Pembaca yang semoga dirahmati Allah Ta’ala. Kalimat tauhid adalah pondasi utama dalam Islam. Tentu saja tidak akan sah keimanan, bahkan keislaman seseorang kecuali dengan ia memahami, mengucapkan, dan mengamalkan kalimat tauhid dengan benar. Kalimat tersebut adalah:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
Laa ilaaha illallah
“Tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah Ta’ala.”
Kalimat ini tidak cukup sekadar diucapkan lisan saja, tapi harus diyakini dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan.
Makna Kalimat Tauhid Secara Bahasa dan Istilah
Secara bahasa, “Laa ilaaha illallah” mengandung dua unsur:
- Nafyu (peniadaan), yakni pada potongan kalimat laa ilaaha yang bermakna: tidak ada sesembahan …
- Itsbat (penetapan), yakni pada potongan kalimat illallah yang bermakna: … kecuali Allah.
Ini menunjukkan bahwa segala bentuk sesembahan selain Allah Ta’ala harus ditolak, dan hanya Allah Ta’ala semata yang berhak untuk disembah. 1
Penafsiran yang Salah dan yang Benar
Banyak orang menerjemahkan kalimat ini dengan “Tidak ada Tuhan selain Allah.”
Terjemahan ini sejatinya adalah terjemahan yang kurang tepat, karena kenyataannya di dunia ini banyak tuhan-tuhan yang disembah manusia selain Allah, yaitu diyakini dapat memberikan manfaat dan menolak mudharat dengan sendirinya, atau sifat lain yang hanya dimiliki secara mutlak oleh Allah. Di antara tuhan lain selain Allah adalah berhala, manusia (dukun), jin, batu, pohon, kuburan dan lain-lain. Semua sesembahan itu adalah batil kecuali Allah Ta’ala semata.
Maka yang benar adalah:
“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah.” 2
Allah Ta’ala berfirman,
ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ ٱلْبَٰطِلُ
“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak (benar), dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru (ibadahi) selain Allah adalah batil (tidak benar).” (Al Hajj: 62) 3
Baca Juga: Apa itu Tauhid dan Kalimat tauhid?
Konsekuensi Kalimat Tauhid
Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan di atas, maka seorang yang telah mengucapkan kalimat tauhid, dia wajib mengamalkan konsekuensi dari kalimat tauhid tersebut, di antaranya:
- Menolak semua bentuk peribadatan kepada selain Allah. Tidak boleh berdoa kepada wali, kubur, atau benda apapun.
- Menetapkan ibadah hanya untuk Allah. Shalat, puasa, nadzar, sembelihan, doa, dan ibadah lainnya hanya ditujukan untuk Allah semata.
- Meninggalkan kesyirikan. Barang siapa yang memalingkan segala bentuk peribadatan -apapun itu- kepada selain Allah Ta’ala, maka dia telah menjadi seorang musyrik dan seorang yang kafir.4
Pembagian dan Penjelasan Syirik (Menyekutukan Allah)
A. Pembagian Syirik
Termasuk perkara penting untuk diketahui adalah bahwa kesyirikan itu terbagi menjadi dua:
|
Jenis Kesyirikan |
Konsekuensi |
Contoh |
| Syirik Akbar (besar) | Menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam kemudian masuk ke dalam Neraka serta kekal di dalamnya. | Seseorang beribadah kepada selain Allah seperti menyembah patung, menyembelih untuk jin, batu, pepohonan, gunung, lautan, atau menghambakan dirinya kepada hal-al tersebut selain kepada Allah semata. |
| Syirik Ashgar (kecil) | Tidak menjadikan pelakunya kekal di Neraka namun dia berada di bawah kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika Allah menghendaki Allah akan mengampuninya dan langsung memasukkannya ke dalam surga. Sebaliknya, jika Allah menghendaki, Allah akan membalas perbuatan dosanya tersebut di dalam Neraka terlebih dahulu. | Seseorang yang melakukan ibadah karena riya’ (ingin dipuji atau dilihat), begitu pula sum’ah (ingin di dengar) atau ‘ujub (berbangga diri) pada ibadah yang ia lakukan. |
B. Penjelasan Ulama Tentang Syirik
- Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah – (Kitab at-Tauhid)
الشِرْكُ شِرْكَانِ: أَكْبَرُ وَأَصْغَرُ. فَالشِّرْكُ الأَكْبَرُ يُخْرِجُ مِنَ المِلَّةِ، وَالأَصْغَرِ لاَ يُخْرِجُ مِنَ المِلَّةِ، وَلَكِنَّهُ وَسِيْلَةٌ إِلَى الأَكْبَرِ
“Syirik terbagi dua: syirik besar dan kecil. Syirik besar mengeluarkan dari agama. Sedangkan syirik kecil tidak mengeluarkan, tetapi bisa menjadi jalan menuju syirik besar.” 5
- Syaikh Shalih al-Fauzan rahimahullah – (Syarh Kitab at-Tauhid)
الشِّرْكُ الأَصْغَرُ لاَ يُخْرِجُ مِنَ المِلَّةِ لكِنّهُ أَعْظَمُ مِنَ الكَبَائِرِ، وَقَدْ يَقُوْدُ إِلَى الشِّرْكِ الأَكْبَرِ
“Syirik kecil tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, tapi ia lebih besar dosanya daripada dosa besar lainnya, dan bisa mengantarkan kepada syirik besar.” 7
Catatan Penting
Dalam hal ini juga ada catatan penting, yaitu seorang hamba diperbolehkan untuk meminta pertolongan kepada selain Allah (kepada manusia) jika terpenuhi tiga syarat, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, yaitu:
- Orang yang dimintai pertolongan itu hidup, bukan orang yang sudah wafat (tidak bisa berbuat apapun).
- Orang yang dimintai pertolongan itu hadir (engkau mengetahui keberadaannya, -pen)
- Orang yang dimintai pertolongan itu mampu memberikan pertolongan yang diinginkan. 8
Maka sosok orang shalih manapun yang telah meninggal, tidaklah boleh dimintai pertolongan, diharap berkah darinya, dan dijadikan wasilah kepada Allah Ta’ala dalam doa atau ibadah lainnya. Karena yang meninggal itu tidaklah hidup, hadir, dan tidak pula mampu. Sehingga meminta tolong kepadanya termasuk perbuatan syirik.
Keutamaan Kalimat Laa Ilaaha Illallah
Pembaca yang kami cintai karena Allah Ta’ala, sudah sepatutnya kita memahami kalimat laa ilaaha illallah agar kita bisa beribadah di atas ilmu yang benar. Kalimat tauhid adalah kalimat yang agung. Ia bukan hanya ucapan biasa, tapi merupakan akidah yang harus meresap ke dalam hati dan diwujudkan dalam kehidupan.
Sebuah hadits yang indah aku nukilkan di akhir tulisan ini:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مَنْ قَالَ: “لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحَدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ“، مُخْلِصًا مِنْ قَلْبِهِ، دَخَلَ الْجَنَّةَ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’, dengan ikhlas dari hatinya, maka ia akan masuk surga.” 9
Demikian sekiranya yang dapat diuraikan. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mentauhidkan Allah dengan benar dalam keyakinan, ucapan, dan amal perbuatan. Aamiin Yaa Mujiibas Saailin. (UIL/ AAA /ATH)
Penulis: Ishlah Lahamido
Referensi:
Syarh Kasyfusy Syubhat, Asy Syaikh Muhammad bin Shaleh al’Utsaimin, (W. 1421 H) rahimahullah, Cet, Daarul Kutub Al ‘Ilmiyyah
Tafsir Al Qur’an, Imam At Thobari (W. 310 H) rahimahullah
Syarh Ushul Tsalatsah, Syaikh Muhammad bin Shalih (W. 1421 H). rahimahullah Cet. Maktabah Islamiyyah
Durus Fii Syarh Nawaaqidil Islam, karya Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah.
Al Qoulul Mufid Syarh Kitab Tauhid, karya Syaikh Muhammad bin Shalih (W. 1421 H) rahimahullah Cet, Daar Ibnul Jauzi
Musnad Imam Ahmad karya Imam Ahmad bin Hanbal (W. 241 H) rahimahullah
Shahih Al-Bukhari karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (W. 256 H) rahimahullah
Footnotes
- Lihat juga penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih dalam kitab Syarh Kasyfusy Syubhat, hal. 13-14. Cet: Daarul Kutub Al ‘Ilmiyyah
- Al Imam ath – Thabari rahimahullah juga menyebutkan dalam tafsirnya dari surat az- Zukhruf ayat 26, tentang kalimat tauhid, di mana beliau menegaskan لا معبود يستحق الا الله yaitu “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata”
- Lihat juga penjelasan asy-Syaikh Muhammad bin Sulaiman rahimahullah dalam kitab Kasyfus Syubhat (bab tentang makna syahadat), begitu juga disebutkan oleh Syaikh Shalih al Fauzan hafizhahullah dalam kitabnya syarh Kitabit Tauhid (bab pertama), dan dijelaskan pula oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Madaarijus Saalikin (1/ 73)
- Syarh Ushul Tsalatsah, hal. 35 (bab macam-macam ibadah). Cet: Maktabah Islamiyah
- Kitab At-Tauhid, bab “Ma ja’a fi asy-syirk”) Hal.
- Kitab Durus Fii Syarh Nawaqidhil Islam, karya Syaikh Sholih Al Fauzan , hal. 27 dan 30. Cet: Daarul Kutub Al ‘Ilmiyyah]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: خَرَجَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَقَال: أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِندِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟ قَالُوا: بَلَى، قَالَ: “الشِّرْكُ الْخَفِيُّ: أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ فَيُزَيِّنَ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ
Dari sahabat Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah keluar menuju tempat kami, kemudian beliau bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih aku takutkan atas kalian daripada Dajjal?” Mereka menjawab, “Tentu saja (kami mau)” Beliau bersabda, “Dia adalah syirik yang tersembunyi, yaitu seseorang memperindah shalatnya karena dilihat orang lain.”” 6 HR. Ahmad (3/30) dan dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani. Disebutkan pula dalam kitab Al Qaulul Mufid Syarh Ibnu ‘Utsaimin, bab Maa Ja’a Fi ar Riya, hal. 429. Cet, Daar Ibnul Jauzi
- Syarh Ushul ats-Tsalatsah hal.62-63
- HR. Al-Bukhari, No. 6405
