oleh

Sujud Sahwi: Kapan Dilakukan dan Bagaimana Tata Caranya?

-Fikih-9,108 views

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk sujud sebanyak 2 kali atau yang dinamakan dengan sujud sahwi ketika kita terlupa dengan gerakan atau bacaan dalam shalat. Bagaimana bimbingan Nabi terkait sujud sahwi ini? Mari kita simak pemaparan berikut.

Definisi Sahwi

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan makna as-sahwu:

“As-Sahwu ialah kelalaian dari sesuatu dan perginya pikiran kepada sesuatu yang lainnya” 1

Hukum Sujud Sahwi

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i rahimahullah membawakan beberapa pendapat dalam hal ini:

  1. Ulama Syafi’iyah (madzhab Syafi’i) berpendapat sujud sahwi seluruhnya hukumnya sunnah.
  2. Ulama Hanabilah (madzhab Hanbali) merinci pendapatnya, jika lupa dalam:
  • Meninggalkan gerakan yang wajib dilakukan dalam shalat.
  • Mengucapkan perkataan yang membatalkan shalat.
  • Menambah atau mengurangi gerakan.
  • Maka dia wajib sujud sahwi.
  • Adapun jika lupa mengucapkan bacaan yang hukumnya sunnah dalam shalat, maka tidak wajib baginya sujud sahwi. 2

    Disyariatkannya Sujud Sahwi

    Dalil yang menunjukkan disyariatkannya sujud sahwi adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    “فَإِذَا نَسِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ“

    “Jika salah seorang dari kalian lupa (dalam shalat) hendaknya dia sujud (sahwi) 2 kali.”  3

    Dalam lafazh yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “إِذَا زَادَ الرَّجُلُ أَوْ نَقَصَ، فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ“

    “Jika seseorang menambah atau mengurangi (gerakan shalat), hendaknya dia sujud (sahwi) 2 kali.” 4

    Sebab-Sebab Sujud Sahwi

    Syaikh al-Bassam rahimahullah mengatakan,

    “Ada 3 kondisi yang menyebabkan disyariatkannya sujud sahwi dalam shalat, yaitu:

    1. Menambah gerakan ketika shalat
    2. Mengurangi gerakan
    3. Ragu.” 5

      Waktu Sujud Sahwi

      Imam Malik rahimahullah berkata,

      “Jika seseorang menambah gerakan (dalam shalat) karena lupa, dia sujud setelah salam, adapun jika dia mengurangi gerakan karena lupa, maka dia sujud sebelum salam.” 6

      Kemudian Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan,

      “Pendapat yang terkuat dalam masalah ini ialah pendapat Imam Malik rahimahullah.” 7

      “Imam Syafi’i juga memiliki pendapat seperti pendapat Imam Malik (sujud sahwi sesuai kurangnya gerakan atau tambahan)” 8

      Satu Kali Sujud Sahwi Untuk Dua Kesalahan atau Lebih

      Imam an-Nawawi rahimahullah melanjutkan,

      “Berdasarkan pendapat Imam Malik, seandainya terkumpul dua kesalahan di dalam shalat (mengurangi dan menambah gerakan), maka dia sujud sahwi sebelum salam.” 9

      Imam an-Nawawi rahimahullah menukil pendapat mayoritas ulama terkait terkumpulnya beberapa kesalahan dalam shalat,

      “Kalau seseorang lupa 2 kali atau lebih (dalam shalat), maka cukup baginya sujud 2 kali (yaitu: 1 kali sujud sahwi) untuk seluruh kesalahan tersebut” 10

      Beliau rahimahullah melanjutkan,

      “(Hal di atas) merupakan pendapat asy-Syafi’i, Malik, Abu Hanifah dan Ahmad semoga Allah meridhai mereka.” 11

      Sujud Sahwi Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam

      Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melakukan sujud sahwi sebelum salam dan di kesempatan lain setelah salam.

      • Sujud Sahwi Beliau Sebelum Salam

      1. Ketika lupa tasyahud awal

      Sahabat Abdullah bin Buhainah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

      صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ مِنْ بَعْضِ الصَّلَوَاتِ، ثُمَّ قَامَ فَلَمْ يَجْلِسْ، فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ، فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ، وَنَظَرْنَا تَسْلِيمَهُ كَبَّرَ قَبْلَ التَّسْلِيمِ، فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ، ثُمَّ سَلَّمَ

      “Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam shalat mengimami kami dalam dua raka’at pada sebagian shalat. Kemudian beliau langsung berdiri, tidak duduk (tasyahud awal). Para makmum ikut berdiri bersama beliau. Ketika hampir selesai dari shalat dan kami menunggu beliau salam, beliau bertakbir sebelum salam, lalu sujud dua kali dalam posisi duduk, kemudian salam.” 12

      1. Ketika ragu dalam shalat dan tidak bisa menentukan pilihan yang dia yakini

      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا، فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

      “Jika salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, dia tidak tahu sudah shalat 3 raka’at atau empat. Hendaknya dia menghilangkan keraguannya dan melanjutkan (shalat) berdasarkan (raka’at) yang dia yakini. Kemudian sujud dua kali sebelum salam.” 13

      1. Ketika tidak tahu menambah atau mengurangi gerakan shalat

      Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      «إِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْتِي أَحَدَكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَيَدْخُلُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ حَتَّى لَا يَدْرِيَ زَادَ أَوْ نَقَصَ، فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ، فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، ثُمَّ يُسَلِّمْ»

      “Sesungguhnya syaithan mendatangi salah seorang dari kalian ketika shalat, syaithan masuk antara diri dan jiwanya, sehingga orang tersebut tidak tahu (lupa) apakah menambah atau kurang (gerakan dalam shalatnya). Jika memang seperti itu keadaannya, hendaknya dia sujud sahwi sebelum salam, kemudian salam.” 14

      • Sujud Sahwi Beliau Setelah Salam

      1. Ketika menambah raka’at

      Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

      أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ خَمْسًا، فَقِيلَ لَهُ: أَزِيدَ فِي الصَّلاَةِ؟ فَقَالَ: «وَمَا ذَاكَ؟» قَالَ: صَلَّيْتَ خَمْسًا، فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ بَعْدَ مَا سَلَّمَ

      “Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam pernah shalat zhuhur 5 raka’at (bersama para sahabat), lalu para sahabat bertanya kepada beliau, “Apakah ada tambahan (raka’at) dalam shalat?“ Beliau menjawab, “Apa maksudnya?” Para sahabat menegaskan, “Engkau shalat sebanyak lima raka’at.” Maka Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam sujud sahwi setelah salam. 15

      1. Ketika seseorang baru menyadari ada yang terluput dari shalatnya setelah salam

      Sebagaimana riwayat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

      “أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ مِنَ اثْنَتَيْنِ، فَقَالَ لَهُ ذُو اليَدَيْنِ: أَقَصُرَتِ الصَّلاَةُ، أَمْ نَسِيتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَصَدَقَ ذُو اليَدَيْنِ؟» فَقَالَ النَّاسُ: نَعَمْ، فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى اثْنَتَيْنِ أُخْرَيَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ كَبَّرَ، فَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ، ثُمَّ رَفَعَ“

      “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat (salam) pada raka’at kedua (Zhuhur atau Asar) Sahabat Dzul Yadain berkata kepada beliau, “Apakah engkau mengqashar shalat atau engkau lupa wahai Rasulullah? Maka beliau menjawab, “Apakah Dzul Yadain benar?” Para sahabat menjawab, “Iya” seketika Rasulullah shalat dua raka’at lagi, kemudian salam, lalu bertakbir dan beliau sujud seperti sujud ketika shalat (sujud sahwi) atau lebih lama, kemudian beliau bangkit (mengangkat kepala).” 16

      Al-Hafizh Ibnu Hajar asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan,

      “Bagi seseorang yang tidak mengetahui ada yang luput dari shalatnya kecuali setelah salam, maka dia sujud sahwi (setelah salam).” 17

      Syaikh al-Bassam rahimahullah menjelaskan,

      “Sujud sahwi terletak setelah salam, jika seseorang telah salam dari shalat yang terdapat padanya kekurangan.” 18

      1. Ketika seseorang ragu dalam shalatnya, kemudian dia dapat menentukan yang dia yakini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ، فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ فَلْيُتِمَّ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيُسَلِّمْ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ

      “Jika salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, hendaknya dia berusaha untuk menentukan yang benar (mengingatnya), lalu sempurnakanlah shalat sampai salam, kemudian setelah itu sujud (sahwi) 2 kali.” 19

      1. Ketika lupa membaca al-Fatihah,

      Sahabat Abdullah bin Hanzhalah radhiyallahu ‘anhu berkata,

      “Sahabat Umar mengimami kami pada shalat maghrib, beliau tidak membaca apapun pada raka’at pertama. Ketika di raka’at kedua beliau membaca al-Fatihah dan surat (dari al-Qur’an), kemudian beliau mengulang lagi membaca al-Fatihah dan surat. Tatkala selesai dari shalatnya beliau sujud 2 kali (sahwi) setelah salam.” 20

      • Boleh sebelum atau setelah salam

      Imam an-Nawawi rahimahullah menambahkan,

      “Ketika seseorang sujud sahwi sebelum salam atau setelah salam (secara mutlak), karena tambahan atau kekurangan dalam shalat maka hal tersebut sah baginya dan shalatnya tidak batal. Karena perselisihan ini hanyalah dalam masalah afdhaliah (mana yang lebih utama).” 21

      Tata Cara Sujud Sahwi

      Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

      1. Sujud sahwi berjumlah 2 kali sujud.
      2. Bertakbir setiap kali sujud seperti tata cara sujud ketika shalat.
      3. Tidak ada tasyahud setelah sujud sahwi.
      4. Salam. 22

        Sebagaimana riwayat dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

        ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ، ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ، فَرُبَّمَا سَأَلُوهُ: ثُمَّ سَلَّمَ؟ فَيَقُولُ: نُبِّئْتُ أَنَّ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ، قَالَ: ثُمَّ سَلَّمَ

        “Beliau (Nabi) bertakbir dan sujud seperti sujud ketika shalat atau lebih lama, kemudian beliau mengangkat kepala dan bertakbir, kemudian bertakbir dan sujud seperti sujud ketika shalat atau lebih lama, kemudian mengangkat kepala dan bertakbir.

        Para sahabat bertanya kepada Sahabat Abu Hurairah, “Kemudian (setelah itu) beliau salam.”

        Sahabat Abu Hurairah menjawab,”Imran bin Hushain mengabarkan kepadaku, “Kemudian beliau salam.” 23

        Hikmah Disyariatkannya Sujud Sahwi

        Para Ulama menyebutkan tentang hikmah disyariatkannya sujud sahwi, antara lain adalah,

        1. Mendatangkan ridha dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
        2. Membuat marah syaithan dan merendahkannya.
        3. Menambal kekurangan dalam shalat.24

          Semoga kita bisa mengamalkan sujud sahwi sesuai dengan bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aamiin

          REI/AAA/AAK

          Penulis: Reihan Audie Sutopo

          Referensi:

          1. Al-Minhaj Syarh Sahihi Muslim karya Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah (631-676 H).
          2. Fathul Bari karya al-Hafizh Syihabuddin Ahmad bin Ali bin Muhammad al-Kinani al-Asqalani yang dikenal dengan Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah (773-852 H).
          3. Taisirul Alam Syarh Umdatul Ahkam karya Abu Abdirrahman Abdullah bin Abdirrahman bin Shalih al-Bassam rahimahullah ( W. 1423 H).

           

          Footnotes

          1. Fathul Bari (3/92)

            وَالسَّهْوُ الْغَفْلَةُ عَنِ الشَّيْءِ وَذَهَابُ الْقَلْبِ إِلَى غَيْرِهِ وَفَرَّقَ بَعْضُهُمْ بَيْنَ السَّهْوِ وَالنِّسْيَانِ وَلَيْسَ بِشَيْءٍ

          2. Fathul Bari (3/92)

وَاخْتُلِفَ فِي حُكْمِهِ فَقَالَ الشَّافِعِيَّةُ مَسْنُونٌ كُلُّهُ وَعَنِ الْمَالِكِيَّةِ السُّجُودُ لِلنَّقْصِ وَاجِبٌ دُونَ الزِّيَادَةِ وَعَنِ الْحَنَابِلَةِ التَّفْصِيلُ بَيْنَ الْوَاجِبَاتِ غَيْرِ الْأَرْكَانِ فَيَجِبُ لِتَرْكِهَا سَهْوًا وَبَيْنَ السُّنَنِ الْقَوْلِيَّةِ فَلَا يَجِبُ وَكَذَا يَجِبُ إِذَا سَهَا بِزِيَادَةِ فِعْلٍ أَوْ قَوْلٍ يُبْطِلُهَا عَمْدُهُ وَعَنِ الْحَنَفِيَّةِ وَاجِب كُله

  • HR. Muslim no. (572), di dalam shahihya, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu

  • HR. Muslim no. (572)-96, di dalam shahihya, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu

  • Taisir al-Alam, hal. 179
  • وأسباب السجود له ثلاثة: 1- إما زيادة في الصلاة 2- أو نقص فيها. 3- أو شك

  • Syarh Shahih Muslim (5/56)

    وَقَالَ مَالِكٌ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى إِنْ كَانَ السَّهْوُ زِيَادَةً سَجَدَ بَعْدَ السَّلَامِ وَإِنْ كَانَ نَقْصًا فَقَبْلَهُ

  • Idem

    وَأَقْوَى الْمَذَاهِبِ هُنَا مَذْهَبُ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى ثُمَّ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ

  • Idem

    وَلِلشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى قَوْلٌ كَمَذْهَبِ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى يَفْعَلُ بِالتَّخْيِيرِ 

  • Idem

    وَعَلَى الْقَوْلِ بِمَذْهَبِ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى لَوِ اجْتَمَعَ فِي صَلَاةٍ سَهْوَانِ سَهْوٌ بِزِيَادَةٍ وَسَهْوٌ بِنَقْصٍ سَجَدَ قَبْلَ السَّلَامِ

  • Syarh Shahih Muslim (5/57)

    قَالَ الْجُمْهُورُ لَوْ سَهَا سَهْوَيْنِ فَأَكْثَرَ كَفَاهُ سَجْدَتَانِ لِلْجَمِيعِ

  • Idem

    وَبِهَذَا قَالَ الشَّافِعِيُّ وَمَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَأَحْمَدُ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ

  • HR. al-Bukhari no. 1224 dan Muslim no. (570) – 85, di dalam shahih keduanya, dari sahabat Abdullah bin Buhainah radhiyallahu ‘anhu.
  •  HR. Muslim no. (571) – 88, di dalam shahihnya, dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu.

  • HR. Ibnu Majah, no. 1216, hasan shahih, lihat Shahih Ibnu Majah no. 1216 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
  • HR. al-Bukhari no. 1226, di dalam shahihnya, dari sahabat Abdullah bin Ma’sud radhiyallahu ‘anhu.

  • HR. al-Bukhari no. 1228, di dalam shahihnya, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

  • Fathul Bari (3/96)

    وَعَلَى أَنَّ مَنْ لَمْ يَعْلَمْ بِسَهْوِهِ إِلَّا بَعْدَ السَّلَامِ يَسْجُدُ لِلسَّهْوِ فَإِنْ طَالَ الْفَصْلُ

  • Taisir Alam, hal. 182

    أن سجود السهو يكون بعد السلام، إذا سلم المصلى عن نقص في الصلاة وماعداه يكون قبل السلام، وهو مذهب الحنابلة، وهو تفصيل يجمع الأدلة

  • HR. al-Bukhari no. 401 dan Muslim no. (572)-89, di dalam shahih keduanya, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

  • HR. al-Baihaqi no. 3985 di dalam as-Sunan al-Kubra dan Ibnu Abi Syaibah no. 4122 di dalam al-Mushanaf, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Perawi riwayat ini terpercaya.” lihat Fathul Bari (3/90), dari sahabat Abdullah bin Hanzhalah radhiyallahu ‘anhu.

  • Syarh Shahih Muslim (5/57)

    لَوْ سَجَدَ قَبْلَ السَّلَامِ أَوْ بَعْدَهُ لِلزِّيَادَةِ أَوِ النَّقْصِ أَنَّهُ يُجْزِئُهُ وَلَا تَفْسُدُ صَلَاتُهُ وَإِنَّمَا اخْتِلَافُهُمْ فِي الْأَفْضَلِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

  • Syarh Shahih Muslim (5/71)
  • وَأَنَّهُ سَجْدَتَانِ وَأَنَّهُ يُكَبِّرُ لِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا وَأَنَّهُمَا عَلَى هَيْئَةِ سُجُودِ الصَّلَاةِ لِأَنَّهُ أَطْلَقَ السُّجُودَ فَلَوْ خَالَفَ الْمُعْتَادَ لَبَيَّنَهُ وَأَنَّهُ يُسَلِّمُ

  • HR. al-Bukhari no. 482, di dalam shahihnya, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

  • Taisir Alam, hal. 179
  • وشرع سجود السهو إرضاء للرحمن، وإغضاباً للشيطان، وجبراً للنقصان

    join chanel telegram islamhariini 2

    Komentar

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *