Bulan Sya’ban memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Bulan ini terletak di antara 2 bulan yang agung, yakni bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Bulan ini merupakan waktu yang sangat tepat untuk dijadikan waktu guna mempersiapkan diri di dalam menghadapi bulan Ramadhan yang penuh berkah.
Para ulama salaf dahulu begitu antusias mempersiapkan diri menyambut Ramadhan. Mereka mengisi bulan Sya’ban dengan berbagai amal ketaatan, agar saat Ramadhan tiba, jiwa dan raga mereka telah benar-benar siap beribadah secara maksimal.
Artikel ini akan mengulas sejumlah amalan penting di bulan Sya’ban, sebuah momentum krusial untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan bulan Ramadhan.
Menjadikan Sya’ban sebagai Gerbang Persiapan Menuju Ramadhan
Tak ada keraguan lagi atas kemuliaan Ramadhan. Sebagai bentuk kasih sayang-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan jalan ketaatan bagi kita, dengan dibelenggunya para setan, serta dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu-pintu neraka selama bulan suci ini.
Oleh karena itu, menyambut Ramadhan yang penuh berkah memerlukan persiapan matang. Tujuannya agar saat bulan suci tersebut tiba, kita telah terlatih dan siap memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.
Bulan Sya’ban merupakan waktu paling strategis untuk mempersiapkan diri menyongsong Ramadhan. Bahkan, bulan ini sering dikiaskan sebagai masa untuk menyiram tanaman, sebagaimana ungkapan indah dari Imam Ibnul Mibrad rahimahullah,
شَهْرُ رَجَبٍ مِفْتَاحُ الْخَيْرِ وَالْبَرَكَةِ، شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ السَّقْيِ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ الْحَصَادِ
“Bulan Rajab adalah pembuka kebaikan dan berkah; bulan Rajab adalah masa menanam; bulan Sya’ban adalah masa menyiram; dan bulan Ramadhan adalah masa memanen.” 1
Di bulan Sya’ban, kita juga dianjurkan untuk memperbanyak amalan kebaikan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Di antara amalan yang penting untuk kita kerjakan adalah sebagai berikut,
Memperbanyak Puasa Sunnah
Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak puasa sunnah di bulan ini. sampai-sampai Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَصُوْمُ حَتَّى نَقُوْلَ لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلَ: لَا يَصُوْمُ، وَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – اِسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا شَهْرَ رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَاماً مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa sampai kami mengatakan beliau tidak berbuka dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak berpuasa. Aku sama sekali tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa secara sempurna dalam sebulan kecuali pada bulan Ramadhan dan aku juga tidak pernah melihat beliau paling banyak berpuasa (dalam sebulan) selain berpuasa di bulan Sya’ban.” 2
Tentu disunnahkannya memperbanyak puasa di bulan Sya’ban ini memiliki hikmah yang besar. Hal ini sebagaimana yang pernah dijelaskan oleh Imam Ibnu Rajab rahimahullah, beliau berkata,
وَقَدْ قِيْلَ فِيْ صَوْمِ شَعْبَانَ: إِنَّ صِيَامَهُ كَالتَّمْرِيْنِ عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ لِئَلاَّ يَدْخُلَ فِيْ صَوْمِ رَمَضَانَ عَلَى مَشَقَّةٍ وَكُلْفَةٍ، بَلْ يَكُوْنُ قَدْ تُمَرِّنُ عَلَى الصِّيَامِ وَاعْتَادَهُ، وَوَجَدَ بِصِيَامِ شَعْبَانَ قَبْلَهُ حَلاَوَةَ الصِّيَامِ وَلَذَّتَهُ، فَيَدْخُلُ فِيْ صِيَامِ رَمَضَانَ بِقُوَّةٍ وَنَشَاطٍ
“Ada yang mengatakan terkait dengan puasa bulan Sya’ban, yaitu puasa bulan Sya’ban bagaikan latihan untuk persiapan puasa di bulan Ramadhan. Supaya tidak merasa sulit dan payah ketika memasuki bulan Ramadhan. Bahkan dia dalam kondisi sudah terlatih dan terbiasa mengerjakan puasa. Dengan puasa bulan Sya’ban yang telah dia lakukan sebelumnya, ia akan merasakan manis dan lezatnya puasa, sehingga ia menjalani puasa Ramadhan dengan energik dan penuh semangat.” 3
Membaca Al-Qur’an
Bulan Ramadhan adalah bulan yang padanyalah diturunkannya Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (Al-Baqarah: 185)
Sejalan dengan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa meningkatkan intensitas interaksinya dengan Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Di bulan inilah, Malaikat Jibril ‘alaihis salam datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan tadarus bersama. Dalam sebuah hadits, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya di bulan Ramadhan saat Malaikat Jibril menemui beliau. Jibril terbiasa menemui Nabi setiap malam di bulan Ramadhan untuk bertadarus Al-Qur’an bersama. Sungguh, dalam menebar kebaikan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh lebih dermawan daripada angin yang berhembus.” 4
Bahkan, para ulama salaf terdahulu memiliki semangat yang luar biasa dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an di bulan Sya’ban. Begitu besarnya perhatian mereka, hingga Imam Salamah bin Kuhail rahimahullah menjuluki Sya’ban sebagai ‘bulannya para pembaca Al-Qur’an’.
Kisah serupa datang dari Amr bin Qais al-Mula’i rahimahullah. Begitu memasuki bulan Sya’ban, ia rela menutup tokonya dan menghentikan aktivitas perniagaan demi meluangkan seluruh waktunya untuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. 5
Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita mulai mengakrabkan diri dengan Al-Qur’an sejak bulan Sya’ban. Dengan membiasakan diri lebih awal, lisan dan hati kita akan lebih terlatih untuk meraup pahala tilawah yang jauh lebih besar saat Ramadhan tiba.
Memperbanyak Amalan Shalih
Amal shalih sejatinya disunnahkan untuk dikerjakan setiap saat. Namun, mengingat Ramadhan adalah bulan puncak ketaatan, sungguh merugi bagi siapa saja yang justru lalai atau merasa berat dalam beribadah di dalamnya. Oleh karena itu, bulan Sya’ban hadir sebagai momentum emas untuk mulai membiasakan diri dalam ketaatan.
Imam Ibnul Mibrad rahimahullah memberikan perumpamaan yang sangat indah,
شَهْرُ رَجَبٍ مِفْتَاحُ الْخَيْرِ وَالْبَرَكَةِ، شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ السَّقْيِ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ الْحَصَادِ
“Bulan Rajab adalah pembuka kebaikan dan berkah; bulan Rajab adalah masa menanam; bulan Sya’ban adalah masa menyiram; dan bulan Ramadhan adalah masa memanen.” 6
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Sya’ban sebagai bulan yang sering dilalaikan oleh manusia, padahal pada bulan inilah amalan-amalan hamba diangkat ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu dalam sebuah riwayat pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa di bulan-bulan lain sebanyak engkau berpuasa di bulan Sya’ban.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab,
ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia, letaknya di antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, maka aku ingin saat amalanku diangkat, aku sedang dalam keadaan berpuasa.” 7
Baca Juga: Beginilah Seorang Muslim dalam Menyambut Bulan Ramadhan
Peringatan untuk Menjauhi Kesyirikan dan Menghindari Permusuhan Antar-Sesama Muslim
Kesyirikan merupakan dosa terbesar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barangsiapa yang wafat dalam keadaan masih berlumur dosa syirik dan belum sempat bertaubat, maka ia akan masuk ke dalam neraka. Seluruh amal kebaikan yang ia kerjakan pun akan tertolak dan menjadi sia-sia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلَوۡ أَشۡرَكُواْ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ
“Sekiranya mereka (para nabi) mempersekutukan (Allah), niscaya lenyaplah dari mereka amalan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’am: 88]
Demikian pula dengan permusuhan antara kaum muslimin, hal ini akan menjadi penghalang untuk diterimanya amalan seorang hamba. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلٌ كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيْهِ شَحْنَاءُ. فَيُقَالُ: أَنْظِرُواْ هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا
“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka diampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terdapat permusuhan. Maka dikatakan: Tangguhkanlah (ampunan) bagi dua orang ini sampai keduanya berdamai.” 8
Begitu pula sebuah hadits dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلا مُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٌ
“Allah melihat kepada seluruh makhluk-Nya pada malam pertengahan bulan Sya‘ban, lalu Dia mengampuni semuanya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” 9
Kesimpulan
Bulan Sya’ban adalah kesempatan emas bagi setiap Muslim untuk mempersiapkan diri menyongsong kehadiran bulan mulia, Ramadhan, yang berlimpah keberkahan dan ampunan. Mengingat Ramadhan adalah bulan yang sarat dengan amal ketaatan, maka diperlukan persiapan yang matang agar seorang hamba mampu memaksimalkan setiap detik ibadahnya secara berkualitas.
Oleh karena itu, Sya’ban menjadi momentum strategis untuk mulai membiasakan diri dengan berbagai amal shalih, mulai dari memperbanyak puasa sunnah, meningkatkan tilawah Al-Qur’an, hingga memperluas amal kebajikan lainnya. Melalui pembiasaan sejak dini, seorang muslim akan lebih siap secara lahir dan batin untuk meraih limpahan pahala saat Ramadhan tiba.
Namun, di atas semua itu, poin yang tak kalah krusial adalah menjaga kemurnian tauhid dari segala bentuk kesyirikan serta membersihkan hati dari permusuhan terhadap sesama muslim. Sebab, dosa syirik dan dendam antar-sesama dapat menjadi penghalang diterimanya amal, yang pada akhirnya membuat segala jerih payah kita menjadi sia-sia.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat dan iman yang kuat. Semoga Dia memberikan taufik-Nya kepada kita untuk menghidupkan bulan tersebut dengan penuh iman dan ihtisab (mengharap ridha-Nya), serta menggolongkan kita ke dalam hamba-hamba-Nya yang meraih ampunan, rahmat, dan pembebasan dari api neraka. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. (RGA/LTC/AAK)
Penulis: Rasyid Ghani
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim
- Shahih Al-Bukhari karya Imam Al-Bukhari rahimahullah (W: 256 H)
- Al-Adabul Mufrad karya Imam Al-Bukhari rahimahullah (W: 256 H)
- Shahih Muslim karya Imam Muslim rahimahullah (W: 261 H)
- Sunan At-Tirmidzi karya Imam At-Tirmidzi rahimahullah (W: 279 H )
- Musnad Ahmad karya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (W: 241 H)
- Ma’arif al-In’am wa Fadhli asy-Syuhur wa al-Ayyam karya Imam Ibnul Mibrad rahimahullah (W: 909 H)
- Lathaif al-Ma’arif karya Imam Ibnu Rajab rahimahullah (W: 795 H)
- As-Sunnah karya Imam Ibnu Abi ‘Ashim rahimahullah (W: 287 H)
- Sisilah al-Ahadits ash-Shahihah karya Syaikh Al-Albani rahimahullah (W: 1914 H)
Footnotes
- Ma’arif al-In’am wa Fadhli asy-Syuhur wa al-Ayyam, hlm. 95
- HR. Al-Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 175 di dalam shahih keduanya, dari sahabat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha
- Lihat Lathaif al-Ma’arif hlm. 134-135
- HR. Al-Bukhari No. 6 dan Muslim No. 2308, dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu
- Lihat Lathaiful Ma’arif hlm. 135
- Ma’arif al-In’am wa Fadhli asy-Syuhur wa al-Ayyam, hlm. 95
- HR. Ahmad di dalam musnadnya No. 21753, dari sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhu
- HR. Al-Bukhari di dalam Adabul Mufrad No. 411, Muslim No. 2565, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
- HR. Ibnu Abi ‘Ashim rahimahullah di dalam As-Sunnah No. 512 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam as-Silsilah al-Ahadits as-Shahihah 3/135










Komentar