oleh

Tiga Tingkatan di dalam Berdakwah 

-Manhaj-1,684 views

Pembaca sekalian rahimakumullah, berdakwah merupakan tingkatan ke-3 dari 4 hal yang wajib bagi kita umat Islam untuk mengetahui dan mempelajarinya. Di samping itu, berdakwah merupakan jalan yang ditempuh oleh para nabi dan para pengikutnya, hal ini sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan di dalam surah Yusuf, 

قُلْ هٰذِه سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِۗ عَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْۗ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْن

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (seluruh manusia) kepada Allah dengan bukti yang nyata. Mahasuci Allah dan aku tidak termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Yusuf 108). 

Namun, tentunya dalam berdakwah itu ada hal-hal yang perlu kita ingat dan kita pelajari. Di antaranya, kita harus mengetahui tingkatan-tingkatan di dalam berdakwah, yaitu: 

  1. Berdakwah dengan hikmah  
  2. Berdakwah dengan mau’izhah hasanah
  3. Berdakwah dengan mujadalah 

Mengapa di dalam Berdakwah Perlu diterapkan 3 Tingkatan Ini? 

Secara asal, di dalam berdakwah kita harus menggunakan metode hikmah, sebagaimana firman Allah, 

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِه وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ   

“Serulah (manusia) ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl 125) 

Namun, tentu di sana ada kondisi-kondisi yang membutuhkan untuk menggunakan metode berdakwah dengan cara yang lainnya, yaitu; mau’izhah hasanah dan mujadalah. Karena, bisa jadi orang yang kita dakwahkan adalah orang yang memang sama sekali tidak memiliki ilmu dan dia tidak menentang terhadap sesuatu yang kita dakwahkan, sehingga orang tersebut didakwahi dengan metode hikmah.  

Ada pula tipe orang yang harus didakwahi dengan menggunakan metode mau’izhah, yaitu orang yang memiliki sedikit penolakan atas sesuatu yang kita dakwahkan, sehingga dia perlu didakwahi dengan metode mau’izhah hasanah.  

Ada juga tipe orang yang ketika didakwahi, dia menolak dan berpaling dari dakwah tersebut, maka tipe orang yang seperti ini didakwahi dengan metode mujadalah. 

Makna dari Berdakwah dengan Hikmah, Mau’izhah dan Mujadalah. 

Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya, bahwa di dalam berdakwah kita harus mengetahui 3 tingkatan, yaitu; hikmah, mau’izhah hasanah, dan mujadalah. Namun, kita juga perlu untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan metode dakwah dengan 3 tingkatannya tersebut. 

1. Berdakwah dengan Hikmah. 

Berdakwah dengan hikmah yaitu dengan cara kita menjelaskan kebenaran atas apa yang kita dakwahkan itu kepada lawan bicara kita.  

Metode ini dapat kita pakai di saat lawan bicara kita adalah orang yang memang tidak memiliki ilmu dan tidak menampakkan penolakan serta penentangan sedikit pun. 

2. Berdakwah dengan Mau’izhah. 

Berdakwah dengan mau’izhah yaitu dengan cara kita memberikan nasihat serta wejangan yang mengandung kalimat-kalimat motivasi atau dengan kalimat-kalimat yang berisi ancaman-ancaman dalam rangka menakut-nakuti, atau bisa dengan keduanya sesuai kondisi yang ada.  

Metode ini dapat dijalankan di saat kondisi orang yang kita dakwahi itu terlihat ada sedikit penolakan dan tidak mau menerima kebenaran yang telah kita sampaikan. 

3. Berdakwah dengan Mujadalah. 

Adapun berdakwah dengan metode mujadalah yaitu dengan kita mendebatnya dengan cara yang baik, dengan membujuknya, atau mengajak berdiskusi dan berdialog.  

Hal ini bisa kita terapkan ketika kita mendapati orang yang kita dakwahi tersebut menolak dan menyelisihi kebenaran dari ajakan dakwah yang kita sampaikan. Metode ini sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, tatkala beliau mendebat seorang raja, yang mana raja tersebut mendebat beliau tentang kekuasaan dan kebesaran Allah Ta’ala, yaitu yang Allah Ta’ala abadikan di dalam surah al-Baqarah ayat yang ke 258, 

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْ حَاۤجَّ اِبْرٰهمَ فِيْ رَبِّه اَنْ اٰتٰىهُ اللّٰهُ الْمُلْكَۘ اِذْ قَالَ اِبْرٰهمُ رَبِّيَ الَّذِيْ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۙ قَالَ اَنَا۠ اُحْيٖ وَاُمِيْتُۗ قَالَ اِبْرٰهمُ فَاِنَّ اللّٰهَ يَأْتِيْ بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِيْ كَفَرَۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَۚ  

“Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Rabbnya karena Allah telah menganugerahkan kepadanya (orang itu) kerajaan (kekuasaan), (yakni) ketika Ibrahim berkata, “Tuhankulah yang menghidupkan dan mematikan.” (Orang itu) berkata, “Aku (pun) dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata, “Kalau begitu, sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur. Maka, terbitkanlah ia dari barat.” Akhirnya, bingunglah orang yang kufur itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” 

Lantas, bagaimana cara raja tersebut di dalam menghidupkan dan mematikan menurut versi dia? Jadi, saat itu didatangkanlah seseorang yang memang pantas untuk dibunuh, namun sang raja membebaskannya dan tidak membunuhnya. Kemudian, didatangkan seseorang yang secara asal tidak berhak untuk dibunuh, namun sang raja malah membunuh orang tersebut. Inilah yang dianggap bahwa dia (sang raja yang zhalim itu) bisa menghidupkan dan mematikan. Sehingga, nabi Ibrahim pun mendebat raja tersebut seraya mengatakan, “Di saat engkau didatangkan orang yang memang pantas untuk dibunuh hanya saja engkau tidak membunuhnya, itu bukan berarti engkau menghidupkannya, karena kehidupan memang sudah ada sebelumnya pada dirinya, hanya saja engkau membiarkannya hidup.” 

Demikian pula sebagaimana yang pernah dikisahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Dajjal, bahwa suatu ketika didatangkan kepada Dajjal seorang pemuda belia, dan pemuda tersebut tahu dan mengakui bahwa orang yang di hadapannya itu adalah Dajjal yang pernah dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian pemuda tersebut dibunuh oleh Dajjal, lalu tubuh pemuda tersebut dibelah menjadi 2 bagian dan kedua bagian tubuh tersebut dipisahkan dengan jarak tertentu, yang ini menunjukkan bahwa 2 bagian tersebut benar-benar terpisah. Lalu, Dajjal memanggil pemuda tersebut, lantas 2 bagian tubuh pemuda tersebut kembali bersatu dan bangkit sambil bertahlil dengan tertawa seraya mengatakan, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah benar-benar Dajjal yang pernah diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian Dajjal kembali menghampiri pemuda tersebut untuk membunuhnya, namun dia tidak mampu. Ini semua menunjukkan bahwa seluruh perkara itu di bawah kekuasaan dan kehendak Allah Ta’ala.   

Maka, dengan kita mengetahui 3 tingkatan di dalam metode berdakwah menjadikan kita lebih bijak dan hikmah di dalam mengambil sikap dan mengatur langkah di saat berhadapan dengan orang-orang yang sikapnya di dalam menerima kebenaran itu bermacam-macam.  

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kepada kita semua taufik agar bisa berdakwah di jalan Allah Ta’ala di atas ilmu dalam rangka meniti jalan Nabi ﷺ serta para sahabatnya, Aamiin. (RGA/AAA/UAK) 

Penulis: Rasyid Ghani  

Referensi: 

  1. Al-Qur’anul Karim 
  2. Shahih Al-Bukhari dan Muslim 
  3. Kitabul Ilmi karya as-Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullah.

 


 

 

 

join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *