oleh

Wafat Masih Ada Hutang Puasa, Bagaimana Hukumnya?

-Fikih-3,829 views

Terkadang didapati seseorang wafat dalam keadaan dia masih memiliki hutang puasa. Bagaimanakah bimbingan syariat Islam dalam menyikapi hal tersebut? Berikut ulasannya,

Bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barangsiapa yang wafat dalam keadaan masih ada hutang puasa, maka walinya yang berpuasa untuknya.”1

Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah (w. 676 H) berkata,

“Wali adalah keluarga dekat, baik keluarga secara umum, ahli waris atau selainnya. Dikatakan pula wali adalah ahli waris saja atau keluarga secara umum saja. Namun, yang benar adalah pendapat pertama.

Sehingga, kalau seandainya orang lain (bukan anggota keluarganya) yang berpuasa untuk menggantikan puasa si mayit, puasanya tetap sah dengan syarat mendapatkan izin dari walinya, kalau tidak ada izin dari walinya maka tidak sah, inilah pendapat yang paling benar.”2

Wali Mayit Membayarkan Fidyah ataukah Menggantikan Puasanya?

Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah (w. 676 H) berkata,

“Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum orang yang meninggal dalam keadaan masih ada hutang puasa wajib, seperti puasa Ramadhan, qadha, nazar atau puasa wajib lainnya. Apakah walinya yang menggantikan untuknya? Ada dua pendapat mazhab Syafi’iyah yang terkenal dalam permasalahan ini.

Pendapat yang paling terkenal adalah; secara asal tidak digantikan untuk si mayit dan tidak sah puasa yang digantikan untuknya.

Pendapat yang kedua; disunnahkan bagi walinya untuk mengganti hutang puasa si mayit. Puasa yang digantikan tersebut sah. Sehingga si mayit terbebaskan dari tanggungan hutang puasa dan tidak perlu untuk memberi makan (fidyah).”

Setelah menyampaikan dua pendapat para ulama dalam perkara tersebut, Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah (w. 676 H) melanjutkan,

“Inilah (pendapat kedua) yang kami yakini benar, ini juga pendapat yang dishahihkan oleh para ulama ahli penelitian (pada bidang hadits) dari mazhab kami (mazhab Syafi’iyah). Mereka menggabungkan antara fikih dan hadits dengan menggunakan hadits-hadits yang sahih dan jelas.

Adapun hadits,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرٍ، فَلْيُطْعَمْ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينٌ

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan masih ada hutang puasa sebulan, maka diganti dengan fidyah untuknya setiap satu hari (ia memberi makan) satu orang fakir miskin.”3

“Hadits tersebut tidak shahih, kalaupun seandainya hadits tersebut shahih maka kedua hadits di atas masih bisa digabungkan. Yaitu dengan dibawa kepada makna, boleh melakukan keduanya, barangsiapa yang berpendapat boleh berpuasa dia juga boleh memberi fidyah. Maka, yang benar adalah boleh berpuasa atau memberi fidyah untuk si mayit. Dan wali mayitlah yang berhak menentukannya.“4

Demikianlah perkataan Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah (w. 676 H) dalam kitab beliau yang berjudul al-Minhaj.

Adapun jumhur ulama berpendapat bahwa hutang puasa mayit tidak bisa digantikan, baik puasa nazar atau selainnya. Pendapat tersebut diriwayatkan oleh Imam Ibnul Munzir dari sahabat Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Aisyah, satu riwayat dari imam al-Hasan dan az-Zuhri demikian pula pendapat Imam Malik dan Abu Hanifah.

Oleh karena itu terkait dengan pendapat jumhur tersebut, Imam al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah dan selainnya berkata,

“Itulah pendapat jumhur ulama, mereka mentakwil hadits bahwa wali mayit memberikan makan (fidyah bukan dengan mengganti puasa). Ini adalah takwil yang lemah bahkan batil. Apakah ada perkara darurat yang mengharuskan takwil tersebut? Adakah yang menghalangi untuk mengamalkan makna hadits secara zahirnya? Bersamaan dengan itu, hadits-hadits sangatlah jelas dan tidak ada pertentangan.”5

Selain itu Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah (w. 620 M) berkata,

“Barangsiapa yang bernazar untuk haji, puasa, sedekah, memerdekakan budak, i’tikaf, shalat atau selainnya dari ketaatan, kemudian dia wafat sebelum menunaikannya maka walinya yang menunaikan untuk si mayit.”

Namun, terkait dengan shalat, Imam Ahmad rahimahullah mengatakan bahwa “shalat seorang mayit tidak digantikan, karena shalat tidak ada yang bisa menggantikannya. Adapun ibadah selain shalat, maka boleh digantikan oleh walinya. Menunaikan hutang mayit tidak wajib bagi walinya, akan tetapi sunnah, dalam rangka meyambung tali silaturahmi dan berbuat baik kepadanya.”6

Dengan demikian disunnahkan untuk berpuasa atau memberikan fidyah bagi wali mayit untuk menggantikan hutang puasa mayit tersebut. Wali mayit mempunyai hak untuk menentukan apakah dibayar dengan berpuasa atau fidyah. Maka sepantasnya bagi seorang muslim untuk memperhatikan perkara tersebut. Wallahu a’lam. LHL-AAA/AAK

Penulis: Lekat Hidayat

Referensi

  • Al-Mugni Karya Imam Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah (W 620 M) rahimahullah.

  • Al-Minhaj karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi (W 676 H) rahimahullah.


1 HR. al-Bukhari no. 1952 dan Muslim no. 1147 di dalam shahih keduanya, dari sahabiyah Aisyah radhiyallahu ‘anha.

2 Al-Minhaj (26/8)

وَالْمُرَادُ بِالْوَلِيِّ الْقَرِيبُ سَوَاءٌ كَانَ عَصَبَةً أَوْ وَارِثًا أَوْ غَيْرَهُمَا وَقِيلَ الْمُرَادُ الْوَارِثُ وَقِيلَ الْعَصَبَةُ وَالصَّحِيحُ الْأَوَّلُ وَلَوْ صَامَ عَنْهُ أَجْنَبِيٌّ إِنْ كَانَ بِإِذْنِ الْوَلِيِّ صَحَّ وَإِلَّا فَلَا فِي الْأَصَحِّ

3 HR. Ibnu Majah no. 1757 dan selainnya di dalam sunannya dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. Dhaif, Shahih Wa Dhaif Sunan Ibnu Majah no. 1757, Dhaif al-jami’ no. 5853.

4 Al-Minhaj (25-26/8)

اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِيمَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَوْمٌ وَاجِبٌ مِنْ رَمَضَانَ أَوْ قَضَاءٌ أَوْ نَذْرٌ أَوْ غَيْرُهُ هَلْ يُقْضَى عَنْهُ وَلِلشَّافِعِيِّ فِي الْمَسْأَلَةِ قَوْلَانِ مَشْهُورَانِ أَشْهَرُهُمَا لَا يُصَامُ عَنْهُ وَلَا يَصِحُّ عَنْ مَيِّتٍ صَوْمٌ أَصْلًا وَالثَّانِي يُسْتَحَبُّ لِوَلِيِّهِ أَنْ يَصُومَ عَنْهُ وَيَصِحُّ صَوْمُهُ عَنْهُ وَيَبْرَأُ بِهِ الْمَيِّتُ وَلَا يَحْتَاجُ إِلَى إِطْعَامٍ عَنْهُ وَهَذَا الْقَوْلُ هُوَ الصَّحِيحُ الْمُخْتَارُ الَّذِي نَعْتَقِدُهُ وَهُوَ الَّذِي صَحَّحَهُ مُحَقِّقُو أَصْحَابِنَا الْجَامِعُونَ بَيْنَ الْفِقْهِ وَالْحَدِيثِ لِهَذِهِ الْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ الصَّرِيحَةِ وَأَمَّا الْحَدِيثُ الْوَارِدُ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ أُطْعِمَ عَنْهُ فَلَيْسَ بِثَابِتٍ وَلَوْ ثَبَتَ أَمْكَنَ الْجَمْعُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ بِأَنْ يُحْمَلَ عَلَى جَوَازِ الْأَمْرَيْنِ فَإِنَّ مَنْ يَقُولُ بِالصِّيَامِ يَجُوزُ عِنْدَهُ الْإِطْعَامُ فَثَبَتَ أَنَّ الصَّوَابَ الْمُتَعَيِّنَ تَجْوِيزُ الصِّيَامِ وَتَجْوِيزُ الْإِطْعَامِ وَالْوَلِيُّ مُخَيَّرٌ بَيْنَهُمَا

5 Al-Minhaj (26/8)

وَذَهَبَ الْجُمْهُورُ إِلَى أَنَّهُ لَا يُصَامُ عَنْ مَيِّتٍ لَا نَذْرَ ولا غيره حكاه بن المنذر عن بن عمر وبن عَبَّاسٍ وَعَائِشَةَ وَرِوَايَةً عَنِ الْحَسَنِ وَالزُّهْرِيِّ وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ وَغَيْرُهُ هُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ وَتَأَوَّلُوا الْحَدِيثَ عَلَى أَنَّهُ يُطْعِمُ عَنْهُ وَلِيُّهُ وَهَذَا تَأْوِيلٌ ضَعِيفٌ بَلْ بَاطِلٌ وَأَيُّ ضَرُورَةٍ إِلَيْهِ وَأَيُّ مَانِعٍ يَمْنَعُ مِنَ الْعَمَلِ بِظَاهِرِهِ مَعَ تَظَاهُرِ الْأَحَادِيثِ مَعَ عَدَمِ الْمُعَارِضِ لَهَا قَالَ الْقَاضِي وَأَصْحَابُنَا وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ لَا يُصَلَّى عَنْهُ صَلَاةٌ فَائِتَةٌ وَعَلَى أَنَّهُ لَا يُصَامُ عَنْ أَحَدٍ فِي حَيَاتِهِ وَإِنَّمَا الْخِلَافُ فِي الْمَيِّتِ والله أعلم

6 Al-Mughni (28/10)

مَنْ نَذَرَ حَجًّا، أَوْ صِيَامًا، أَوْ صَدَقَةً، أَوْ عِتْقًا، أَوْ اعْتِكَافًا، أَوْ صَلَاةً، أَوْ غَيْرَهُ مِنْ الطَّاعَاتِ، وَمَاتَ قَبْلَ فِعْلِهِ، فَعَلَهُ الْوَلِيُّ عَنْهُ. وَعَنْ أَحْمَدَ فِي الصَّلَاةِ: لَا يُصَلَّى عَنْ الْمَيِّتِ؛ لِأَنَّهَا لَا بَدَلَ لَهَا بِحَالٍ، وَأَمَّا سَائِرُ الْأَعْمَالِ فَيَجُوزُ أَنْ يَنُوبَ الْوَلِيُّ عَنْهُ فِيهَا، وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ عَلَيْهِ، وَلَكِنْ يُسْتَحَبُّ لَهُ ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ الصِّلَةِ لَهُ وَالْمَعْرُوفِ.

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *