudian wasiat berikutnya adalah agar senantiasa mengiringi kejelekan yang kita lakukan dengan amalan kebaikan. Poin ini diambil dari potongan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَأَتْبِعِ السَّيِّئةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا

“Dan iringilah kejelekan dengan (amal) kebaikan, niscaya (amalan) kebaikan tersebut akan menghapus kejelekan.”

Allah Ta’ala juga berfirman di dalam al-Qur’an,

إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ

“Sesungguhnya amalan-amalan kebaikan dapat menghapus berbagai kejelekan.” [Hud: 114]

Wasiat ini tidak kalah penting dengan wasiat yang pertama. Karena, terkadang seorang hamba yang benar-benar merealisasikan wasiat takwa di atas bisa saja ia tergelincir kepada kesalahan, baik berupa meninggalkan perintah ataupun melakukan maksiat, sekalipun dosa-dosa besar dan perbuatan keji.

Bahkan, di antara tanda dari orang-orang bertakwa yaitu segera bangkit dan berbenah ketika terjatuh kepada kesalahan, dosa, maksiat, dan perbuatan keji. Allah Ta’ala berfirman di dalam ayat-Nya,

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ 

“Dan orang-orang yang apabila mereka mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka—dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah?—, dan mereka tidak terus-menerus dalam perbuatan dosa yang mereka lakukan, dalam keadaan mereka mengetahui.” [Ali Imran: 135]

Sebagian ulama ada yang menafsirkan kata الحَسَنَةُ (al-hasanah) dengan taubat. Hal ini dikuatkan dengan hadits mursal yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi rahimahullah, dari Muhammad bin Jubair rahimahullah beliau berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu‘adz ke Yaman. Ketika tiba waktu keberangkatannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya dan mengucapkan salam. Mu‘adz berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku akan berangkat, maka nasihatilah aku.’

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Mu‘adz, bertakwalah kepada Allah semaksimal kemampuanmu, beramallah untuk Allah ‘Azza wa Jalla dengan segenap kekuatanmu, dan ingatlah Allah ‘Azza wa Jalla di setiap (keadaan), di dekat setiap pohon dan batu. Apabila engkau melakukan suatu dosa, maka iringilah dengan taubat. Jika (dosa yang kau lakukan tersebut) terjadi secara sembunyi-sembunyi maka (bertaubatlah) dengan sembunyi-sembunyi pula. Namun jika secara terang-terangan maka (bertaubatlah) secara terang-terangan pula.’” 5

Ada juga yang menafsirkan bahwa kata الحَسَنَةُ (al-hasanah) lebih umum dari taubat, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ

“Sesungguhnya amalan-amalan kebaikan dapat menghapus berbagai kejelekan.” [Hud: 114]

Begitu pula dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيْهِمَا نَفْسَهُ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian ia shalat dua rakaat dan tidak berbicara (atau melalaikan diri) di dalamnya dengan bisikan nafsunya, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” 6


Baca Juga: CARA AHLUS SUNNAH MENYAMBUT RAMADHAN


Wasiat Ketiga: Berakhlak Mulia ketika Bergaul dengan Manusia

Wasiat yang ketiga yaitu berakhlak mulia di dalam berinteraksi dan bergaul dengan manusia. Poin ini diambil dari sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَخَالِقِ ‌النَّاسَ بِخُلقٍ حَسَنٍ

“Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik (mulia)!”

Manusia adalah makhluk sosial yang berarti akan sering terjadi interaksi antara satu dengan yang lainnya karena saling membutuhkan. Sehingga di dalam berinteraksi, masing-masing dituntut untuk berhias dengan akhlak yang mulia dan adab yang baik agar tidak terjadi perselisihan dan permusuhan antara mereka. Karena, banyaknya interaksi di antara manusia akan sangat rentan untuk terjadinya perselisihan. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ ٱلۡخُلَطَآءِ لَيَبۡغِي بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَقَلِيلٌ مَّا هُمۡۗ

“Dan sungguh, kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Sangat sedikit jumlah mereka itu.” [Ṣād: 24]

Demikianlah ayat menjelaskan, bahwa banyak dari manusia yang berinteraksi antara satu dengan yang lain akan bertindak zalim. Namun Allah Ta’ala mengecualikan orang beriman dan beramal saleh yang melakukan ketaatan kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Begitu pula di antara tujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus di muka bumi ini selain mendakwahkan tauhid adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia. Sebagaimana di dalam sabda beliau,

إنَّما ‌بُعِثْتُ ‌لِأُتَمِّمَ ‌مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia.” 7

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan akhlak mulia sebagai tanda sempurnanya keimanan seseorang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَاناً أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً

“Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya.” 8

Kesimpulan

Wasiat emas di atas bukan sekadar ucapan semata, melainkan menuntut kita semua untuk berusaha merealisasikannya. Dimulai dari wasiat untuk selalu bertakwa dalam kondisi apapun, kemudian wasiat untuk selalu mengiringi kejelekan yang kita perbuat dengan amal kebaikan sebagai penghapus kejelekan tersebut, dan wasiat untuk berhias dengan akhlak mulia.

Wasiat-wasiat di atas sungguh sangat berharga dan sangat lengkap. Di dalamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kepada kita akan hak-hak yang harus kita tunaikan. Dimulai dari hak Allah Ta’ala -yaitu untuk selalu bertakwa dan bertaubat- dan hak-hak sesama -yaitu berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur di dalam berinteraksi dengan mereka.

Semoga wasiat ini benar-benar menjadi pengingat yang bermanfaat untuk kita semua di dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari. Karena pengingat dan peringatan itu sangat berguna bagi orang-orang beriman. Allah Ta’ala berfirman,

وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

“Dan berilah peringatan! Karena peringatan itu sangat bermanfaat bagi kaum mukminin.” [Adz-Dzariyat: 55]

Semoga bermanfaat. (RGA/LTC/ATH)

Penulis: Rasyid Ghani

Referensi:

  •       Al-Qur’anul Karim
  •       Shahih Al-Bukhari karya Imam Al-Bukhari rahimahullah (W: 256 H)
  •       Shahih Muslim karya Imam Muslim rahimahullah (W: 261 H)
  •       Sunan At-Tirmidzi karya Imam At-Tirmidzi rahimahullah (W: 279 H)
  •       Musnad Ahmad karya Imam Ahmad rahimahullah (W: 241 H)
  •       Al-Mushannaf karya Imam Ibnu Abi Syaibah rahimahullah (W: 235 H)
  •       As-Sunan Al-Kabir karya Imam Al-Baihaqi rahimahullah (W: 458 H)
  •       Az-Zuhd Al-Kabir Kabir karya Imam Al-Baihaqi rahimahullah (W: 458 H)
  •       Jami’ul  ‘Ulum wal Hikam karya Imam Ibnu Rajab rahimahullah (W: 495 H)
  •       Majmu’ Fatawa

Footnotes

  1. HR. At-Tirmidzi No. 2102 dan Ahmad No. 21988, dari sahabat Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma
  2. Jami’ul Ilmi wal Hikam, Hal. 378
  3. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah rahimahullah di dalam Mushannaf, No. 37893
  4. Lihat Majmu’ Fatawa 10/1066
  5. Diriwayatkan oleh imam Al-Baihaqi rahimahullah di dalam kitab Az-Zuhd Al-Kabir, No. 957, dengan lafazh,

    بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَلَمَّا حَضَرَ رَحِيلَهُ أَتَاهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُسَلِّمُ عَلَيْهِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي مُنْطَلِقٌ فَعِظْنِي، فَقَالَ: يَا مُعَاذُ اتَّقِ اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتَ وَاعْمَلْ بِقُوَّتِكَ لِلَّهِ عز وجل مَا أَطَقْتَ، وَاذْكُرِ اللَّهَ عز وجل عِنْدَ كُلِّ شَجَرٍ وَحَجَرٍ، ‌وَإِنْ ‌أَحْدَثْتَ ‌ذَنْبًا، فَأَحْدِثْ عِنْدَهُ تَوْبَةً إِنْ سِرًّا فَسِرًّا، وَإِنْ عَلَانِيَةً فَعَلَانِيَةً

  6. HR. Al-Bukhari No. 159 dan Muslim No. 226, dari sahabat ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu
  7. HR. Al-Baihaqi di dalam Sunan Kubra No. 20819, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
  8. Diriwayatkan oleh imam Abu Dawud No. 4686, At-Tirmidzi No. 1162, Ahmad No. 7396, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dinyatakan hadits hasan shahih oleh Syaikh Albani rahimahullah
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait