oleh

Tata Cara Sujud Sesuai Sunnah Nabi

-Fikih-4,540 views

Pembahasan tata cara sujud sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan salah satu poin penting yang wajib bagi setiap muslim untuk mengetahuinya. Karena hal ini berkaitan dengan salah satu rukun Islam yaitu ibadah shalat.

Oleh karenanya, pada artikel kali ini kami akan sedikit mengupas terkait tata cara sujud sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta beberapa penjelasan yang terkait dengannya.

Sujud Merupakan Salah Satu Rukun di dalam Shalat

Sujud adalah sebuah ibadah yang Allah Ta’ala perintahkan di dalam al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ارْكَعُوْا وَاسْجُدُوْا وَاعْبُدُوْا رَبَّكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah dan beribadahlah kalian kepada Rabb kalian.” (Al-Hajj: 77)

Sujud merupakan salah satu di antara rukun-rukun shalat yang wajib bagi seorang muslim untuk menunaikannya dengan penuh khusyu’ dan thuma’ninah. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا

“Kemudian sujudlah hingga thuma’ninah (tenang) dalam sujudmu.” 1

Tata Cara Sujud Sesuai Sunnah Nabi

Sujud dilakukan sebanyak dua kali dalam setiap rakaat. Dan posisi sujud berada di atas tujuh anggota tubuh. Hal ini sebagaimana yang tersebutkan dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ الجَبْهَةِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَاليَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ القَدَمَيْنِ

“Aku diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh tulang: dahi sambil beliau menunjuk ke arah hidung, dua telapak tangan, dua lutut dan ujung jari jemari kedua kaki.” 2

Beberapa Larangan Ketika Sujud

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari gerakan sujud yang menyerupai unta ketika menderum. Karena unta itu lebih dahulu meletakkan kedua lututnya dan itu adalah “tangannya”. Sebagaimana di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيرُ، وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْه

“Apabila salah seorang dari kalian sujud, maka janganlah dia menderum seperti unta. Tapi hendaklah dia meletakkan tangannya terlebih dahulu sebelum kedua lututnya.” 3

Begitu pula Nabi memerintahkan kita untuk meletakkan kedua telapak tangan dan mengangkat kedua siku serta melarang dari posisi sujud yang menyerupai seekor anjing. Beliau bersabda,

إِذَا سَجَدْتَ، فَضَعْ كَفَّيْكَ وَارْفَعْ مِرْفَقَيْكَ

“Apabila kamu sujud, letakkanlah kedua tapak tanganmu dan angkatlah kedua sikumu!” 4

Di dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اعْتَدِلُوا فِي السُّجُودِ، وَلاَ يَبْسُطْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الكَلْبِ

“Luruslah kalian ketika sujud, dan janganlah salah seorang dari kalian membentangkan kedua lengannya seperti bentangan tangannya seekor anjing!” 5

Macam-macam Doa dan Dzikir yang Shahih Ketika Sujud

Berikut ini kami sajikan alternatif dzikir yang disunnahkan untuk dibaca ketika sujud:

Pertama:

سُبْحَانَ رَبِّي الْأَعْلَى

“Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi.” (dibaca 3 kali) 6

Kedua:

سُبْحَانَ رَبِّي الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

“Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi dengan pujian-Nya.” (dibaca 3 kali) 7

Ketiga:

سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ، رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ

“Maha Suci lagi Maha Mulia, Rabb para malaikat dan malaikat Jibril.” 8

Keempat:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

“Maha Suci Engkau ya Allah, Rabb kami. Dan dengan memuji-Mu, Ya Allah ampunilah aku.” 9

Kelima:

اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ، وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ

“Ya Allah ampunilah seluruh dosaku, yang kecil maupun yang besar, yang pertama maupun yang terakhir, yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.” 10

Tuntunan Syari’at dalam Membaca Seluruh Dzikir Ketika Sujud

Masing-masing dari jenis-jenis dzikir ini sah (bila seseorang membaca salah satunya), namun yang lebih utama adalah terkadang membaca dzikir yang ini (pada satu shalat) dan terkadang membaca yang lain (pada shalat yang lain). Ini berdasarkan sebuah kaidah, yaitu bahwa ibadah yang cara pelaksanaanya terdapat beberapa bentuk, maka yang utama dalam hal itu adalah mengerjakan semuanya secara bergantian. 11

Adapun doa dan dzikir ketika sujud merupakan salah satu dari kewajiban-kewajiban shalat yang juga harus dia kerjakan. Bila ditinggalkan dengan sengaja maka shalatnya batal. Namun jika tidak sengaja atau lupa, maka cukup baginya melakukan sujud sahwi di akhir shalatnya tanpa harus mengganti. 12


Baca Juga: Zikir Duduk di Antara Dua Sujud, Tuntunan dan Bacaannya


Keutamaan Sujud

Di antara keutamaan sujud yang akan seseorang peroleh ketika ia melaksanakannya sesuai dengan tata cara  yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan adalah Allah Ta’ala mengharamkan atasnya api neraka di hari kiamat dengan sebab sujud yang dia lakukan di dunia. Hal ini sesuai dengan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ رَحْمَةَ مَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، أَمَرَ اللَّهُ المَلاَئِكَةَ: أَنْ يُخْرِجُوا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ، فَيُخْرِجُونَهُمْ وَيَعْرِفُونَهُمْ بِآثَارِ السُّجُودِ، وَحَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُودِ، فَيَخْرُجُونَ مِنَ النَّارِ، فَكُلُّ ابْنِ آدَمَ تَأْكُلُهُ النَّارُ إِلَّا أَثَرَ السُّجُودِ

“Apabila Allah menghendaki rahmat untuk orang yang Dia kehendaki dari penduduk neraka, maka Allah perintahkan para malaikat untuk mengeluarkan (dari neraka) orang yang dahulu beribadah Allah. Maka para malaikat pun mengeluarkan mereka dan para malaikat mengenali mereka dengan adanya bekas sujud. Allah mengharamkan bagi neraka untuk membakar bekas-bekas sujud. Lalu mereka pun keluar dari neraka. Maka seluruh manusia pasti akan dilahap oleh api neraka kecuali bekas sujud.” 13

Penutup

Demikianlah pembahasan kami tentang tata cara sujud sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Mudah-mudahan yang sedikit ini kita diberi taufik oleh Allah Ta’ala untuk bisa memahaminya kemudian mengamalkannya dalam ibadah shalat kita. Aamiin. (KWB/AAA/ATH)

Referensi:

  1. Al-Fiqhul Muyassar fi Dhau’il Kitabi was Sunnah.
  2. Shifatu Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Syaikh Muhammad bin Nuh rahimahullah.
  3. Hishnul Muslim min Adzkaril Kitabi was Sunnah.
  4. Shahih al-Bukhari karya Imam Muhammad bin Ismail bin Ibrohim (W. 256 H) rahimahullah.
  5. Shahih Muslim karya Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairy an-Naisabury (W. 271 H) rahimahullah.
  6. Sunan Abi Dawud karya Imam Sulaiman bin Asy-ats Abu Dawud as-Sijistani (W 275 H) rahimahullah.
  7. Sunan Ibnu Majah karya Imam Abu Abdillah bin Yazid bin Majah ar-Raba’i al-Qazwini (W 273 H) rahimahullah.
  8. Sunan ad-Daruquthni karya Imam Ali bin Umar bin Ahmad bin Maddy (W 385 H) rahimahullah.

 

Footnotes

  1. HR. al-Bukhari no. 6251 dan Muslim no. 397 dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
  2. HR al-Bukhari no. 809 dan Muslim no. 490. Hadits ini adalah redaksi dari riwayat Muslim dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu. 
  3.  HR. Abu Dawud no. 840 dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu anhu dan dishahikan oleh syaikh Muhammad bin Nuh rahimahullah.
  4.  HR. Muslim no. 234 dari sahabat al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu.
  5.  HR. al-Bukhari no. 822 dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
  6. HR. Ibnu Majah no. 888. Disahihkan oleh Syaikh Muhammad bin Nuh dalam sahih Sunan Ibnu Majah (1/30). 
  7.  HR. ad-Daruquthni no. 1292, dari sahabat Hudzaifah radhiyallahu’anhu. Disahihkan oleh Syaikh Muhammad bin Nuh di dalam kitab “Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”.
  8.  HR. Muslim no. 487 dalam sahihnya dari Sahabiyah ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha.
  9.  HR. al-Bukhari no. 794, dari Sahabiyah Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu’anha. 
  10. HR. Muslim no. 483, dalam sahihnya dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu.
  11. Lihat Syarah al-Mumti’ (3/48).

    وكلُّ واحدة من هذه الصِّفات مجزئة، ولكن الأفضل أن يقول هذا أحياناً، وهذا أحياناً، على القاعدة التي قرَّرناها فيما سبق، مِن أنَّ العبادات الواردة على وجوهٍ متنوِّعة الأفضلُ فيها فِعْلُها على هذه الوجوه 

  12. al-Fiqhul Muyassar hal. 70

    وواجباتها ثمانية، تبطل الصلاة بتركها عمدا، وتسقط سهوا وجهلا، ويجب للسهو عنها سجود السهو

  13.  HR. al-Bukhari no. 806 dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dishahikan oleh Syaikh Muhammad bin Nuh di dalam ash-Shahihah (2054). 
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *