oleh

Syaddur Rihal dan Bahaya Kesyirikan dalam Ritual Ziarah yang Salah

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menyempurnakan agama ini dengan tauhid dan ittiba’ kepada Rasul-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga beliau, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka hingga hari Kiamat.

Syaddur rihal termasuk pembahasan penting dalam bab tauhid, ibadah, ittiba’, dan saddudz dzarāi’ minasy syirk (menutup pintu kesyirikan). Karena banyak terjadi kekeliruan dalam umat ini bermula dari pengagungan terhadap tempat-tempat tertentu tanpa dalil syar’i.

Definisi Syaddur Rihal

Secara bahasa, kata شَدُّ الرِّحَال berasal dari:

– شَدَّ = mengencangkan
– الرِّحَال = pelana kendaraan safar

Dahulu orang Arab apabila hendak safar, mereka mengencangkan pelana di atas unta.

Imam Ibnu Manzhur (salah seorang ahli bahasa Arab) rahimahullah berkata dalam kitab Lisan al-‘Arab,

الرَّحْلُ: مَرْكَبُ الْبَعِيرِ، وَجَمْعُهُ رِحَالٌ

 “Ar-rahlu maknanya adalah pelana unta, sedangkan bentuk jamaknya adalah ar-rihāl.” 1

Secara istilah, para ulama menjelaskan bahwa syaddur rihāl ialah melakukan safar dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah pada tempat tertentu karena keyakinan adanya keutamaan ibadah pada tempat tersebut.

Syaikhul Islam Abul Abbas (sosok Imam besar di bidang aqidah dan fikih) rahimahullah menjelaskan,

السَّفَرُ إِلَى الْبِقَاعِ الْمُعَيَّنَةِ لِأَجْلِ التَّقَرُّبِ إِلَى اللهِ مِنْ أَعْظَمِ أَنْوَاعِ التَّعْبُّدِ

“Melakukan safar menuju tempat tertentu dalam rangka mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah termasuk di antara bentuk ibadah yang paling agung.” 2

Landasan Utama Pembahasan Hadits Syaddur Rihal

Di sana ada sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

 “Tidak boleh dilakukan safar (dalam rangka ibadah khusus) kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjid al-Aqsha.” 3

Penjelasan Para Ulama

  1.     Imam An-Nawawi (salah seorang Imam besar dari madzhab Syafi’i) rahimahullah berkata,

وَأَنَّهُ لَا فَضِيلَةَ فِي شَدِّ الرِّحَالِ إِلَى غَيْرِهَا

“Maknanya adalah tidak ada keutamaan safar (khusus untuk beribadah) menuju suatu tempat selain tiga masjid ini.”4

  1.   Imam Ibnu Hajar (salah seorang pakar hadits terkemuka dan Imam besar dari madzhab Syafi’i) rahimahullah berkata,

وَفِيهِ فَضْلُ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ عَلَى غَيْرِهَا

“Hadits ini menunjukkan bahwa tiga masjid tersebut memiliki kelebihan dan keutamaan dibandingkan masjid lainnya.”5

Mengapa Hanya Tiga Masjid Ini?

  1. Masjidil Haram

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu shalat di masjid lainnya.”6

  1. Masjid Nabawi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Shalat yang dilakukan di masjidku ini lebih baik daripada seribu shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram.”7

  1. Masjid Al-Aqsha

Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّلَاةُ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ بِمِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ، وَفِي مَسْجِدِي بِأَلْفِ صَلَاةٍ، وَفِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ بِخَمْسِمِائَةِ صَلَاةٍ

“Shalat di Masjidil Haram setara dengan seratus ribu shalat, shalat di masjidku setara dengan seribu shalat, dan shalat di Baitul Maqdis setara dengan lima ratus shalat.”8


BACA JUGA: Kronologi Dimasukkannya Kuburan Nabi ke dalam Masjid Nabawi


Hubungan Syaddur Rihal dengan Tauhid

Allah Ta’ala berfirman, 

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata, Jangan sekali-kali kalian meninggalkan sesembahan-sesembahan kalian, dan jangan pula kalian meninggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.” (Nuh: 23)

Dalam kitab Sahih al-Bukhari, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan ayat di atas,

هَذِهِ أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ، فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنْ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمْ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا، وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ، فَفَعَلُوا، فَلَمْ تُعْبَدْ، حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ

“Itu adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka meninggal, setan membisikkan kepada kaum mereka agar membuat patung-patung di majelis mereka dan menamakannya dengan nama mereka. Maka mereka pun melakukannya. Saat itu belum disembah. Namun ketika generasi itu telah meninggal dan ilmu hilang, akhirnya patung-patung itu pun disembah.”9

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

“Dulu aku melarang kalian untuk ziarah kubur, maka sekarang ziarahilah!”10

Penyebutan kisah kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam serta hadits tentang ziarah kubur dalam pembahasan syaddur rihal sebagai penjelas terhadap hikmah dan sisi saddudz dzara’i (menutup pintu kesyirikan) dalam syariat. Sebab asal mula kesyirikan pada kaum Nuh berawal dari pengagungan terhadap orang-orang shalih dan tempat-tempat yang berkaitan dengan mereka, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Oleh karena itu paparan hadits atau penjelasan tentang syaddur rihal atau larangan pengkhususan safar untuk ibadah ke suatu tempat adalah upaya menjaga kemurnian tauhid dan mencegah ghuluw terhadap kuburan serta atsar orang shalih. 

Demikian pula hadits tentang ziarah kubur dibawakan untuk menjelaskan perbedaan antara ziarah syar’i yang bertujuan mengambil pelajaran dan mendoakan mayit, dengan safar khusus menuju kuburan dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri), tabarruk (mencari berkah), atau pengagungan tertentu yang masuk dalam pembahasan syaddur rihal.

Karena itulah syariat datang untuk menjaga manusia dari ghuluw (melampaui batas/berlebih-lebihan) terhadap tempat tertentu, kuburan, dan orang-orang shalih. Sebab, banyak bentuk kesyirikan bermula dari pengagungan yang berlebihan terhadap tempat-tempat tertentu dalam rangka ibadah dan taqarrub. 

Oleh karena itu, kita juga perlu mengetahui dalil-dalil tentang asal mula kesyirikan serta hadits-hadits tentang larangan ghuluw terhadap kuburan dalam pembahasan ini, sebagai bentuk penjagaan terhadap kemurnian tauhid dan menutup jalan yang dapat mengantarkan kepada perbuatan syirik.

Kaidah dalam Beribadah

Mengetahui rincian permasalahan ziarah kubur di atas, di sana ada sebuah kaidah penting yang harus diketahui oleh setiap muslim berkaitan dengan ibadah, yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh Imam asy-Syatibi rahimahullah,

الأَصْلُ فِي العِبَادَاتِ التَوْقِيْفُ

 “Ibadah itu hukum asalnya adalah harus berdasarkan dalil.”11 

Kesimpulan

  1. Syaddur rihal secara bahasa berarti mengencangkan pelana untuk safar.
  2. Adapun makna secara istilah adalah melakukan safar menuju tempat tertentu karena keyakinan adanya keutamaan beribadah di sana.
  3. Nabi  membatasi safar untuk bertaqarrub dan ibadah khusus pada 3 masjid saja, yaitu:
    – Masjidil Haram
    – Masjid Nabawi
    – Masjid al-Aqsha
  4. Hadits ini menjadi landasan penting dalam menjaga tauhid dan menutup pintu kesyirikan.

Semoga dari pemaparan di atas ini bisa membuat kita menjadi terbimbing dalam melakukan segala macam ibadah, terkhusus amalan ziarah kubur ini. Dan semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita untuk bisa mengamalkan ilmu yang telah kita ketahui dan Allah terima segala amalan kebaikan kita serta Allah ampuni segala dosa yang kita perbuat. Semoga bermanfaat. (ILM/AAA/ATH)

Penulis: Ustadz Ishlah Lahamido

Referensi:

  • Sahih al-Bukhari
  • Sahih Muslim
  • Sunan Abu Dawud
  • Musnad Ahmad
  • Sunan Ibnu Majah
  • Al-Muwaththa’
  • Syarh Shahih Muslim — Imam An-Nawawi
  • Fath al-Bari — Ibnu Hajar
  • Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim — Ibnu Taimiyah
  • Majmu’ al-Fatawa — Ibnu Taimiyah
  • Ighatsatul Lahfan — Ibnul Qayyim
  • Al-I’tisham — Asy-Syathibi

Footnotes

  1. Lihat  Lisan al-‘Arab, jilid 11 hlm. 318
  2. Lihat Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim, jilid 2 hlm. 267
  3. HR. Al-Bukhari No. 1189 dan Muslim No. 1397
  4. Syarh Shahih Muslim, jilid 9 hlm. 106
  5. Lihat Fath al-Bari, jilid 3 hlm. 65
  6. HR. Ahmad no. 14694 dan Ibnu Majah no. 1406
  7. HR. Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 1394
  8. HR. Ath-Thabrani; lihat Silsilah ash-Shahihah No. 2902
  9. Shahih al-Bukhari no. 4920
  10. HR. Muslim no. 977
  11. Al-I’tisham karya asy-Syathibi, jilid 1 hlm. 28
join chanel telegram islamhariini 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. جزاك الله خيرا ustaz
    Bagaimana pula dengan kondisi orang,yang tujuan utamanya adalah untuk pergi kerja di sesuatu tempat,akan tetapi dalam perjalanannya dia singgah ke maqam yang dikatakan orang Soleh…

    1. Pada asalnya tidak masuk pembahasan Syaddur Rihal, karena safarnya bukan untuk kuburan tersebut, melainkan untuk pekerjaan.

      Safarnya:

      “Untuk pekerjaan, bukan untuk kuburan.”

      Sehingga apabila ia berada di daerah tersebut lalu menziarahi kuburan sebagaimana ziarah yang disyariatkan seperti mengucapkan salam kepada penghuni kubur, mendoakan mereka, dan mengambil pelajaran tentang akhirat, maka hal itu pada asalnya tidak mengapa, insyaallah.

      Akan tetapi, perlu kita dirinci lebih lanjut:

      1. Apakah yang dimaksud singgah hanya sekadar ziarah syar’iyyah ataukah disertai ritual-ritual tertentu?
      2. Apakah makam tersebut hanyalah kuburan biasa atau termasuk tempat yang dikeramatkan dan menjadi tujuan berbagai praktik bid’ah maupun kesyirikan?

      *Karena* apabila kunjungan tersebut disertai keyakinan adanya keberkahan khusus, mencari wasilah kepada penghuni kubur, meminta hajat, bernazar, mencari tempat yang dianggap mustajab, atau ritual-ritual lainnya, maka hal tersebut tidak dibenarkan dalam syariat. Bahkan bentuknya termasuk kesyirikan yang Allah tidak ridho. Oleh karena itu, yang disyariatkan ketika berziarah kubur hanyalah mengambil pelajaran, mengingat kematian, dan mendoakan penghuni kubur, sebagaimana tuntunan Rasulullah ﷺ.

      Rasulullah ﷺ bersabda:

      إنما الأعمال بالنيات

      “Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya.”

      (HR. al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

      Wallahu a’lam bish-shawab.